Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kediaman Patih


__ADS_3

Lima lelaki bertampang garang di giring di belakang kereta. Dijaga oleh lima prajurit. Sementara senapati Suta Wingit duduk bersama Adijaya tua di tempat kusir dan Asmarini duduk di dalam.


Pintu kereta dibiarkan terbuka sehingga yang di depan bisa leluasa melihat ke dalam.


Asmarini memperkenal dirinya dengan nama asli. Hanya sedikit yang tahu bahwa dirinya putri seorang bangsawan di Wanagiri. Jadi dia tidak khawatir jati dirinya akan dikenali orang-orang kerajaan Purwa Sedana ini.


Kerajaan yang seperti dugaan Adijaya sebelumnya. Kerajaan yang baru dan sedang merintis.


Sedangkan Adijaya memperkenalkan diri dengan nama Ki Bandawa. Mengaku sebagai ayahnya Asmarini.


Sepanjang perjalanan Suta Wingit menceritakan tentang kerajaan Purwa Sedana yang ternyata benar sesuai dugaan Adijaya. Wilayah kerajaan ini masih berada dalam lingkup Tarumanagara. Namun, rencananya adalah kerajaan merdeka yang berdiri sendiri. Bukan bawahan Tarumanagara.


Apakah hendak menyaingi Tarumanagara dengan cara bertahap?


Menurut Suta Wingit, bila sudah saatnya menyatakan beridiri, maka wilayah yang menjadi bagian kekuasaan kerajaan Purwa Sedana adalah desa-desa yang berada di perbatasan antara tiga kerajaan. Yaitu Indraprasta, Wanagiri dan Manukrawa.


Tentu saja ini jelas mencaplok wilayah kekuasaan kerajaan lain. Dan pasti nantinya akan timbul ketegangan. Makanya sekarang Purwa Sedana sedang mempersiapkan segalanya untuk menghadapi kemungkinan yang tak bisa dihindarkan itu.


Hanya saja sejauh pembicaraan itu, Suta Wingit tak sekalipun menyebutkan siapa nama rajanya. Dalam kesempatan itu Suta Wingit menawarkan agar Adijaya bergabung dengan kerajaan baru itu. Dia menjanjikan suatu jabatan jika mau bergabung.


Bukan tanpa alasan senapati itu 'merayu' Adijaya. Dia sudah menyelidiki, dengan menaiki kereta kuda sebesar ini pasti Ki Bandawa bukan orang biasa. Setidaknya seorang saudagar kaya.


"Tawaran yang menarik," ujar Ki Bandawa alias Adijaya tua. "Aku tidak pernah tahu rasanya jadi seorang pejabat istana,"


"Ini sebuah kesempatan besar, Tuan," sahut Suta Wingit. Dia melirik ke arah Asmarini.


Sudah berkali-kali pemuda ini melirik si gadis. Entah kenapa Asmarini malah membalas dengan senyuman manjanya. Ini membuat hati Adijaya semakin panas. Beruntung wajah merahnya tidak diketahui karena tertutup penyamaran.


"Aku akan memikirkannya sambil jalan," ujar Ki Bandawa tanpa menoleh lagi. Pandangannya lurus ke depan seolah tak ingin lagi melihat mereka lirik-lirikan. Dia menahan perasaannya. "Apa Dinda tak mengerti perasaanku?" keluhnya dalam hati.


"Tuan tidak perlu lagi bekerja keras. Dengan jadi pejabat, pekerjaan tuan akan lebih ringan. Pokoknya lebih banyak enaknya," bujuk Suta Wingit.


Ki Bandawa sepertinya sudah tidak mendengar lagi. Perasaanya tak karuan. Apa ini yang dinamakan cemburu? Rasa takut kehilangan itu benar-benar nyata. Apa rasa cintanya terhadap Asmarini sudah begitu dalam?


***

__ADS_1


Kediaman Patih Munding Wirya ternyata seperti istana kecil. Sangat luas. Terdiri dari beberapa bangunan. Antara bangunan satu dan yang lainnya dipisahkan oleh halaman dan taman yang luas juga.


Keseluruhan kediaman ini dilingkup oleh kuta (benteng) yang tinggi. Hanya ada satu pintu masuknya yaitu gerbang di depan. Bagian paling belakang adalah lapangan besar. Sepertinya untuk latihan perang.


Jika kediaman Patih saja seperti ini, bagaimana dengan istana kerajaan? Dan... di mana tempatnya?


Ki Bandawa bersama Asmarini dibawa ke sebuah bangunan tanpa dinding dan sekat. Hanya berupa atap dan tiang-tiang penyangga. Lantainya terbuat dari papan yang sudah dihaluskan.


