Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Malapetaka


__ADS_3

"Adijaya," gadis berwajah bulat itu memanggil.


Adijaya menoleh sambil mengangkat alisnya.


"Temani aku di sini," pinta gadis itu.


Si pemuda menghela napas sebelum masuk ke dalam. Kudanya dibiarkan tanpa kendali.


Setelah di dalam, gadis itu menatapnya lekat-lekat dengan pandangan mesra. Pikiran Adijaya sudah menebak-nebak. Nyi Warsih dan Darma Koswara saja bisa ditebak isi hatinya.


"Aku sudah melihat Pancariti begitu mesra kepadamu. Aku yakin dia jatuh hati padamu. Dan itu wajar karena aku juga jatuh cinta padamu,"


Adijaya kerutkan kening. Sudah dua gadis yang menyatakan cinta padanya. Dua-duanya pembunuh bayaran. Cantik-cantik lagi. Aneh, kenapa gadis cantik mau jadi pembunuh?


"Secepat itu?" tanya Adijaya.


"Gadis mana yang tidak tertarik pemuda tampan dan gagah, apalagi seorang pendekar terkenal,"


"Sejak kapan aku terkenal?" batin Adijaya.


"Kalau kau beritahukan siapa yang menyuruhmu, apa kau akan mati mendadak?" tanya Adijaya mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja tidak!"


"Kalau begitu siapa?"


"Namaku Santini,"


Adijaya mendelik. "Aku tidak tanya namamu!"


Gadis bernama Santini ini malah tersenyum. Kelihatan manis karena di salah satu pipinya terbentuk lesung pipit yang indah.


Santini mendekatkan wajahnya. Merangkul leher Adijaya. Pemuda ini menahan napas menyembunyikan perasaan berdebarnya. Bagaimana pun juga dia laki-laki yang tertarik kepada wanita.


Adijaya tidak menyadari, sesuatu yang halus, hawa yang begitu halus, lolos dari perasaannya yang sangat peka. Hawa itu merasuki Santini.


Sehingga gadis ini tampak bernafsu menggebu-gebu. Entah kenapa Adijaya juga seperti kena sirep. Sesuatu di dalam tubuhnya di alam halus meronta-ronta. Seolah berteriak, tapi telinga Adijaya tak mampu mendengarnya.


Antara sadar dan tidak terjadilah sesuatu yang membuat mereka melayang ke alam yang penuh keindahan bagai Swargaloka.


***


Ketika Adijaya terbangun, tubuhnya terasa pegal-pegal dan berat. Perasaannya aneh. Pandangannya agak kabur. Indra pendengaran juga berkurang. Napasnya berat.


Dia mengingat yang barusan terjadi. Dia sangat ingat. Bersama Santini memadu asmara hingga sampai ke puncaknya.


Ingat Santini, segera dia melihat gadis itu. Alangkah terkejutnya dia. Jantungnya berdetak kencang tak pernah seperti ini. Anehnya ada perasaan takut ketika melihat sosok gadis itu.


Santini terlihat kaku, mata mendelik dan kulitnya gosong.


Apa yang terjadi? Mengapa bisa seperti ini?

__ADS_1


Mendadak kepala Adijaya pusing. Lalu dia mencoba memusatkan pikiran. Menghirup udara dan menghimpun hawa sakti. Tetapi...


Astaga!


Dia tidak bisa melakukannya!


"Kekuatanku hilang!"


Bagaimana bisa terjadi? Apa karena...?


"Payung Terbang!"


Tring!


Adijaya senang masih bisa memanggil payung jelmaan guriang itu. Lalu dia melempar payung itu pelan.


Tring!


Sosok guriang muncul di hadapannya dalam keadaan duduk. Tapi tetap saja kepalanya menyundul atap kereta.


"Tolong jelaskan!" perintah Adijaya.


Guriang itu menjura. "Saya sudah memanggil-manggil juragan tadi. Tapi sepertinya ada tabir yang menghalangi, sehingga juragan tak dapat mendengar suara saya,"


"Untuk apa memanggilku?"


"Mencegah juragan berbuat 'begitu' karena akan membahayakan diri juragan,"


Adijaya menghela napas. "Ternyata benar, akibat perbuatan itu,"


"Terus kenapa dia seperti itu?" Adijaya menunjuk sosok Santini.


"Sebelumnya tanpa sepengetahuan, dia telah disusupi ajian Penyedot Kekuatan. Barang siapa yang menyetubuhinya maka kekuatannya akan habis tersedot. Hanya saja dia tak mampu mengendalikan kekuatanmu yang masuk ke dalam tubuhnya. Sehingga kekuatan itu membakar dirinya sendiri dari dalam,"


"Bagaimana cara mengembalikan kekuatanku? Apa aku harus kembali ke goa lumut?"


