Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pembantaian Di Penginapan


__ADS_3

"Sebenarnya penginapan ini milik siapa, mengapa mereka dengan mudahnya keluar masuk?" gerutu Adijaya heran dengan penglihatannya.


Yang datang adalah orang-orang yang sebelumnya ada di situ juga. Ki Rangkas dalam keadaan terikat digiring sepuluh orang berseragam putih. Dua di antaranya tampak aneh, dan Adijaya mengetahuinya.


Dua orang itu dirasuki mahluk guriang suruhan Padmasari. Adijaya menebak mereka pasti yang disebut Dewan Kehormatan. Satu orang lagi yang datang bersama, tidak lain adalah Ki Bontang.


Setelah Ki Bontang datang lagi dua orang berseragam murid sambil mengusung tandu yang berisi sosok Ki Legawa. Mereka meletakan tandu di tengah-tengah ruangan.


"Padepokan punya cara pengadilan sendiri, dan harus dilaksanakan di dalam padepokan!" Ki Rangkas sepertinya memprotes, tatapannya tertuju pada Ki Bontang.


"Aku tidak mau mengambil resiko, bisa saja kau kabur saat diperjalanan!"


Ki Rangkas tertawa getir. "Sejak kapan aku jadi pengecut seperti kau? Diam-diam membunuh Ki Legawa lalu tuduhannya ditimpakan padaku. Sungguh cara yang benar-benar pengecut!"


"Diam, kau yang telah membunuh Ki Legawa. Padahal Dewan Kehormatan memerintahkan hanya menangkap saja!"


Ki Rangkas tertawa lagi kali ini sampai terbahak-bahak. Meskipun dalam keadaan terikat dia tidak menunjukan rasa takut sedikitpun.


"Kau pikir aku bodoh?" tukas Ki Rangkas pelan lalu memandang jasad Ki Legawa. "Ternyata kita adalah korban adu domba manusia berhati busuk ini, Legawa. Aku tidak menyangka kita bisa terperangkap tipu dayanya. Sejak kecil dia memang sudah banyak tipu muslihat.


"Aku kira seiring berjalannya waktu, didikan Mahaguru akan mengubah sifatnya. Nyatanya hanya kepalsuan yang dia tampakkan. Ki Ganjar dan kau telah lebih dulu jadi korbannya. Sekarang aku akan menyusul sehingga tak ada lagi yang menyainginya, hahaha...!"


Ki Rangkas terus tertawa hingga berubah menjadi isakan tangis. Sementara Ki Bontang tersenyum penuh kemenangan.


"Apa kau sudah mengeluarkan unek-unekmu, kalau sudah aku tidak akan segan lagi mengantarmu menemani Legawa!"


Suara isakan Ki Rangkas sudah tak terdengar lagi. Ki Bontang memberikan isyarat mata kepada anggota Dewan Kehormatan. Lalu salah seorang dari mereka menarik pedang dan hendak menusukkannya ke punggung Ki Rangkas.


Trang!


Tiba-tiba pedang terpental lepas. Semua orang merasakan hawa sakti yang begitu kuat. Mereka melihat ke sumber hawa. Adijaya telah berdiri dua tombak dari tempat mereka.


Ki Bontang memandang tak senang. Sejak melihat Adijaya bisa Ngaraga Sukma, hatinya sudah menduga-duga. Pemuda ini pasti terlibat.


"Sudah kuduga, tapi sebaiknya kau jangan ikut campur kalau tidak ingin hal buruk menimpamu!" ancam Ki Bontang.

__ADS_1


"Oh, beginikah sifat pendekar aliran putih?" ejek Adijaya tersenyum tipis.


"Anak kemarin sore, tahu apa kau soal aliran putih atau hitam?"


"Kemarin sore, benarkah?" Adijaya pancarkan hawa sakti lebih kuat.


Selain Ki Bontang, tampak tersurut terkena dampak hawa sakti ini. Ki Rangkas sampai terguling tidak bisa menahan keseimbangan karena badannya diikat.


Sebenarnya Ki Bontang juga hampir terdorong kalau tidak segera menahan dengan tenaga dalamnya. Dia merasa pemuda ini menjadi penghalang terbesarnya. Sepuluh Dewan Kehormatan juga sepertinya bukan lawan Adijaya.


Kemudian secepat kilat Adijaya menyambar sosok Ki Rangkas. Dalam sekejap pula tali pengikatnya lepas. Lalu Adijaya membawa lari Ki Rangkas ke lantai bawah terus keluar dari penginapan.


