Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Mahaguru Muda


__ADS_3

Asmarini terkejut ketika tengah malam Adijaya masuk ke ruang kereta kuda. Dia seperti sedang bermimpi. Sampai sang suami memberikan kecupan lama di bibirnya baru dia sadar kalau itu nyata.


"Kenapa Kakang bisa keluar?"


"Apa Dinda tidak senang?" goda Adijaya.


"Bukan begitu," rengek Asmarini. "Bukannya Kakang tidak boleh keluar selama berlatih?"


Sebelum menjawab Adijaya memeluk istrinya terlebih dahulu sambil mengusap-usap perut rampingnya. Kemudian dia menceritakan kejadiannya.


"Eyang Mahaguru?" tanya Asmarini.


"Kakek bilang dia pendiri padepokan ini,"


"Masih hidup?"


"Tidak, hanya sukmanya saja,"


Kemudian Asmarini memperlihatkan mutiara pemberian ratu siluman kerang dan memberitahukan khasiatnya. Dia juga menceritakan tentang Ratu Kulon sesuai yang didengar dari Padmasari.


"Jadi sudah selesai urusannya?"


"Kakang, apa kita harus membuat rumah untuk tempat tinggal?" tanya Asmarini mengganti topik pembicaraan.


"Iya, tapi di mana ya?"


Dalam benaknya Adijaya ingin tinggal di padepokan Linggapura, tapi dengan posisinya sekarang sebagai pemilik kitab Hyang Sajati, merasa ada tanggung jawab besar terhadap padepokan Karang Bolong.


Ki Manguntara sendiri sudah memberikan sinyal dia akan menerima mandat kepemimpinan padepokan ini. Lalu Adijaya mengungkapkan keresahan pikirannya kepada sang istri.


"Aku tidak bisa memberikan saran, takut tidak adil," kata Asmarini. "Kalau aku sih, menurut apa kata Kakang saja. Mau di mana saja juga boleh,"


"Mungkin aku harus semedi dulu sampai mendapatkan petunjuk."


Kemudian Adijaya merebahkan diri juga menarik Asmarini agar ikut merebah juga. Lalu sebuah selimut lebar menutupi tubuh mereka yang saling berpelukan.


"Kita pikirkan nanti saja, sekarang aku kangen pada Dinda, sayang!"


Selanjutnya mereka terbuai dalam gelora asmara yang menjalar di setiap titik tubuh mereka. Damar di dalam ruangan itu seketika padam seolah mendukung pasangan yang selalu penuh cinta ini.


***


Keesokan harinya sesuai perintah, Adijaya pergi menuju ruang pertemuan. Di sana sudah ada Ki Manguntara dan tiga nenek pendekar teman lama sang mahaguru. Mereka dikenalkan kepada Adijaya sebagai guru-guru murid perempuan.


Adijaya sudah tahu dari Asmarini bahwa belum lama ini padepokan telah menerima murid perempuan. Sang mahaguru mengajak tiga sahabatnya bergabung.

__ADS_1


"Seperti pembicaraan tadi malam, aku ingin melihat hasil yang telah kau capai meski belum semuanya," pinta Ki Manguntara setelah saling berkenalan.


"Baiklah, Kakek dan Nenek guru sekalian." Adijaya menarik napas sebelum melanjutkan. "Di dalam kitab Hyang Sajati isinya hanya berupa aksara. Tidak ada gambar satupun. Tapi saya memahami dari satu baris kalimat saja bisa menciptakan beberapa jurus.


"Setiap orang akan berbeda pemahaman, maka jurus yang terbentuk pun akan berbeda satu sama lain walaupun berasal dari satu kalimat,"


Adijaya berhenti menunggu respon keempat sesepuh di hadapannya. Mereka hanya saling pandang. Ki Manguntara sendiripun baru tahu isi kitab itu.


Kemudian pendekar muda ini melanjutkan. "Jadi selama di ruang bawah tanah tidak menciptakan satu juruspun, hanya menghapal saja. Karena menurut saya kalau sudah hapal maka jurus itu akan tercipta dengan sendirinya,"


"Bisa kau sebutkan satu baris kalimat saja," pinta Nyai Rengganis.


"Tentu," balas Adijaya lalu dia mengucapkan satu kalimat yang ada di baris pertama halaman pertama.


Keempat sesepuh tampak berpikir merenungkan kalimat tadi, sehingga suasana jad hening. Padahal di luar sana begitu hiruk pikuknya kegiatan keseharian padepokan. Apalagi sekarang ada murid-murid wanita.


