Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Serangan Jarak Jauh


__ADS_3

Padmasari datang menyodorkan payung. "Dia keenakan dipegang-pegang!" ujarnya dengan mata genit.


Adijaya tersenyum sambil menerima payung jelmaan Ki Santang.


"Perempuan akan lebih cantik kalau memegang payung!" Suara Ki Santang menimpali.


Kemudian Adijaya memasuki gerbang ke enam. Dia berharap ini gerbang terakhir dan segera bertemu dengan Jurig Kaladetya. Sekuat apapun siluman itu, dia tak kan gentar.


Setelah beberapa langkah, dia berhenti. Memperhatikan keadaan. Rintangan alam apa lagi yang akan dia temui. Yang terlihat hanya tanah rata yang sangat luas. Puluhan tombak di depan sana berdiri sebuah bangunan indah bagaikan istana.


Itukah Puri Iblis? Berarti tidak ada gerbang lagi yang menghalanginya. Tidak! Adijaya sipitkan kedua matanya. Di depan puri itu terlihat barisan prajurit yang membawa tongkat.


Jumlahnya ratusan. Adijaya tidak mungkin menyelamatkan mereka semua dari buhul penjerat.


"Yang penting Juragan harus masuk ke dalam bangunan itu!" kata Padmasari.


Berarti yang harus dia persiapkan adalah ajian Bantai Jagat dan ilmu Membelah Tanah Menarik Sukma.


"Jangan ragu-ragu untuk membunuh mereka, karena mereka tidak akan mati!"


Memang, selama ini dia terkenal sebagai pendekar yang tak pernah membunuh. Masa dengan makhluk yang tidak bisa mati masih tidak kejam juga?


Tring!


Tiba-tiba payung berubah menjadi Ki Santang yang asli yaitu makhluk guriang berkulit biru yang tingginya dua kali tinggi Adijaya. Wujud yang pertama kali dilihat Adijaya saat guriang ini terbelenggu di tengah hutan.


"Aku juga ingin membantu!" ujar Ki Santang, maksudnya bukan sebagai payung lagi, tapi sebagai sosok raksasa yang akan membantai ratusan prajurit itu.


"Baiklah, bersiaplah untuk membantai!" Adijaya memimpin dua pengabdinya maju ke medan pertempuran.


Terlihat pasukan Puri Iblis juga sudah mulai bergerak mendekat. Senjata tongkat mereka teracung tinggi. Jubah-jubah hitam berkibar padahal tidak ada angin. Suara deru langkah mereka seperti menggetarkan bumi.


Tidak ada yang menjadi pemimpin di antara pasukan berjubah hitam ini. Semuanya sama. Bergerak bersama tanpa komando. Tentu saja perintahnya dari Jurig Kaladetya yang entah berada di mana.


"Ternyata si jurig kala-kalaan pengecut, masa cuma menghadapi sukma manusia seperti aku harus mengerahkan semua pembantunya!" Adijaya berucap sombong.


"Apa dia masih saudara dengan Dewi Kalajenget?" ocehnya lagi.


"Aku yakin dia pasti sangat jelek rupanya!"


Dalam jarak tujuh tombak mereka sudah berhadap-hadapan. Perang dimulai!


***

__ADS_1


Amarah Madari sudah sampai ke ubun-ubun. Anak bungsu kesayangannya kini hanya seonggok daging tak berguna, begitu juga dengan pasangannya. Emosi yang meluap-luap ini telah menghilangkan akalnya.


Dia lupa kalau harus bersabar menunggu saat kebangkitan suaminya. Dia lupakan tujuan utamanya. Dendamnya lebih besar daripada cita-citanya.


"Tidak bisa dibiarkan, aku harus membalas mereka sekarang juga!"


Madari mengambil mangkuk tembaga berisi air bening yang disebut Jendela Air. Wanita ini himpun seluruh kekuatan. Sekujur tubuhnya memancarkan aura hitam, bola matanya bersinar merah.


Dua tangan digerak-gerakkan di atas Jendela Air. Air dalam mangkuk tembaga beriak kecil lalu memunculkan gambar bukit Gajah Depa. Lebih rinci lagi kini bisa melihat sebuah rumah di lereng bukit.


Dari dua telapak tangan Madari mengeluarkan cahaya merah membara. Mulutnya maraung-raung bagaikan kesurupan. Salah satu tangannya dipukulkan ke atas air seperti menepuk lalat.


Blab!


