Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Padepokan Karang Bolong


__ADS_3

"Sampurasun!"


"Rampes!"


Pawana dan Wasta terperanjat hampir tak berkedip menyaksikan kedatangan Asmara bak seorang putri jelita anggun mempesona.


"Nyai tidak salah datang kemari?" tanya Wasta sangat sopan bahkan sedikit membungkuk.


Tentu saja mereka heran, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba muncul seorang gadis cantik. Apalagi selama di padepokan mereka jarang melihat wanita karena semua muridnya laki-laki.


"Tidak, saya memang hendak bertemu Mahaguru Manguntara,"


Dua penjaga ini saling pandang. Nama mahaguru mereka memang terkenal, tapi tetap saja merasa aneh seorang gadis sendirian hendak menemuinya.


"Mari, Nyai, saya antar," Wasta menerima dan membuka jalan untuk Asmarini.


Si mungil mengikuti orang itu dari belakang. Sementara Pawana hanya bisa menelan ludah.


Asmarini disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Terdapat banyak bangunan megah berderet rapi. Sepertinya bangunan yang bentuknya mirip ini semacam asrama untuk istirahat para murid.


Padepokan Karang Bolong memang lebih luas dari padepokan Linggapura. Luasnya menyamai sebuah istana kerajaan. Jalan yang ia lalui juga terbentuk rapi dengan hiasan tanaman bunga di kedua sisinya.


Si mungil di bawa ke sebuah bangunan persegi sama sisi yang besar dan megah berada di tengah-tengah area padepokan. Bangunan ini mempunyai banyak jendela di setiap sisinya, sehingga bagian dalamnya terlihat dari luar karena jendela itu tidak memiliki daun.


Tampaknya bangunan ini digunakan untuk pertemuan. Di dalamnya tidak ada sesuatu yang khusus. Hanya lantai kayu yang rata dan mengkilap menghampar seluas bangunan.


"Nyai harap menunggu di sini," pinta Wasta setelah mereka berada di dalam. Kemudian pemuda ini meninggalkan Asmarini sendirian.


Sepanjang jalan tadi banyak murid yang sedang latihan di salah satu lapangan mendadak menoleh ke arah si mungil. Semuanya terpana akan kecantikannya.


Setelah empat murid utama yang merupakan sesepuh padepokan tewas akibat perebutan kekuasaan, sekarang yang melatih para murid adalah anggota Dewan Kehormatan.


Asmarini berdiri di tengah-tengah ruangan sembari menyapukan pandangan ke setiap sisi ruangan. Saat kembali memandang ke depan, si mungil terkesiap melihat seorang pemuda tersenyum lembut padanya.


Si cantik ini balas senyum ramah. Pemuda di depannya mungkin lebih tua sedikit dari suaminya. Cukup gagah dan lumayan tampan. Lain yang ditunggu lain yang datang.


"Saya Anjasmara, pemimpin Dewan Kehormatan." Si pemuda memperkenalkan. "Jika ada hal yang perlu disampaikan, silakan ke saya,"


Sebelum menjawab Asmarini lempar senyum sopan lagi. Membuat jantung pemuda bernama Anjasmara ini berdegup lebih kencang. Namun, Anjasmara menjaga sikapnya.

__ADS_1


"Sampaikan kepada Mahaguru, saya utusan dari Adijaya,"


Asmarini ingat, penyerangan dari padepokan Gunung Sindu diperkirakan lima atau enam hari lagi. Jadi masih bisa direncakan untuk menghadapinya.


"Tidak ada hal lain?" tanya Anjasmara. Dia mengerti si cantik itu ingin mengutarakan maksudnya langsung ke mahaguru.


Si mungil mengangguk pelan lalu menutup senyumnya.


"Baiklah!"


Anjasmara segera berlalu karena dia juga tak bisa menahan debaran dalam dadanya bila terus berada dekat dengan Asmarini.


Beberapa lama kemudian Anjasmara kembali bersama seorang kakek yang terlihat masih gagah walau rambutnya banyak yang memutih.


"Siapa namamu?" tanya si kakek sopan dengan senyum penuh wibawa.


"Asmarini," Si cantik mungil merasakan kedamaian dari tatapan mahaguru padepokan ini.


"Mengapa kereta kudamu ditinggal di luar?"


Asmarini tersipu malu. Dia ingat cerita sang suami, dulu sang mahaguru langsung mengetahui kalau Adijaya memiliki guriang pendamping. Sekarang dia mengalaminya.


