Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Mata-Mata


__ADS_3

Begitu hari telah gelap, kereta kuda mulai merambat naik. Melayang di udara lalu meluncur ke arah barat. Asmarini sempat gemetar sebelum akhirnya bisa menyesuaikan diri.


"Paman, Bibi, jangan cepat-cepat!"


Asmarini lebih memilih duduk di dalam. Dia merasa 'inggis' ketika melihat ke luar. Yang terlihat hanya hamparan hitam dengan sedikit kelap-kelip cahaya lampu buah jarak.


Dia merasa seperti dalam sebuah dongeng. Seorang putri yang menaiki kereta terbang. Tapi ini bukan dongeng juga tidak sedang bermimpi.


"Nanti jangan langsung turun di depan padepokan, tapi agak jauh sedikit!" pesan Asmarini kepada kuda guriangnya.


Seandainya ada Adijaya menemaninya di sini. Mungkin akan terasa indah berada di dalam kereta terbang. Bisa jadi kalau ada orang yang melihatnya, pasti akan dianggap putri dari alam lain.


Karena inggis, Asmarini tidak berani melihat keluar lagi. Dia hanya menunggu kereta sampai mendarat. Hatinya selalu tegang, bahkan untuk sekadar merebahkan diri, tetap tidak tenang. Apa mungkin karena belum terbiasa?


Setelah beberapa lama gadis ini merasakan ada guncangan kecil pada keretanya.


"Sudah sampai, Gusti Putri!"


Asmarini melihat ke luar dari jendela. Ternyata dia sudah berada di sebuah hutan. Dia menarik napas lega. Ketegangannya hilang seketika.


"Berapa lama lagi menuju terang?" tanya Asmarini karena tidak tahu sudah berapa lama perjalanan di atas udaranya.


"Masih agak lama, Gusti Putri istirahat saja dulu!"


Si gadis ikuti saran pengabdinya. Kebetulan dia juga ngantuk. Maka dia merebahkan diri di lantai kereta yang terasa empuk dan hangat karena dilapisi permadani yang tebal.


Kedatangan Asmarini tentu saja lebih cepat daripada pasukan padepokan Gunung Sindu yang memerlukan waktu sekitar tiga hari. Kereta terbang Asmarini hanya memakan semalaman saja.


Jika dihitung sejak keberangkatan. Hari itu Asmarini dan Adijaya berpisah berbagi tugas. Besoknya saat hari masih gelap Asmarini sudah sampai di hutan dekat padepokan Karang Bolong.


Sedangkan Adijaya mengikuti si kumis alias Kuntawala tiga hari baru sampai di Gunung Sindu. Kemudian hari itu juga pasukan Gunung Sindu berangkat menyerang Karang Bolong membutuhkan tiga hari untuk sampai di sana.


Berarti Asmarini akan menunggu lima sampai enam hari hingga kedatangan pasukan murid padepokan Gunung Sindu. Namun, si gadis tidak tahu kapan mereka akan datang.


Setelah hari terang, Asmarini terbangun dari lelapnya. Dari jauh terdengar deburan ombak sambung menyambung menggerus pasir hingga ke pantai. Ada juga yang menghantam batu karang.


Asmarini ingat perkataan suaminya yang ingin mengajak bermain di pantai. Berarti padepokan Karang Bolong berada dekat dengan pantai. Dia lupa lagi bagaimana suasana pantai.


Dulu waktu kecil ketika masih tinggal di kerajaan Wanagiri dia pernah sekali ke pantai. Kerajaan Wanagiri dekat dengan pantai utara.


Wanita muda dan mungil ini mencari pancuran di dalam hutan kecil itu untuk membersihkan badannya. Tidak membutuhkan waktu lama dia menemukannya di tempat yang agak tersembunyi.


Tanpa ragu lagi dia melepas pakaian lalu menceburkan diri ke telaga kecil di bawah pancuran air yang lebih mirip air terjun ukuran kecil.


Biarpun dingin airnya. Namun, tidak sampai bikin menggigil. Asmarini menikmati setiap sentuhan air menyegarkan itu membasuh seluruh tubuh indahnya.


"Seandainya Kakang ikut mandi bersama," gumam si mungil tersenyum membayangkan wajah sang suami. Sesaat pikirannya melayang.

__ADS_1


Setelah beberapa lama akhirnya Asmarini menyudahi mandinya. Segera dia kenakan kembali pakaiannya. Dalam waktu singkat si mungil telah berpenampilan rapi dan menarik. Di dalam kereta kuda dia mempunyai peralatan untuk bersolek.


"Paman, Bibi, sudah bisa berangkat!"


"Siap, Gusti Putri!"


Tapi baru saja dua tombak melaju, Asmarini menyuruh berhenti lagi.


"Tunggu!"


"Apa Gusti Putri melihat dua orang di depan sana?"


