
Saat itu Arya Sentana tak mampu lagi menghindar dari tendangan yang mengarah ke perut kirinya. Tapi begitu mengenai sasaran, bukan dia yang terpental tapi justru sosok serba hitam itu yang mental sangat jauh hingga jatuh lalu lenyap seperti dua temannya tadi.
Arya Sentana semakin heran. Dia memegangi perut kiri yang kena tendangan tadi. Aneh! Tidak terasa sakit sama sekali. Tapi dia segera melupakan keanehan ini karena siapa tahu bahaya masih mengintai mereka.
"Baiklah, ujung hutan sudah dekat, segera kita keluar!"
Arya Sentana kembali melangkah di depan. Ternyata benar, rintangan itu belum selesai. Sepertinya mereka tidak diberi jalan untuk keluar. Entah siapa yang menghendakinya yang pasti tak ada dalam pikiran mereka sekarang yang ingin segera keluar dari hutan itu.
Kini rintangan itu berupa hujan senjata rahasia lagiĀ yang masih berbentuk paku. Jumlahnya seperti ribuan meluncur dari berbagai arah.
Praba Arum mengerahkan tenaga dalam ke kipasnya lalu dikibas-kibaskan sehingga menghasilkan angin kencang yang menghalau ribuan paku itu.
Adijaya juga memutar payungnya menghalau serbuan mematikan itu. Asmarini dan Sekar Kusuma berlindung di belakangnya.
Sementara Arya Sentana yang tak bersenjata kembali menggunakan tenaga dalam yang diubah menjadi hembusan angin yang menghempaskan ribuan paku yang menyerang ke arahnya.
Sampai beberapa saat mereka terus begitu hingga keringat bercucuran walau udara sangat lembab di dalam hutan itu. Di saat menghadapi serangan seperti itu mereka juga menggunakan akalnya. Yaitu mereka terus merangsek maju untuk keluar hutan sambil menghempaskan senjata-senjata kecil itu.
Sejauh lima tombak lagi ke ujung hutan. Hujan serangan senjata rahasia lenyap. Napas mereka tersengal-sengal. Tenaga seperti terkuras kecuali Adijaya yang memiliki simpanan tenaga dalam cukup banyak berkat Melati Tunjung Sampurna.
Cepat-cepat mereka melangkah walau nafas masih ngos-ngosan. Tapi beberapa langkah lagi menuju ujung, tiba-tiba bertiup angin sangat kencang dan dahsyat bagaikan badai yang meniup mereka agar kembali ke dalam hutan.
Praba Arum mendekap sebuah pohon agar tubuhnya tak terbawa angin. Begitu juga Arya Sentana. Sangat kebetulan mereka mendekap pohon yang sama. Mereka kerahkan semua tenaga yang dimiliki.
Beruntung pohonnya cukup kuat sehingga tidak sampai roboh atau tercabut karena badai angin itu. Perlahan-lahan suami istri ini mendekat lalu saling berpegangan kuat.
Adijaya melintangkan payung yang terbuka di depan. Tangan yang lainnya dijadikan pegangan oleh Asmarini dan Sekar Kusuma. Dia tetap berdiri di tempatnya. Kedua kakinya seolah terpaku ke tanah. Angin Dahsyat itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap Payung Terbang.
Tiba-tiba muncul dalam pikiran Adijaya untuk melakukan sesuatu. Dia angkat payung tinggi-tinggi lalu memutarnya dengan cepat seperti kincir.
Werrr!
Syuuut!
__ADS_1
Ajaib, badai angin dahsyat tersedot ke dalam putaran payung. Semakin lama semakin habis. Dan akhirnya hilang. Keadaan kembali aman. Semuanya menarik napas lega.
Segera saja mereka keluar dari hutan itu. Baru beberapa langkah terjadi keanehan lagi. Saat menoleh kebelakang ternyata hutan yang mereka lewati tadi lenyap bagai ditelan bumi.
Arya Sentana dan Praba Arum tak bisa berkata apa-apa. Pantas saja, Arya Sentana ingat sebelumnya ketika sendirian berangkat menuju lembah Jonggrang. Dia tidak pernah melewati hutan ini.
Ternyata ini hutan jadi-jadian. Kalau bukan siluman, orang yang mempermainkan mereka pasti sangat sakti.
Mereka bersyukur bisa selamat dari hutan tipuan ini. Yang masih mengganjal dalam benak Arya Sentana adalah keanehan pada dirinya beberapa saat yang lalu.