Mahaguru Manguntara tertawa mengekeh mendengarnya. "Kau ketularan suamimu, suka bercanda,"


Si mungil cantik makin tersipu. Sementara Anjasmara tampak berubah raut wajahnya. Ada sekelumit kecewa dalam sanubarinya begitu mengetahui ternyata Asmarini telah bersuami.


"Silakan duduk dan utarakan maksudmu,"


Ki Manguntara kemudian duduk bersila diikuti Anjasmara, sedangkan Asmarini duduk 'emok' di depan mereka.


"Saya ditugaskan untuk membantu di sini." Sengaja Asmarini memberi penjelasan singkat, karena sang mahaguru pasti tahu maksudnya.


Sang mahaguru tersenyum lagi. "Aku masih manusia, sudah pasti ada hal yang tidak bisa aku perkirakan. Aku memang tahu tentang rencana penyerangan Gunung Sindu, tapi tidak tahu kapan waktunya,"


"Menurut mata-mata yang menyamar jadi murid di sini, lima atau enam hari lagi penyerangan itu tiba," jelas Asmarini.


"Mata-mata?" Ki Manguntara sedikit terkejut. "Ternyata ketinggian ilmuku tidak mampu mendeteksi adanya penyusup," sesalnya.


"Saya juga secara kebetulan memergoki mereka,"

__ADS_1


"Nyai sudah tahu orangnya?" tanya Anjasmara kaku.


Asmarini mengangguk, lalu dia memberitahukan kejadian tadi pagi yang dilakukan Wasta dan Pawana. Anjasmara sangat terkejut setelah tahu mereka mata-mata.


"Kemungkinan bukan hanya mereka berdua," tambah Asmarini.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?" tanya Mahaguru kepada Anjasmara.


"Saya tahu, Eyang. Saya mohon diri!" Setelah menjura Anjasmara bangun dengan cara sopan lalu meninggalkan ruangan.


Anjasmara memerintahkan salah satu anggota Dewan Kehormatan untuk memanggil Wasta dan Pawana, bahkan langsung di bawa ke tempat khusus untuk mengorek keterangan.


Wasta dan Pawana yang tidak merasa curiga langsung menurut saja melaksanakan perintah. Di tengah jalan yang sepi, tiba-tiba mereka dibuat tidak sadarkan diri.


Setelah siuman, ternyata mereka berada di sebuah ruangan yang temaram dan tubuh mereka dalam keadaan tertotok lemah. Seketika mereka sadar, mungkinkah Dewan Kehormatan sudah mengetahui jati diri mereka?


"Sebaiknya sebutkan siapa saja komplotan kalian?"


Terdengar suara pelan tapi terasa menekan ke ulu hati, karena suara itu dilapisi tenaga dalam. Seseorang yang tidak jelas sosoknya berdiri di hadapan mereka yang tergeletak menyandar ke dinding.


"Kalaupun kalian tidak mau menjawab, aku sudah tahu semua tentang rencana penyerangan padepokan sesat itu.


"Sementara kalian disekap di sini, maka komplotan kalian akan kebingungan menentukan sikap. Saat itulah aku bisa melihat siapa saja mereka,"


Tidak ada jawaban. Wasta dan Pawana tetap diam. Posisi mereka sudah mati langkah. Padahal rencana mereka ingin memberikan kejutan berupa serangan dadakan. Dengan begitu, padepokan Karang Bolong tidak memiliki persiapan.


Tapi kalau sudah bocor informasinya, maka Karang Bolong akan mempersiapkan sedini mungkin untuk menghadapi penyerangan. Yang bikin dua penyusup ini penasaran, siapa yang telah membongkar kedok mereka?


"Kalau ingin hukumannya diperingan, maka cepat katakan. Karena tidak ada gunanya kalian diam. Ingat, kami bukan golonganmu yang berhati kejam. Kami masih ada hati nurani,"


Suara yang sebenarnya sangat dikenal mereka, Anjasmara pemimpin Dewan Kehormatan. Kelompok yang kini mengatur roda kehidupan di padepokan setelah kehilangan empat sesepuh utama.


Sementara itu Asmarini kini berada di kediaman Ki Manguntara. Dia disuguhi makanan dan buah-buahan.


"Aku sangat percaya kepada suamimu," ujar Mahaguru setelah menyeruput teh pahit.


Asmarini tersenyum canggung. Tidak tahu apa yang harus diucapkan. Dia telah menceritakan tentang pergerakan Adijaya sekarang.


Ki Manguntara yang dulu sempat melakukan tapa moksa harus membatalkan dan kembali mengurus padepokan karena sengketa yang melanda keempat murid utamanya.

__ADS_1


Setelah peristiwa itu, pikirannya selalu diliputi penyesalan.


__ADS_2