Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Senjata Baru


__ADS_3

Di hari yang sama. Di padepokan Linggapura, waktu 'Rumangsang' (pukul 10.00). Sekar Kusuma sudah bergabung dengan murid-murid perempuan dan mulai belajar jurus-jurus yang diajarkan Praba Arum.


Sebelumnya gadis ini sudah memiliki beberapa jurus dari gurunya. Bahkan sudah dibilang lihai karena dengan jurus itu dia pernah melawan senapati Suta Wingit. Jadi di padepokan ini dia belajar jurus baru. Bukan belajar dari awal sebagaimana orang yang tidak punya silat sebelumnya.


Kecantikan Sekar Kusuma mulai mendapat perhatian dari murid-murid lelaki. Dari penampilan yang tampak belia orang sudah dapat menebak bahwa dia masih gadis. Mendapatkan banyak tatapan dari murid-murid lelaki, membuatnya tak nyaman. Di saat istirahat dia lebih memilih menyendiri.


Sementara itu Adijaya dan Asmarini berada di kereta kuda. Kereta kuda ini ditempatkan di belakang balai pertemuan.


"Akhirnya Kakang mendapatkan kereta ini lagi,"


"Aku akan menjadikan sebagai tempat istirahatku, biar nyaman. Biar Dinda di dalam bilik saja!"


Asmarini cemberut manja. "Aku maunya bersama Kakang di sini, seperti dulu!"


Adijaya tersenyum lembut sambil membelai rambut kekasihnya. "Setelah kita sah, ya. Sekarang aku ingin memberimu sesuatu,"


"Apa itu?"


Adijaya mengambil puluhan perhiasan emas dari dalam peti yang masih terikat rapi di bawah kereta.


"Buat apa?" Asmarini keheranan. Dia pikir Adijaya akan memakaikan perhiasan itu ke seluruh tubuhnya.


"Lihat saja!"


Puluhan perhiasan itu diletakan di lantai kereta. Lalu Adijaya alirkan hawa sakti ke telapak tangan. Dua telapak tangannya di arahkan ke perhiasan.


Terlihat gelombang tenaga panas menyelimuti perhiasan yang ditumpuk jadi satu itu. Kejap berikutnya semua perhiasan terangkat melayang hingga setinggi tiga jengkal.


Perhiasan yang beratnya hampir empat kati itu berputar-putar. Semakin cepat semakin merapat. Terdengar suara mengkeret bergesekannya antara perhiasan.


Asmarini hampir tak berkedip memperhatikan apa yang dilakukan calon suaminya. Dia masih belum bisa menebak apa yang akan diberikan Adijaya kepadanya.


Bergantian sepasang matanya melihat ke perhiasan yang bergulung-gulung dan ke wajah Adijaya yang ternyata makin tampan setelah diperhatikan lebih lama dalam jarak yang begitu dekat.


Beberapa saat kemudian Asmarini melihat semua perhiasan tadi kini melebur jadi satu membentuk sebuah bola sebesar dua kepalan tangan. Adijaya memegang bola emas itu dengan kedua telapak tangan.


Asmarini belum mau berkomentar karena tampaknya pekerjaan Adijaya belum selesai. Terlihat kini kekasihnya memutar-mutar bola emas itu.

__ADS_1


Hawa sakti hangat terasa memenuhi ruangan. Namun, sama sekali tidak menghilangkan rasa nyaman. Asmarini menunggu sambil menyender ke dinding kereta.


Terlihat dua tangan Adijaya seperti sedang membentuk sesuatu benda dengan bola emas yang kini tampak lembek dan kenyal bagai adonan tepung. Semua ini dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam yang besar, tapi tidak sampai seluruhnya.


Sekarang tenaga dalam Adijaya sangat besar berkat Melati Tunjung Sampurna dan dilatih sesuai pedoman dalam kitab yang selalu dibawanya.


Bola emas itu perlahan berubah bentuk. Dari bulat menjadi lonjong. Terus memanjang hingga terlihat seperti tongkat pendek. Semakin panjang lagi sampai seukuran panjang pedang.


Terakhir Adijaya memegang benda itu di satu ujung dengan dua tangan. Kemudian tangan kirinya bergeser hingga ke ujung satunya. Gerakannya seperti sedang menarik pedang dari warangkanya.


Begitu dilepas tangan kirinya, kedua mata Asmarini membeliak dan mulutnya menganga. Merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.


