Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Lembah Kupu-Kupu


__ADS_3

Setelah beberapa saat kereta sampai di ujung jalan yang ditandai sebuah gapura sebagai pintu gerbang memasuki Lembah Kupu-kupu. Begitu masuk ke jalan lembah, sepasang mata mereka disuguhi pemandangan indah sejauh mata memandang.


Hujan rintik-rintik menyiram taman aneka bunga yang menghampar luas. Berbagai macam bunga dari yang masih kuncup hingga mekar terpampang indah memanjakan mata walaupun hujan gerimis melanda sepanjang jalan yang semakin jauh semakin menurun.


Lumayan panjang dan lama juga menempuh jalan satu-satunya menuju kawasan inti Lembah Kupu-kupu. Tapi tidak membosankan karena disambut dengan pemandangan taman bunga yang indah.


Setelah agak lama barulah kereta sampai di depan sebuah bangunan besar seperti istana. Kebetulan gerimis juga sudah berhenti. Adijaya dan Cakra Diwangsa segera turun dari kereta.


Seorang wanita muda berpenampilan menarik melemparkan senyum menyambut kedatangan tamu. Tapi begitu melihat tampang kedua tamunya, senyumnya mendadak hilang. Walau begitu dia tetap menyapa ramah.


"Selamat datang Ki Sanak berdua di Lembah Kupu-kupu, lembah yang menyajikan keindahan surga,"


Cakra Diwangsa dan Adijaya menjura canggung.


"Terima kasih atas sambutannya," ucap Cakra Diwangsa.


Mungkin karena penampilan mereka yang tidak mentereng seperti bangsawan atau saudagar yang membuat wanita ini jadi kurang ramah.


"Kami siap melayani keperluan Ki Sanak berdua,"


"Kami ingin bertemu Nyai Sukarti,"


"Maaf, kalau boleh tahu Ki Sanak ini siapa?"


Lalu Cakra Diwangsa mengeluarkan sebuah lencana emas tanda anggota keluarga istana.


"Rupanya Raden dari istana Cupunagara, silakan masuk," wanita ini kembali tersenyum dan ramah setelah tahu dengan siapa dia berhadapan.


Dua lelaki ini mengikuti langkah wanita itu masuk ke ruang tengah rumah besar ini. Ruang yang besar. Ada banyak wanita muda dan cantik tampak duduk berbaris di bangku panjang di sisi ruangan. Wanita-wanita menyapa dengan genit. Memamerkan bentuk tubuhnya yang indah. Berusaha memikat dua lelaki yang baru datang itu.


Dengan perasaan berdebar Adijaya mencoba untuk tidak melirik apalagi menggubris mereka. Dia terus melangkah hingga dipersilakan duduk di atas tikar besar yang di tengah-tengahnya telah terhidang makanan dan buah-buahan.


"Silakan menunggu, saya akan memanggil Nyai,"


Tidak berapa lama wanita itu muncul lagi bersama wanita lain yang tampak lebih tua tapi berpakaian lebih mentereng dan berdandan sedemikian rupa hingga tetap terlihat cantik.


"Baru pertama ke sini, ya, Raden...?" tanya Nyai Sukarti mengantung.


"Saya Cakra Diwangsa, dan ini sepupu saya, Adijaya,"


"Oh, apakah ini putra Panglima yang perkasa itu?"


Cakra Diwangsa hanya mengangguk canggung. Nyai Sukarti masih menghormati ayahnya. Tidak menyinggung soal pemberontakan. Apalagi yang harus disinggung? Bukankah pemberontakan itu telah usai dan sang pemberontak telah tewas?


"Tidak usah malu-malu," ujar Nyai Sukarti. "Yang datang kesini semuanya bangsawan dan saudagar dan rahasianya akan terjamin,"

__ADS_1


"Saya juga kesini atas keterangan kawan saya,"


"Oh, ya, siapa?"


Adijaya hanya jadi pendengar saja. Semua rencana ia pasrahkan kepada Cakra Diwangsa. Dia tinggal membaca keadaan dan mengikuti.


"Senapati Jaladipa dan Singgih,"


Nyai Sukarti kerutkan kening. Matanya menerawang ke atas. Dia sedang mengingat-ingat dua nama yang disebutkan tadi.


"Mungkin yang bersama Tuan Besar, Nyai," wanita di sampingnya mencoba mengingatkan.


"Nah, itu!" sahut Cakra Diwangsa asal saja yang penting bisa meyakinkan pemimpin Lembah Kupu-kupu. Walaupun dia terkejut dan tidak tahu siapa yang dimaksud Tuan Besar itu.


Dalam hati Adijaya memuji sandiwara Cakra Diwangsa. Soal Tuan Besar merupakan keterangan berharga untuk penyelidikan lebih lanjut.


"Oh, ya, saya ingat mereka," ujar Nyai Sukarti. "Jadi bagaimana, Raden?"


"Kami ingin bekas dua senapati itu," tegas Cakra Diwangsa.


