
Di tempatnya, Adijaya memuji mereka sambil geleng-geleng kepala. Dia juga bernapas lega karena tidak ada pembunuhan dalam pertempuran itu. Namun, dia tidak tahu maksud Dewan Kehormatan yang sebenarnya.
Lima belas murid padepokan Gunung Sindu terlihat diikat dua tangan dan kakinya walau mereka sudah tidak berdaya. Lalu semuanya di naikkan ke kereta kuda yang dipinjam dari warga setempat.
Adijaya tidak mau melihat urusan mereka lebih lanjut. Dia memutuskan untuk segera ke padepokan Karang Bolong. Mungkin tujuannya sama dengan mereka yang sepertinya akan membawa murid-murid Gunung Sindu itu, tapi Adijaya memilih jalan sendiri.
Begitu berada di tempat sepi, Adijaya menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dia menyusuri jalan yang semula ketika mengikuti Dewan Kehormatan. Gerakannya sangat cepat bagai kilat.
Tetapi dia menghentikan larinya ketika melihat kereta kudanya ada di pinggir jalan dekat pagar padepokan.
"Kenapa disimpan di sini?" Adijaya heran.
"Kuda guriang menyembunyikan kereta ini dari penglihatan manusia biasa," jawab Padmasari.
Adijaya mengerti. Mungkin istrinya sengaja tidak membawanya ke dalam agar tidak kelihatan mencolok. Kemudian dia naik ke dalam.
"Berarti aku juga tidak akan terlihat kalau berada di sini?"
"Benar, Juragan!" Yang menjawab adalah kuda guriang jantan.
"Apa juragan ingin membuka tabirnya?" tanya kuda betina.
"Nanti saja!"
Entah kenapa Adijaya merasa tidak perlu terburu-buru masuk ke padepokan. Walaupun sebenarnya dia ingin segera bertemu istrinya. Dia ingin melihat situasi secara diam-diam.
Apa yang direncanakan padepokan ini untuk menyambut serangan Gunung Sindu yang sudah lama memusuhi Karang Bolong? Namun, dia menyadari Mahaguru Manguntara pasti merasakan kehadirannya.
"Selama tujuanku baik, beliau tidak akan marah!" batinnya.
Beberapa lama kemudian terlihat kereta kuda yang membawa tawanan murid Gunung Sindu. Keretanya sama besar dengan miliknya. Lima belas tawanan ditumpuk di dalam.
Sementara anggota Dewan Kehormatan ada yang duduk di atas atap tiga orang. Dua lainnya di tempat kusir. Anjasmara yang memegang tali kekang.
Adijaya menggunakan ajian Ngaraga Sukma untuk mengikuti mereka. Setelah berada di dalam, Adijaya dibuat kagum. Padepokan Karang Bolong begitu luas, lebih besar daripada padepokan Linggapura.
__ADS_1
Lima belas tawanan dibawa ke tengah salah satu lapangan yang di kelilingi bangunan panjang. Di sana sudah ada lima orang lain yang duduk dalam keadaan terikat. Mereka adalah Pawana dan kawan-kawannya, mata-mata yang berhasil menyusup ke padepokan.
Dua puluh orang kini terikat di bawah terik mentari walaupun masih jauh ke titik tertingginya. Kereta kuda sudah bergerak keluar lagi. Hendak dikembalikan kepada pemiliknya.
Di lapangan lain terlihat murid-murid yang sedang berlatih. Mahaguru Manguntara memang hebat, meski empat murid utamanya telah tiada, dia tetap bisa melanjutkan kehidupan padepokan.
Dewan Kehormatan kini berperan ganda. Selain pengurus juga pelatih. Dia berharap suatu saat padepokan Linggapura akan besar seperti ini. Apalagi di sana menerima murid perempuan.
Kelima belas tawanan itu ditinggalkan begitu saja di sana. Anjasmara dan empat anggotanya menuju sebuah tempat khusus Dewan Kehormatan.
Adijaya memutuskan berkeliling melihat-lihat seluruh isi padepokan yang seperti sebuah perkampungan besar. Kalau saja ada murid wanita, pasti akan lebih ramai lagi. Pedepokan Linggapura yang lebih kecil saja terlihat seperti kehidupan kampung kecil karena ada wanitanya.