Sepuluh Dewan Kehormatan tampak bingung ketika melihat Ki Bontang diam saja tidak segera memberi perintah.


"Yang mampu mengalahkan pemuda itu hanya Mahaguru," kata Ki Bontang walaupun belum pernah bergebrak langsung tapi dia sudah mengukur kemampuan Adijaya. Lagi pula dia tidak ingin keluar tenaga banyak.


"Secepatnya kita kembali ke padepokan, dan laporkan Ki Rangkas dan Ki Legawa tewas." Lalu Ki Bontang menunjuk mayat Ki Legawa. "Buang saja mayatnya!"


Ki Bontang melangkah turun ke lantai bawah lalu meninggalkan penginapan. Sementara sepuluh anggota Dewan Kehormatan dan dua murid yang mengusung tandu tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan seseorang.


Saking kagetnya mereka jadi tidak waspada dan tak bisa menghindar ketika beberapa sosok turun dari atap sambil menebaskan pedang. Tak ampun lagi dua belas orang yang sebenarnya pengikut Ki Bontang meregang nyawa tanpa tahu siapa pelakunya.


Pembantaian telah mengotori penginapan milik orang asing ini.


***


Karena malam gelap gulita, Adijaya dan Ki Rangkas berjalan tak tentu arah yang penting jauh dari penginapan dulu. Ketika waktu Carangcang Tihang mereka menemukan sebuah sungai yang airnya mengalir pelan. Bening sehingga kelihatan dasarnya.


Mereka duduk di pinggir sungai yang dangkal itu sambil menghirup udara pagi yang dingin menusuk kulit.


"Siapa namamu?" tanya Ki Rangkas karena selama perjalanan mereka tidak saling bicara.


"Adijaya!"


"Rasanya aku pernah melihatmu sekilas ketika pertarungan Ngaraga Sukma dengan Ki Legawa,"

__ADS_1


"Itu memang aku,"


Ki Rangkas menahan napas. Memperhatikan Adijaya. Mencoba membaca kekuatannya. Semalam saja dia merasakan hawa sakti yang begitu besar terpancar dari pemuda ini.


"Untuk apa menolongku?"


"Ki Legawa belum mati,"


Kening Ki Rangkas mengkerut. Tidak percaya dengan ucapan si pemuda. Jelas-jelas dia sudah melihat mayat Ki Legawa sebelumnya.


Kemudian Adijaya membuat cerita bohong tentang kejadian semalam.


"Ketika empat murid hendak membawa Ki Legawa ke atas tandu, muncul dua orang bertopeng membunuh mereka. Lalu aku segera menyembunyikan Ki Legawa. Dengan ilmu mengubah wajah, aku serupakan salah satu murid menjadi Ki Legawa. Sehingga mereka menganggap telah membunuh Ki Legawa,"


Dalam hati Adijaya bingung bagaimana cara menyampaikan ceritanya. Dia takut kesalahan bicara hingga terdengar tidak masuk akal.


"Sekarang di mana Ki Legawa?"


"Tadinya masih di kamar sewaanku, memulihkan kesehatannya. Tapi setelah aku tinggal sebentar, di sudah tidak ada. Sebelumnya dia mengatakan akan ke suatu tempat untuk bersembunyi sementara waktu,"


Ki Rangkas terdiam setelah mendengar penjelasan Adijaya. Dia belum terpikirkan apa rencana selanjutnya untuk membongkar kedok Ki Bontang di hadapan Mahaguru. Dewan Kehormatan sepertinya sudah berada dalam kendalinya.


"Apa yang sudah kau ketahui tentang kami dari Ki Legawa?"


"Salah satu di antara kalian bekerja sama dengan aliran hitam untuk menguasai Karang Bolong..."


"Aliran hitam mana yang kau maksud?"


"Padepokan Gunung Sindu!"


Ki Rangkas terkejut, bola matanya berputar-putar. Seperti mencari sesuatu dalam pikirannya. Namun, dia sedikit tenang sekarang. Adijaya menolongnya karena pasti sudah menuduh Ki Bontang yang bekerja sama dengan Gunung Sindu.


"Lantas menurutmu siapa orangnya?" Ki Rangkas ingin menegaskan kalau dugaannya tidak salah.


Adijaya tidak langsung menjawab. Dia juga ragu dengan hasil penyelidikannya. Ki Santang dan Padmasari, walaupun mahluk alam halus tidak bisa menerawang masa depan. Mereka sama seperti manusia. Hanya saja gerakan mereka lebih cepat karena badan halusnya.

__ADS_1


__ADS_2