
Karena tidak ada lagi pemuda yang bisa bisa diajak bergabung dengan kelompok bentukan Sudaliwa, maka mereka mencari bantuan ke beberapa desa tetangga. Cukup susah untuk mendapatkannya.
Namun, dengan perjuangan yang gigih akhirnya terkumpul semuanya berjumlah dua puluh empat. Memang terlalu sedikit untuk bisa melawan anak buah Raksana yang begitu banyak.
Mereka dibagi menjadi enam regu, masing-masing terdiri empat orang. Keenam regu ini dibagi berdasarkan keterampilan dan kepandaian masing-masing. Ada regu yang khusus pandai memanah, ada yang pandai membidik dengan tombak dan juga melempar senjata kecil.
Tiga regu tersebut ahli dalam serangan jarak jauh. Tiga regu lainnya ada yang dengan kepandaian umum yaitu bertarung langsung di jarak dekat. Ada yang pintar dalam membuat alat jebakan dan regu terakhir bertugas mengecoh lawan tapi tetap memiliki kepandaian silat.
"Menurut keterangan, yang ada di rumah Ki Wardana hanya Ki Somara. Dikabarkan Raksana dibawa pulang ke rumahnya karena mengalami cedera parah pada selang kangannya," tutur salah seorang menjelaskan situasi.
"Ya, gadis bernama Asmarini itu yang telah melukai Raksana ketika menyelamatkan Utari," timpal Kantadalu.
"Rencana kita tetap tidak berubah," kata Sudaliwa. "Kita akan menyebar ke enam titik dan melakukan aksi. Sebisa mungkin jangan ada korban dari pihak kita!"
Rencananya malam nanti mereka akan mulai bergerak. Mereka sudah membuat dan mengumpulkan alat dan senjata yang diperlukan seperti panah dan busurnya, tombak, pisau-pisau kecil, pedang, golok dan sebagainya.
***
Malam pun tiba. Anak buah Ki Somara tak lagi berpusat di rumah Ki Wardana atau balai desa. Mereka menyebar ke setiap penjuru. Jumlah mereka sekitar seratus orang lebih. Entah dari mana Ki Somara mengumpulkan anak buah begitu banyak ini?
Bagaikan satu pasukan kecil.
Mereka juga dibagi berkelompok-kelompok. Satu kelompoknya paling sedikit lima orang. Ada yang enam atau tujuh orang tergantung kemampuan. Jika jumlahnya hanya lima berarti kemampuannya sudah lumayan.
Ki Somara tidak berada di rumah Ki Wardana, tapi di balai desa karena salah satu ruangannya dijadikan tempat untuk mengurung Ki Wardana dan istrinya.
Agak jauh di depan sana, di sebuah jalan yang menuju balai desa terlihat sebuah keributan. Lima anak buah Ki Somara tengah mengeroyok seseorang yang sepertinya wanita.
__ADS_1
Ayahnya Raksana ini segera berlari ke tempat kejadian. Dia menduga pasti gadis siyalan itu yang datang mengacau. Ini saatnya pembalasan.
Sampai di sana dia baru jelas melihat gadis itu memang bertubuh mungil seperti kata anaknya.
"Minggir!" teriak Ki Somara.
Lima anak buahnya segera lakukan perintah. Ki Somara sendiri langsung mengirimkan serangan tidak tanggung-tanggung. Menurut gurunya, gadis itu bukan tandingannya. Tapi dia tidak mau bertindak gegabah.
Ki Somara langsung menguarkan jurus andalannya. Hasilnya membuat dia tersenyum puas. Gadis bertubuh mungil itu kewalahan menerima serangannya. Sampai akhirnya lelaki paruh baya ini mendaratkan tendangan kerasnya.
Bukk!
Gadis bertubuh mungil terpental dan jatuh. Darah muncrat dari mulutnya. Dia tampan tak berdaya. Kesempatan ini tak disia-siakan. Ki Somara segera menyambar gadis itu lalu di bawa ke dalam salah satu ruangan di balai desa.
Dia melemparkannya dengan kasar. Hanya suara ratapan kesakitan yang keluar dari mulut si gadis. Ki Somara memang sempat tergiur dengan keindahan tubuh si gadis walau mungil, tapi rasa dendam menutupi birahinya.
