Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Dua Hati Bersambut


__ADS_3

Waktu Tanage waktunya istirahat. Murid-murid laki-laki dan perempuan berhenti latihan. Mereka menuju ke sebuah bangunan tanpa dinding. Hanya ada atap rumbia yang ditopang tiang-tiang kayu di setiap sudut dan sisi-sisinya. Banyak juga tiang di bagian tengah. Semuanya agar bangunan ini kokoh.


Tempat murid perempuan dipisahkan dari murid laki-laki. Bangunan serupa yang berada di sebelah tempat laki-laki.


Adijaya ikut makan bersama murid-murid lelaki. Ini yang pertama kalinya. Karena dulu kalau makan dia menyendiri, itu juga selalu belakangan menunggu semua murid selesai makan.


Sebagian besar murid-murid lelaki sudah tahu Adijaya. Yang dulu memusuhinya kini sudah tidak lagi. Sekarang mereka sudah bisa bercengkrama dengan baik.


Sambil makan, sepasang mata Adijaya selalu melirik ke tempat perempuan. Entah kenapa dia ingin melihat Kinasih. Tapi wanita itu belum tertangkap oleh matanya. Sampai habis makan. Banyak murid sudah beranjak meninggalkan tempatnya. Namun, masih ada yang duduk-duduk sambil berbincang-bincang.


Adijaya memutuskan untuk pergi ke dapur. Saat di dapur itulah dia bertemu dengan orang yang dicari-cari. Seketika dadanya berdebar kencang. Kinasih menatapnya lembut dengan senyum simpul kecil di bibirnya.


Pemuda ini tak sanggup menatap mata wanita itu. Dia menunduk pelan, tapi bibirnya memberanikan diri bertanya.


"Sudah... makan...?"


"Sudah," Kinasih tersipu.


"Di mana? Tadi, saya... tidak melihatnya di sana..." Adijaya cuma sekilas melirik Kinasih lalu menunduk lagi.


Detak jantungnya seperti berlari kencang. Dia menegangkan tangannya agar tak terlihat gemetar. Benar-benar berdebar, tapi tak ingin berlalu. Waktu rasanya berdetik begitu pelan. Adijaya takut kalau detak jantungnya yang berdegup kencang terdengar oleh Kinasih.


"Akang mencariku, ya?"


"A.. Akang?" Adijaya gugup.


Wajah Kinasih bersemu merah. Dia sadar dirinya lebih tua dari pemuda itu.


Tak ingin menyinggung perasaan, Adijaya memberanikan diri lagi.


"Maaf," ucap Adijaya.


"Maaf kenapa?"


"Saya... harus memanggil apa ke..."


Dua pasang mata saling bertatapan. Adijaya segera menunduk lagi. Kinasih tersenyum manis. Pemuda yang belum lama tinggal di padepokan ini ternyata telah memikat hatinya sejak pandangan pertama. Banyak murid laki-laki yang telah dikenal sebelumnya. Di antara mereka ada yang sering diam-diam melihatnya. Bahkan ada juga yang mulai perhatian. Tapi semua itu tidak membuat luluh hatinya. Namun, Adijaya, baru pertama bertemu saja sudah bikin hatinya berdebar.


"Apa keberatan kalau saya memanggil 'Akang' gitu?"

__ADS_1


"Ti... tidak, cuma, cuma... ini baru pertama kalinya, Nya... Nya... Nyai..."


Kinasih terkejut. Wajahnya semakin merona. Setidaknya panggilan 'Nyai' lebih baik daripada sebutan 'Teteh', sebutan kepada perempuan yang lebih tua. Karena wanita, walaupun lebih tua tapi tak ingin dianggap tua.


"Akang Adijaya,"


"Nyai Kinasih, loh, dari mana tahu nama sa.. aku?"


"Akang sendiri dari mana tahu namaku?"


Kedua saling bertatapan lalu tertawa bersama. Tawa yang pelan.


"Kinasih, mau latihan di sini?" satu suara mengejutkan mereka.


"Teteh Arum," Kinasih gugup, menundukkan wajahnya.


Begitu juga Adijaya tampak kikuk. "Bibi..."


Praba Arum hanya tersenyum melihat mereka.


"Aku... saya... latihan dulu, Kang," malu-malu Kinasih beranjak meninggalkan mereka. Di ujung pintu dia masih sempat melirik Adijaya.


Begitu wanita itu lenyap. Praba Arum mengekeh geli.


"Tadi sama Kinasih kamu gugup, kok sama saya jadi lancar?"


"Ah, Bibi ada-ada saja. Wajarlah, saya baru pertama kali,"


Dengan malu-malu Adijaya juga 'ngaleos' keluar diiringi tawa Pendekar Kipas Perak sambil memegangi perutnya.


