
Di pondok Dewan Kehormatan. Tempat disimpannya pedang milik Purana. Dua anggota yang bertugas jaga semalam sedang diperiksa langsung oleh Anjasmara. Tampak Adijaya sempatkan diri ingin menyaksikan.
Dua penjaga ini tampak tenang saja, tidak menunjukkan gugup sama sekali. Setiap anggota yang dapat giliran jaga, mereka diberikan kunci pondok semua pintu, tapi hanya salah satu yang memegang kunci asli.
Dan keduanya tidak ada yang tahu apakah dia pegang yang asli atau palsu. Mereka akan tahu jika ada atasan yang meminta dibukakan pintu.
"Kalau begitu cuma atasan yang bisa masuk ke dalam," batin Adijaya. Dalam hal ini Anjasmara orangnya. Tapi dia mempunyai alibi, semalaman dia bersama mahaguru. Tapi... Kenapa tidak ada yang merasakan kejanggalan semalam?
"Kalian tidak tertidur barang sedetikpun?" selidik Anjasmara.
Dua orang ini menggeleng berbarengan. Sepasang matanya berani menatap, menunjukkan bahwa mereka tidak berdusta.
"Hanya aku yang bisa meminta kalian membukakan pintu, apakah kalian melihat aku datang ke sini semalam?" pancing Anjasmara.
"Tidak, Ketua!" Salah satu menjawab tegas. "Semalam tidak terjadi apapun di sini. Saya menjamin ucapannya saya, dan siap dihukum bila ternyata saya keliru,"
Anjasmara menatap ke sebelahnya.
"Saya juga demikian seperti halnya yang dikatakan teman saya ini!" jawab yang satunya.
Sementara Adijaya memperhatikan lekat-lekat raut wajah kedua orang itu. Setiap sudutnya diteliti. Dari kerutan kening, sorot mata, bentuk hidung, pipi hingga dagu.
Adijaya memang tidak meminta bantuan kedua guriangnya. Namun, dia menimba ilmu dari mereka. Seperti sekarang saat memperhatikan dua penjaga itu. Sebelumnya dia telah bertanya kepada Padmasari.
Yang dia tanyakan tentang ciri-ciri orang yang pernah terkena gendam, pelet, sihir dan sejenisnya. Nah, ternyata dia menemukan ciri itu pada mereka, tapi tetap kurang jelas karena cirinya agak beda dari yang disebutkan Padmasari.
"Jenis ilmu apa itu?" tanya Adijaya dalam hati. Pirasatnya mengatakan pembunuhnya ada keterkaitan dengan ilmu semacam ini. Kecuali dia bisa Ngaraga Sukma, tapi yang punya ilmu itu di padepokan ini mungkin hanya Ki Manguntara saja.
"Sepertinya itu ilmu 'Menjerat Pikiran', semacam gendam jarak jauh!" jawab Padmasari yang hanya bisa didengar Adijaya.
Kesimpulannya dari pemeriksaan ini, bahwa pondok Dewan Kehormatan dalam keadaan baik-baik saja. Karena dua penjaga selalu dalam keadaan 'terjaga' dan mengecek setiap saat.
Perihal pedang milik Purana yang dicuri, tidak ada petunjuk satupun bagaimana senjata itu bisa hilang. Karena tidak ditemukan dinding atau atap yang jebol juga misalnya menerobos dari bawah tanah, tidak ada.
Satu-satunya cara mengambil pedang, yaitu masuk melalui pintu yang harus dibuka dengan kunci. Sedangkan dua penjaga menyatakan tidak ada satu orangpun yang datang malam tadi.
Juga Anjasmara, satu-satunya orang yang bisa melalukan hal itu sudah dijamin mahaguru yang bersedia bersaksi untuknya.
Selanjutnya Adijaya ingin menuju ruang kurungan. Dia ingin melihat kondisi petugas jaga yang mendapat giliran malam itu. Namun, sebelum beranjak meninggalkan tempat itu ternyata dua orang yang di maksud sudah didatangkan ke sini.
Adijaya urungkan niat, kini dia kembali memperhatikan kedua orang itu secara jeli. Wajahnya terkesiap sejenak. Dia melihat ciri-ciri yang sama dengan dua orang sebelumnya.
Hasil keterangan yang didapat dari dua orang ini juga sama. Tidak ada orang yang keluar masuk ruang tahanan sebelum dan sesudah kejadian. Dan tidak mendapat petunjuk sekecil apapun.