"Ah!" Nyai Sukarti tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. "Kenapa begitu, Raden?"


"Mereka bilang...!" Cakra Diwangsa mengacungkan jempol kanannya.


Nyai Sukarti tertawa lagi. "Baiklah-baiklah, Rukmini, panggilkan Winengsih dan Miranti!"


***


Ini wanita kedua yang diajak berduaan selain Kinasih. Dilihat dari penampilan Miranti memang lebih cantik. Berkulit putih dan halus juga wangi. Mungkin karena sering perawatan.


Sebagai lelaki tentu saja Adijaya tergoda melihat Miranti. Tapi di dalam hati tetap Kinasih yang dicintai.


Walau dalam dada begitu berdebar kuat, Adijaya berusaha tenang seolah-olah sudah terbiasa bermain-main dengan wanita. Punggung Adijaya menyandar ke dinding kamar, sementara Miranti merebahkan dirinya ke dada si pemuda.


Bagi Miranti ini kali pertamanya mendapatkan 'pelanggan' seorang pemuda gagah dan tampan. Dari pandangan pertama saja sudah merasa terpikat. Dia sampai berhayal, bila saja Adijaya memboyongnya dijadikan istri.


Ah! Tapi apa mau, mengambil istri dari seorang wanita penghibur?


"Berapa lama kamu disewa Jaladipa?" tanya Adijaya.


Miranti menggelayut manja sebelum menjawab. "Tiga bulan, kakang sanggup menyewaku berapa lama?"


"Tergantung,"


"Oh, Kakang. Rasanya jika kau menyewaku selamanya juga aku mau,"

__ADS_1


"Berarti kau harus diperistri kalau begitu,"


"Kakang mau?"


Miranti menatap lekat. Adijaya tak sanggup membalas tatapannya lebih lama. Dia memalingkan wajah. Tapi mengeratkan pelukan. Dia teringat Kinasih. Bagaimana kalau kekasihnya itu tahu kalau dia sedang memeluk wanita lain?


Hatinya tak enak, tapi ini bagian dari tugas.


"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu," kata Adijaya mengalihkan pembicaraan.


"Apa itu?" balik tanya Miranti sambil membelai pipi si pemuda.


"Beberapa waktu yang lalu Gusti Prabu Satyaguna ditangkap karena hendak melakukan pemberontakan. Dan Jaladipa adalah senapati baru yang memimpin prajurit rekrutan baru..."


"Oh, iya, aku dan Winengsih disewa untuk pura-pura jadi istri mereka. Itu juga atas permintaan Tuan Besar. Kami menyewa rumah di sebuah desa. Setiap hari Kakang Jaladipa dan temannya pergi ke tempat latihan perang. Bagaimana kabar mereka sekarang?"


"Itulah yang mau aku tanyakan. Prabu Satyaguna dan sepasukan prajurit barunya digiring ke Tarumanagara, tapi Jaladipa dan Singgih menghilang,"


"Jadi Kakang mencari mereka?" wajah Miranti begitu dekat di wajah Adijaya sampai hembusan nafasnya terasa. Kedua matanya memandang penuh nafsu.


"Dari balik penjara, diam-diam Prabu Satyaguna memerintahkan kami untuk mencari mereka," cerita bohong Adijaya agar tidak dicurigai Miranti.


"Untuk apa?"


Adijaya beranikan membelai wajah Miranti juga membalas tatapannya lebih lama. "Kinasih, maafkan aku." batinnya.


"Aku tidak bisa menjelaskannya, Raka Cakra Diwangsa yang tahu," jawab Adijaya pura-pura memanggil 'raka'.


"Kakang sudah lama mengenal mereka?"


"Belum, kami baru mengenal saat mereka bergabung menjadi prajurit..." Adijaya menjelaskan sebisa mungkin masuk akal agar wanita ini percaya bahwa dia, Cakra Diwangsa dan kedua orang yang dicarinya memiliki hubungan yang dekat.


Tapi karena Miranti sudah tertarik dengan Adijaya, wanita ini tak butuh penjelasan apapun. Biasanya lelaki yang begitu menggebu-gebu duluan, ini malah dia yang seperti kehausan.


Miranti lebih duluan mencium Adijaya. Pemuda ini langsung membalikan badan, menindih Miranti. Tapi bukan lantaran dia sudah bernafsu juga.


Adijaya merasakan ada hawa pembunuh. Makanya dia langsung membalik badan melindungi Miranti dari serangan senjata rahasia yang datang dari atap.


Sring!


Trang!


Senjata itu mengenai payung terbuka yang tiba-tiba muncul melindungi tubuh mereka.


Tiba-tiba terdengar jeritan tinggi mengerikan di kamar sebelah.

__ADS_1


Miranti kaget. Adijaya sudah bangun. Tapi penyerang gelap di atas atap sudah menghilang. Payung Terbang sudah menghilang lagi. Adijaya menemukan senjata rahasia tadi yang berupa pisau kecil berbentuk ular. Dia segera menyimpannya.


__ADS_2