
"Benar juga, gadis mungil itu tidak sendirian. Pemuda di atas kereta pasti lebih tinggi ilmunya," batin Si kumis tipis. Dia melihat Adijaya tidak melakukan tindakan lagi. Hanya berdiri di sana mengawasi gerak-geriknya.
"Giliranmu, majulah!" seru Asmarini mengejutkan lamunannya. Lebih terkejut lagi ternyata semua anak buahnya telah terkapar dengan luka-luka yang serius. Dia heran mengapa gadis ini tidak membunuh mereka.
Si kumis tipis tampak ragu. Seorang diri, gadis itu bisa saja membantai anak buahnya. Dia ragu apakah dia mampu melawan gadis itu. Apa yang harus dia lakukan?
"Dunia akan menertawakan, seorang murid dari padepokan terkuat lari dari pertarungan karena takut melawan perempuan," ujar Adijaya pelan, tapi tetap terdengar sampai ke telinga si kumis tipis.
Lelaki berumur tiga puluhan ini keraskan rahang. Dadanya terasa bergemuruh. Dia ingin menghabisi lawannya, tapi jiwa pengecut sifat golongan hitam lebih menguasai diri.
"Kalau kalian merasa jagoan, datanglah ke markas kami!" tantang si kumis tipis. Dia bermaksud mengulur waktu agar bisa cari kesempatan untuk kabur.
"Sudah habis nyali, masih sesumbar!" damprat Asmarini. Pedangnya diacungkan bersiap melepaskan serangan.
Si kumis tipis sudah waspada. Dia mulai keluarkan hawa sakti dan melapisi kedua tangan dengan tenaga dalam. Namun, tiba-tiba dia merasa ada angin lembut menyapu tengkuknya. Wajahnya seketika tampak senang.
"Kelompok bentukanmu hancur hanya oleh seorang wanita kecil itu, apa aku tidak salah lihat?"
Satu suara tua tiba-tiba menyeruak berbarengan dengan munculnya lelaki paruh baya dari arah belakang si kumis tipis.
"Paman Gardika," si kumis tipis menjura kepada orang tersebut.
Asmarini turunkan pedangnya. Dia bisa membaca lelaki bernama Gardika ini lebih sakti daripada si kumis tipis. Dia pasti salah satu dedengkot padepokan Gunung Sindu.
Gardika memandang ke arah Adijaya. "Turun Kau, mari selesaikan urusan kita!"
Adijaya tersenyum sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kau jangan meremehkan istriku, Pendekar Pedang Bunga. Lewati dia dulu!"
__ADS_1
Senyum kecil Asmarini terukir di bibirnya. Pendekar Pedang Bunga adalah gelar yang disematkan kepada gurunya dulu. Apa dia layak menyandang julukan itu setelah sang guru meninggal?.
"Kau yang meremehkanku, anak kemarin sore bisa apa dia!" semprot Gardika.
"Jangan hanya melihat dari penampilan, tua bodoh! Biar aku buktikan bahwa nenekmu saja tak kan mampu menyentuhku!" sentak Asmarini seraya mengayunkan Pedang Bunga Emas dengan cepat.
Wutt!
Mau tak mau Gardika bergerak menghindar. Sambaran angin dari pedang berbahan emas itu terasa merobek kulit. Dia memang bisa lepas dari serangan pertama. Namun, serangan susulan begitu cepat datang.
Gardika menghindar dengan mengambil jarak agar dia leluasa menarik napas dan menghimpun kekuatan. Dia juga segara tutup indera penciuman agar tidak terpengaruh aroma harum yang terpancar dari Pedang Bunga Emas.
Dalam belasan jurus, salah satu dedengkot padepokan Gunung Sindu mampu mengimbangi kecepatan lawan. Dia lebih banyak menghindar. Dia akui, Asmarini layak diperhitungkan.
Jurus berikutnya Gardika sudah mengeluarkan senjata parangnya. Pedang Bunga Emas cukup mengancam jiwanya sehingga dia terpaksa keluarkan senjatanya. Terdengar suara tawa mengejek dari Adijaya. Wajahnya yang memerah karena malu tak bisa disembunyikan lagi.
Waktu itu Mahaguru Gentasora menarik mundur pasukan muridnya karena tidak mau bentrok dengan Adijaya karena melihat Payung Terbang yang dipegang Adijaya.