Adijaya kini memegang sebuah pedang ramping tapi tajam di kedua sisi. Berwarna emas berkilauan. Gagangnya juga berwarna emas. Di ujung gagang yang menyatu dengan mata pedang terdapat biasan berbentuk kelopak bunga.


"Pedang Bunga Emas!" Adijaya memberi nama pedang ini. Lalu menyodorkan kepada Asmarini.


Si gadis baru sadar. Dia memang telah kehilangan senjatanya sejak kena gendam dulu. Bahkan menurut Adijaya, pedang pusakanya menemani kematian gurunya.


Asmarini menerima pedang Bunga Emas dengan rasa haru dan takjub. Dia membolak-balik pedang itu, cukup ringan dan nyaman dipegang. Akan sangat luwes ketika dipakai bertarung. Bibirnya bergetar antara senyum dan haru.


"Terima kasih, Kakang!" Tak terasa bulir air matanya jatuh di pipi.


Jari telunjuk Adijaya mengusapnya dengan lembut. Dia ingin membahagiakan calon istrinya, dan akan terus membahagiakannya sampai nanti. Dia tak dapat melukiskan rasa kasih sayang terhadap gadis itu.


"Apa Dinda ingin dibuatkan warangka dari emas juga?" tawar Adijaya.


"Tidak usah, cukup dari kayu saja,"


"Baiklah, aku akan membuatkannya dengan ukiran bunga-bunga!"


Tentu saja mudah bagi Adijaya untuk membuatnya. Bahan dari logam saja bisa dibuat pedang yang bagus. Apalagi dari kayu. Maka tak butuh waktu lama pedang Bunga Emas sudah tersarung ke warangkanya.


Kemudian Adijaya memberikan kitab tentang tenaga dalam. Dia sudah hapal semua isinya. Kini saatnya Asmarini mempelajari kitab itu.


"Kakang baik sekali,"


"Aku sayang Dinda!"

__ADS_1


Adijaya mengecup kening si gadis mungil lalu merangkulnya mesra.


***


Malam harinya Adijaya sendirian di dalam kereta kuda. Dua kuda penarik kereta ini dipindahkan ke kandang yang baru dibuat tadi siang. Kuda-kuda itu tampak terlelap setelah terisi perutnya.


Sementara di dalam, Adijaya terlibat pembicaraan dengan Padmasari dan Ki Santang.


"Bukan aku menolak bantuan kalian!" kata Adijaya setelah mendengar bahwa Padmasari ingin membuat tabir gaib di sekeliling padepokan agar terhindar dari ancaman Rangrang Geni.


"Tapi ini soal harga diri, murid-murid si sini tentunya ingin bertarung secara ksatria. Kematian dalam pertarungan bukan hal yang harus ditakuti. Seorang pendekar yang mati dalam membela kebenaran adalah suatu kebanggaan.


"Kematiannya akan memberikan semangat tinggi pada generasi berikutnya. Kepahlawanannya akan selalu dikenang dan jadi bahan cerita untuk anak cucu,"


Sepasang guriang ini terdiam. Mungkin itulah prinsip manusia berwatak baik.


"Tapi, apa tidak boleh membantu?" tanya Padmasari.


"Boleh, asal jangan mencolok!"


"Begini," kata Ki Santang. "Kita menyamar jadi murid saja lalu ikut bertempur bila saatnya tiba!"


"Nah, itu boleh!"


"Dan sekarang, mau tak mau Juragan harus menguasai ilmu 'Ngaraga Sukma'," kata Padmasari.


"Sepertinya menarik!"


Kemudian di ruang itu Adijaya menerima limpahan ilmu yang sangat jarang orang memlikinya. Ilmu yang bisa membuat badan lembut lepas dari raga kasarnya. Badannya berada di satu tempat, sedangkan sukmanya bisa berkeliaran kemana saja.


Padmasari duduk bersila di belakang Adijaya sambil menempelkan telapak tangannya ke punggung atas pemuda itu. Terasa hawa dingin menjalar merasuki semua bagian dalam tubuh Adijaya.


Aneh, hawanya dingin tapi Adijaya meneteskan keringat di dahinya. Bahkan lama kelamaan seluruh tubuhnya berkeringat. Beberapa kali Adijaya harus mengeluarkan tenaga dalam untuk mengimbangi.


Cukup lama proses pemindahan ilmu ini. Sampai waktu 'balebat' baru rampung dengan sempurna. Adijaya menarik napas panjang.


Kemudian Padmasari mengajarkan mantera cara menggunakan ilmu itu.

__ADS_1


__ADS_2