Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Bencana Di Padepokan


__ADS_3

Setelah isi kitab itu dikusai semua, Gandamayang alias Nini Bedul mengikuti petunjuk di halaman terakhir. Yaitu membuat pedang Guntur dan melemparkan kitab Jagat Pamungkas ke dasar bumi.


Cukup susah mencari tempat semacam goa atau apa yang dalam dan tersembunyi. Sampai akhirnya menemukan sumur ini. Kitab dicemplungkan ke dasar. Lalu membuat peta, disimpan di gagang pedang Guntur.


Begitu kitab itu jatuh ke dasar, setelah empat puluh hari wujudnya berubah menjadi wanita yang terlihat seperti sekarang. Hanya tangan dan kakinya terbelengu. Inilah yang dimaksud hukuman kedua.


Pada hukuman kedua ini Padmasari menunggu seseorang yang datang membawa pedang Guntur.


"Aku tidak membawa pedang itu," ujar Adijaya sengaja mempermainkan Padmasari.


Wanita ini melotot, sinar biru matanya makin terang. "Aku tahu, dari awal kau sudah usil!"


"Dia benar, karena pedangnya aku yang bawa!" Ki Santang mengeluarkan pedang Guntur lalu diberikan kepada majikannya.


"Kalau gembok ini dibuka, apakah wujudmu akan kembali menjadi kitab?" tanya Adijaya.


"Tentu tidak, aku sudah bebas dari hukuman!"


"Berarti kau membohongiku!"


"Tidak juga!"


"Lalu bagaimana aku bisa menguasai isi kitab itu?"


"Sudahlah, jangan mempermainkanku lagi. Cepatlah buka!"


Adijaya tersenyum memandangi wajah Padmasari yang cantik bersinar mengingatkan pada Asmarini. Sayang sekali berbeda jenis.


"Dasar genit! Kau pasti memiliki banyak wanita!"


Ki Santang tertawa mendengarnya. Adijaya menusukkan pedang Guntur ke lubang kunci di gembok besar itu, lalu diputar.


Krek!


Pedang Guntur patah. Adijaya sempat terkejut tapi kejap berikutnya gembok terbuka. Rupanya kalau sudah dipakai maka pedang itu tak berguna lagi.


Padmasari menarik napas lega setelah melepas belenggu rantai yang sudah mengikatnya puluhan tahun. Senyumnya merekah begitu manis menggambarkan kebahagiaan tiada tara.


"Seperti kau membebaskan Santang, maka aku juga akan mengabdi kepadamu. Tidak perlu khawatir, setelah aku masuk ke dalam ragamu maka kau sudah menguasai isi kitab Jagat Pamungkas,"


Benar juga kata si kakek kurus itu, Adijaya akan mudah menguasainya. Lebih mudah dari yang ia bayangkan.


Pada dasarnya adalah niat baik untuk menolong sesama mahluk ciptaan Hyang Rumuhun. Setiap budi baik yang tertanam akan tumbuh kebaikan pula.


Seperti menanam satu biji. Ketika tumbuh menjadi pohon akan menghasilkan ratusan biji yang kelak menjadi buah manis untuk dipetik.


Itulah, kebaikan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat.


"Asyik, sekarang aku mempunyai teman yang cantik!" ujar Ki Santang sebelum sosoknya menghilang.

__ADS_1


Padmasari menatap lembut, sinar matanya yang biru memancarkan kesejukan. Simpul senyum di bibirnya membangkitkan gairah. Adijaya terpesona.


Kalau wanita ini dari jenis manusia, mungkin akan menjadi yang tercantik.


"Kau sungguh tampan, Adijaya. Pasti banyak gadis yang terpikat padamu. Sekarang bersiaplah, aku akan masuk menemani Ki Santang!"


"Ki Santang menjelma menjadi Payung Terbang, lalu kau jadi apa?"


"Tidak jadi apa-apa, aku akan masuk dengan cara memelukmu, aku terpesona dengan kegagahanmu!"


Adijaya menelan ludahnya.


Padmasari mendekat lalu memeluk Adijaya. Pemuda ini sempat kaku sejenak merasakan sentuhan yang berbeda. Lembut dan hangatnya berbeda dari wanita yang pernah dia peluk sebelumnya.


Perlahan sosok Padmasari memudar seperti bayang-bayang sampai akhirnya lenyap dan Adijaya hanya memeluk udara. Setelah itu dia merasakan satu hawa baru di dalam tubuhnya.


Secara tiba-tiba otaknya telah memahami sesuatu yang baru. Mengetahui cara menggunakan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab Jagat Pamungkas.


Adijaya menghela napas lega. Dia tersenyum sambil garuk-garuk kepala. Ternyata ada menguasai ilmu dengan cara yang indah. Dia geleng-geleng kepala memikirkan apa yang barusan terjadi.


Dia mendongak ke atas lalu melesat cepat keluar dari dasar sumur. Begitu mendarat di atas, sinar matahari pagi menyambutnya dengan cerah


"Rasanya cuma sebentar, tapi ternyata semalaman. Dan aku baru merasakan ngantuk sekarang!"


