
Mendengar suara itu Asmarini bergegas keluar. Adijaya mengikuti.
"Nenek!" seru gadis itu senang.
Begitu melihat Adijaya, nenek berpakaian serba abu-abu kusam menatap tajam penuh permusuhan. Wajahnya menyeramkan. Tadi Asmarini memanggilnya nenek, kemungkinan orang tua yang rambutnya sudah memutih semua ini adalah gurunya.
Pendekar Pedang Bunga.
Sebilah pedang menggantung di pinggangnya.
Tiba-tiba nenek ini mendengkus lalu mengibaskan tangan kanan. Dari kibasannya menderu angin kuat ke arah Adijaya
Wusssh!
"Nenek, jangan!"
Pemuda ini tidak siap menerima serangan dadakan. Tubuhnya terhempas angin menghantam dinding rumah lalu terpental lagi keluar jatuh bergulingan di halaman.
"Ugh!" Adijaya pegang dadanya yang terasa panas.
Perlahan dia bangkit lalu duduk bersila. Hanya bisa mengatur nafas.
Asmarini yang tahu keadaan pemuda itu tampak cemas. Tapi bingung juga kenapa gurunya bersikap seperti itu.
"Jangan teruskan, Nek!" teriak Asmarini ketika melihat nenek itu mengangkat tangan.
"Bocah hidung belang, enyah kau dari sini!"
"Jangan, Nek. Dia pemilik rumah ini..."
"Dusta!" bentak Nyi Gandalaras. "Kau percaya bualannya begitu saja!"
Si nenek tarik pedang dari warangkanya. Seketika bau harum aneka bunga menebar.
"Tahan, Nek. Kau salah paham!"
"Aku tidak percaya!"
Asmarini segera menghambur mencegah si nenek melakukan serangan.
"Nenek dengar dulu penjelasanku!"
Gadis ini langsung menarik Nyi Gandalaras ke dalam rumah. Menunjukan peti berisi harta yang tertanam di lantai kamar. Lalu dengan gaya bicaranya yang 'neretel' dia menceritakan semua tentang Adijaya.
"Anak perampok!" sentak si nenek. "Kalau begitu dia pantas mati!"
Pendekar Pedang Bunga melesat lagi keluar. Berdiri di teras sambil menudingkan pedang.
"Anak Gandara si begal Cakrageni! Calon biang keresahan manusia, kau layak mati sebelum membawa malapetaka!"
Kemudian si nenek kibaskan pedang.
Angin beraroma bunga menderu menghantam Adijaya yang masih bersila.
Wusssh!
__ADS_1
Desss!
Sebuah payung melindungi pemuda ini. Namun, dirinya tetap terdorong tiga tombak. Tapi tidak separah tadi. Badannya selamat dari hantaman angin harum itu.
"Payung Terbang!"
Nyi Gandalaras terkejut. Dia pernah mendengar sepak terjang Pendekar Payung Terbang yang belum lama ini tersiar. Jadi dia orangnya?
Adijaya masih bersila menahan sakit di dadanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang hendak menjebol dadanya dari dalam.
"Maaf juragan, saya terlambat!" itu suara guriang yang hanya Adijaya yang bisa mendengarnya.
Perasaan pemuda ini berkecamuk. Bukan karena luka di dadanya. Tapi luka di hatinya. Sangat sakit saat mendengar ucapan si nenek. Tanpa mencari tahu dulu langsung saja melabrak seolah-olah dia sedang mengganggu muridnya.
Orang macam dia? Belum juga tahu, tapi sudah berprasangka buruk. Kenapa Asmarini mendapatkan guru semacam dia? Ternyata sifatnya tak seharum julukannya.
Perlahan Adijaya berdiri dengan menopang payung yang sudah dilipat.
"Pergilah, sebelum aku bertindak lebih jauh!" usir si nenek. Dia agak heran kenapa dia bisa dengan mudah menjatuhkan anak muda itu.
Padahal kabarnya Pendekar Payung Terbang susah dikalahkan.
Mendengar ucapan si nenek, hati Adijaya bergemuruh. Rahangnya menggembung, tangannya bergetar. Amarahnya tersulut.
"Ini rumahku!" katanya pelan tapi dengan penekanan kuat seperti menahan untuk tidak berteriak.
Adijaya mengangkat payung. Hanya dengan payung itu dia memiliki kekuatan. Belum pernah dia semarah ini. Dia bertekad akan habis-habisan menyerang Nyi Gandalaras.
Tapi Asmarini keburu berlari ke tengah-tengah di antara mereka.
Adijaya turunkan payung, tapi matanya masih menatap penuh amarah kepada Nyi Gandalaras.
