
Begitu membuka kedua mata, lima sesepuh ini mendapatkan dirinya di halaman luas sebuah bangunan megah. Ternyata di depan mereka sudah ada Eyang Batara.
"Sampurasun!" ucap Ki Manguntara.
"Rampes!"
"Rupanya Eyang sudah lebih dulu datang, maafkan keterlambatan kami!" sambung Ki Jagatapa.
"Kita semua terlambat!" ujar Eyang Batara pelan dengan sedikit senyum ramah.
"Maksud Eyang!" tanya Ki Manguntara. Termasuk yang lain juga menampakkan raut kecemasan.
"Anak muda itu sudah menembus beberapa gerbang Puri Iblis, sehingga kita tinggal masuk tanpa melalui hambatan,"
Kelima sesepuh angguk-angguk mengerti. Mereka kira terlambat datang dan membantu Adijaya.
"Semoga tidak terlambat membantu dia!" ujar Nyai Parasuri.
"Mari kita masuk!" Eyang Batara memimpin rombongan memasuki Puri Iblis.
Tidak ada penjagaan lagi di pintu gerbangnya. Bahkan rintangan alam setiap memasuki gerbang baru yang dilalui Adijaya sebelumnya juga tidak ada.
Hanya ada halaman luas dan sepi di antara gerbang satu dengan yang lainnya. Enam sukma sesepuh hanya bisa berjalan saja menapaki halaman berumput yang luas. Meski suasana lengang, mereka tetap waspada.
***
Adijaya dan kedua pendampingnya sudah semakin dekat ke pintu utama Puri Iblis. Pasukan jubah hitam semakin rapat. Adijaya masih menghemat tenaga, memanfaatkan dinding energi untuk menerobos prajurit Jurig Kaladetya.
"Ibarat air sungai, semakin ke hulu semakin deras dan kuat arusnya!" gumam Adijaya sambil terus merangsek.
Hanya beberapa tombak lagi untuk mencapai pintu utama puri. Namun, arus pasukan lawan semakin padat. Sehingga terpaksa harus mengerahkan tenaga lebih besar lagi.
"Membelah Tanah Menarik Sukma!"
Tidak tanggung-tanggung, dua kaki Adijaya dihantamkan ke tanah menimbulkan dua belahan tanah yang menganga besar. Ratusan prajurit langsung amblas tersedot ke bawah.
Pada saat itu Adijaya langsung meloncat berjalan di udara lalu mendarat tepat di depan pintu, disusul sepasang guriang juga sudah berhasil melewati rintangan. Mereka berdiri di samping Adijaya.
Ketiganya menyaksikan ratusan atau mungkin sekarang sudah ribuan prajurit Puri Iblis tersedot ke dalam tanah yang membelah. Adijaya tidak segera menutup kembali tanahnya. Membiarkan semuanya masuk.
__ADS_1
Baru setelah habis tidak tersisa lagi satupun, tanah yang membelah langsung rapat kembali tanpa bekas.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam bangunan megah itu. Pintu utama bangunan ini tidak memiliki daun, jadi langsung bisa masuk ke dalam.
Di dalam hanya ada ruangan persegi yang sangat luas. Semua dinding ruangan termasuk lantai berwarna abu-abu. Tidak ada jendela atau kisi-kisi, tapi ruangan sangat terang. Entah dari mana asal cahayanya.
Tepat di tengah-tengah ruangan telah berdiri satu sosok yang tidak asing bagi Adijaya.
"Ganggasara," ucap Adijaya. "Apakah dia ujian terakhir sebelum bertemu si Jurig Kala-kala?"
"Dia memang Jurig Kaladetya!" jawab Padmasari.
Adijaya kerutkan kening sambil garuk-garuk kepala, masih tidak mengerti. Apakah Ganggasara sama seperti gurunya yang bertransformasi menjadi siluman?
"Sukma Ganggasara menyatu dengan tubuh siluman Jurig Kaladetya!" jelas Ki Santang.
"Oh, jadi begitu. Sukma kesurupan siluman!"
Ganggasara menatap tajam ke tiga tamu yang telah melewati berbagai macam rintangan buatannya. Bola matanya berwarna merah menyala. Wajahnya begitu dingin dan pucat.
"Kalian memang hebat!" Suara Jurig Kaladetya menggema di dalam ruangan. Suaranya terdengar seperti dua makhluk yang berbicara bersamaan. Mungkinkah Ganggasara dan Jurig Kaladetya berbicara bareng?
