Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Asmarini keluar dari ruangan. Dia berdiri di tempat kusir. Hari baru lewat Sareupna. Langit di sebelah timur sudah gelap. Kereta kuda ini ditempatkan di samping rumah kecil milik Ki Manguntara.


Si cantik mungil ini merasakan hembusan angin yang aneh. Bukan udara biasa. Antara dingin dan hangat. Beberapa kali terdengar ringkikan kuda. Itu kuda asli, bukan suara 'Paman dan Bibi' kuda.


Tiba-tiba dari atas langit melayang satu sosok bayangan putih menyilaukan yang bentuknya menyerupai dirinya. Sosok ini melambai-lambai seperti kain tertiup angin. Gerakannya begitu perlahan bagai ada tali yang menggantung dari langit.


Bayangan itu mendarat di depan kereta kuda. Asmarini seperti sedang bercermin. Sosok itu sangat mirip dengannya, hanya berpakaian serba putih terang. Asmarini tahu ini pasti makhluk alam lelembut semacam guriang atau siluman. Kenapa menyerupai dirinya?


"Setelah kubuat tersesat ternyata kau masih bisa masuk juga!" hardik Padmasari yang tiba-tiba saja muncul di samping Asmarini.


Makhluk yang menyerupai Asmarini terkejut begitu melihat Padmasari dan juga kedua kuda putih. Wajahnya menunjukkan seolah-olah menyesal kemudian berubah menjadi wajah yang lain. Tidak lagi mirip Asmarini.


"Ternyata sasaranku bukan manusia sembarangan!" ujarnya pelan.


"Kalau kau tahu diri sebaiknya segera nya dari sini!" seru kuda betina.


Makhluk bayangan merapatkan giginya. Dia tidak menyangka wanita yang menjadi sasarannya memiliki tiga pelindung. Pantas saja dari siang dia tidak dapat masuk ke daerah ini. Rupanya mahkluk yang di samping sasarannya yang punya ulah.


"Tapi aku sudah terikat mantera, jiwaku akan sakit jika melalaikan tugas," terang si makhluk bayangan. Mantera yang diucapkan Parta Dinata seperti jerat yang mengikat selamanya.


Perkataannya ini seperti sebuah permohonan. Dia berada di antara dua pilihan yang sama-sama berat. Kalau meninggalkan tugas maka jiwanya tidak akan tenang selamanya. Tapi kalau maju terus, sama saja. Tiga pelindung yang tak mampu dia hadapi akan membuatnya menderita.


"Aku bisa memusnahkannya!" seru Padmasari sengaja dia tampilkan aura aslinya.


"Ratu sihir!" Makhluk bayangan tercekat. Merasa aneh, bagaimana bisa guriang dengan 'status' tinggi bisa menjadi pendamping wanita sasarannya?


"Aku bisa membantumu lepas dari jerat mantera itu!"


Entah perasaan seperti apa yang menyelimuti mahkluk bayangan ini. Semula dia ketakutan akan nasib buruk yang menimpanya karena berhadapan dengan makhluk sesamanya yang lebih tinggi ilmunya.


Tapi begitu mendengar perkataan Padmasari yang dia sebut ratu sihir, rasanya tidak percaya. Namun, dia tahu sang ratu sihir tidak akan membual.


"Tapi resikonya dia akan gila!" Maksud si makhluk bayangan ini adalah Parta Dinata.


"Itu bukan urusanmu, dia yang menabur maka dia yang menuai,"


"Aku tidak mengerti kenapa Gusti Ratu malah membantuku? Padahal tahu tujuanku tidak baik!"


"Pertama," jawab Padmasari. "Karena kamu korban keegoisan manusia. Kedua, karena majikanku manusia paling baik!"


"Terus bagaimana cara membalas budi baik ini?"


"Untuk sekarang tidak usah dipikirkan, karena aku belum membutuhkanmu!"

__ADS_1


"Terima kasih, Gusti Ratu. Jika Gusti membutuhkan, aku selalu siap melayani!"


"Bagus, tutup matamu!"


Makhluk bayangan berwujud perempuan menuruti perintah Padmasari. Kemudian guriang yang disebut ratu sihir itu merapalkan sebuah mantera tanpa suara, hanya mulutnya saja yang komat-kamit.


Pada saat dibacakan mantera, tubuh makhluk bayangan tampak bergetar di udara. Dari kepalanya keluar asap hitam tipis secara perlahan membumbung ke angkasa.