"Menjauh kau! Jangan berani masuk ke rumah!" bentak si nenek.
"Nenek gila!" umpat Adijaya. Tapi dia melangkah juga menjauhi rumahnya. Dia berjalan menaiki bukit dengan langkah gontai dan hati lunglai.
Ternyata begini penderitaan orang yang tak bisa melawan karena tidak ada kekuatan. Inikah yang namanya tertindas?
Sosok Adijaya sudah tak terlihat lagi oleh mereka. Asmarini kembali masuk ke rumah.
Sikap si nenek sama sekali tidak menunjukan rasa menyesal telah salah menjatuhkan tangan. Bahkan mengusir orang dari rumahnya sendiri. Atau memang beginilah watak Pendekar Pedang Bunga?
"Aku tidak hanya ingin kau celaka,"
"Dia orang baik, Nek,"
"Jangan percaya begitu saja. Sebaik apapun lelaki pasti ada maksud buruk, apalagi dia anak begal. Sifatnya pasti tidak jauh dari ayahnya!"
"Jangan berburuk sangka, Tadi aku melihat tiba-tiba dia membawa payung lalu nenek menyebut Pendekar Payung Terbang. Aku jadi tahu ternyata dia orangnya,"
"Sejak kapan dia datang?"
"Tadi pagi,"
"Sendirian?"
__ADS_1
"Bersama Ki Santang, tapi entah kenapa aku tak melihat sosoknya lagi!"
"Tapi kenapa dia tak sekuat orang-orang bilang?"
"Aku belum memberitahu Nenek, karena suatu musibah dia kehilangan kekuatannya,"
"Pantas," si nenek mendesah. "Kekuatannya sekarang hanya senjata payungnya.
"Nenek harus minta maaf padanya,"
"Apa? Aku tak sudi!"
"Nenek, apa Nenek tidak merasa bersalah. Tanpa tahu apa kesalahan dia langsung diserang. Diusir lagi dari rumahnya sendiri,"
"Aku hanya melindungimu,"
"Tapi tidak sampai segitunya, kan?"
"Kau ini, mau mengguruiku?"
"Bukan begitu, jadinya Nenek terkesan buruk di mata dia,"
"Tidak peduli! Eh! Kenapa kau bicara seperti itu. Kau kan sudah tahu tabiatku memang begini. Jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya?"
Asmarini tersenyum simpul. "Kalau iya, bagaimana?"
"Apa?" si nenek melotot. Wajahnya semakin seram. Tapi Asmarini tetap tenang dan tersenyum.
Gadis ini sudah biasa melihat wajah seram Nyi Gandalaras.
***
Di lereng bukit yang agak tinggi. Ada satu tempat yang banyak batu-batu besar. Di bawah batu yang paling besar yang tertanam pada kemiringan tanah yang hampir tegak lurus, ada sebuah celah yang mirip goa. Tapi tidak dalam, hanya cukup untuk satu orang berbaring dan duduk bersila.
Adijaya sudah berada di situ. Duduk bersila memusatkan pikiran. Sebenarnya menenangkan pikiran juga hatinya yang berkecamuk.
"Apa perlu aku beri pelajaran nenek gila itu?" tanya Ki Santang yang tiba-tiba muncul.
"Biarkan saja,"
"Tapi juragan terluka parah!"
"Kau cari saja tumbuhan obat dan tumbuhan ajaib untuk membangkitkan tenaga dalam..." lalu Adijaya menyebutkan beberapa nama tumbuhan yang pernah dibacanya di kitab pengobatan yang ada di padepokan Linggapura.
"Semuanya ada di bukit ini,"
"Baik, juragan!"
Ki Santang pergi melaksanakan tugasnya.
Beberapa hari berikutnya, Adijaya mengobati lukanya dengan ramuan dari bahan-bahan yang didapatkan di bukit itu.
Setelah sembuh kemudian dia meracik ramuan dari tumbuhan ajaib. Ramuan ini berguna untuk membuka kekuatan batin, membangkitkan tenaga dalam secara alami dan juga untuk menambah tenaga dalam itu sendiri.
Sebelumnya Adijaya agak kaget ketika Ki Santang memperoleh apa yang dicarinya sangat banyak. Namun, dia segera sadar bahwa Ki Santang adalah mahluk halus jelmaan guriang.
__ADS_1
Dengan begini akan mempercepat pekerjaannya. Sekarang dia mengolah sendiri kekuatannya. Dia percaya di setiap manusia ada kekuatan batin dan tenaga dalam yang dapat dibangkitkan dengan cara tertentu. Sesuai yang dia baca dalam kitab-kitab di padepokan.