Seberkas cahaya merah melesat masuk ke dalam air. Ternyata cahaya merah itu berubah menjadi kilatan petir menyambar di langit bukit Gajah Depa.


Treet! Blarr!


Asmarini kaget mendengar suara geledek yang tiba-tiba datang di siang bolong. Padahal cuaca sedang cerah dan tidak ada mendung sedikitpun. Dari dalam, si mungil ini keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Hari cerah begini, kenapa ada geledek?" gumamnya. Dia berdiri di teras rumah memandang ke langit.


Treet! Blarr!


"Itu serangan jarak jauh, Gusti Putri!" kata nenek jelmaan kuda guriang.


"Serangan?"


"Ibunya sepasang pemuda kemarin membalas dendam!"


Asmarini angguk-angguk mengerti. Mendadak hatinya menjadi cemas. Apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi serangan ini?


"Gusti Putri tenang saja, Juragan sudah membuat tabir gaib pelindung rumah ini, lihat saja!" Si nenek menunjuk ke langit.


Saat itu ada petir merah menyambar lagi, lalu meledak di ketinggian lima tombak di atas tanah. Asmarini bernapas lega, sang suami benar-benar melindunginya dengan segenap kekuatan yang dimiliki.


Tidak lama kemudian petir-petir bermunculan dari bebagai arah. Namun, tidak dapat menembus tabir gaib yang melindungi tempat sekitar. Suaranya memekakkan telinga dan getarannya terasa seperti menonjok dada.


"Sebaiknya kita ke ruang dimensi lain!" ajak si nenek.


Asmarini langsung mengikutinya. Sampai di sana, seperti biasa di ruang depan menghadap ke jendela mereka bertiga bersama si kakek menyaksikan siapa yang mengirim serangan itu.


Di jendela terlihat seorang wanita yang tidak lain adalah Madari sedang melepaskan sinar-sinar merah ke dalam air yang ada di mangkuk tembaga.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Nek?"


"Kita nonton saja, biarkan dia kehabisan tenaga, hihihi...!"


"Tapi aku ingin mengerjai dia, Kek!" Pikiran usil mendadak muncul di benak Asmarini.


Si kakek tertawa lepas. "Gampang, buka saja pintunya, lantas terserah Gusti Putri mau bagaimana!"


Asmarini bergegas ke luar lagi. Mengambil beberapa batu kecil yang ada di pekarangan rumah. Lalu kembali. Dia langsung membuka pintu dan melemparkan salah satu batu ke arah Madari.


Pluk!


Batu itu mengenai jidat Madari. Wanita ini kaget bukan main. Dari mana datangnya batu ini. Aktivitasnya mengirimkan petir jadi terhenti melihat keanehan ini.


Asmarini dan sepasang kakek nenek tertawa lepas melihat tingkah Madari yang kebingungan.


"Siapa kalian!" bentak Madari menyapukan pandangan ke setiap sudut.


"Apa suara kita bisa didengar?" tanya Asmarini.


"Bisa!"


Si cantik yang perutnya sudah membesar ini berdiri di dekat pintu.


"Kau bisa mengirimkan petir ke sini, mengapa aku tidak bisa melemparimu dengan batu?" teriak Asmarini diakhiri dengan cekikikan.


"Bangkalwarah, sialan, tunjukkan wujudmu!" teriak Madari masih berputar-putar kepalanya mencari sumber suara.


"Itulah kekuranganmu, tidak bisa melihat keberadaanku. Sedangkan aku bisa melihatmu tanpa tergganggu sedikitpun!"


Terdengar lagi suara tawa Asmarini dan sepasang kakek nenek jelmaan kuda guriang.


Madari semakin murka. Dia kirim lagi puluhan petir lewat Jendela Air. Namun, nyatanya tidak berpengaruh sedikitpun. Suara tawa itu tetap terdengar. Menertawakan dirinya yang kebingungan.


Marah, tapi tak bisa melampiaskan.


"Kalau kau berani, tunjukkan batang hidungmu. Ayo bertarung, siapa yang lebih kuat. Jangan jadi pengecut!" Madari geram tiada tara.


"Tidak mau, kau sendiri pengecut. Menyerangku dari jauh. Apa salahnya kalau aku balas dari jauh juga. Lagian aku hanya melemparkan batu, nih!"


Pletak!


"Aw! Jurig gelo!" maki Madari saat sebuah batu menghantam keningnya.

__ADS_1


__ADS_2