Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Penyusup


__ADS_3

Hari baru saja gelap. Semua tamu sudah disediakan tempat masing-masing. Termasuk Ki Bandawa alias Adijaya tua bersama Asmarini. Mereka baru saja menghabiskan santapan yang dikirim oleh pelayan.


"Ini seperti di istana." Asmarini teringat sewaktu masih tinggal di kawasan istana.


"Mungkin sebenarnya inilah istananya," duga Ki Bandawa. Dia langsung mengenakan pakaian penyamaran kembali setelah membersihkan badan.


"Entahlah, kita lihat nanti,"


"Eh, Dinda. Tahukah kau, sebenarnya Suta Wingit itu bukan menyelamatkan kita?"


"Maksud Kakang bagaimana?"


"Dia tahu Dinda mampu mengatasi lima perampok itu, maka dia segera turun tangan seolah-olah menolong,"


Asmarini memegang dagunya mencerna penjelasan yang diutarakan Adijaya. Bola matanya berputar.


"Jadi maksud Kakang mereka cuma sandiwara?"


Adijaya mengangguk tegas lalu meneguk air putih dalam gelas bambu.


Dalam pikiran Asmarini menduga, sebelumya mereka telah diawasi oleh Suta Wingit. Dengan mengendarai kereta yang besar, maka pasti Suta Wingit menyangka mereka orang kaya.


Kemudian menyusun sandiwara perampokan. Tujuannya jelas untuk menarik Adijaya atau Ki Bandawa untuk bergabung dengan kerajaan baru.


"Dan sebentar lagi, Suta Wingit akan mengunjungi Dinda,"


"Aku? Buat apa?"


"Lihat saja!"


Benar saja baru saja selesai berkata, terdengar pintu ruangan ada yang mengetuk.


Asmarini melihat perubahan raut muka Adijaya walau tertutup penyamaran. Bisa dilihat jelas dari sorot matanya.


"Temuilah!" Adijaya memalingkan muka.


Sejenak gadis ini ragu. Dia tahu kekasihnya ini cemburu. Dia jadi merasa tak enak hati. Tapi bagaimana kalau tidak ditemui? Nanti akan dianggap tamu yang tak sopan.


"Tapi Kakang harus percaya, cintaku hanya untukmu!"


Cup!


Asmarini mencium pipi Adijaya tua sebelum bergegas ke ruang depan. Ruang yang mereka tempati seperti rumah kecil. Ada ruang tamu, dua kamar tidur dan kamar mandi. Walaupun kecil tapi terkesan mewah.


Benar juga yang datang berkunjung sesuai dugaan Adijaya. Suta Wingit.


"Selamat malam Asmarini!" sapa Suta Wingit tersenyum penuh kesopanan. Tapi tetap saja dia tak bisa menyembunyikan tatapan rasa sukanya.


"Silakan masuk Gusti senapati,"


"Ah, tidak perlu sungkan. Panggil saja Suta. Aku datang berkunjung sebagai orang biasa,"

__ADS_1


"Baiklah, Suta. Silakan!"


Mereka duduk bersila di ruang depan. Suta Wingit tidak sungkan-sungkan karena dia sudah lama di kediaman ini. Sementara Asmarini diliputi perasaan tak enak. Di sebelah dalam sana, pasti Adijaya sedang menahan cemburu.


"Oh, ya, mana ayahmu?"


Asmarini agak kaget karena sedang melamun. "Beliau sudah istirahat. Perjalanan tadi siang melelahkan katanya,"


"Oh, tidak apa-apa!"


"Oh, ya. Ada maksud apa kau mengunjungiku?"


"Hanya ingin mengobrol saja,"


Tatapan Suta Wingit bukan tatapan biasa. Jelas pemuda ini memendam rasa suka terhadap Asmarini. Dengan sengaja mengunjungi ke tempat si gadis saja itu sudah membuktikan perasaannya.


Sifat orang ini sepertinya tergesa-gesa ingin segera meraih sesuatu yang dia impikan.


"Apa ada hal penting?" tanya Asmarini.


"Menurutku, iya. Tapi entah menurutmu!"


"Apa itu?"


"Kenapa kau tidak ikut di barisan para pendekar, padahal kepandaian silatmu lumayan?"


"Maksudmu aku bergabung dengan kerajaan ini lewat jalur adu ketangkasan antar pendekar?"


"Begitulah, karena kalah atau menang tetap akan menduduki sebuah jabatan,"


Bukankah tujuan utamanya menemukan siapa dalang di balik kerajaan Purwa Sedana ini? Dengan kata lain, siapa yang menjadi rajanya?


