
Tadinya Ki Brajaseti juga hendak ikut serta membantu Cakra Diwangsa mengingat Prabu Satyaguna adalah sahabatnya. Tapi Ki Ranggasura menyarankan agar itu menjadi urusan anak muda seperti Adijaya saja. Tujuannya agar si pemuda semakin berpengalaman di dunia luar. Semakin dewasa dan semakin tangguh baik itu fisik atau mental.
Setelah pamitan kepada Kinasih akhirnya berangkatlah Adijaya alias Pendekar Payung Terbang bersama Cakra Diwangsa untuk mengusut fitnah yang menimpa Prabu Satyaguna.
Pertama mereka menuju ke pasar terdekat. Mereka membeli kuda sekaligus dengan keretanya. Jadi mereka bisa mengendarainya bersama. Tentu saja Cakra Diwangsa membawa bekal yang banyak pemberian dari ibunya. Sedangkan Adijaya masih mempunyai lumayan banyak upah pemberian Darma Koswara.
"Apakah tidak diberikan batas waktu?" tanya Adijaya.
"Raka Prabu memberikan waktu seluas-luasnya,"
Mereka berbincang-bincang di dalam kereta yang melaju ditarik oleh seekor kuda. Kereta kecil yang hanya menampung dua orang. Jadi kuda tidak merasa keberatan beban.
"Kenapa Ibunda Raden menyarankan untuk mencari saya?"
"Karena beliau yakin kamu bisa membantuku,"
"Maaf, apa Raden memiliki kepandaian silat?"
"Sedikit, hanya jurus kasar yang mengandalkan tenaga luar. Aku tidak pernah mendalami hingga ke ilmu kanuragan yang membutuhkan tenaga dalam. Mungkin itulah tujuannya aku meminta bantuanmu,"
"Ah, Raden suka merendah. Saya juga belum banyak pengalaman,"
"Tapi aku dengar Ki Ranggasura menyebutmu Pendekar Payung Terbang,"
Adijaya tertawa pelan. "Kakek cuma melebih-lebihkan saja,"
"Oh, ya. Sewaktu peristiwa pemberontakan Ayahanda, aku tidak diperkenankan ikut terlibat oleh Ibunda. Jadi aku tidak bisa melihat saat-saat terakhir Ayahandaku. Bisakah kau ceritakan saat kau bersama Ayahanda?"
Walaupun nantinya akan membuat Cakra Diwangsa bersedih, Adijaya tetap menceritakan semua yang dia alami saat bersama Panglima Cakrawarman. Dan benar saja, putra sang Panglima ini tampak berkaca-kaca.
"Ibunda benar, Ayahanda hanya dimanfaatkan oleh pengikutnya. Kakek juga bilang bahwa Ayahanda sebenarnya tidak mau memberontak,"
"Dari mana kita mulai penyelidikan?" tanya Adijaya mengalihkan pembicaraan agar Cakra Diwangsa tidak larut dalam kesedihan.
"Ke desa Gantar, kita cari dua orang yang jadi senapati bernama Jaladipa dan Singgih. Aku sudah tahu tempat tinggalnya."
Begitulah kereta kuda melaju sedang saja. Hari masih agak lama ke Tanage. Langit terlihat cerah walaupun bisa saja mendadak hujan turun. Karena di musim hujan, cuaca kadang tidak menentu. Ada gunanya juga mereka menaiki kereta yang ada 'saung'nya itu agar sewaktu hujan mereka tidak kebasahan.
Perjalanan mereka cukup jauh. Beberapa kali berhenti di kedai. Untuk mengisi perut, istirahat sejenak sambil memberi makan kuda.
Singkat cerita. Lima hari mereka menempuh perjalanan akhirnya sampai di desa Gantar tengah malam. Mereka berhenti di tempat yang agak jauh dari pemukiman penduduk. Mereka tidak langsung bertindak. Tapi istirahat dulu melepas lelah sampai menjelang pagi.
Setelah membersihkan diri di sebuah pancuran yang berada dekat di situ. Dua orang ini melangkah menyusuri jalan desa. Kereta kudanya di tinggal di tempatnya.
Suasana desa sudah mulai ramai. Banyak orang lalu lalang membawa peralatan tani. Rupanya mereka hendak ke sawah atau ladang.
__ADS_1
Agak lama kemudian sampailah Adijaya dan Cakra Diwangsa di tempat tujuan. Sebuah rumah di antara deretan rumah-rumah yang lain.
"Rumah ini kelihatan sepi, seperti tak ada penghuninya," ujar Adijaya.
"Sampurasun!" ucap Cakra Diwangsa agak keras.
Tak ada jawaban. Rumah-rumah di sekitarnya juga tampak sepi. Sekali lagi Cakra Diwangsa mengucap salam lebih keras.
