Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Masuk Ke Desa


__ADS_3

Sang surya sudah agak condong ke barat ketika Adijaya berjalan sendirian memasuki desa. Baru tadi pagi kejadian penggulingan lurah, tapi keadaan sudah begitu mencekam. Para penduduk sepertinya enggan keluar rumah.


Dia jadi penasaran, seperti apa keluarga Raksana yang terkenal kaya itu, sehingga begitu ditakuti?


Seseorang yang memperhatikan Adijaya dari balik jendela rumahnya seolah-olah berkata 'Ini orang mencari mati'. Tapi setelah jelas melihat wajahnya, baru tahu kalau pemuda itu bukan warga sini. Tapi tetap saja dia berpikiran sesuatu yang buruk akan menghampiri kalau hanya orang biasa yang tak punya kekuatan.


Akan tetapi Adijaya bukan orang biasa.


Adijaya melangkah dengan tenang. Walaupun di pertigaan jalan yang jaraknya sepuluh tombak di depan sana telah menghadang beberapa orang yang sengaja menampilkan wajah garang.


"Mau kemana, Ki Sanak?" hadang salah seorang setelah Adijaya sampai di sana.


"Hendak berkunjung ke rumah teman," jawab Adijaya tenang. Dia bisa melihat ilmu silat orang-orang ini cukup lumayan. Bisa dibilang setara dengan murid-murid yang sudah agak lama menempuh gemblengan di padepokan.


"Kau bukan warga sini?" Orang ini memperhatikan Adijaya dari atas ke bawah. Jelas dia sedang menyelidik apakah Adijaya memiliki kemampuan.


"Betul!" Adijaya dengan mudah menyembunyikan kekuatan yang dimiliki, sehingga orang itu menganggapnya hanya pemuda biasa saja.


"Kalau begitu, untuk keamanan kamu harus membayar pajak!" Suara orang ini mulai meninggi sambil menatap tajam bermaksud menakuti.


Adijaya pura-pura berpikir seolah-olah tidak setuju dengan permintaan itu. Dia tundukkan wajah, ini juga pura-pura biar disangka takut.


"Kenapa? Kalau kau tidak punya kepeng atau apapun sebagai alat pembayaran, sebaiknya kembali saja!"


Adijaya mengambil satu koin emas dari balik ikat pinggangnya. "Apa ini cukup?"


Bola mata orang ini membeliak. Tangannya langsung mengambil koin itu.


"Sudah sana, tapi jangan lama-lama!"


Adijaya melangkah lagi, dia mengambil arah kanan. Sessuai petunjuk Parwati, rumah yang dicarinya berada di pinggir jalan ini. Tidak sulit menemukannya karena di halaman depannya terdapat sebuah pohon sawo.


Setelah menemukan rumah yang dicari, dia segera mengetuk pintu yang tertutup rapat. Agak lama baru muncul satu wajah dari dalam. Adijaya langsung bicara mengutarakan maksudnya.

__ADS_1


Wajah yang merupakan seorang pemuda ini tampak terkejut. Lalu dia buru-buru mengajak Adijaya masuk. Beberapa lama kemudian Adijaya keluar, kali ini bersama pemuda yang tadi. Umurnya kira-kira lebih tua dua tahun dari Adijaya.


Masalah datang lagi ketika mereka sampai di pertigaan jalan yang tadi. Orang yang tadi menghadang lagi dengan seringai licik dan satu tangan memegang gagang golok di pinggangnya.


"Ada apa lagi?" tanya Adijaya.


"Sepertinya kau orang kaya, maka peraturannya berubah!"


Mendapat satu koin emas yang sangat berharga membuat orang-orang di sini berkesimpulan setidaknya Adijaya seorang saudagar sehingga dia tidak takut diintimidasi bahkan dengan mudah memberikan apa yang diminta.


"Maksudnya?" Adijaya sudah tahu arahnya.


"Agar kau bisa selamat keluar dari desa ini, maka serahkan seluruh harta yang kau bawa!"


"Peraturan atau perampokan?" tukas Adijaya. Sikapnya yang tetap tenang membuat anak buah Raksana ini heran. Karena menurut penglihatan mereka, Adijaya sama sekali tidak memiliki kepandaian.