Walaupun ngantuk dia tetap menuruni gunung. Seperti sebelumnya dia menggunakan Payung Terbang. Sampai di sebuah jalan di kaki gunung, dia baru mendarat.


Kalau dia berjalan terus ke arah barat, maka akan sampai ke gunung Lingga, tempat beradanya padepokan Linggapura. Sudah lama dia meninggalkan padepokan itu. Tapi masih memerlukan waktu kurang lebih tiga hari berjalan kaki.


Sekitar satu purnama sebelumnya. Di padepokan Linggapura.


Malam hari ketika semua penghuni telah merampungkan semua kegiatan dan menuju ke tempat istirahat masing-masing. Tiba-tiba saja dikejutkan dengan bertiupnya angin kencang seperti badai.


Padepokan yang kini tidak beda dengan sebuah kampung kecil seketika jadi heboh. Para murid keluar lagi ingin melihat apa yang terjadi.


"Ada yang menyerang!" seru Ki Ranggasura.


Semua murid, laki-laki dan perempuan bersiap siaga sambil melihat ke segala arah. Mencari kemungkinan munculnya penyerang.


"Ini bukan orang sembarangan, biar aku saja yang menghadapinya!"


Ki Ranggasura melesat ke tengah lapangan yang biasa digunakan latihan. Berdiri tegap tapi tetap waspada. Ini bukan angin yang dikendalikan dengan kesaktian. Ini angin tipuan. Begitulah yang dirasakan Ki Ranggasura.


Kakek guru besar padepokan ini kerahkan kekuatan. Tajamkan panca indera. Lalu di depannya muncul satu sosok yang berawal dari bayangan tipis tembus pandang.


Semakin lama semakin jelas, hingga membentuk satu wujud seseorang yang wajahnya bertopeng kulit kayu. Perawakannya sangat kurus, hanya kulit pembungkus tulang saja.


Ki Ranggasura belum pernah melihat orang ini sebelumnya. Walaupun wajahnya ditutupi, setidaknya dari bentuk tubuhnya, tetap kakek ini tak bisa mengenalinya.


"Kita tidak ada silang sengketa, mengapa datang mengganggu?"

__ADS_1


"Untuk itulah aku datang, membuat silang sengketa denganmu!" sahut si kurus bertopeng diakhiri tawa yang menyeramkan.


"Apa maumu?"


"Aku ingin kau dan semua muridmu tunduk dibawah perintahku!"


"Kau bukan raja!"


"Aku akan menjadi raja di raja!"


"Jangan mimpi!"


Si kurus berteriak sambil kibaskan dua tangannya. Melesat sinar kuning dari tangannya menghantam Ki Ranggasura.


Namun, kakek itu sudah bergerak cepat menghindar. Sinar kuning menghantam tanah menimbulkan ledakan dan memuncratkan debu.


Blarrr! Blarr!


Selanjutnya Ki Ranggasura dibuat repot karena harus menghindari sinar-sinar kuning yang mengarah kepadanya. Debu yang membumbung tinggi menghalangi pandangan si kakek.


Beberapa saat kemudian serangan sinar kuning berhenti. Ki Ranggasura mengitarkan pandangan. Kepulan debu masih menghalangi kedua matanya.


Pada saat kepulan debu telah mereda. Ki Ranggasura terkejut melihat semua murid-muridnya tergeletak tak bergerak. Tak ada satupun yang masih berdiri.


Si kakek panik, kapan sosok kurus itu melakukan pembantaian. Apakah ketika puluhan sinar kuning itu menyerang?


Terdengar suara tawa mengekeh menyeramkan. Tawa kemenangan, tawa mengejek. Ki Ranggasura berbalik ke arah suara.


Dess!


Satu hantaman telapak tangan mengenai dadanya. Ki Ranggasura terpental jauh lalu jatuh berguling-guling.


"Guru!"


"Guru!"


Terdengar suara Arya Sentana dan murid-murid lain memanggilnya. Ki Ranggasura merasa aneh, kenapa murid-muridnya hidup kembali? Dia melihat semua murid mengerubunginya.


Sekarang dia sadar. Rupanya orang tadi menggunakan sihir untuk menipunya. Yang dilihat sebelumnya ternyata hanya tipuan mata.


"Toloong!"


Terdengar suara jeritan minta bantuan.


"Dinda!" seru Arya Sentana melihat istrinya dipanggul orang lalu lenyap entah kemana.


Baru saja hendak mengejar, tiba-tiba terdengar suara menggema di angkasa.


"Wanita ini kujadikan sebagai upeti, pertanda takluknya padepokan ini, ha... ha... ha...!"

__ADS_1


Seluruh padepokan gempar. Arya Sentana marah dan bingung kemana hendak mengejar? Sedangkan sosok yang membawa lari istrinya lenyap begitu saja.


Tambah gempar lagi ketika Ki Ranggasura menghembuskan napas terakhir. Semua jadi kalut dan takut. Siapa orang yang telah menebar bencana ini?


__ADS_2