Jurig Kaladetya memandang geram ke arah Adijaya. "Aku pastikan sukmamu akan terbelenggu di sini selamanya!"
Ketika tangan Ganggasara menunjuk, segelombang energi melesat menghantam ke arah Adijaya. Pemuda ini hanya mengepos sedikit. Pukulan tak kasat mata itu menghantam dinding atas di belakang Adijaya.
Jdarr!
Tetapi Adijaya lengah dari serangan susulan. Sukmanya terpental hingga menghantam dinding juga.
Brukk!
Rasa nyeri memenuhi sekujur sukmanya. Seperti sakit di raga kasar. Sementara dua guriang sudah berkelebat mengirim serangan.
Ganggasara atau Jurig Kaladetya tetap di tempatnya, tak bergeser sedikitpun meski serangan lawan sudah bertubi-tubi. Di sela-sela sambil menyerang, Ki Santang melemparkan Labu Penyedot Sukma kepada Adijaya.
Adijaya yang baru bangun dari jatuh segera menangkap labu itu.
"Buka dan arahkan lurus ke ubun-ubun!" teriak Ki Santang memberi tahu.
__ADS_1
Jurig Kaladetya tentu saja tidak akan membiarkan dirinya tersedot ke dalam labu. Dia selalu memalingkan kepalanya agar tidak menghadap ke lubang labu.
Adijaya sering terbang di atas sambil mengarahkan lubang labu ke kepala Ganggasara. Sementara Padmasari dan Ki Santang berusaha membuat makhluk itu lurus kepalanya ke lubang labu.
Namun, ternyata usaha mereka begitu berat. Jurig Kaladetya sangat kuat. Yang tadinya hanya berdiri di tempat, kini berpindah-pindah demi menghindari lubang labu.
Bahkan ketika Adijaya nekad mendekat sambil menyorongkan labu, pukulan jarak jauh sudah menghempaskannya lebih dulu.
"Apa tidak bisa disedot lewat bokongnya saja, gitu!" gerutu Adijaya ketika mendapati dirinya terjatuh akibat pukulan jarak jauh Ganggasara. Beruntung tangannya memegang kuat labu sehingga tidak terlepas.
"Kalau harus ubun-ubun, berarti aku harus selalu di atas!" umpat Adijaya lalu berteriak kepada dua guriangnya, "Bisakah kalian tangkap dia lalu arahkan ubun-ubunnya padaku?"
"Sedang kami usahakan, Juragan!" sahut Ki Santang.
"Hanya saja makhluk ini terlalu 'meten'!" sambung Padmasari.
Adijaya mendekat lalu bersalto, tapi Jurig Kaladetya yang menyatu dengan Ganggasara langsung memiringkan kepala. Akhirnya Adijaya cuma lewat saja di atas.
Sementara dua guriang tampak kesusahan menangkap sasarannya. Makhluk gabungan ini sangat lincah dan kuat. Berkali-kali mereka terdorong.
Apabila berhasil menangkap, mereka kesusahan menggerakkan Ganggasara yang seolah-olah terpatok kakinya ke lantai. Tidak bergerak sedikitpun, bagaikan mendorong gunung.
"Ilmu Patok Jagat!" seru Ki Santang terkejut mengetahui ilmu yang digunakan lawan.
"Kalau begitu kita bikin dia loncat-loncat!" ujar Padmasari sambil memberi aba-aba agar mengambil jarak.
Adijaya kini bingung melihat dua abdinya berlari-lari mengelilingi Jurig Kaladetya sambil sesekali mengirim pukulan jarak jauh yang di arahkan ke kaki.
Ganggasara loncat-loncat menghindari serangan dua guriang, tapi loncatannya lurus. Tidak bersalto atau cara lain yang mengharuskan posisi badannya miring.
Sekarang Adijaya mengerti maksud mereka. "Buat dia meloncat miring!" teriaknya kemudian.
Maka dua guriang itu berbagi tugas, bila yang satu menyerang bawah maka yang satunya menyerang ketika Ganggasara melayang. Sehingga makhluk rangkap itu harus berputar di atas alias salto untuk menghindari serangan atas.
Namun, siapa sangka ternyata gerakan saltonya sangat cepat sekali. Sehingga Adijaya gagal lagi mengarahkan lubang labunya.
Bahkan Jurig Kaladetya masih sempat melepaskan pukulan jarak jauh ke Adijaya, mengarah ke tangannya lagi, agar labunya lepas.
"Sialan!" maki Adijaya hampir kehilangan labunya.
__ADS_1