
Adijaya sempat mencari-cari sebelum akhirnya menemukan Ki Rangkas dan Ki Legawa. Keduanya terkapar di tengah sungai yang dangkal itu. Ki Legawa tewas dengan kepala retak karena serangan tapak.
Sementara Ki Rangkas juga tewas mengenaskan dengan perut terkoyak karena cakaran. Habis sudah semua murid utama Mahaguru Manguntara. Siapa yang akan memimpin padepokan, sedangkan Mahaguru sendiri sedang menuju moksa.
Adijaya tidak menyangka semua ini terjadi dalam satu malam dan berakhir di pagi ini. Tapi rasanya begitu lama. Dia berniat akan menguburkan jasad mereka termasuk Ki jasad Bontang juga yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Namun, baru saja hendak turun ke sungai, Adijaya melihat sesuatu yang melayang di atas langit. Mulanya kecil karena masih jauh, setelah mendekat baru jelas terlihat sosoknya.
Seorang kakek berpakaian serba putih yang tubuhnya memancarkan cahaya putih berkilau. Walaupun tertimpa cahaya matahari, tapi tetap tak memudarkan sinar lembut itu.
Melihat sosok itu Adijaya teringat kepada seorang tokoh yang disebut Eyang Batara. Tapi dia bukan manusia setengah dewa itu. Ada angin yang berhembus lembut sebagai tanda bila Eyang Batara hendak datang. Sedangkan sosok ini datang tidak ada hembusan angin.
Sosok bercahaya ini mendarat di tengah sungai di mana terdapat jasad Ki Legawa dan Ki Rangkas. Sekilas terlihat kakinya seperti menapak di air, tapi setelah dilihat lebih jelas lagi ternyata sosok itu melayang.
Kakek ini memandang Adijaya. Tatapannya lembut dan menyejukkan. Memancarkan hawa lembut menenangkan pikiran.
"Aku gagal mendidik mereka," kata si kakek pelan tapi terdengar jelas ke telinga Adijaya.
Dari perkataannya, berarti kakek ini adalah Mahaguru Manguntara. Peristiwa mengerikan ini telah membatalkan tapa moksanya. Sepengetahuannya tapa moksa adalah tapa sampai akhir hayat. Sampai raganya menghilang atau moksa.
Adijaya tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bolak-balik memandang si kakek dan dua jasad di bawahnya.
"Puluhan tahun aku mendidiknya, nyatanya tidak menghilangkan sifat serakah mereka. Pada saat ambisinya memuncak, mereka tak dapat mengendalikan lagi,"
"Yang saya lihat, hanya Ki Bontang dan Ki Legawa..."
"Semuanya sama, semua memiliki hasrat ingin berkuasa. Hanya ada yang kentara dan ada yang tersembunyi,"
"Bagaimana dengan padepokan Gunung Sindu?"
"Mereka tidak akan berani, melihat dirimu saja mereka sudah ketakutan,"
Adijaya tercekat. Apa benar mereka mundur karena takut padanya? Kalau si kakek yang bicara, Adijaya tak bisa membantahnya. Tapi tetap penasaran.
"Kenapa mereka takut pada saya?"
"Karena kekuatan Melati Tunjung Sampurna dan mahluk guriang yang menjagamu,"
Adijaya tidak terkejut, wajar kalau orang sakti di hadapannya pasti tahu tentang dirinya hanya dengan sekali lihat. Mungkin kesaktiannya akan menyamai Eyang Batara.
__ADS_1
Tiba-tiba sosok Ki Santang dan Padmasari muncul di samping kanan dan kiri Adijaya. Mereka langsung menjura hormat kepada si kakek. Mereka muncul karena si kakek menyebut mereka tadi.
"Ternyata bangsa kami juga terkecoh dengan intrik antar manusia," ujar Ki Santang. Yang dimaksud adalah intrik antara empat murid Ki Manguntara.
Ki Manguntara tampak menghela napas. Raut wajahnya menunjukkan rasa penyesalan. Menyesal karena gagal mendidik muridnya.
"Aku ingin mendengar kesimpulanmu anak muda!" pinta sang Mahaguru.
Adijaya tidak langsung menjawab. Dia berpikir keras apa yang harus dikatakannya. Dia sempat melirik kedua guriangnya. Tapi mereka juga diam.
"Kita sudah berusaha, tapi hasilnya tetap Sang Hyang Widhi yang menentukan. Karena apa yang terjadi hari ini adalah kehendak-Nya. Kita tak bisa mengubah ketentuan yang telah ditetapkan-Nya,"
"Aku suka itu!" sahut si kakek langsung. Bibirnya tersungging senyum tipis tapi menyejukkan.
Sekali tangannya menunjuk, ketiga jasad muridnya terangkat ke udara, melayang lalu bertumpuk di depannya.
