
Si kakek seperti tersadarkan. Pedang Guntur adalah pusaka milik Nini Bedul. Di simpan di gunung Sembung, menancap di sebuah batu. Dan orang yang bisa memegang pedang itu, selain hanya pemiliknya, juga orang yang dikehendaki oleh pemiliknya.
Berarti Nini Bedul menghendaki pemuda ini bisa memegangnya. Tapi pikiran si kakek lain lagi.
"Kau memaksa muridku agar memberikan kehendaknya, supaya kau bisa mengambil pedang itu. Lalu dengan pedang itu kau bunuh dia!"
"Haduuh!" Adijaya menepuk keningnya lalu melemparkan pedang Guntur ke hadapan si kakek.
Si kakek mengambil pedang itu. Karena dia gurunya Nini Bedul tentu saja dia punya mantra agar bisa memegang pedang Guntur. Segera saja dia sabetkan pedang itu ke kepala Adijaya dengan pengerahan tenaga yang besar.
Trang!
Pedang Guntur terpental balik bahkan lepas dari genggaman tangan. Si kakek terkejut melihat Adijaya telah memegang payung terbuka. Dan tak percaya payung itu mampu menahan pedang itu.
Selagi kakek itu terperangah karena tidak percaya apa yang dia lihat, Adijaya bergerak cepat menotok beberapa titik penting di tubuh kurus si kakek dengan payungnya.
Si kakek tak bisa bergerak dan bicara, lalu Adijaya membawa tubuh si kakek ke sebuah pohon. Disandarkannya tubuh kurus itu. Payung Terbang telah kembali ke tempatnya.
Wajah si kakek tampak pucat diterpa sinar matahari. Dia tak menyangka pemuda ini begitu sakti. Diam-diam hatinya cemas.
Kemudian Adijaya bercerita dengan tenang. Walau hatinya masih dongkol menghadapi orang tua seperti ini.
"Aku mempunyai calon istri yang kena pengaruh gendam. Calon istriku ini adalah muridnya Nyai Gandalaras, saudara kembar Nini Bedul.
"Makanya calon istriku dibawa ke sini untuk diobati, dihilangkan pengaruh gendamnya. Dia direndam di air bunga di kolam itu!" Adijaya menunjuk kolam yang dimaksud.
"Beberapa hari yang lalu, Nini Bedul mendapat pirasat bahwa pedang Guntur banyak yang mengincar. Maka dia mengutus aku untuk mengambilnya.
"Tetapi setelah kembali dari sana, aku lihat tempat ini sudah porak poranda. Bahkan calon istriku juga hilang. Semalaman aku mencari petunjuk untuk menemukan siapa yang telah melakukan hal kejam ini?
"Tapi pagi harinya kau datang langsung menyerang, menuduh aku telah membunuh muridmu. Kalau tidak menyaksikan kejadiannya jangan asal tuduh!
"Walaupun yang kau lihat di sini hanya ada aku. Coba kau pikir, kalau aku pembunuhnya. Buat apa berlama-lama di sini? Mendingan langsung pergi, biar tidak ada yang tahu, begitu, kan?"
Sehabis bicara Adijaya duduk di depan si kakek. Dia diam tak melakukan apa-apa. Hatinya sungguh kesal dengan sikap si kakek ini.
Sementara si kakek tak bisa apa-apa juga karena keadaannya. Pikirannya mulai terbuka. Apa yang dikatakan si pemuda ada benarnya. Kalau tidak mungkin dia juga sudah jadi mayat.
Ingin kakek ini bersuara meminta agar totokannya dilepas. Tapi hanya bola matanya saja yang berputar-putar.
Adijaya yang mengerti keinginan si kakek akhirnya membuka totokan semuanya sehingga si kakek bisa bergerak bebas. Terlihat napasnya ngos-ngosan.
__ADS_1
"Aku keburu nafsu," ucap si kakek pelan.
"Lihat reruntuhan rumah itu!" tunjuk Adijaya ke arah rumah yang sebagiannya sudah jadi abu. "Itu bukan dibakar dengan api obor, atau alat bakar lain. Itu menggunakan semacam ilmu ajian.
"Terus, yang pertama terbakar bukan rumahnya. Karena kalau rumahnya duluan, maka nenek kembar bisa selamat. Tapi nyatanya mereka tewas terbakar.