Sementara Adijaya baru saja mendapat bisikan dari Padmasari bahwa itu adalah ilmu ilusi dari pemilik Buhul Sakti Penjerat Siluman. Orang-orang yang menyerang tadi adalah pengikutnya.
"Kenapa baru memberitahu?" Adijaya sedikit kesal walaupun semuanya selamat. Karena dia menunggu sejak keanehan muncul di dalam hutan.
"Maaf Juragan, aku membutuhkan sedikit waktu untuk menyadarinya."
Padmasari juga menjelaskan, dia masuk ke raga Arya Sentana untuk membantunya karena posisinya paling depan.
"Kau membuatnya kebingungan!" ujar Adijaya.
Kedainya cukup besar tapi tidak ada pengunjung lain selain mereka. Mereka duduk menghadapi satu meja yang agak besar.
Sambil menunggu masakan pesanan selesai, mereka menyantap hidangan pembuka yang berupa buah-buahan dan makanan kecil olahan. Tersedia juga teh manis dan minuman lahang.
Adijaya duduk di tengah-tengah antara Asmarini dan Sekar Kusuma. Ada senyuman aneh sepasang suami istri di seberang meja, membuat pemuda ini salah tingkah.
Di sisi lain, meski Asmarini sering menangkap tatapan Sekar Kusuma kepada Adijaya begitu dalam, tapi dia seolah bersikap biasa saja. Padahal dalam hatinya dia cemburu. Namun, dia tahan saja.
Gadis mungil ini percaya penuh kepada calon suaminya. Buktinya tentang Puspasari yang menyukainya bahkan sempat beberapa lama selalu bersama, Adijaya menceritakannya dengan jujur dan terbuka.
Tapi seandainya Adijaya punya keinginan memiliki istri lebih dari satu, bagaimana? Apa dia sanggup berbagi suami?
Apa yang dipikirkan Asmarini terbaca oleh Adijaya. Dalam hatinya segera komplen kepada Padmasari.
__ADS_1
"Jangan mempengaruhi pikirannya!"
"Aku ingin membuat Juragan bahagia,"
"Di padepokan masih banyak murid laki-laki yang lajang, kau carikan saja jodoh untuk Sekar!"
"Juragan memang lelaki idaman, tampan, baik hati dan setia!"
"Aku juga tampan!" Suara Ki Santang menyahut.
"Nah, kalian mengobrol saja. Siapa tahu kalian juga berjodoh!"
Sekar Kusuma. Sejak pertama melihat Adijaya ketika dirinya baru siuman dari pingsan sewaktu di lembah Jonggrang, dia sudah merasa suka.
Namun, begitu tahu Asmarini calon istrinya seketika langsung tersayat hatinya. Sebenarnya dia ingin menunjukan sikap perhatiannya pada Adijaya sepanjang perjalanan.
Tapi dia tidak mau disebut wanita perebut. Maka dia tahan saja keinginannya. Dia hanya bisa menikmati ketampanan Adijaya dengan memandangnya diam-diam.
Masakan pesanan sudah datang. Merekapun segera bersantap.
"Apa di sini ada penginapan?" tanya Arya Sentana ketika pelayan kedai selesai menghidangkan masakan.
"Di kedai ini tidak menyediakan penginapan, tapi agak jauh di sebelah sana ada penginapan kecil," jawab si pelayan sambil menunjuk ke satu arah.
"Terima kasih!"
"Sama-sama, silakan dinikmati masakan utama kami!"
Si pelayan berlalu. Pada saat Arya Sentana bertanya tadi, Padmasari membisikkan sesuatu. Adijaya terperanjat. Dalam beberapa kejap dia segera melakukan sesuatu.
Semuanya menyantap hidangan dengan lahap karena lapar. Tidak ada yang berbincang juga karena fokus makan. Sepertinya masakannya sangat lezat sesuai perkataan pelayan tadi, bahwa itu adalah masakan utama di kedai ini.
Tak butuh waktu lama mereka menghabiskan semua hidangan. Wajah mereka menunjukan rasa puas atas masakan itu. Rasanya ingin nambah kalau tidak ingat sebentar lagi malam dan harus cari tempat istirahat.
__ADS_1
Tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Kecuali Adijaya, yang lain tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri. Lalu entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul empat orang berpakaian serba hitam.
Dengan gerakan cepat, empat orang ini memanggul semua teman Adijaya lalu kembali berkelebat lenyap. Kemudian terlihat si pelayan kedai sudah berdiri dengan seringai licik.