***


Padepokan Linggapura terletak di lereng gunung Lingga. Selama tinggal di padepokan, dulu atau sekarang Adijaya belum pernah mendaki ke puncaknya. Entah kenapa sore ini rasanya dia ingin mendaki.


Dia ingin mencoba kekuatan yang dimilikinya. Mencoba ilmu meringankan tubuh tanpa menggunakan Payung Terbang. Maka pemuda berlari santai mendaki menuju puncak. Melalui jalan setapak. Melompati batu sebesar kerbau. Kadang ujung jempol kakinya menutul ke pucuk daun tumbuhan perdu.


Adijaya menikmatinya. Dia merasakan tubuhnya begitu ringan. Nafasnya panjang sehingga tidak mudah lelah. Kadang dia sengaja meloncat sangat tinggi hingga mencapai pucuk pohon yang menjulang. Saat di atas itulah, dia menikmati pemandangan sore yang begitu indah dengan udara gunung yang sejuk dan menyegarkan.


Tak terasa pemuda ini hampir mencapai puncak. Namun, telinganya mendengar sesuatu keanehan dari kejauhan. Dari puncak.

__ADS_1


Suara pertarungan!


Adijaya mempercepat larinya. Loncatan terakhirnya membawa tubuhnya hinggap di sebuah dahan pohon. Di puncak gunung yang tanahnya agak lapang terlihat dua orang sedang mengadu kepandaian. Dua orang yang dia kenal.


"Kinasih! Paman Kuntala!" desisnya.


Tentu saja mereka tidak sedang latihan. Dilihat dari serangannya. Kuntala tampak ingin menjatuhkan lawan. Dan Kinasih mencoba bertahan.


"Aku ingin melihat sampai di mana kelincahanmu, manis!" seru Kuntala.


Ucapannya menggoda, berarti Kuntala memang ingin melumpuhkan Kinasih. Pasti ada niat buruk terhadap wanita itu. Dan, kenapa mereka ada di puncak?


Adijaya simpan semua pertanyaan itu. Hatinya bergetar melihat wanita yang disukainya dianiaya. Maka segera dia melesat langsung melabrak serangan pukulan dari Kuntala yang hampir mengenai dada Kinasih.


Wush!


Takk!


Kuntala terjajar lima langkah ke belakang. Dia terkejut melihat siapa yang datang. Walau banyak perubahan, tapi masih mengenali wajah si pemuda.


"Adijaya, mau apa kau ikut campur?" sentak Kuntala. Tangannya terasa kebas setelah bentrokan dengan tangan Adijaya. Seperti habis memukul batu.


"Saya yang bertanya, kenapa Paman menganiaya wanita?'


Kuntala mendengkus. "Anak durhaka! Apa kau lupa dengan kematian ayahmu? Seharusnya kau menuntut balas. Bukan malah berleha-leha tinggal bersama orang yang sudah membunuh ayahmu!"


"Kematian ayah adalah karma atas kejahatan yang pernah dilakukannya. Lagi pula, sebelum meninggal ayah sudah menyatakan bertobat!" kilah Adijaya ingat perkataan ayahnya sebelum tewas.


"Bedeb*h! Anak tak tau diri. Rasakan ini!"


Kuntala menggenjot badan. Kedua kakinya menolak ke tanah, lalu tubuhnya meluncur dengan dua tangan terkepal mengarah ke dada dan wajah Adijaya.


Dengan sikap tenang, Adijaya menangkis pukulan yang menyasar wajahnya dengan tangan kanan. Sedangkan tangan kiri jadi tameng atas serangan yang menuju dadanya. Badannya sedikit membungkuk, tapi kedua kakinya tetap berpijak kuat di tempatnya.


Trak!


Kuntala terdorong satu langkah. Begitu kedua kakinya mendarat dengan selamat, dua tangannya kembali melancarkan serangan dengan jurus Cakrageni tingkat tujuh. Tingkat paling akhir. Dulu ketika masih bersama Gandara dia baru mencapai tingkat enam. Beruntung gurunya menyelamatkan saat dirinya terkapar akibat pukulan Pendekar Tinju Dewa sekitar empat tahun yang lalu.


Masih dengan tenang Adijaya melayani serangan lawan sambil mempelajari tata gerak jurus lawan. Merasakan hawa yang terpancar. Mencari intisari jurus yang sudah dikenalnya dari kecil. Adijaya hanya menggunakan tenaga kasar, tapi memanfaatkan kecepatan dan keringanan tubuhnya. Sehingga gerakannya mantap.

__ADS_1


Sementara Kuntala merasa kaget. Dia tahu lawannya hanya menggunakan tenaga kasar. Tapi setiap berbenturan seperti menghantam batu yang keras.


"Gila! Terbuat dari apa tubuh anak ini?"


__ADS_2