Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Menjebak


__ADS_3

Mereka yang telah jadi korban, semuanya anak dari keluarga berada. Larasati tidak seperti mereka, dia hanya anak tunggal keluarga petani biasa. Rumahnya juga sederhana.


Larasati gadis yang lugu, ramah dan penurut sama orang tua. Seharusnya tidak ada kendala dalam hal hubungan asmaranya dengan Seta Aji. Mengingat Seta Aji juga pemuda biasa yang sederajat dengannya.


Tapi kenapa bisa berakhir? Begitulah pertanyaan dalam benak Puspasari. Sesuai rencana, dia dan Adijaya berbagi tugas lagi. Adijaya mengawasi rumah Seta Aji dan Puspasari diam-diam menjaga rumah Larasati.


Sejak dari pagi gadis itu berada di antara dahan-dahan pohon besar yang tumbuh di halaman depan rumah Larasati. Tak lupa dia membawa bekal makanan buat jaga-jaga kalau lapar.


Sampai tengah hari tidak ada hal yang dikhawatirkan. Ayahnya Larasati bekerja di kebun kecil milik keluarga di belakang rumah. Sementara Larasati dan ibunya melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya.


"Sampai kapan aku mengawasi seperti ini," gerutu Puspasari sambil memakan buah jambu.


Kalau ditinggalkan takut yang dikhawatirkan terjadi. Bukankah dia sedang berjaga mencegah jatuhnya korban pembunuhan lagi.


Tapi kalau dipikir lagi sejenak hatinya jadi ragu. Sebabnya prajurit Bhayangkara yang ditugaskan menangani kasus ini sudah mengendus ke Seta Aji. Kalau sudah begitu bisa saja Seta Aji tidak melanjutkan aksinya.


Bagaimana kalau prajurit Bhayangkara mendatangi rumah dan menangkap Seta Aji? Sia-sia saja dia berjaga di situ.


Apa yang dipikirkan Puspasari memang benar. Lima prajurit Bhayangkara dari Wanagiri yang dipimpin seorang Bekel mendatangi rumah Seta Aji.


Tentu saja pihak berwenang dari kerajaan juga menyelidiki tiga pembunuhan yang terjadi. Dari tanda silang yang tergores di paha korban menunjuk satu tersangka, Seta Aji.


Sampai di depan rumah Seta Aji, enam prajurit ini hanya mendapati Amba Citra yang sedang berdiri di depan pintu.


"Apakah Tuan mencari Seta Aji?" tanya Amba Citra.


"Ya, di mana dia?" jawab Bekel agak keras.


"Ini!"


Amba Citra memberikan beberapa helai daun lontar yang sudah disusun. Si Bekel menerimanya kemudian membaca tulisan yang tergores di daun itu.


"UNTUK MEMANCING KELUAR PELAKU YANG SESUNGGUHNYA, HARAP JANGAN TERSEBAR KABAR SETA AJI YANG JADI TERSANGKA.


"SETA AJI HANYA KORBAN FITNAH. JIKA INGIN MENANGKAP PELAKUNYA, SEGERA KE RUMAH LARASATI. TANYAKAN KEPADA ORANG YANG MENYAMPAIKAN SURAT INI.


"PENDEKAR PAYUNG TERBANG"


Sang Bekel prajurit ini tersentak setalah membacanya. Dia baru tahu kalau Pendekar Payung Terbang juga sudah turun tangan. Lalu dia menatap Amba Citra.


"Di mana rumah Larasati?"


Dengan gamblang si gadis menjawab sedetail mungkin. Rupanya cukup jauh dari tempat ini.


"Kita cari kuda, harus bergegas cepat!" perintah si bekel kepada anak buahnya.


Kemudian enam prajurit ini segara meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


***


Sebelum prajurit Bhayangkara itu datang Adijaya sudah membawa Seta Aji keluar. Tentu saja tidak serta merta mudah mengajak pemuda yang jadi tersangka itu.


Adijaya menjelaskan tentang pembunuhan tiga wanita bekas kekasihnya itu dulu sehingga Seta Aji dapat mengerti bahwa pembunuhan itu mengarah ke dirinya.


Karena yang jadi lantaran adalah dendam cinta, maka Adijaya meminta keterangan tentang percintaan Seta Aji. Akhirnya didapatlah satu keterangan yang memastikan bahwa Seta Aji memang difitnah.


Setelah menulis surat untuk si Bekel dan dititipkan kepada Amba Citra, mereka pergi ke rumah Larasati. Mereka mengawasi agak jauh di depan rumah itu yang merupakan sebuah kebun.