"Aku akan menyiksamu lebih menderita daripada yang dialami anakku!" geram Ki Somara.
Semakin menangis dan meratap semakin puas hati Ki Somara. Bahkan dia melakukannya sambil tertawa-tawa. Dia tak menyangka bisa melampiaskan dendamnya semudah ini.
***
Dua orang bertubuh ramping yang mengenakan pakaian serba hitam tampak berjalan mengendap-endap dari mulai gapura desa hingga masuk ke dalam. Mereka yang wajahnya juga ditutupi kain hitam kecuali kedua matanya berusaha menghindari tempat yang ada anak buah Ko Somara.
Mereka rela memutar jauh demi mencapai tempat tujuannya. Balai desa. Dari lekuk tubuhnya mereka dipastikan perempuan. Mereka bergerak tidak terburu-buru, yang penting sampai dan tidak ada satupun anak buah Ki Somara yang memergokinya.
Tapi bila mereka tak bisa menghindari berpapasan dengan anak buah Raksana, terpaksa mereka keluarkan senjata. Dalam beberapa gebrak saja semua anak buah Raksana yang mereka jumpai itu terkapar tak bernyawa.
__ADS_1
Dua wanita bertopeng kain kembali menyelinap dari tempat ke tempat setelah memastikan semua orang-orang Ki Somara tewas dan tidak sampai mengundang kelompok lainnya.
Tampak salah satunya melompat ke salah satu atap rumah. Langit yang gelap membantunya menjadi tak terlihat bagi yang sekilas saja. Di atas atap, dia memandu yang di bawah agar mengikuti arahannya.
Setelah yang dibawah menyelinap dengan selamat dari pengawasan anak buah Raksana, yang di atas berkelebat ke atap lainnya tanpa menimbulkan suara.
Begitu seterusnya yang di atas memberi arahan dan petunjuk kepada yang di bawah karena pandangannya lebih luas. Jadi tahu di mana saja yang aman untuk dilewati. Dan yang di bawah mengikutinya.
Seandainya wanita yang di bawah juga memiliki ilmu meringankan tubuh, mungkin mereka akan sama-sama terbang dari atap ke atap. Tapi itulah manusia, ada perbedaan yang saling membutuhkan satu sama lainnya.
Dua wanita bertubuh ramping tapi berbeda tingginya ini akhirnya sampai di belakang balai desa yang merupakan tanah perkebunan. Yang bisa terbang berada di atas pohon memperhatikan situasi. Dan yang satunya menunggu arahan.
***
Sementara itu di beberapa tempat kelompok-kelompok bentukan Sudaliwa sudah melancarkan aksinya.
Kelompok ahli panah sudah melesatkan anak panahnya ke sasaran. Tak ada yang meleset. Cukup satu anak untuk membuat tewas satu anak buah Ki Somara. Mereke sudah menghabisi beberapa kelompok hampir tanpa perlawanan.
Begitu juga kelompok yang ahli menyerang jarak jauh lainnya seperti tombak, dan senjata kecil. Setiap setelah melancarkan serangan, mereka segera sembunyi.
Yang jago berkelahi jarak dekat, mereka menyerang tiba-tiba. Berusaha secepat mungkin menghabisi lawan lalu kembali menghilang. Cara yang dilakukan ini memang efektif karena lawan dalam keadaan tidak siap.
Dan dua regu terakhir bekerja sama. Yang satu memancing lawan agar mengejar mereka. Di arahkan ke jebakan yang sudah di siapkan regu penjebak. Ada juga yang langsung menyerang ketika lawan terkecoh.
Seperti arahan Sudaliwa, mereka bekerja seefektif mungkin dan tidak sampai ada korban dari pihak mereka. Dalam waktu yang agak singkat, mereka sudah mengurangi jumlah anak buah Ki Somara.
Siapakah gadis bertubuh mungil yang disiksa Ki Somara?
__ADS_1
Siapa pula dua wanita bertopeng kain yang berada di belakang balai desa?
Jangan bingung dulu, baca terus kelanjutannya.