"Kau memberi kesempatan berapa untuk kami memikirkannya?" tanya Ki Manguntara.


"Sesuai kemampuan Kakek dan Nenek guru semua!"


"Baiklah, aku minta waktu sepeminuman teh!" kata Nyai Parasuri. Ternyata yang lain juga demikian.


Selama waktu itu, Adijaya manfaatkan untuk menghapal isi kitab yang belum dihapalnya, tapi tidak sampai mengeluarkan kitab itu. Dia hanya mengingat dengan cara membayangkan. Dia menitipkan kitab itu kepada Ki Santang, jadi bisa di ambil sewaktu-waktu.


"Silakan, Ki Manguntara duluan!" kata Nyai Sangga Manik.


"Aduh, bukankah biasanya perempuan di dahulukan?" canda sang mahaguru, tapi dia sudah berdiri di tengah ruangan yang luas itu.


Ki Manguntara mulai memperagakan jurus yang dia ciptakan sesuai petunjuk satu kalimat yang diucapkan Adijaya tadi. Karena dia laki-laki, maka gerakan-gerakannya begitu kuat dan tegas.


Setelah Ki Manguntara, tiga nenek secara bergiliran juga mengeluarkan hasil pemikirannya. Dari keempat orang itu semuanya tidak ada yang sama gerakannya. Pula tiga nenek yang gerakannya khas perempuan, semuanya berbeda.


Setelah semuanya selesai, empat sesepuh ini geleng-geleng merasa sangat kagum.


"Kita harus menyeleksi lagi murid-murid kita," kata Ki Manguntara.


"Benar, murid yang cerdas pasti mampu melakukan seperti kita barusan," Nyai Parasuri setuju.


"Dan menyusun ciptaannya dalam sebuah kitab untuk diajarkan kepada yang lain," timpal Nyai Sangga Manik.


Mereka semua memandang ke Adijaya dengan senyum yang lebar, sampai-sampai pendekar muda ini kerutkan kening. Sorot mata mereka begitu mengintimidasi.


"Ada apa ini?" Adijaya garuk-garuk kepala.


"Mahaguru muda!" ucap Nyai Rengganis.

__ADS_1


Tiga sesepuh lainnya sama-sama memandang ke Nyai Rengganis.


"Bagaimana kita bisa memikirkan hal sama?" ujar Ki Manguntara. Lalu terdengar gelak tawa empat tokoh tua ini.


Adijaya jadi salah tingkah. "Apa pertemuan ini sudah selesai?"


"Belum, ada satu hal lagi yang aku minta," jawab Ki Manguntara.


"Silakan, Kek!"


"Bacakan semua yang telah kau hapal, kami akan menuliskannya. Aku yakin kalau menuliskan dari apa yang didengar, tulisannya akan tetap terbaca!"


"Dengan senang hati!" sahut Adijaya. Dalam hati dia berkata, "Ini juga bagus, aku sebagai jembatan penghubung saja. Jadi bebanku tidak terlalu berat!"


Setelah mengambil alat tulis, Adijaya mulai membacakan isi kitab yang sudah dia hapal. Masing-masing membawa catatan sendiri.


"Mahaguru Muda, terima kasih!" ucap Nyai Parasuri.


"Kenapa memanggilku seperti itu?"


"Karena kau pantas mendapatkannya," jawab Ki Manguntara.


"Tapi, saya tidak enak!"


"Kasih bumbu, garam dan cabai, pasti enak, hehehe...!" seloroh Nyai Sangga Manik ditimpali tawa tiga rekannya.


"Aku punya murid perempuan yang cantik dan cerdas, kalau kau mau, akan aku jodohkan padamu!" kata Nyai Rengganis.


"Aku juga!" Serentak dua nenek lain menimpali.


Adijaya terbelalak sambil terbatuk-batuk. Bagaimana orang-orang tua ini bisa bertingkah seperti ini? Bagaimana kalau mereka benar-benar mau memberikan muridnya? Bagaimana Asmarini nantinya.


Begitulah setelah pertemuan itu selesai, Adijaya kembali bersama sang istri. Sementara para sesepuh menemui murid andalan masing-masing. Dalam hal ini Ki Manguntara menemui anggota Dewan Kehormatan.


Seperti cara Adijaya, mereka memberikan satu baris kalimat pertama untuk dipelajari. Diberi waktu tiga hari untuk memahaminya. Setelah tiga hari, baru menunjukkan hasilnya.


_____


Jangan lupa baca novel saya yang lain dengan judul :


TERPAKSA JADI PENDEKAR


di aplikasi kuning.


Selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2