"Cari siapa, Den?" seorang wanita setengah baya muncul dari samping rumah.
"Yang tinggal di rumah ini," jawab Cakra Diwangsa.
Wanita ini tercekat sejenak. "Rumah ini tidak ada penghuninya," ujarnya.
"Kemana mereka, apakah sudah pindah?"
"Rumah ini dari dulu sudah tidak berpenghuni, sejak pemiliknya meninggal,"
"Apa Raden tidak salah rumah?" bisik Adijaya.
"Tentu tidak!" tukas Cakra Diwangsa lalu dia berkata kepada wanita itu. "Beberapa waktu yang lalu dua kawan saya tinggal di sini,"
Wanita itu tampak berpikir. Dan sepertinya dia mengingat sesuatu.
"Oh, iya. Beberapa waktu yang lalu rumah ini memang pernah disewa..."
"Awalnya saya mengira begitu, tapi ternyata mereka pasangan mesum,"
"Mesum!" seru Cakra Diwangsa dan Adijaya bersamaan.
"Iya, kumpul kebo, ih! Amit-amit!"
"Sekarang mereka kemana?" cecar Cakra Diwangsa.
"Tidak tahu, tapi yang pasti wanita yang jadi pasangan mereka adalah wanita sewaan!"
Cakra Diwangsa dan Adijaya saling pandang.
"Bibi tahu asal wanita sewaan itu?" tanya Adijaya.
"Ya, dari Lembah Kupu-kupu!"
"Lembah Kupu-kupu?" ulang Adijaya.
"Oh, terima kasih, Bibi!" ucap Cakra Diwangsa langsung menarik lengan Adijaya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sementara wanita itu tampak melongo saja.
"Raden tahu tempat itu?"
"Ya!"
Mereka kembali ke kereta kuda. Saat itu juga langsung menggebah kudanya meninggalkan desa Gantar.
"Tempatnya memang seperti lembah, tapi tidak begitu dalam. Lembah Kupu-kupu adalah tempat berkumpulnya wanita malam,"
"*******, maksud Raden?"
"Iya!"
Adijaya hanya mengangguk pelan sambil menerawang. Berarti tujuan mereka sekarang ke tempat pelacuran itu. Sayangnya, tadi tidak menanyakan siapa nama kedua wanita sewaan itu. Tapi apakah wanita itu juga tahu?
Lewat tengah hari mereka sampai di sebuah bukit.
"Di balik bukit ini letak Lembah Kupu-kupu," Cakra Diwangsa memberitahu. "Tapi kita tidak akan mendaki bukit karena tidak ada jalan untuk kereta kuda. Kita akan melalui jalan melingkar di sisi bukit."
Kereta pun melaju lagi. Pelan saja. Adijaya mengitarkan matanya, menyapu pemandangan di sekitarnya. Alam yang indah, udara sejuk. Tapi langit sedikit mendung. Sepertinya mau turun hujan.
Baru belasan tombak memasuki jalan sisi bukit. Lima orang bertampang seram menghadang dengan golok terhunus.
"Tampaknya ini bagian kamu, Adijaya," bisik Cakra Diwangsa.
Adijaya garuk-garuk kepala. "Wah! Aku jadi tukang pukul rupanya!" gumamnya tapi dalam hati.
"Setiap orang yang hendak ke Lembah Kupu-kupu, wajib bayar upeti untuk keamanan!" seru salah seorang bertampang seram.
Lima orang ini berpakaian serba merah. Rambut gondrong dan wajah brewokan. Sekilas wajah mereka mirip. Tapi sebenarnya beda. Mirip karena sama-sama brewok.
Sudah pasti orang yang melewati jalan ini hendak menuju Lembah Kupu-kupu. Apakah ke setiap orang mereka meminta upeti? Atau hanya memanfaatkan keadaan saja mengingat orang yang mau ke sana pasti para bangsawan atau saudagar kaya.
"Tapi dari tampangnya, sepertinya mereka bukan seorang Rakean," ujar yang lainnya setelah mengamati.
"Tapi kudanya cukup mahal!" sahut yang lain lagi.
"Hei! Kenapa kalian bengong?" teriak yang pertama tadi. "Kalau tidak punya untuk bayar, lebih baik kembali daripada kepala kalian terpisah dari badan!"
"Apa kalian tidak mengenalku?" sentak Cakra Diwangsa.
Kelima orang ini tertawa terbahak-bahak.
"Orang yang lewat jalan ini, semuanya kami kenal. Dan kalian berdua sudah pasti baru pertama kali ke sini. Mau jual tampang, hah!"
__ADS_1
Kembali mereka terbahak-bahak. Kali ini sambil menuding-nuding dengan goloknya.