
Keesokan harinya di waktu Haneut Moyan, berdatangan sekitar tiga ratus orang berpakaian serba hitam memasuki padepokan. Rangrang Geni langsung memimpin paling depan. Dia sudah berdiri di lapangan.
Murid-murid juga tampak sudah siap bertempur. Karena mereka sudah mempersiapkan diri sejak kembalinya Arya Sentana. Murid yang kepandaiannya paling unggul berada di depan.
"Hari ini, padepokan Linggapura akan hilang dari muka bumi untuk selamanya. Tidak ada satupun penghuninya yang akan dibiarkan hidup!" teriak Rangrang Geni lantang. Sangat yakin usahanya akan membuahkan hasil.
Adijaya yang sudah mempunyai rencana tersendiri melangkah ke tengah lapangan dengan tenang. Lalu berhenti tiga tombak di hadapan Rangrang Geni.
"Sebenarnya ini hanya antara kau dan aku, tidak perlu melibatkan banyak orang!" kata Adijaya.
"Aku tidak peduli, pokoknya kau dan semua yang ada kaitannya denganmu harus mati!"
"Apa salahku, mengenalmu saja belum lama. Tapi kau sudah menaruh dendam padaku?"
"Karena kau telah menghancurkan rencanaku!"
"Kenapa jadi aku yang salah? Aku tidak pernah membuat masalah denganmu. Justru kau yang mulai duluan. Pertama mengirim guriang untuk menangkap Ki Santang dan Padmasari, lalu membuat hutan jadi-jadian untuk menjebak kami.
"Kemudian kau menjebak kami lagi di kedai jadi-jadian. Dan semuanya gagal. Kamu yang gagal kenapa aku yang disalahkan. Bukankah ini karena otakmu yang bodoh? Di mana pikiranmu?"
Wajah Rangrang Geni terlihat menyeramkan mendengar ucapan Adijaya. Giginya merapat, rahangnya menggembung. Ketika hendak bicara, Adijaya keburu melanjutkan.
"Kamu yang duluan buat masalah, apakah aku sengaja menyinggungmu duluan, kan tidak? Kalau kamu gagal itu karena aku berusaha keras agar lepas dari cengkramanmu!"
Rangrang Geni tidak diberi kesempatan bicara sama sekali. Sedangkan Adijaya bicara terus seperti ceramah.
"Kamu yang serakah, sudah punya sepuluh guriang masih mengincar punya orang lain. Oh, ya, aku mendapatkan mereka tidak dengan cara licik seperti kamu. Itu karena aku menanam kebaikan, maka menghasilkan kebaikan juga.
"Sedangkan kau, menabur kejahatan maka terimalah hasilnya. Seharusnya kau sadar aku selalu diuntungkan karena apa? Bukankah dari dulu juga kejahatan tidak akan pernah menang dari kebaikan?
"Coba kau pikir apakah aku senagaja, misalnya datang ke tempatmu terus bilang, 'Hai Rangrang Geni, hentikan perbuatanmu atau aku akan jadi penghalangmu.' Tidak, Kan? Kenal juga baru kemarin sore.
"Jangan mencari kambing hitam atas kegagalanmu. Yang salah itu, kenapa berurusan denganku? Begini kan jadinya? Coba kalau dari awal kau tidak membuat masalah denganku!"
Suasana yang tegang itu sedikit cair oleh ceramah Adijaya. Sementara Asmarini menahan tawa mendengarnya. Dia tak pernah melihat Adijaya seperti ini sebelumnya.
Suasana kembali tegang saat Rangrang Geni berteriak murka.
__ADS_1
"Diam kau, gelo!"
"Jadi bagaimana, kau mau tobat?" Di saat seperti ini Adijaya masih bisa bertingkah konyol.
"Hmmmh.. aku tetap akan membunuhmu!"
"Baiklah kalau begitu kita bertaruh!" Pernyataan Adijaya ini membuat penghuni padepokan menjadi cemas.
"Apa maksudmu?"
"Hanya kita berdua yang bertarung, kalau aku menang maka kau harus pulang. Kalau kau menang, silakan berbuat sesukamu, bagaimana?" Adijaya yakin dengan kemampuannya.
"Jangan ragu sedikitpun, keraguan akan membawa malapetaka!" bisik Padmasari.
"Tenang, Juragan. Demi kebaikan, tidak masalah, kan. Kalau curang sedikit?" Ki Santang menimpali.
"Licik dibalas licik mah, tidak apa-apa, iya kan Santang?" ujar Padmasari.
"Betul, hehehehe...!"
"Baiklah, terimalah kematianmu!"