Sementara pemuda di samping Adijaya sudah tampak geram. Dia juga memiliki kepandaian silat. Dia tahu anak buah Raksana ini lebih tinggi ilmunya, tapi dia takut seandainya terjadi pertarungan. Dia mulai waspada.


"Tidak peduli apa katamu, kalau kau tidak bisa menyanggupinya maka nyawamu pun tidak bisa pulang!"


Pemuda di samping Adijaya terkejut melihatnya. Apalagi orang yang menerima kantong ini setelah memeriksa beberapa saat. Karena dia memang baru melihat batangan emas sebanyak ini. Teman-temannya juga tampak melongo.


Padahal itu adalah emas ilusi buatan Padmasari yang menyatakan dirinya ratu sihir alam guriang.


"Sudah boleh pergi?" tanya Adijaya.


"Eit, tunggu dulu!"


Kali ini tiga orang langsung mengurung. Sifat serakah mereka seketika terpancing setelah melihat sekantong harta yang bisa membuat kaya raya.


"Tidak mudah pergi begitu saja!"


"Kenapa lagi, aku sudah memberikan apa yang kalian mau!" Adijaya masih pura-pura bodoh.

__ADS_1


"Kau kira kami bodoh? Sejak Juragan Raksana menguasai desa ini, semua penduduk tidak ada yang berani melawan. Dan kau orang asing membawa salah satu warga desa entah mau kemana, tapi bisa jadi kalian sedang menghimpun kekuatan untuk melawan!"


Adijaya sudah menduga orang-orang semacam ini pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Betul, kau pasti suruhan Sudaliwa!" seru yang lain.


Yang dimaksud pasti Sudaliwa kakak tertuanya Parwati. Berarti dia belum kembali.


"Ya, meskipun Juragan kami baru tadi pagi menyingkirkan lurah, tapi orang-orangnya Wardana yang masih berkeliaran di luar pasti sudah tahu dan sedang merencanakan penyerangan!"


Tanpa dicari, keterangan datang sendiri walau sedikit tapi sudah menunjukan gambaran yang sedang terjadi. Anak buahnya Raksana tidak hanya memburu Parwati tapi juga kakaknya yang kemungkinan juga tidak sendiri.


"Tinggalkan nyawamu!" teriak salah satu sambil menebaskan goloknya langsung ke arah kepala. Selarik angin menghembus lebih dulu sebelum tebasan itu sampai.


Adijaya tidak menghindar. Dia melirik gerakan golok itu, menantinya datang. Setidaknya tenaga yang menggerakkan golok ini mampu memenggal leher dalam sekali tebasan.


Trang!


Golok itu terpental kembali, padahal jelas sisi tajamnya mengenai kepala Adijaya yang terlihat masih utuh. Sementara golok tadi menjadi retak. Semuanya terkejut termasuk pemuda di samping Adijaya.


Adijaya telah meminta Ki Santang melindunginya tapi tidak menampakkan wujudnya walaupun berupa payung. Dia tidak ingin orang-orang ini mengetahui jati dirinya.


Tiba-tiba satu lagi golok datang menusuk dari samping. Gerakannya cepat, tapi lebih cepat lagi tangan Adijaya, dengan mudah dia menangkap golok itu tanpa melukai tangannya.


Trak!


Golok patah jadi dua.


Anak buah Raksana segera mengambil jarak. Kejadian ini telah membuka mata mereka. Orang yang dianggap sepele ternyata memiliki kekuatan tersembunyi. Jika bisa disembunyikan secara sempurna, berarti kesaktiannya juga tidak dapat diukur.


Mereka berpikir majikan mereka sendiri juga bukan tandingan pemuda ini. Mereka tetap mengurung Adijaya, bersiaga jika pemuda ini menyerang. Tapi ternyata Adijaya masih berdiri saja.


"Tidak usah diteruskan!" seru Adijaya. "Laporkan saja kepada majikan kalian. Kalau tidak ingin bernasib buruk, segera lepaskan Ki Lurah dan keluarganya!"

__ADS_1


Kemudian Adijaya meninggalkan mereka sambil menarik pemuda yang dicari Parwati itu. Orang-orang Raksana menarik napas lega setelah sosok dua orang itu jauh. Yang mereka pikirkan sekarang adalah meyakinkan majikan mereka tentang kejadian ini.


__ADS_2