Di sana ternyata sudah ada banyak orang berkumpul duduk bersila menghadap ke halaman yang agak luas. Ki Bandawa dan Asmarini duduk bergabung dengan mereka.


Sementara Suta Wingit memilih duduk terpisah bersama beberapa orang yang juga berada di barisan tertentu. Sepertinya mereka orang-orang yang sudah mempunyai jabatan.


Beberapa saat kemudian dari bangunan yang paling besar, yang mirip sebuah rumah besar. Keluar seorang lelaki setengah baya berpakaian mewah diapit oleh dua pengawal.


Lelaki ini berdiri di halaman menghadap ke arah orang-orang yang sudah menantinya beberapa lama.


Beberapa orang di barisan terpisah berdiri lalu sama-sama menjura.


"Sembah kami, Gusti Patih!" ucap mereka bersamaan.


"Duduklah!" perintah Patih Munding Wirya.


Semuanya duduk kembali. Sang Patih masih berdiri untuk memberikan arahan.


"Sebelumnya saya haturkan beribu-ribu terima kasih atas kesediaan Ki Sanak dan Ni Sanak semua memenuhi undangan saya.


"Seperti yang kalian ketahui semuanya, bahwa kerajaan Purwa Sedana masih dalam tahap perintisan. Kami membutuhkan sumbangsih saudara sekalian, baik itu berupa harta, pemikiran dan juga tenaga.


"Tentu saja sumbangsih itu tidak saudara-saudara berikan secara cuma-cuma. Kami akan memberikan tanda jasa sebagai imbalannya. Yaitu beberapa kedudukan jabatan yang akan diisi oleh Ki Sanak semua,"


Patih Munding Wirya berhenti sejenak. Dia memperhatikan sikap hadirin atas penjelasannya tadi. Di antara mereka belum ada yang mengajukan pertanyaan. Maka sang Patih melanjutkan.


"Adapun ketentuan yang diterapkan dan menjadi aturan ada sedikit perbedaan antara para saudagar dan para pendekar,"


Ki Bandawa dan Asmarini berada di barisan yang disebutkan sang Patih. Saudagar dan pendekar yang sedang mencari jabatan.

__ADS_1


Patih Munding Wirya kemudian menjelaskan bahwa ketentuan untuk para saudagar harus memberikan hartanya dengan jumlah yang telah ditentukan, maka akan langsung mendapatkan tanda jasa.


Sedangkan untuk para pendekar, mereka langsung diterima dan diberi kedudukan. Hanya saja untuk mengundi kedudukan siapa yang paling tinggi, mereka akan diadu kepandaiannya.


"Yang berdiri terakhir di sini." Sang Patih menunjuk ke bawah, maksudnya halaman tempatnya berdiri. "Akan menjadi pengawal pribadi raja,"


Yang hadir tampak angguk-angguk, termasuk Ki Bandawa sambil memperhatikan Suta Wingit yang dari tadi selalu melirik ke arah Asmarini.


"Sebelumnya saya perkenalkan mereka yang sudah bergabung lebih dulu," kata Patih Munding Wirya kemudian.


"Senapati utama Suta Wingit,"


Yang disebut berdiri dan menjura.


"Mentri Muda Candra Kusuma!"


Mata Ki Bandawa dan Asmarini segera melihat ke arah orang yang disebut, lalu manggut-manggut dan saling pandang.


"Selanjutnya, Mangkubumi Ki Astapala,"


Ki Astapala tampak seumuran dengan sang Patih, hanya tubuhnya tinggi kurus. Sepertinya dia dari kalangan saudagar.


"Dan terakhir, Mentri Jero Ki Danapati."


Setelah memperkenalkan mereka, Patih Munding Wirya meminta agar saudagar memisahkan barisan dari para pendekar.


Baru bisa dihitung setelah dipisah. Kelompok saudagar hanya lima orang termasuk Ki Bandawa dan putrinya yang dihitung satu. Sedangkan golongan pendekar ada tujuh orang.


"Nah, pelaksanaan adu tanding antar pendekar akan di gelar besok. Jadi untuk para pendekar silakan istirahat dulu. Untuk jalannya acara saya serahkan kepada senapati Suta Wingit,"


Senapati Suta Wingit berdiri lalu mengajak para pendekar menuju tempat istirahatnya masing-masing.


"Dan untuk para saudagar, Mentri Jero yang akan melayani."


Setelah bicara sang Patih balik badan kembali masuk ke rumah kediamannya.

__ADS_1


Mantri Jero Ki Danapati menghampiri lalu mengajak para saudagar menuju tempat istirahat masing-masing.


__ADS_2