__ADS_1
Kemudian seluruh anggota Dewan Kehormatan berembuk menyusun rencana. Pada saat itu Adijaya meninggalkan mereka, tidak bermaksud mencampuri urusan itu meski sebenarnya bisa saja ikut bergabung.
Setelah rembukan selesai, Anjasmara menemui Adijaya yang kebetulan sedang berjalan hendak ke rumah kecilnya.
"Selamat siang, Mahaguru Muda!"
Adijaya terperanjat mendengarnya. "Tidak perlu seperti itu, aku jadi canggung," katanya sambil garuk-garuk kepala.
"Ini perintah Mahaguru,"
"Ya, tapi kalau cuma berdua saja begini tidak perlu sungkan,"
"Baiklah, mumpung kebetulan bertemu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih!"
"Untuk..."
Kemudian Anjasmara menjelaskan bahwa tiga hari yang lalu dia diberikan satu rangkaian kalimat oleh mahaguru untuk dipikirkan tentang hubungannya dengan ilmu silat.
"Dari kalimat itu aku menemukan petunjuk yang begitu luas sehingga aku bisa menciptakan beberapa gerakan jurus,"
Semalam dia menunjukan hasilnya dan menyamakan dengan hasil yang diciptakan mahaguru nya juga.
"Ternyata begitu luar biasa. Aku seperti merasa tercerahkan. Dan semua ini berkat Mahaguru Muda, eh...!"
"Bagus, kau tunggu saja Mahaguru memberikan kalimat berikutnya sampai habis. Setelah itu aku ada rencana untukmu,"
"Rencana?" Anjasmara kerutkan kening. Dia mencari keseriusan dari sorot mata Adijaya yang saat itu tersenyum ke arahnya.
"Iya, tapi nanti!" jawab Adijaya.
Mungkin idenya ini akan meringankan bebannya. Dia ingin segera menghapal seluruh isi kitab Hyang Sajati. Apa yang direncanakannya?
***
Tentang kasus pembunuhan, Adijaya menyimpulkan pelakunya memiliki ilmu 'Menjerat Pikiran' seperti yang dikatakan Padmasari. Sedangkan ilmu itu jelas bukan ajaran padepokan Karang Bolong.
Berarti ada murid yang diam-diam mempelajari ilmu di luar padepokan seperti halnya dulu yang dilakukan Parta Dinata. Yaitu mempelajari ilmu pelet dari Nini Kewuk.
"Bagaimana cara mengetahui orang itu memiliki ilmu Menjerat Pikiran?" tanyanya kepada Padmasari.
"Bertanya kepada gurunya,"
"Harus serepot itu?"
__ADS_1
"Kalau Juragan mau, aku bisa saja langsung menemukan orangnya,"
"Yah, nanti tidak seru dan menegangkan. Aku nganggur dong, tidak ada yang dikerjakan,"
"Kalau begitu temui gurunya, karena hanya itu caranya. Orang-orang itu tidak bisa dideteksi oleh bangsa manusia sendiri,"
Adijaya menghela napas panjang. "Kalau yang ini aku memerlukan bantuanmu, aku tidak punya ilmu berpindah ke tempat jauh dalam waktu sekejap, karena hanya makhluk lelembut yang bisa. Jadi bawa aku ke tempat gurunya,"
"Siap, Juragan!"
"Eh, tunggu!"
"Ada apa lagi, Juragan?"
"Aku ingin memeluk istriku dulu!"
Padmasari hanya putarkan bola matanya. "Suami idaman!" gumamnya.
***
Seseorang yang menjadi anggota Dewan Kehormatan diam-diam menyelinap ke rumah kecil milik mahaguru Manguntara. Dia sama sekali tidak takut jika ketahuan, karena tujuannya ingin menemui sang mahaguru.
Sebelum dia berhasil masuk ke dalam, ternyata Ki Manguntara tiba-tiba muncul di hadapannya. Tapi memang ini yang diharapkan agar tujuannya langsung diutarakan.
"Mau apa kau?" tanya mahaguru agak keras karena melihat sikap orang ini yang jelas tidak sopan.
"Mau mengadu!"
"Mengadu?"
"Ya, kenapa Mahaguru pilih kasih?"
"Pilih kasih, maksudmu?"
"Mahaguru diam-diam mengajari Anjasmara tanpa sepengetahuan yang lain!"
Ki Manguntara tertegun. Menatap tajam salah satu muridnya ini.
_____
Baca dan nikmati.
Terima kasih sudah menunggu.
__ADS_1
Di novel TERPAKSA JADI PENDEKAR, MC-nya lumayan sadis.