
Ajian Serap Sukma telah melenyapkan kesaktian yang di miliki resi Danuranda. Dia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini. Bahkan sekadar bersuara untuk mengeluarkan tangisan pun tidak bisa.
Yang lebih terhina, dia kalah di tangan pemuda yang umurnya terpaut jauh. Tubuhnya jatuh berlutut dengan napas putus-putus setelah Adijaya bergerak mundur menjauhinya.
"Bunuh saja aku sekalian!" ratap si kakek suaranya serak. Kepala menunduk dan bahunya berguncang sedikit. Sekarang dia bisa menangis. Bagi pendekar, mati dalam pertarungan adalah sebuah kehormatan.
Tapi bagi Adijaya, "Hidup mati bukan urusanku, tapi Sang Hyang Wenang!"
Resi Danuranda mengangkat wajahnya, menatap Adijaya. "Siapa kau sebenarnya?" pertanyaan ini terulang. Karena memang hatinya penasaran. Siapapun akan penasaran kalau ada orang yang lebih unggul darinya.
Dalam sekejap Adijaya kini telah memayungi dirinya bermaksud menunjukan identitasnya. Kedua mata sang resi langsung terbelalak.
"Pendekar Payung Terbang!"
Di daerah kulon, si kakek pernah mendengar kabar tentang Pendekar Payung Terbang dari obrolan murid-murid padepokan Karang Bolong. Konon katanya, mahaguru dari padepokan Gunung Sindu saja sampai ciut nyali hanya dari melihat sosok sang pendekar.
Dia pikir itu hanya cerita yang dibesar-besarkan. Sekarang dia sudah merasakan sendiri kesaktian sang pendekar yang masih muda ini. Dan katanya juga pendekar muda ini tidak pernah membunuh lawannya.
"Pergilah, perbaiki sisa umurmu sebelum menghadap Yang Maha Kuasa. Karena sebesar apapun dosa manusia, Sang Hyang Tunggal akan mengampuninya."
Adijaya meninggalkan kakek itu. Dia melangkah biasa menuju arah timur.
Sementara itu di bangunan asrama terjadi kegemparan. Puluhan pengikut Resi Danuranda tiba-tiba kebingungan mendapati mereka berada di tempat asing. Rupanya, dengan musnahnya ilmu Resi Danuranda, musnah pula gendam yang menguasai mereka.
Belasan anak buah sang resi juga kebingungan. Mereka tahu pengaruh gendamnya hilang. Beberapa dari mereka segera melaporkan kejadian ini.
Mendengar suara gaduh, Asmarini dan Sundari segera mendekati asrama. Puluhan orang di dalam asrama berhamburan keluar sambil berteriak-teriak.
"Di mana ini?"
"Kenapa aku berada di sini?"
"Apa yang terjadi dengan diriku?"
Sementara itu Sundari segera mencari majikannya. Dia juga berteriak-teriak memanggil nama Nyai Mandita. Ternyata banyak juga perempuan yang menjadi pengikut Resi Danuranda.
"Sundari!" satu teriakan terdengar memanggil wanita itu.
Sundari segera menoleh ke arah sumber suara. "Nyai!" serunya langsung menghampiri dan menarik wanita yang dicari-carinya ke tempat aman.
Di tempat lain, Asmarini sedang menghadapi beberapa anak buah Resi Danuranda yang semuanya pemuda berpakaian resi. Dengan mudah gadis ini menjatuhkan mereka. Hanya melukai saja, tidak sampai membunuh.
Sementara beberapa anak buah yang hendak melapor, saat di jalan mereka berpapasan dengan Adijaya. Tentu saja mereka terkejut melihat orang asing ada di dalam hutan.
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Sudahlah, semua sudah berakhir. Kalian lebih baik pulang ke rumah masing-masing!"
Ketika mereka hendak menyerang, Adijaya sudah lenyap dari pandangan mata. Karena makin bingung, akhirnya mereka memutuskan pergi ke gudang harta. Tapi mereka malah menemukan sang resi yang terduduk lesu.
"Apa yang terjadi, Eyang?"
"Lebih baik kalian selamat diri masing-masing. Rencana besar sudah hancur,"
Mereka terpaku, sang resi terlihat pucat dan tidak ada lagi pancaran kewibawaannya. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi.
Adijaya akhirnya sampai di asrama. Dia langsung berteriak menenangkan orang-orang.
"Harap tenang, Ki Sanak, Ni Sanak semua!"
Karena suara Adijaya dilapisi sedikit tenaga dalam, maka semua penghuni asrama termasuk Bayunata jadi terdiam. Mereka memandang ke arah Adijaya.
"Mohon dengarkan penjelasan saya," lanjut Adijaya "bapak-bapak dan ibu-ibu semua intinya telah dipengaruhi gendam. Sekarang harta kekayaan Anda semua tersimpan di rumah besar yang ada di sana!" Adijaya menunjuk ke arah barat.