"Kita akan berjumpa lagi anak muda!"
Sosok si kakek terangkat ke atas bersama jasad muridnya, lalu melesat tinggi menjauh dan hilang dalam waktu sebentar saja.
"Berjumpa lagi? Bukankah dia akan mengulang tapa moksa?" tanya Adijaya.
Adijaya menghela napas panjang. Semalaman hanya tidur sebentar saja. Bisa dibilang sebenarnya tidak tidur sama sekali. Kemudian dia membasuh mukanya sebelum melanjutkan perjalanan.
***
Untung permasalahan padepokan Karang Bolong selesai dalam waktu singkat. Adijaya tidak harus bolak-balik ke padepokan yang jaraknya sangat jauh itu. Sehingga dalam waktu tiga hari dia sudah sampai di rumahnya Ki Brajaseti.
Hampir tengah hari Adijaya sampai di sana. Ada pemandangan baru yang dia lihat. Di halaman depan rumah terlihat seorang lelaki sedang berlatih memantapkan jurus-jurus.
Setahu Adijaya, Ki Brajaseti hanya mempunyai satu murid yaitu Darma Koswara. Tapi yang ini bukan lelaki kaya yang memberinya kereta kuda itu. Tapi sepertinya Adijaya juga mengenal lelaki ini.
"Raden!"
Lelaki ini berhenti memainkan jurusnya. Dia menoleh ke arak orang yang memanggilnya. Senyumnya langsung mengembang.
"Adijaya, aku tidak percaya itu kau!"
Cakra Diwangsa menyambut Adijaya dengan gembira. Tampak kedua matanya mencari-cari sesuatu. Adijaya mengerti.
__ADS_1
"Aku datang sendiri, aku tahu Raden menitipkan kereta kudaku di padepokan. Aku tidak membawanya,"
Adijaya ingat dulu Cakra Diwangsa ingin mempelajari ilmu silat lebih dalam lagi dan ingin berguru kepada Ki Brajaseti. Sepertinya niatnya sudah tercapai.
"Guru sedang berada di ladang," Cakra Diwangsa memberi tahu ketika Adijaya sudah di bawa masuk dan duduk di ruang depan.
"Tidak apa, aku akan menunggunya pulang. Lagi pula keperluanku tidak begitu mendesak,"
Selanjutnya mereka mengobrol tentang masalah yang telah mereka lewati. Terakhir ketemu ketika Adijaya diusir dari istana Wanagiri olah ayahnya Asmarini, bahkan sampai dituduh gila.
Kemudian Cakra Diwangsa menuturkan, atas bantuan kakeknya dia bisa jadi murid Ki Brajaseti. Bahkan raja Cupunagara itu sendiri yang mengantarkannya ke tempat rumah ini.
Adijaya ingat, Ki Brajaseti dan Prabu Satyaguna adalah sahabat karib. Tentu saja kakek yang menjadi guru Darma Koswara ini tidak keberatan menerima Cakra Diwangsa.
Agak lama setelah tengah hari lewat barulah Ki Brajaseti pulang. Dia terkejut sekaligus senang mendapat tamu yang tak disangka-sangka. Setelah kakek ini membersihkan muka barulah dia siap melayani tamunya.
Pertama Adijaya memberi kabar tentang kematian Ki Ranggasura yang merupakan sahabat Ki Brajaseti juga. Mendengarnya, kakek ini langsung terkejut dan menunjukkan raut sedih.
Adijaya juga menceritakan bagaimana pimpinan padepokan Linggapura itu bisa tewas sesuai cerita Arya Sentana, karena dia tidak menyaksikan saat itu. Dari situ Ki Brajaseti mendengar nama Jerangkong Koneng dan Rangrang Geni. Sepertinya kakek ini baru mendengar nama itu karena tidak ada reaksi terkejut ketika disebutkan kedua nama tokoh itu.
Kemudian tibalah saatnya Adijaya mengutarakan maksud utamanya.
"Karena kakek Ranggasura telah tiada, maka saya memohon kepada kakek untuk menggantikannya,"
Ki Brajaseti belum mengerti maksud Adijaya. "Menggantikan apa?"
"Di padepokan tidak ada yang dianggap sesepuh, walaupun Paman Komara telah diangkat menjadi pemimpin. Tapi beliau belum pengalaman,"
"Katakan yang jelas, menggantikan apa?"
"Menjadi penghulu, saya hendak menikah!" jawab Adijaya dengan malu-malu.
Ki Brajaseti dan Cakra Diwangsa langsung tertawa mengekeh.
"Memangnya kau sudah siap berumah tangga?" tanya si kakek.
"Harus siap, Kek!" tegas Adijaya.
__ADS_1