Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Serangan Dadakan


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Sepasang pemuda ini saling pandang. Dengan isyarat mata, Adijaya menyuruh kekasihnya untuk membukakan pintu. Sementara dia merapihkan penyamarannya.


"Siapa?" tanya Asmarini dari dalam. Pelan.


"Saya, Jayana!"


(Kita skip dulu)


***


Pagi datang lagi, cuaca cerah tapi tak bikin gerah. Di halaman bangunan utama yang luas sudah berbaris rapi sekitar tiga ratus prajurit bersenjata lengkap.


Setiap dua puluh prajurit dipimpin oleh seorang Bekel. Setiap lima bekel tunduk pada perintah seorang senapati biasa. Dan senapati biasa dibawah pimpinan senapati utama.


Dalam hal ini senapati utama juga merangkap sebagai panglima perang. Ini dikarenakan belum adanya orang yang pantas menjadi panglima.


Rencananya salah seorang pendekar akan dijadikan panglima. Hanya saja sampai saat ini para pendekar itu masih dalam sayembara mengejar dan menangkap penyusup.


Entah kapan prajurit sebanyak ini datang? Apakah tadi malam? Selain raja, penasihat, patih dan senapati utama tidak ada yang tahu kedatangan mereka.


Tujuannya jelas menunjukan kepada orang-orang yang baru bergabung bahwa persiapan kerajaan baru itu bukan cuma omong kosong. Tetapi sudah siap segalanya. Benarkah sudah siap?


"Jumlah prajurit ini setiap harinya akan terus bertambah," jelas raja kepada orang-orang baru. Dalam hal ini Ki Bandawa alias Adijaya termasuk orang baru.


Mereka, raja, pejabat dan orang-orang baru itu berada di bangunan tanpa dinding dan sekat. Sekarang dijadikan sebagai tempat Paseban.


Namun, bagi Adijaya ini bukan persiapan. Ini namanya menantang pihak yang sudah berkuasa lebih duluan. Yang pertama wilayah kerajaan baru ini mencaplok daerah kekuasaan tiga kerajaan yang bertetangga.


Kedua, bisa disebut ini pemberontakan kepada penguasa pusat Tarumanagara.


Terdengar sang raja melanjutkan. "Prajurit ini bukan sembarang prajurit. Mereka sebelumnya telah mengenyam pendidikan ilmu silat, baik di padepokan atau ilmu silat keluarga.


"Selain itu, para Bekel dan senapati sebelumnya adalah mantan prajurit dari kerajaan lain. Jadi mereka sudah berpengalaman dan tahu segala macam taktik perang,"


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara gemuruh seperti mendekat ke tempat itu. Tidak ada yang bisa menduga-duga, ada apa? Kecuali tiga orang, siapakah mereka?


Kemudian terdengar suara teriakan lantang dari pintu gerbang.


"Kami prajurit Wanagiri telah mengepung tempat ini. Menyerahlah!"

__ADS_1


Semua orang di sana saling pandang satu sama lain. Kecuali barisan prajurit yang tetap berdiri tegap. Siap menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.


"Pasukan yang lemah, kembalilah jika tidak ingin mendapat malu!" balas patih Munding Wirya juga lantang dengan pengerahan tenaga dalam.


"Benar-benar menantang!" batin Adijaya. Ini namanya menganggap enteng musuh.


Raja mengajak kepada para pejabat dan orang baru untuk masuk ke dalam. "Biar Paman Patih dan senapati utama yang akan mengatasi," katanya yakin.


Lalu terdengar lagi suara teriakan dari arah pintu gerbang. "Pasukan Manukrawa akan mendobrak masuk jika kalian tidak segera menyerah!"


Dengan isyarat tangan sang Patih menurunkan perintah. Lalu semua prajurit bersiap menyambut datangnya serangan di belakang pintu gerbang.


"Seraaang...!"


Satu teriakan lantang menjadi aba-aba bagi pasukan yang berada di luar pintu gerbang. Lalu terdengar suara gemuruh teriakan prajurit menyambut.


Dengan mudah mereka mendobrak pintu gerbang.


Braakk!


Begitu terbuka, pasukan gabungan kerajaan Wanagiri dan Manukrawa berhamburan masuk bagai air bah. Pasukan yang di dalam sudah siap bertempur.


Pertempuran tak bisa dihindarkan lagi. Jumlah pasukan gabungan sepertinya memadai dengan pasukan kerajaan baru, Purwa Sedana.