Adijaya tahu Puspasari ada di atas pohon besar dekat rumah itu, tapi si gadis tidak tahu sama sekali kehadiran pemuda itu.


Saat itu matahari sudah condong ke barat. Di atas pohon, Puspasari sudah kelelahan karena menunggu. Di tempatnya Adijaya dan Seta Aji masih fokus ke rumah sederhana itu.


Beberapa saat kemudian muncul seorang lelaki yang sepertinya hendak bertamu ke rumah itu.


"Itu dia!" seru Seta Aji.


Lalu perlahan-lahan dua pemuda ini mendekati rumah Larasati.


Sementara di atas pohon Puspasari terkejut melihat orang yang baru datang itu.


"Pranata, mau apa dia?" batinnya. Kenapa bukan Seta Aji yang datang?


"Sampurasun!"


Kebetulan yang keluar Larasati.


"Pranata?" Senyum manis Larasati menyapa.


Rupanya mereka sudah saling kenal dan kelihatannya seperti sudah direncanakan akan bertemu.


"Seperti janjiku, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,"


"Kenapa datangnya sore? Aku sudah menunggu dari pagi,"


"Justru harus sore hari, karena tempat itu akan terlihat sangat indah di sore hari,"


Larasati berpikir sejenak. "Baiklah!"


Gadis lugu ini menutup pintu. Lalu dia mengikuti Pranata yang sudah melangkah duluan. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba datang enam orang berkuda.


Prajurit Bhayangkara. Mereka langsung turun dan mengepung.


"Ada apa ini?" Pranata seketika jadi panik.


"Menyerahlah! Kau ditangkap!" seru sang Bekel.

__ADS_1


"Apa salahku?"


"Kau membunuh tiga wanita dalam dua hari kemarin!"


"Omong kosong, bagaimana bisa? Apa buktinya?"


"Tanda silang kau buat di badan korban!"


"Cih, omong kosong lagi! Bagaimana bisa itu membuktikan aku pelakunya?"


Lalu datanglah Seta Aji dan Adijaya. Bekel atau pemimpin prajurit langsung menduga orang yang bersama Seta Aji pasti yang berjuluk Pendekar Payung Terbang itu.


Sementara di atas pohon, Larasati dipusingkan kenapa jadi Pranata tersangkanya?


"Sebelum aku, kau yang lebih dulu menjalin tali asmara dengan ketiga wanita yang kau bunuh," Seta Aji menjelaskan. "Kau sengaja membuat tanda silang agar penyelidikan mengarah kepadaku, dan untuk memperkuat tuduhan itu, sekarang kau hendak membunuh Larasati!"


Barulah kini Puspasari mengerti. Kenapa dia lupa? Padahal dia tahu Pranata juga bekas kekasih Arum Honje sebelum Seta Aji.


Jadi dendam Pranata bukan hanya terhadap tiga gadis yang telah dia bunuh. Tapi juga dendam kepada Seta Aji. Dendam apa?


Mendadak saja Pranata meraih Larasati lalu dijadikan sandera. Sebuah belati telah digenggamnya dan siap menusuk leher gadis itu.


"Jangan bertindak gegabah, lepaskan!" perintah sang Bekel.


"Jangan macam-macam, atau kubunuh dia!" ancam Pranata.


"Larasati!" jerit sang ibu yang baru saja keluar karena mendengar suara keributan.


Si ibu langsung lemas melihat putrinya dalam penyanderaan. Beruntung suaminya segera datang dan menahannya ketika hampir jatuh.


"Kenapa kau lakukan itu, aku tidak punya silang sengketa denganmu?" tanya Seta Aji.


"Kau selalu merebut kekasihku! Dari mulai Arum, Rara dan Kemala!"


"Ya, ampun!" batin Adijaya. Dalam hati dia tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. Ternyata begitu masalahnya. Dia menepuk keningnya.


Sedangkan di atas pohon, Puspasari mendengkus kesal. Soal cinta memang rumit. Saatnya dia bertindak. Puspasari melesat.


Trang!


Belati di tangan Pranata tahu-tahu terpental entah kemana. Lima prajurit segera menyergap, menangkap pemuda itu. Dua tangannya ditarik ke belakang lalu diikat.


Puspasari sudah berdiri di dekat Adijaya sambil menggenggam Pedang Ular Hitam yang tadi dia gunakan untuk membuang belati di tangan Pranata.


Sebenarnya Pranata memiliki kepandaian dan tenaga dalam lumayan. Tapi karena panik, dia tak bisa mengeluarkannya.


__ADS_1


__ADS_2