Gardika mendapat tugas rutin untuk mengambil harta yang sudah dikumpulkan Laskar Lembah Kuning dan kemudian dibawa ke padepokan. Namun, dia mendapati markas kecil pimpinan si kumis tipis itu dalam keadaan kosong.
Dia menyangka laskar itu sedang menjalankan aksinya, jadi dia menunggu saja di sana. Ternyata mereka lama kembali, akhirnya Gardika yang tidak sabaran segera mencari mereka. Rupanya Laskar Lembah Kuning mengalami hambatan.
Yang tak diduga, hanya seorang wanita bertubuh mungil ini yang mampu menghambat mereka. Sekarang dia juga dibuat kerepotan oleh serangan si gadis yang begitu lincah dan gesit.
Asmarini tidak memberi celah sedikitpun. Beruntung dia bisa atur napas agar tidak kehabisan saat bertarung. Gadis ini terus menunjukkan jurus-jurus indah, tapi mematikan.
Di mulai dari jurus Tarian Japati dipadukan dengan Tarian Rajawali. Adijaya mengajarkannya, bahwa jangan terpatok pada satu jurus dan kemudian bertahap ke jurus yang lebih tinggi.
__ADS_1
Tapi gabungkan dan kombinasikan semua jurus yang ada. Bahkan seandainya dua tangannya sama-sama menggenggam senjata, maka gunakan jurus yang berbeda antara tangan kanan dan kiri.
Sekarang Asmarini merasakan hasilnya atas ajaran suaminya. Dia merasakannya sejak melawan anak buah Resi Danuranda. Selain tenaga dalam yang makin bertambah, keterampilan memainkan jurus juga semakin sempurna.
Tak pernah berhenti hatinya memuji sang suami. Baginya, Adijaya adalah suami sempurna. Senyum terus mengembang menghiasi wajah cantik imut Asmarini. Dia seolah tidak takut sedikitpun dengan lawannya.
Sementara Gardika dibuat emosi oleh sikap lawannya. Semula dia cukup tenang menghadapi Asmarini. Kini dia diburu napsu ingin segera menjatuhkan gadis itu. Diam-diam lelaki ini merinding, bagaimana kalau suami istri ini saling berkolaborasi?
Di tempat lain, si kumis tipis tampak kebingungan. Dorongan dalam hatinya dia ingin kabur dari tempat itu, tapi Adijaya tak pernah lepas mengawasinya.
Seandainya dia menyerang Adijaya, jelas dia sadar tak mampu menandinginya. Tetapi kalau turun tangan membantu Gardika, dia takut akan mengganggu konsentrasi atasannya itu.
"Sebaiknya kau diam saja, kalau tidak ingin mengalami nasib buruk!" perintah Adijaya yang mengetahui kebimbangan lelaki berkumis tipis itu. Si kumis tipis tak pernah seciut ini nyalinya.
Sebenarnya Gardika juga mengharapkan bantuan si kumis tipis. Namun, dia sadar si kumis pasti berada di posisi yang sulit. Suami dari gadis ini pasti tidak akan tinggal diam. Hatinya benar-benar dongkol. Tidak menyangka dia akan menghadapi lawan sesulit ini.
Dia benar-benar tidak percaya. Sudah puluhan jurus berlalu, lawannya masih bergerak lincah seolah tidak kehabisan tenaga. Sedangkan dia, napasnya sudah tak beraturan.
Akhirnya Gardika mengambil jarak cukup jauh. Dia buang senjatanya. Dia kerahkan semua tenaga dalam terutama ke bagian tangannya. Mulutnya merapalkan sebuah ajian. Lalu kedua tangannya disentakkan ke depan.
Werrr! Wussh!
Dua bola api keluar dari dua tangan Gardika, melesat cepat ke arah Asmarini. Dengan sangat cepat si gadis alirkan hawa sakti ke dalam pedang sehingga senjatanya memancarkan cahaya keemasan. Kemudian dia membuat gerakan menebas dari kanan ke kiri.
Wussh! Sraaap!
Angin dahsyat beraroma harum yang sangat pekat keluar dari tebasan pedang menghalau dua bola api hingga terpental balik menghantam si pemiliknya sendiri.
__ADS_1
Berrr! Blaarr!