Setelah asap hitam habis semua dari dalam tubuhnya. Sosok makhluk bayangan berhenti bergetar. Kalau dia bangsa manusia mungkin akan menghela napas lega, karena sudah tidak merasakan pengaruh mantera yang menjeratnya.


"Kau boleh pergi!"


Si makhluk bayangan menjura penuh rasa terima kasih. Lalu hendak melayang kembali ke atas, tapi...


"Tunggu!"


Makhluk itu urungkan niatnya.


"Aku lupa menanyakan, siapa yang menjadi perantara kalian?"


"Manusia yang disebut Nini Kewuk."


Padmasari tampak menerawang sejenak. "Oh, dia! Sudah!" katanya.


Setelah kejadian tadi Padmasari menjelaskan kepada Asmarini bahwa ada seorang lelaki yang jatuh hati dan tergila-gila padanya. Sehingga dia meminta bantuan Nini Kewuk untuk memberikan ilmu pelet padanya.


"Yang dia dapatkan namanya ajian Semar Mesem. Pikiran gila dia ingin merebut Juragan istri dari suami," jelas Padmasari.


"Siapa dia, Bibi?"


"Anggota Dewan Kehormatan namanya Parta Dinata,"


Asmarini kerenyitkan kening karena belum pernah mendengar sebelumnya. Dia kira Anjasmara yang melakukannya. Ternyata ada yang lain lagi yang lebih gila.


"Si Anjasmara tahu diri setelah tahu siapa Juragan Besar, sedangkan Parta Dinata keburu dibutakan cinta!" kata Padmasari, dia tahu yang dipikirkan majikannya.


"Bibi, memangnya aku cantik, ya?" Tiba-tiba Asmarini bertanya seperti itu. Terang saja demikian, sampai ada lelaki yang gelap mata melakukan segala cara untuk memilikinya.


"Juragan Istri cantik bagaikan Dewi Supraba,"


Asmarini mengerenyit lagi. Siapa Dewi Supraba, dia juga tidak tahu dan belum pernah mendengar sebelumnya.


"Menurut, Bibi, bagaimana orang yang bernama Nini Kewuk itu?" tanya Asmarini mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


"Tentu saja berbahaya. Tindakannya mendukung dan membantu manusia yang sesat pikiran, itu dari sisi bangsa manusia. Sedangkan dari sisi bangsa kami, akan banyak dari kami yang menderita karena jerat manteranya!"


"Kalau begitu aku akan membasmi dia!"


***


Keesokan harinya di asrama khusu anggota Dewan Kehormatan terjadi kehebohan yang menyita perhatian. Di tempat tidurnya, Parta Dinata tiba-tiba bertindak aneh.


Dia berteriak menyebut-nyebut nama Asmarini, tertawa sendiri lalu tiba-tiba menangis. Berbicara tidak karuan.


"Asmarini, oh, Asmarini! Kau begitu cantik bagai bidadari. Betapa aku mencintaimu setulus hatiku! Oh! Huhuhu...!"


Orang-orang mengerubunginya dengan tatapan aneh. Semuanya juga tahu siapa Asmarini yang disebut-sebut Parta Dinata.


"Kamu kenapa, Parta? Mimpi buruk?"


"Kesambet, mungkin!"


"Nyebut, Kang! Dia itu sudah punya suami!"


"Diam!" bentak Parta Dinata. "Dia akan jadi milikku, dia tidak mencintai suaminya yang jelek itu, dia akan memilihku, hahaha...!"


"Cepat beri tahu ketua!"


"Baik!"


"Asmarini... Tunggulah aku akan mengambilmu, kita akan pergi jauh ke tempat tenang di mana hanya ada kita berdua dan tiada orang lain yang mengganggu, oh, Asmarini, hehehe...!"


"Gelo, si Parta. Karena cinta sampai lupa diri!"


"Kang Parta, tenangkan dirimu, sadarlah!"


"Tidak! Aku mau Asmarini, Asmarini...!"


Parta Dinata semakin menjadi-jadi. Dia berteriak ke setiap orang yang mencoba menyadarkannya. Bahkan hampir melukai kalau tidak segera ditahan beberapa orang.


Begitu Anjasmara tiba, Parta Dinata langsung ditotok hingga tubuhnya terkulai lemas. Dia belum mengerti mengapa malah jadi seperti ini.


"Bawa dia ke ruang pengobatan!" perintah Anjasmara.


Beberapa orang segera membopong tubuh Parta Dinata yang tak sadarkan diri.


"Apa ajiannya berbalik ke dirinya sendiri?" batin Anjasmara karena tahu apa yang telah dilakukan Parta Dinata.

__ADS_1


__ADS_2