Sedangkan goa itu telah dia hancurkan sebelum dirinya memulai petualangan.


"Juragan hanya bisa mengandalkan saya," kata guriang.


Mahluk alam siluman ini sekali menunjuk, sosok Santini yang sudah gosong dan kaku terlempar keluar.


Adijaya menopang dagu. Kini dia hanya manusia biasa lagi tanpa kekuatan apapun. Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.


Bukankah dulu dia tidak ingin jadi pendekar? Sehingga membiarkan dirinya tidak dilatih silat saat di padepokan.


Tapi sekarang mendadak rasa rendah dirinya begitu kental. Ada rasa takut. Juga malu. Bagaimana dia nanti bertemu dengan Kinasih, Arya Sentana, dan Ki Ranggasura.


"Juragan tenang saja, saya akan melindungi juragan. Di depan sana musuh juragan sudah menghadang,"


Lalu pemuda yang baru saja kehilangan kekuatan ini beringsut ke tempat kusir.

__ADS_1


Kenikmatan yang membawa malapetaka.


Lima tombak di depan sana berdiri seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi Adijaya.


"Ternyata memang kau biang keladinya!" seru Adijaya.


Ganggasara tertawa puas. "Bagaimana bulan madunya? Menyenangkan?"


Adijaya tetap tenang. Bersikap seperti biasanya. Wajahnya datar, tidak menunjukan raut ketakutan sama sekali.


Buat apa takut? Semua manusia pasti akan mati!


"Sekarang kau tak lebih dari seonggok sampah. Tidak ada lagi Pendekar Payung Terbang yang sakti mandraguna. Riwayatmu akan segera berakhir, hahaha....!"


Ganggasara terus menekan dengan ucapan-ucapannya.


"Sekarang aku bebas, tidak ada lagi penghalang untuk memuluskan semua keinginanku. Tapi jangan terlalu bersedih. Bagaimana pun juga kau harus berterima kasih padaku. Karena sebelum ke neraka, kau telah merasakan surga dunia, hahahaha....!"


Ganggasara menghimpun kekuatan ke dalam kepalan tangan kanannya.


"Aku tidak akan memberikan waktu lebih lama lagi!"


Wutt!


Pukulan jarak jauh dilepaskan Ganggasara. Namun, sebelum mencapai sasaran. Payung Terbang begitu kokoh menjadi tameng Adijaya.


Blasss!


Ganggasara terkejut kenapa anak muda itu masih bisa mengeluarkan payungnya? Lalu dia berkesimpulan bahwa antara Payung Terbang dan kekuatan dalam tubuh Adijaya adalah berbeda. Bukan merupakan satu kesatuan.


Memang benar. Kekuatan Adijaya berasal dari lumut ungu dalam goa. Sedangkan Payung Terbang berasal dari jelmaan Guriang yang pernah ditolongnya.


Sekali lagi Ganggasara melepaskan serangan dahsyat. Hasilnya tetap sama. Adijaya masih bergeming di tempatnya.


Adijaya tersenyum pahit.


"Kau belum saatnya menang. Dan aku belum saatnya mati!" ujar Adijaya sebelum menyentak tali kekang kuda.


Kereta melaju tenang melewati Ganggasara yang masih berdiri penasaran. Hingga kereta itu lenyap dari pandangan, Ganggasara masih berdiri dengan sejuta tanya.


"Suatu saat kau tak bisa lepas dariku!"


Tak terasa air mata menetes di kedua belah pipi Adijaya. Sebelumnya dia telah memusnahkan kekuatan Ki Reksa. Sekarang dia mengalaminya. Ternyata sangat berat kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya.


Tapi itulah takdir. Ada yang hilang, ada yang ganti. Roda berputar itu nyata. Setiap manusia pasti akan mengalaminya saat di atas dan saat di bawah.


Adijaya yakin, Ki Ranggasura dan Arya Sentana masih bisa memakluminya. Tapi bagaimana dengan yang lain?


Seorang pendekar yang baru saja mengukir namanya di dunia persilatan kini telah kembali ke manusia biasa tanpa kesaktian.


Bagaimana nasib Adijaya selanjutnya? Apakah dia bisa mendapatkan kembali kekuatannya yang dahsyat itu?

__ADS_1


Lalu bagaimana caranya?


Ikuti terus kisah Pendekar Payung Terbang. Mohon dukungannya dengan cara like, rate, vote dan tip-nya.


__ADS_2