Bagaimanapun juga, berdirinya kerajaan ini telah merongrong kerajaan-kerajaan yang telah ada sebelumnya. Tanpa dukungan dari penguasa pusat di Tarumanagara, sama saja dengan pemberontakan.


"Akan aku pikirkan lagi tawaran ini," ujar Asmarini.


"Aku menunggu keputusanmu, karena dengan begitu aku senang ada gadis sepertimu yang jadi teman seperjuangan denganku."


"Terlalu yakin ini orang!" Batin Asmarini.


Sebenarnya Suta Wingit ingin berlama-lama dengan Asmarini. Namun, setelah hampir sepeminuman teh dia tak menemukan bahan pembicaraan lagi. Hanya menatap dan tersenyum. Ini membuat si gadis jadi kikuk.


Akhirnya pemuda ini menyerah lalu pamit undur diri. Kemudian Asmarini langsung menghambur ke dalam. Memeluk kekasihnya.


"Maafkan aku, Kakang!" lirihnya. Meluapkan perasaannya.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa."


Adijaya balas memeluk gadis itu.


Inilah indahnya cinta, ada rasa cemburu pertanda kasih sayang. Takut kehilangan satu sama lainnya.

__ADS_1


***


Kediaman yang mirip istana ini sudah ada banyak prajurit yang bertugas menjadi penjaga. Selain di gerbang utama, mereka ditempatkan di setiap sudut benteng bagian dalam.


Namun, sepertinya penjagaan mereka kurang waspada. Di salah satu atap bangunan sesosok bayangan hitam yang hampir tak kelihatan karena diselimuti gelapnya malam, sedang mengendap-endap.


Bayangan hitam ini bergerak tanpa bersuara, menandakan ilmu meringankan tubuhnya lumayan tinggi. Dia sedang memeriksa, lebih tepatnya mencari seseorang. Dari atas atap itu dia mengintip satu persatu ruangan yang ditempati para tamu.


Ketika melihat ke ruangan yang ditempati Asmarini, sosok ini tampak terkejut. Sepertinya dia pernah melihat ayah dan anak itu. Tapi pikirannya segera dienyahkan karena bukan mereka yang dicari.


Lalu dia mencari lagi sampai akhirnya menemukan orang yang diincar. Segera saja dia mendobrak atap dan langsung terjun ke bawah.


Brak!


Tap!


Orang yang di dalam terkejut melihat siapa yang datang tiba-tiba. Dari atas lagi.


"Kau...!"


Lelaki muda ini menunjuk dengan gemetar. Wajahnya menunjukan rasa tak percaya dengan apa yang dilihat. Seolah-olah sedang melihat hantu.


"Ya, ini aku. Kau heran aku bisa sampai berdiri di sini?"


Si penyusup yang ternyata seorang gadis menghunuskan pedang. Wajahnya cantik tapi dingin menyeramkan penuh amarah dan dendam.


"Ma... ma... mau ap-pa, kau?"


Pemuda itu tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Dia benar-benar tak menduga kalau gadis di hadapannya ternyata masih hidup.


Gadis yang sedang berkobar dendamnya itu adalah Sekar Kusuma dan lelaki yang gemetar ketakutan tiada tara itu kakak kandung si gadis sendiri, Candra Kusuma.


Rupanya pemuda yang telah meracuni keluarganya itu tidak memiliki kepandaian silat apapun. Dulu ketika bangkit dari kubur juga dengan susah payah.


Yang sangat tidak disangkanya, ternyata adiknya itu memiliki kepandaian silat. Karena dilihat dari sikapnya yang memegang pedang, itu merupakan sebuah kuda-kuda.


"Anak durhaka, pantas ke neraka!"


Sekar Kusuma mengayunkan pedangnya tanpa berkedip. Tanpa berpikir tentang hubungan saudara lagi. Yang ada dalam benaknya sekarang adalah dendam yang harus dibalas.


Sret! Sret!


Beberapa sabetan menggores kulit Candra Kusuma yang terawat halus. Dia tergolong anak manja. Tidak mau mengerjakan yang berat-berat. Segala sesuatunya dilayani oleh pembantu. Itu sewaktu dia masih tinggal di rumahnya.


Sekarang dia bercita-cita menjadi Mentri, dan sudah kesampaian. Tapi belum lama menjabat, adiknya yang dianggap mati bersama orang tuanya, kini tiba-tiba datang menuntut balas.


Candra Kusuma menjerit menahan perih setiap sayatan pedang. Tak mampu melawan.


"Ampun... tolong... ampuni aku, jangan...!"


Crasss!

__ADS_1


"Aaaah...!"


Suara jeritan kematian terdengar hingga ke luar.


__ADS_2