Rangrang Geni sudah tak bisa menahan lagi amarahnya. Dia kerahkan tenaga lalu menerjang dengan tinjunya. Tak lupa dia lapisi setiap serangannya dengan mantera.
Dengan tenang Adijaya menyambut serangan lawan. Bukan menghindar, malah menahan dengan tangkisan. Tentu saja tangannya sudah dilapisi tenaga dalam.
Tak! Tak!
Dua tangan saling berbenturan. Terasa kekuatannya seimbang. Adijaya baru mengerahkan tenaga dalamnya tidak sampai seperempatnya. Dia melihat ada seringai kecil di wajah Rangrang Geni
Sepertinya pemuda berkumis tipis itu merasa unggul setelah benturan tadi. Beberapa jurus berlalu. Keadaan masih seimbang. Tapi ada raut keterkejutan di wajah Rangrang Geni. Kenapa?
Karena dia melihat jurus yang dimainkan Adijaya sama persis dengannya. Itu karena Adijaya menggunakan ilmu 'Membalik Langit'. Ilmu yang dengan mudah menguasai jurus lawan hanya dengan melihat.
Sadar dengan kepandaian lawan, Rangrang Geni ubah serangan. Bukan dengan jurus lagi. Dia melompat mundur beberapa langkah untuk mengumpulkan kekuatannya. Lalu memutar kedua tangan diakhiri dengan menyentak ke depan.
Wusss!
__ADS_1
Dua larik sinar merah memancar dari tangannya berbentuk seperti petir menghantam Adijaya.
Blarrr!
Terlihat ledakan yang membuat debu mengepul tebal. Sosok Adijaya tidak kelihatan karena debu. Penghuni padepokan sama-sama menahan napas. Hati berdebar keras bertanya-tanya bagaimana nasib Adijaya? Terutama Asmarini, dia menekap mulutnya.
Setelah debu hilang tertiup angin barulah kelihatan sosok Adijaya masih berdiri tegak, utuh tak terluka sedikitpun. Semua menarik napas lega.
Tapi kembali tegang ketika sinar petir itu melesat lagi. Tidak ada ledakan. Kini sinar merah itu membelit tubuh Adijaya. Rangrang Geni tertawa lebar sambil terus menekankan sinar merahnya.
Yang dirasakan Adijaya saat itu seperti tersengat listrik. Kalau tenaga dalamnya tidak besar mungkin tubuhnya akan terbakar hangus. Segera dia alirkan hawa sakti untuk melawan sengatan itu.
Seketika sengatan itu perlahan tidak terasa lagi. Tapi karena saking kuatnya tenaga dalam lawan, Adijaya masih merasakan walau seperti dikerubuti semut kecil.
Semua orang padepokan tampak cemas karena tidak tahu apa yang dirasakan Adijaya. Terakhir kali mereka melihat pertarungan dahsyat seperti ini ketika melihat Adijaya melawan Ganggasara.
Melihat lawan sepertinya tak merasakan apapun, Rangrang Geni lipat gandakan tenaga dalam. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya lewat ilmu pamungkasnya ini yang bernama 'Geni Candradimuka'.
Sinar merah yang berbentuk petir kini berubah menjadi api yang berkobar-kobar dan sangat panas. Membuat udara siang yang panas tambah panas.
Namun, tampaknya Adijaya masih tidak bereaksi sedikitpun. Tentu saja karena kekuatan Melati Tunjung Sampurna mampu membuat kobaran api menjadi terasa dingin.
Sekarang saatnya Adijaya mengeluarkan ajian "Serap Sukma'. Dua tangannya mengangkat seperti sedang berdoa. Lalu alirkan hawa sakti ke sepuluh jarinya dan menyentak.
Syuut!
Sepuluh sinar biru sebesar lidi melesat kemudian membelit tubuh Rangrang Geni seperti tali. Pemuda ini terkejut mendapatkan hawa sangat dingin saat dibelit sinar biru ini. Namun, dia masih bisa mengerahkan ajian Geni Candradimuka.
Akan tetapi lama kelamaan ajiannya melemah dan lenyap. Kobaran api kini berganti sepuluh sinar biru yang membelit tubuh pemuda berpakaian serba hitam itu.
Giliran Rangrang Geni yang merasa disengat listrik. Dia berusaha kerahkan tenaga dalam untuk memusnahkan sinar yang melilitnya. Tapi sia-sia.
Semakin mengerahkan tenaga, semakin lemah kekuatannya. Sosoknya pun perlahan tertarik mendekati Adijaya. Sekuat apapun kedua kakinya menjejak bumi, tetap tak bisa menahan tubuhnya yang terseret.
Setalah jaraknya satu jangkauan tangan, Adijaya tempelkan dua telapak tangan di dada lawannya.
Desss!
__ADS_1