Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Lawan Yang Lebih Tangguh


__ADS_3

Guriang tinggi besar berkulit ungu dan berambut kribo menjerit-jerit keras bagaikan anak kecil yang terbawa arus air banjir. Gentasora sendiri tersurut beberapa langkah ke belakang menghindar agar tidak terbawa pusaran angin yang begitu dahsyat.


Sosok guriang kribo semakin lama semakin mendekat ke arah payung. Wujudnya berubah menjadi bayang-bayang halus yang tercabik-cabik oleh angin. Lalu tersedot lenyap ke dalam payung seperti kepulan asap yang terhisap.


Ternyata inilah kekuatan baru Payung Terbang, fungsinya sama seperti Labu Penyedot Sukma. Tentu saja kekuatan ini dikhususkan untuk mahluk alam lelembut. Payung tertutup dan kembali ke dalam genggaman tangan Adijaya yang sekejap kemudian menghilang lagi.


Melihat hal itu nyali Gentasora jadi meleleh. Makhluk guriang yang diandalkan bisa membantu cita-citanya,


ternyata begitu mudah ditaklukkan oleh pendekar muda itu. Pantas saja guriang sekutunya takut bersentuhan dengan payung tersebut.


Sementara itu di alam lain. Guriang kribo berkulit ungu sedang berlutut di hadapan padmasari dan Ki Santang. Dia memohon ampun berkali-kali karena tidak tahu bahwa yang dia hadapi ternyata guriang bangsawan kepercayaan raja guriang.


"Kami justru membantumu agar lepas perjanjian dengan manusia itu!" ungkap Ki Santang.


"Dan kamu harus bersyukur karena masih beruntung berhadapan dengan kami," sambung Padmasari.


"Maaf, Gusti. Mengapa tidak menampakkan diri dari awal? Mungkin hamba tidak berani berbuat lancang,"


"Ini rencana Juragan kami," jawab Padmasari. "Beliau mengincar manusia sesat itu, dan kita tidak boleh mencampuri urusannya!"


"Ampun, Gusti. Kiranya dapat memperingan hukuman hamba," mohon si kribo.


"Kamu tidak akan dihukum," kata Ki Santang. "Juraganku sangat baik orangnya. Sudahlah, kau pergi saja sana!"


"Beribu-ribu terima kasih hamba haturkan, Gusti!" Kalau manusia mungkin dia akan menghela napas lega mendengarnya.


Guriang kribo bersujud sampai membentur-benturkan keningnya beberapa kali saking senangnya tidak mendapat sangsi. Dia sadar, seringan-ringannya hukuman di alam guriang adalah kurungan di ruang khusus selam seratus tahun.

__ADS_1


Kembali ke Gentasora, mahaguru padepokan Gunung Sindu itu tampak mematung kebingungan antara melawan atau melarikan diri. Kalau melawan, pesimisnya lebih mendominasi. Kalau kabur, hilang sudah mukanya.


"Bisakah kau bertarung secara ksatria?" Sebuah pertanyaan yang entah untuk apa tujuannya karena pikiran masih mentok.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu!" tukas Adijaya.


"Baik, asal kau tidak meminta bantuan guriang pendampingmu!" Gentasora sedikit lega seandainya Adijaya mengikuti sarannya.


Sekarang Adijaya tahu tujuan Gentasora bersekutu dengan guriang. Pemimpin tertinggi padepokan Gunung Sindu itu menyangka kekuatan terbesar dirinya adalah guriang pendampingnya.


"Tidak masalah, majulah dengan ilmu terbaikmu!" tantang Adijaya.


Bibir Gentasora sedikit melengkung. Dia langsung himpun hawa sakti dan tenaga dalam penuh. Dia tidak mau bermain-main lagi. Dia ingin langsung melenyapkan Adijaya. Guriang itu tidak akan bisa berbuat apa-apa bila majikannya tewas.


Mahaguru padepokan Gunung Sindu langsung mengeluarkan ilmu tertingginya. Ajian Badai Swara. Ajian yang mengandalkan teriakan. Suaranya yang menggelegar selain bisa menghancurkan gendang telinga, juga bisa menyerap masuk ke pori-pori dan pembuluh darah.


Tapi Adijaya sudah melindungi dirinya dengan hawa sakti Melati Tunjung Sampurna. Menangkis getaran suara dahsyat dengan tebaran aroma wangi bunga melati yang sangat pekat.