Lalu dia menyarankan jika masih sayang dengan hartanya maka segera ambil ke sana. Semua orang pun akhirnya berduyun-duyun mendatangi rumah penyimpanan harta.
"Nyai, apakah sudah menyerahkan kekayaan Nyai?" tanya Sundari.
"Belum, aku baru saja hendak memberitahukan tempat penyimpanan hartaku sebelum tiba-tiba aku sadar dengan keadaanku,"
Nyai Mandita dan pembantunya ditinggalkan di kereta kuda. Sundari menceritakan semuanya dari awal ketika dia kehilangan majikannya.
Sementara Adijaya dan istrinya hendak membantu orang-orang karena di sana ada banyak penjaga berkepandaian. Dengan Payung Terbang sambil membawa Asmarini dalam pelukan, Adijaya mendahului mereka menuju rumah penyimpanan harta.
Para penjaga rumah terkejut melihat dua sosok terbang menggunakan payung mendarat di halaman rumah.
"Penyusup, tangkap mereka!"
Belasan penjaga yang berseragam merah darah ini segera mengepung Adijaya dan istrinya. Payung telah disimpan. Asmarini tarik Pedang Bunga Emas lalu menyongsong serangan. Pertarungan pun terjadi di halaman rumah besar itu.
Terlihat pintu rumah terbuka, lalu dari dalam muncul seseorang. Lelaki paruh baya yang pakaiannya tampak bagus seperti seorang bangsawan. Adijaya yang melihatnya langsung meninggalkan arena pertarungan.
Adijaya melesat ke arah orang itu. Dia yakin istrinya mampu menangani para penjaga itu.
"Siapa kau?"
"Bukan siapa-siapa, Tuanku. Aku hanya ingin membantu orang-orang yang telah kau tipu!"
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah, resi gadungan itu sudah lemah. Tak bisa diandalkan lagi. Sebentar lagi orang-orang yang kau tipu akan segera datang kemari mengambil harta yang kau rampas!"
__ADS_1
"Sia lan, mam pus, kau!"
Orang yang dipanggil Tuanku ini melepaskan pukulan. Ternyata dia memiliki tenaga dalam lumayan. Tapi masih berada di bawah Resi Danuranda. Tentu saja hanya dalam beberapa gebrak, Tuanku telah ambruk kehilangan tenaganya.
Di sebelah sana Asmarini juga telah menyelesaikan tugasnya. Semua penjaga rumah telah terkapar dengan luka parah yang membuat mereka tak mampu menyerang lagi. Mereka masih dibiarkan hidup.
Beberapa saat kemudian berdatangan orang-orang. Adijaya langsung mengarahkan mereka masuk ke dalam rumah.
"Cari dan ambillah yang menjadi milikmu saja!"
Setelah semuanya selesai. Si Tuanku, Resi Danuranda dan semua anak buahnya diikat dan dikumpulkan di bangunan tanpa dinding.
Adijaya berpesan kepada orang-orang bekas pengikut Resi Danuranda yang hendak pulang, agar ada yang melaporkan ke pihak kerajaan. Baik ke Salakanagara atau langsung ke Tarumanagara.
Empat hari kemudian, rombongan prajurit Tarumanagara yang datang dipimpin seorang senapati. Mereka juga datang bersama rombongan Wirapati.
Resi Danuranda dan komplotannya digiring ke kota raja Tarumanagara dengan tuduhan rencana makar.
"Saudara Adijaya, aku kagum Anda bisa lebih dulu menyelesaikan masalah ini!" puji Surya Manggala.
"Saudara terlalu berlebihan," sanggah Adijaya sambil tersenyum.
Di tempat terpisah, Wirapati dan Nyai Mandita terlibat pembicaraan serius.
"Aku sangat tulus mencintaimu, Nyai!"
Nyai Mandita yang masih terpancar kecantikannya hanya menunduk. Pikirannya masih ragu. Namun, Wirapati terus meyakinkan.
"Kau tidak perlu takut aku mengincar hartamu. Simpan saja itu. Sekarang apa kau pernah mendengar Juragan Cengkeh dari Desa Bangka?"
Wanita ini mengangkat wajahnya. Mencari sesuatu dari tatapan mata lelaki yang pernah menjadi kekasihnya dulu.
"Ya, aku pernah mendengar. Tapi tidak tahu orangnya,"
"Itu aku, Nyai!"
Nyai Mandita terpaku. Dulu Wirapati hanya pemuda biasa yang miskin. Makanya sang ayah menolaknya. Sekarang dia telah berubah nasibnya.
KINI TELAH HADIR VERSI AUDIO BOOKNYA, SUDAH BISA DIDENGARKAN
***
Bersambung...
__ADS_1