
Bukk!
Suara bergedebuk mengagetkan mereka. Ki Rangkas menoleh karena suara itu ada di belakangnya. Terkejut bukan main Ki Rangkas setelah melihat apa yang jatuh itu.
Sesosok mayat, Ki Bontang!
Adijaya sama terkejutnya. Sebelumnya dia tidak merasakan kehadiran orang lain di situ. Berarti orang itu mampu atau dibantu orang lain menyembunyikan aura kehadirannya.
Kejap berikutnya Adijaya baru merasakan banyak orang sudah mengepung tempat itu. Lalu muncul seseorang dari balik pohon dan berdiri sambil salah satu kakinya menginjak mayat Ki Bontang.
"Ki Legawa!" desis Ki Rangkas begitu juga Adijaya. Ki Rangkas langsung berdiri dan waspada. Dia merasakan hawa jahat di sekeliling tempat ini.
Ki Legawa tertawa mengekeh seolah mengejek kebodohan Ki Rangkas. Sementara Adijaya menunggu siapa yang datang bersama Ki Legawa yang masih belum menampakan diri.
"Aku memberikan pilihan untukmu, jadi kawan atau jadi musuh?" Ki Legawa memberikan tawaran ini kepada Ki Rangkas lalu dia menoleh ke arah Adijaya dengan senyum tipis dan pandangan licik.
Diceritakan sebelumnya, ketika Adijaya kembali ke kamarnya ternyata Ki Legawa sudah tidak ada di sana. Kakek ini menuju suatu tempat yang telah direncanakan.
Dia menemui sekutu yang akan membantu dirinya. Dari mereka Ki Legawa mendapat keterangan bahwa Ki Rangkas ditangkap Dewan Kehormatan dan dibawa kembali ke penginapan. Maka Ki Legawa juga bergegas kembali ke sana bersama sekutunya.
Sampai di penginapan, walau dengan cara menyusup tapi terlambat. Adijaya telah melarikan Ki Rangkas. Begitu juga Ki Bontang belum lama pergi. Ki Legawa menampakan diri kepada anggota Dewan Kehormatan kaki tangan Ki Bontang.
Di saat mereka terkejut karena melihat Ki Legawa ada dua, yang satu sudah jadi mayat ada di tandu dan yang satunya berdiri sambil tersenyum lebar. Di saat itulah anggota sekutu Ki Legawa membantai mereka.
Kemudian Ki Legawa mengejar Ki Bontang. Tak butuh waktu lama menemukannya. Ki Bontang yang terkejut seperti melihat jurig tak bisa menjaga nyawanya lagi.
Selanjutnya Ki Legawa dan sekutunya mencari Adijaya yang melarikan Ki Rangkas. Sejak hari balebat mereke sudah menemukan dan mengepung Adijaya. Tapi tidak segera melakukan tindakan. Menunggu sampai hari terang.
"Murid Mahaguru tinggal kita bedua, aku berencana menjadikanmu wakil pimpinan," ungkap Ki Legawa. Senyumnya selalu mengembang.
Dari balik pepohonan muncul beberapa orang dengan posisi mengepung. Diperkirakan jumlahnya sampai tiga puluh orang. Ki Rangkas sangat hapal dengam seragam yang mereka kenakan.
__ADS_1
"Gunung Sindu!"
Walaupun pelan, Adijaya bisa mendengar ucapan Ki Rangkas. Sebelumnya dalam penuturan Ki Legawa menuduh antara Ki Rangkas dan Ki Bontang telah menjadi kaki tangan padepokan Gunung Sindu.
Nyatanya pagi ini Adijaya melihat kenyataan yang lain. Kenapa urusan murid-murid Mahaguru Manguntara begitu rumit? Siapa yang benar, siapa yang salah?
Adijaya mengira Ki Bontang yang paling berambisi menduduki posisi pemimpin. Rupanya Ki Legawa penuh siasat. Seandainya dia tidak menolong Ki Legawa mungkin masalahnaya akan berakhir di Ki Bontang.
Diam-diam Adijaya merasa bersalah. Atau memang dia yang masih bodoh dalam membaca kasus ini. Jangan-jangan akan ada kejutan lain menantinya?
"Aku tidak sudi bersekutu dengan aliran hitam!" seru Ki Rangkas. Dengan demikian dia memilih menjadi musuh.
"Rupanya kau memilih mati!" Suara itu datang dari balik punggung Ki Legawa.
Seorang lelaki tinggi besar berkulit hitam. Rambut dan jenggotnya tumbuh acak-acakan. Dari tubuhnya memancar hawa jahat yang begitu pekat.