Dibalik itu, Adijaya sudah menyiapkan ajian Serap Sukma. Dia memang masih mendengar teriakan Gentasora yang memekakkan telinga. Namun, tidak berpengaruh sama sekali. Adijaya melangkah pelan mendekati Gentasora.


Sementara di sekitar tempat itu bagaikan terjadi gelombang badai yang dahsyat. Daun-daun rontok. Ranting-ranting kering patah berjatuhan. Semak-semak tercerabut bersama akarnya. Pohon yang lemah batang kayunya tumbang.


Benteng dan gerbang padepokan juga tidak luput menjadi korban keganasan suara dahsyat Gentasora. Bahkan sampai ke bagian dalam padepokan. Dinding bangunan yang terbuat dari kayu retak di mana-mana. Bila terus berlanjut maka beberapa bangunan akan roboh.


Begitu juga murid-murid yang tersisa, yang tidak ikut dalam penyerangan ke padepokan Karang Bolong. Mereka kalang kabut tak mampu meredam suara yang amat keras itu. Beberapa dari mereka yang ilmunya lemah langsung tumbang.


Sebenarnya Adijaya juga cukup kesulitan untuk mendekati lawan. Tenaga dorongan suara itu sangat kuat sesuai dengan namanya, bagaikan badai.

__ADS_1


Setelah mengambil jarak tiga tombak berhadapan dengan Gentasora. Pendekar Payung Terbang bersiap dengan ajiannya. Dia tidak sanggup maju lagi walau satu langkah. Dorongannya sangat hebat.


Adijaya hentakan dua tangan ke depan seperti sedang berdoa. Dari jari-jarinya keluar cahaya biru muda sebesar lidi. Ajian Serap Sukma yang digunakan seperti ketika melawan Jerangkong Koneng. Berbeda dengan saat melawan resi Danuranda.


Cahaya bagai beberapa utas tali itu melilit sekujur tubuh Gentasora. Melilit kuat bagai menggencet. Sehingga teriakan dahsyat Gentasora mulai berkurang secara perlahan.


Lelaki yang berumur seratus dua puluh tahun ini keheranan merasa kekuatannya semakin melemah. Semakin mengerahkan tenaga malah semakin menghilang. Ajian Badai Swara pun akhirnya terhenti.


Sang mahaguru memang masih berteriak, tapi teriakan kesakitan. Sekujur tubuhnya seperti disengat ribuan tawon. Tiupan angin yang meluluh lantakkan seantero tempat juga mendadak lenyap.


Badan Gentasora yang tadinya tegap gagah berotot secara perlahan menjadi kurus kering. Wajahnya yang hitam semakin hitam. Kini tubuhnya terangkat ke udara berputar-putar.


Adijaya bukan gampang begitu saja melepaskan ajiannya. Tidak seperti kepada lawan-lawan sebelumnya yang cukup mudah. Dia harus mengeluarkan tenaga 'ekstra' sampai-sampai tubuhnya juga bergetar hebat.


Kalau kedua kakinya tidak kuat menjejak bumi, mungkin dirinya juga akan terangkat ke udara. Namun, jerih payahnya terbayarkan ketika merasakan aliran tenaga baru masuk ke dalam tubuhnya.


Pendekar Payung Terbang menarik kedua tangannya. Sinar biru yang melilit tubuh Gentasora lenyap. Sosok mahaguru yang kini kurus kering tergeletak tak berdaya di tanah. Semua ilmunya telah hilang.


Sementara Adijaya tampak terengah-engah kehabisan napas. Jelas, ilmu Gentasora lebih tinggi dari lawan-lawan sebelumnya. Sampai-sampai dia mencari tempat untuk mengatur napas dan memulihkan kondisi.


Meski mendapat tenaga baru, tapi keadaannya kacau di dalam tubuh. Seperti saling tabrak. Mungkin karena yang masuk adalah hawa sakti aliran hitam.


Selama pertarungan dahsyat tadi, Ki Santang dan Padmasari menyaksikan tidak jauh dari tempat pertarungan. Seandainya mereka manusia, mungkin akan menahan napas beberapa kali.


"Juragan tetap tidak mau membunuhnya, padahal dia tokoh golongan hitam paling kuat saat ini," ujar Padmasari.


"Sang Hyang Widi saja mau memberikan kesempatan kepada mahluk-Nya untuk bertobat, kenapa kita tidak?" tukas Ki Santang.

__ADS_1


Setelah kondisinya pulih, Adijaya menghampiri sosok Gentasora yamg yang lemah tak berdaya. Dia cengkram leher bagian belakang, lalu mengangkatnya seperti menjinjing anak kucing.


__ADS_2