Cukup lama Adijaya melihat-lihat isi padepokan sampai ke pelosoknya. Sampai di sebuah tempat --tampaknya sebuah taman-- pendekar muda ini menemukan Asmarini tengah berbincang dengan Anjasmara.
Asmarini duduk manis di sebuah bangku sambil menatap luasnya padepokan. Sedangkan Anjasmara berdiri tak jauh, pemuda itu memancarkan cahaya ketertarikan kepada Asmarini.
Hati Adijaya berdesir. Namun, dia menahan diri.
"Sungguh beruntung laki-laki yang menjadi suamimu," ujar Anjasmara.
Sementara dalam hati Anjasmara terasa ada sesuatu yang menonjoknya saat mendengar ucapan Asmarini.
"Sepertinya aku terlambat mengenalimu," lanjut Anjasmara. Meski tahu si cantik mungil ini telah bersuami, tapi dia ingin mengungkapkan perasaannya. Setidaknya wanita itu tahu isi hatinya.
"Kau hanya belum melihat luasnya dunia," ujar Asmarini. Dia mengerti maksud ketua Dewan Kehormatan ini. Kendati dia mengakui bahwa Anjasmara juga cukup gagah dan tampan, tapi dia belum tahu isi hati dan sifat aslinya.
Sedangkan Adijaya, dia sudah tahu luar dalamnya. Merasakan kebaikan dan kelembutan hatinya, dan belum tentu Anjasmara lebih baik dari suaminya.
Perjuangan yang telah mereka lalui, tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Dia tahu banyak wanita lain yang menyukai Adijaya. Namun, dia percaya akan kesetiaan suaminya. Sehingga dia tidak mudah tergoda kepada lelaki lain.
"Tidak, aku sudah melihat banyak wanita di dunia ini. Tapi kau sungguh berbeda!"
"Sekarang tanya ke dalam hatimu sendiri, kenapa harus menyukai wanita yang sudah bersuami?" Nada suara Asmarini agak naik. "Jangan tertipu oleh perasaan sesaat yang dapat menjerumuskan ke dalam jurang kenistaan. Aku ... kami, sudah melalui perjuangan yang panjang. Tentu saja akan mempertahankan hubungan hingga akhir hayat,"
"Tapi... seandainya kau masih sendiri maukah..."
__ADS_1
"Seandainya aku masih sendiri tentu saja tidak akan mengenal kamu, tidak akan datang kesini. Aku kesini karena perintah suamiku. Jadi tidak akan ada apa-apa di antara kita!" potong Asmarini dengan tetap tersenyum.
Lalu si mungil cantik ini berdiri dan meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin meninggalkan kesan bahwa dia tertarik kepada Anjasmara. Lebih baik patahkan hatinya sekarang supaya dia membencinya dan bisa segera mencari yang lain.
"Kau beruntung mendapat istri seperti dia,"
Suara besar tapi lembut itu mengejutkan Adijaya. Seorang kakek yang juga merupakan raga halus telah berdiri di sampingnya.
"Mahaguru!" Adijaya segera menjura. "Maaf, saya masuk tidak mengetuk pintu,"
Si kakek yang tak lain Ki Manguntara tertawa mengekeh. "Kita jumpa lagi anak muda!"
Adijaya jadi tampak canggung.
"Kalau begitu saya akan kembali ke raga kasar saya dulu,"
"Baiklah, aku akan mengirim penjemput. Jangan lupa bawa kereta kudanya juga!"
Setelah berkata begitu, sosok Ki Manguntara perlahan lenyap dari hadapan Adijaya. Sukma Adijaya juga melesat kembali ke dalam raga kasarnya.
"Paman Kuda, silakan buka tabirnya!"
Kini kereta kuda itu bisa terlihat kembali oleh mata kasar. Adijaya memegang tali kekang, menarinya dengan pelan. Keretapun melaju pelan pula.
Sampai di depan gerbang padepokan yang dijaga dua orang, sang pendekar muda menghentikan keretanya. Ketika Adijaya hendak menyapa dua penjaga ini, tiba-tiba Anjasmara datang langsung menyambutnya.
"Ki Sanak yang bernama Adijaya?"
"Benar!" Adijaya tersenyum. Orang ini yang tadi memimpin penyerangan dan juga mengungkapkan perasaannya kepada Asmarini.
"Silakan, Mahaguru telah menunggu. Bawa masuk saja kereta kudanya,"
____
Istilah waktu Sunda yang sering dipakai di novel ini.
__ADS_1