"Karena api berasal dari tubuh mereka yang terbakar duluan. Serangannya langsung di arahkan ke sepasang nenek kembar itu. Kemudian api baru merambat ke bagian rumah,"
Si kakek beranjak mendekati mayat dua nenek kembar yang telah gosong. Kalau tidak hapal ciri-cirinya, maka kondisi dua nenek itu sulit dikenali. Lalu dia mengamati keadaan jasad muridnya.
"Api Pelebur Sukma!" seru si kakek terkejut.
Adijaya segera menghampiri. "Kau mengetahui sesuatu?"
"Muridku dan saudara kembarnya tewas oleh ilmu Api Pelebur Sukma!"
Bersinar kedua mata Adijaya mendengar keterangan ini. "Kau tahu siapa pemiliknya?"
Si kakek mencari pedang Guntur yang tadi terpental. Segera diambil setelah ketemu. Lalu menyerahkan kembali kepada Adijaya.
"Hanya ada satu orang, Jerangkong Koneng. Dulu dia dipecundangi muridku. Mungkin dia menuntut balas setelah ilmunya meningkat pesat,"
"Kurus, lebih kurus dari aku. Yang terlihat hanya kulit pembungkus tulang, tapi dia sadis bagai dedemit!"
Adijaya membayangkan apa yang diucapkan si kakek. Bagaimana rupa si Jerangkong Koneng ini? Lalu dia tersadar ketika melihat pedang di tangannya.
"Kenapa kau berikan pedang ini?"
"Buka penutup di ujung gagang!"
Adijaya tak menyangaka, di gagang pedang ada penutupnya. Dan diapun membukanya. Ada lubang di dalam gagang pedang. Adijaya meraba lubang itu. Jari-jarimya menemukan sesuatu.
Ternyata secarik kain bergambar. Gambar sebuah peta. Peta apa ini? Pikirnya!
"Itu adalah peta yang menunjukan tempat tersimpannya kitab Jagat Pamungkas..."
"Jagat Pamungkas?"
"Kitab yang berisi ilmu-ilmu teluh, santet gendam dan yang lainnya,"
"Aneh, kenapa harus disembunyikan? Sedangkan petanya terdapat dalam pedang. Ini, kan, rumit jadinya!"
__ADS_1
"Dunia persilatan memang tempat yang aneh-aneh!"
"Apakah calon istriku juga dibawa dia?"
"Tentu saja untuk memuluskan cita-citanya dahulu sebelum dia dipecundangi,"
Cita-cita! Apa yang dicita-citakan.
"Kemana aku harus mencarinya?" tanya Adijaya
"Sebelum melawannya kau harus menguasai semua isi yang ada dalam kitab Jagat Pamungkas, karena dia juga ahli ilmu beginian!"
"Kenapa tidak kau saja yang melawannya?" tukas Adijaya.
"Aku sudah tua untuk mengurusi hal keduniawian, kau saja yang masih muda!"
Adijaya mendengkus. "Sebelumnya kau begitu menggebu-gebu ingin membunuhku, atau kau takut kepada si Jerangkong Koneng?"
"Buat apa takut, sudahlah, calon istrimu dalam genggamannnya. Kau ingin menyelamatkannya, kan?"
Adijaya terdiam. Dia memang akan mencari Asmarini. Tapi apakah harus mempelajari ilmu hitam itu?
"Oh, ya, siapa namamu?"
"Adijaya,"
"Tadi aku lihat kau menggunakan payung, apakah kau yang bergelar Pendekar Payung Terbang?"
Adijaya menangguk sambil memasukan kembali kain bergambar peta itu ke dalam gagang pedang.
"Namaku Bardawata, aku percayakan kitab itu padamu. Dan aku yakin kau mampu menghentikan sepak terjang Jerangkong Koneng."
Si kakek bernama Bardawata ini tanpa pamitan lagi sosoknya berkelebat cepat meninggalkan Adijaya.
Pemuda itu hanya menghela napas panjang. Setelah membuka kain tadi, dia sudah tahu keberadaan kitab Jagat Pamungkas.
Yang dia utamakan adalah Asmarini. Kalau harus menguasai isi kitab itu agar bisa menyelamatkan calon istrinya, maka dia akan mempelajarinya. Ilmu-ilmu itu hanya akan dia gunakan untuk itu dan juga menghentikan sepak terjang Jerangkong Koneng
Tidak peduli nantinya keadaan Asmarini akan seperti apa, dia harus menyelamatkan si gadis. Setidaknya dari kekuasaan Jerangkong Koneng.
Adijaya bangun. Dia membungkus pedang Guntur dengan digulung menggunakan kain. Lalu dia meninggalkan puncak bukit Bedul.
__ADS_1