"Iya, bisakah Paman dan Bibi membuat kereta ini tak terlihat oleh mereka?"


"Bisa, Gusti Putri. Lihat saja!"


Pandangan Asmarini yang jeli bisa melihat dua orang pemuda yang sedang berjalan ke arahnya. Pakaian mereka seragam berupa rompi loreng-loreng.


Setelah berada di depan kereta mereka tampak kebingungan seperti kehilangan sesuatu yang sebelumnya mereka lihat.


"Tadi jelas ada sebuah kereta kuda di sini. Kau juga melihatnya, kan, Wasta?"


"Iya, Pawana. Tapi kenapa mendadak menghilang?"


"Mungkinkah kabar tentang Putri Pantai Selatan itu benar adanya?"


Dari percakapan mereka Asmarini tahu, sebelumnya mereka melihat kereta kuda. Kini menghilang, berarti tipuan sepasang kuda guriang sudah bekerja.


Siapa mereka? Dari pakaiannya yang seragam mereka pasti satu kelompok. Dia berniat mengetahui lebih jauh, siapa tahu saja berkaitan dengan tugasnya.


"Siapa mereka, Paman?"


"Murid padepokan Karang Bolong, Gusti Putri,"


"Gerak gerik mereka mencurigakan, sepertinya mereka keluar tanpa sepengetahuan murid lain,"


"Saya akan mengunci mereka agar apa yang akan dilakukan mereka di sini saja,"


Asmarini memperhatikan mereka kembali.


"Sudahlah, mungkin mata kita saja yang halusinasi," ujar Pawana.


"Ya, sebaiknya kita cepat melakukan tugas!" sahut Wasta.


"Tapi Mahesa belum nampak batang hidungnya!"


Mereka memandang terus ke arah belakang kereta. Menunggu seseorang yang dijanjikan akan bertemu di tempat ini.

__ADS_1


"Itu dia orangnya!" tunjuk Pawana sambil menghela napas lega. Begitu juga temannya, karena mereka sebenarnya cukup tegang.


Dari arah belakang kereta muncul seorang pemuda seumuran mereka yang berpakaian berbeda. Tampilannya sangar terutama wajahnya yang kehitaman.


"Mahesa, kami sudah menunggumu!" sambut Pawana.


"Bagus, seperti biasa aku tidak akan lama hanya menyampaikan kabar saja," sahut Mahesa.


"Bagaimana?" tanya Wasta.


"Kalau dihitung sejak kabar yang kuterima, maka sekitar lima atau enam hari lagi pasukan sudah sampai di sini dan siap menyerang!"


Pawana dan Wasta saling pandang lalu sama-sama mengangguk.


"Baik, kami akan mempersiapkan diri bersama yang lain!" kata Wasta.


"Aku pergi, kalian juga segera kembali agar tidak dicurigai!" Setelah berkata begitu Mahesa langsung balik badan dan meninggalkan mereka.


Wasta dan Pawana pun bergegas kembali ke padepokan.


"Siapa Mahesa itu, Paman?" tanya Asmarini.


"Murid padepokan Gunung Sindu yang berdiam di sekitar padepokan Karang Bolong, di tugaskan untuk mengawasi. Dia tidak sendiri,"


"Berarti Pawana dan Wasta adalah pengkhianat atau mata-mata," sambung Asmarini mengungkapkan pikirannya.


"Betul, Gusti Putri!"


"Aku harus segera membongkar keberadaan mereka. Paman dan Bibi, mari jalan tapi tetap jangan tampakkan diri. Nanti setelah berada dekat di padepokan, aku akan jalan kaki saja."


"Baik, Gusti Putri!"


Kereta kuda yang kini tak kasat mata melaju pelan menyusuri jalan di sisi hutan kecil itu. Beberapa lama kemudian Asmarini melihat sebuah pagar terbuat dari susunan batu kotak tinggi dan panjang seperti benteng.


Asmarini menghentikan keretanya. Lalu dia turun setelah diberi tahu bahwa ini adalah pagar pembatas lingkungan padepokan Karang Bolong.


"Paman dan Bibi tetap sembunyikan diri."


Perintah Asmarini sebelum dia melangkah mencari pintu gerbang padepokan. Setelah turun dari kereta tentu saja wujud si mungil ini kelihatan seperti biasa. Sebab hanya ketika di dalam kereta saja dia tak kasat mata.


Setelah berjalan cukup jauh akhirnya si cantik mungil menemukan juga pintu gerbang yang di jaga oleh dua orang murid yang sedang kebagian tugas jaga.


Ternyata mereka Wasta dan Pawana. Pantas saja bisa keluar dengan leluasa. Kalau mereka buru-buru kembali itu karena takut ketahuan tempat jaga dalam keadaan kosong.


###


INGGIS bahasa Indonesianya apa, ya?

__ADS_1


__ADS_2