Ki Rangkas tersurut mundur menahan hawa jahat itu. Lalu dia tersenyum bangga membuat Ki Legawa tampak heran.
Perkataan ini jelas merendahkan orang berkulit hitam itu. Sehingga orang ini menunjukan wajah seram.
"Kau bereskan dia!" perintah si kulit hitam membuat senyum di wajah Ki Legawa langsung lenyap. Dia mendengkus marah dan langsung menyerang Ki Rangkas.
"Apa kau yakin mampu?" pancing Ki Rangkas karena semalam jelas Ki Legawa tak mampu mengimbanginya.
Ki Legawa naik pitam. "Aku lebih siap, sekarang aku tak segan-segan mengambil nyawamu!"
Dua murid utama Mahaguru Manguntapa kembali terlibat pertarungan sengit. Jika semalam harus menggunakan Ngaraga Sukma karena tidak ingin merusak penginapan, maka sekarang bisa bertarung secara leluasa.
Orang berkulit hitam meninggalkan mereka. Jelas dia tidak ingin wibawanya jatuh setelah mendengar ejekan Ki Rangkas. Memang benar, dia seharusnya berhadapan dengan Mahaguru Manguntara, bukan dengan muridnya.
Sementara itu tampak lima orang orang murid padepokan Gunung Sindu menghampiri Adijaya. Pandangam mereka begitu meremehkan. Mereka merasa seperti sekawanan harimau yang mengepung rusa.
__ADS_1
"Mahaguru menginginkanmu, tubuhmu memiliki keistimewaan. Sebaiknya jangan melawan agar kematianmu tidak menyakitkan!"
Adijaya tertawa geli. "Sebaiknya pikirkan dulu cara menangkapku, kalau cuma segini, aku takut kau kecewa!"
Senyuman kelima orang ini lenyap berganti tatapan penuh nafsu membunuh.
"Nyalimu besar sekali, aku ingin lihat apa kemampuanmu sesuai dengan nyalimu? Lumpuhkan, tangkap dia hidup-hidup!"
Lima orang mengepung, mengirimkan serangan tangan kosong yang bermuatan tenaga dalam. Adijaya sudah mengukur kekuatan mereka. Dari hawa yang dipancarkan, tenaga dalam mereka cukup besar.
Adijaya mengandalkan kecepatan menghindari serangan beruntun itu. Walaupun mereka hanya berlima, tapi kekuatannya setara dua puluh orang di kampung perampok
Namun, pemuda ini tetap yakin dengan dirinya. Dalam beberapa saat saja sudah bertukar puluhan jurus yang membuat lima lawan Adijaya membuka matanya.
"Cuma segini kemampuan murid Gunung Sendok?" ejek Adijaya mempelesetkan nama padepokan. Tentu saja mereka merasa terhina dan semakin geram.
Kini giliran Adijaya yang tersenyum mengejek, karena sampai saat ini tidak ada satupun serangan yang mampu melukainya. Ini semakin menyulutkan emosi mereka sehingga murid-murid padepokan Gunung Sindu menyerang dengan brutal.
Murid-murid yang lainnya merasa terpancing penasaran. Masa melumpuhkan seorang anak muda saja kewalahan. Beberapa orang turun membantu. Yang lainnya mengirim serangan bokongan dengan senjata rahasia.
Serrr! Serrr!
Tring! Tring!
Mereka terperangah ketika tiba-tiba saja muncul payung yang melindungi Adijaya dari sasaran senjata rahasia. Tiga puluh murid padepokan Gunung Sindu teralihkan perhatiannya ke arah Adijaya.
Pantas saja Mahaguru mereka menginginkan tubuh Adijaya. Kiranya kekuatan pemuda ini tak boleh diremehkan. Buktinya dua puluh murid telah bergabung menyerangnya.
Sepuluh murid lain mengirimkan serangan jarak jauh. Baik berupa pukulan tenaga dalam atau lemparan senjata rahasia. Namun, semuanya tak bisa menembus pertahanan Adijaya.
Tentu saja Adijaya melindungi dirinya dengan hawa sakti dari Melati Tunjung Sampurna. Sehingga tubuhnya menebarkan aroma harum yang mempengaruhi konsentrasi lawan.
__ADS_1
Selain itu payungnya berputar dan mengayun kesana kemari menghantam lawan yang dekat dengannya. Setiap lawan yang terkena hantaman payung langsung terpental jauh sampai sepuluh tombak.