Namun, ternyata pasukan yang datang bukan dari dua kerajaan itu saja. Tak berapa lama datang lagi pasukan dari Indraprahasta bergabung dengan dua pasukan sebelumnya. Sehingga jumlahnya lebih unggul.


Bagaimana ceritanya ketiga pasukan ini tiba-tiba muncul dan menyerang?


Di dalam ruangan. Di saat semuanya tegang. Tiba-tiba Jayana salah seorang saudagar melompat mendekati raja. Di tangannya telah terhunus sebilah keris.


"Mau apa kau?" sentak raja.


"Menangkapmu!"


Semua pejabat dan saudagar yang ada di sana tidak ada yang memilik ilmu silat. (Tentu saja kecuali Adijaya, Asmarini dan resi Ganggasara.)


"Lancang!"


Sang raja mencabut kerisnya lalu menerjang ke arah Jayana. Rupanya raja berusia muda ini memiliki kepandaian cukup tinggi. Terjadi pertarungan di antara mereka.


Yang tidak bisa bela diri semuanya berlari menyelamatkan diri.

__ADS_1


Siapakah Jayana? Kenapa dia berani hendak menangkap raja?


***


Semalam Jayana bertamu ke tempat Adijaya dan Asmarini. Dia mengenali gadis itu sebagai putri pejabat istana Wanagiri. Asmarini terkejut ada orang yang tahu jati dirinya.


"Saya sebenarnya senapati Anggada dari Wanagiri," Jayana membuka diri yang membuat Asmarini tambah terkejut.


Dia menjelaskan bahwa dia ditugaskan untuk menyelidiki tentang adanya kerajaan baru yang mencaplok wilayah Wanagiri. Setiap keterangan yang didapat selalu dikirimkan ke istana.


Selain itu dia juga mengabarkan kepada kerajaan tetangga, Manukrawa dan Indraprasta agar mereka juga mengirimkan telik sandinya untuk menyelidiki. Bahkan dia juga mengirim utusan untuk melapor ke Tarumanagara.


Tujuh hari sebelumnya senapati Anggada mendapat bocoran tentang hari di mana akan kedatangan raja. Maka segera saja dia mengirim keterangan dan meminta agar tiga kerajaan mengirim pasukan.


Kemudian Asmarini juga menjelaskan bahwa mereka memiliki tujuan yang sama, sedang menyelidiki kerajaan baru ini, terutama si penasihat raja yang bernama Ganggasara itu.


Sekarang, tiga pasukan kerajaan itu telah bergabung.


***


Pertarungan raja dan Jayana alias senapati Anggada berjalan cukup sengit. Keduanya bisa dikatakan seimbang. Walau sang raja berusia lebih muda, tapi jurus dan tenaga dalamnya cukup tinggi. Jelas saja karena dia anaknya Ganggasara yang ilmunya sudah tinggi.


Di lain pihak, Ganggasara terlihat heran melihat Ki Bandawa dan Asmarini tidak lari bersembunyi seperti yang lain. Malah dia melihat Ki Bandawa sedang menatap tajam ke arahnya.


Ki Bandawa melangkah maju mendekati Ganggasara. Langkahnya tenang. Setenang mungkin.


"Kau juga mata-mata?" seru Ganggasara.


Sebagai jawaban, Ki Bandawa langsung melepaskan serangan. Tentu saja dengan persiapan yang sudah matang. Ki Bandawa alias Adijaya menyerang dengan kekuatan dan jurus baru.


Besar kemungkinan Ganggasara tidak akan menyadari bahwa lawannya adalah Adijaya. Musuh bebuyutannya.


Dulu Ganggasara mendompleng pada pemberontakan Cakrawarman digagalkan oleh Adijaya. Kemudian saat menyerang padepokan Linggapura, juga ditumpas pemuda itu.


Lalu saat membantu Wastudewa memfitnah dan merebut Cupunagara akhirnya dijegal si Pendekar Payung Terbang ini.


Dendamnya sedalam lautan setinggi langit kepada Adijaya sehingga dia mengirimkan beberapa pendekar bayaran untuk membunuh dan akhirnya hanya bisa melenyapkan kekuatan sang pendekar saja.


Sekarang sang pendekar telah bangkit kembali dengan kekuatan baru.


Bagaimanakah cara Adijaya menghadapi musuhnya kali ini?

__ADS_1


[Maaf, belum bisa up banyak, sekarang mah yang penting tiap hari update minimal satu episode.]


__ADS_2