Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Maut Di Bukit Bedul


__ADS_3

Semua orang melongo tak terkecuali si kurus karena sebenarnya dia tahu pedang itu tak bisa dicabut sembarang orang.


Sebelum orang-orang itu hadir dia sudah lebih dulu mencobanya tapi selalu gagal. Akhirnya dia dapat ide membuat sayembara seolah-olah pedang itu hanya menancap saja. Padahal dia ingin mengadu para jagoan yang hadir.


Adijaya mengacungkan pedang, melangkah mendekati orang-orang lalu menyodorkan.


"Silahkan, ada yang mau mencoba memegangnya?" tawarnya.


Para tokoh saling pandang. Ya juga barangkali pemuda ini hanya bisa mencabut tapi belum berjodoh. Lalu salah seorang mengambil pedang itu.


Apa yang terjadi kemudian? Tangannya tertarik ke bawah seolah pedang itu beratnya ratusan kati. Dia tak mampu mengangkat pedang akhirnya dijatuhkan pedang itu.


Ajaib, pedang itu mencelat sendiri dan kembali berada dalam genggaman Adijaya lalu dia menyodorkan lagi.


"Siapa lagi?"


Seorang wanita setengah baya menerima pedang itu. Tiba-tiba pedang itu bergerak sendiri menebas kesana kemari dan si wanita ini tak mampu mengendalikannya. Lalu dia melempar pedang itu ke atas.


Seperti tadi secara ajaib Pedang Guntur sudah tergenggam kembali di tangan Adijaya.


Para tokoh saling bergumam sambil angguk-angguk kepala.


"Tampaknya pedang itu memang jodohmu, anak muda!" ujar salah seorang.


"Terima kasih Ki Sanak semua, semoga pedang ini benar-benar berjodoh denganku."


Tiba-tiba semua orang memandang ke arah si kurus. Kontan saja lelaki ini gemetaran dengan wajah pucat. Merasa tak aman lagi, lelaki ini segera ambil langkah seribu.


"Kejar!"


Serentak orang-orang itu mengejar si kurus. Tinggal Adijaya dan Puspasari di sana.


"Aku masih belum mengerti kenapa pedang ini berjodoh denganmu?"


"Kau ingat apa yang dilakukan Nini Bedul padaku malam itu?"


Puspasari mengangguk.


"Dia memberikan mantra agar hanya aku yang bisa mencabut pedang ini. Pedang Guntur ini miliknya, tentu saja dia punya kendali penuh atas pedang ini."


Sepasang pemuda ini kemudian meninggalkan gunung Sembung, kembali ke bukit Bedul.


***

__ADS_1


Di bukit Bedul pada waktu yang sama.


Di dalam ruangan pribadi Nini Bedul tercium aroma kemenyan yang begitu pekat. Nenek bungkuk bermuka seram ini duduk bersila.


Di depan si nenek terdapat pedupaan yang mengepulkan asap kelabu. Berbagai macam uba rampe tersaji di sana. Suasana di dalam ruangan itu bikin merinding orang biasa.


Nini Bedul terpejam, dahinya tampak basah oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal. Batin nenek ini dalam keadaan gelisah. Apa yang membuatnya gelisah?


Lama-kelamaan tubuh rentanya bergetar hebat. Mulutnya mengeluarkan suara gumaman yang tak jelas. Dia seperti sedang menahan tekanan yang begitu besar. Tangannya mengepal kuat.


"Laras!" teriaknya memanggil saudara kembarnya.


Nyai Gandalaras yang sedang menunggui Asmarini di belakang mendengar suara teriakan itu. Teriakan yang tidak biasa. Mendadak saja dia mendapatkan firasat buruk. Segera saja dia hampiri Nini Bedul.


"Laras!"


"Ada apa?"


"Dia datang... dia datang!"


Nyai Gandalaras tidak mengerti ucapan saudaranya. Tapi menandakan ada bahaya mendekat. Bahaya apa? Siapa yang datang?


"Siapa?" tanya Nyai Gandalaras kebingungan.


"Hehehehe...!"


Terdengar suara tawa mengekeh panjang. Suaranya serak tapi besar dan menyeramkan. Nenek kembar ini segera menghambur keluar.


Di depan rumah tampak berdiri seorang kakek kurus. Sangat kurus sehingga terlihat hanya kulit membungkus tulang. Wajahnya juga seperti tengkorak. Rambutnya tipis tergerai sampai punggung.


"Sekian lama aku mencari kalian akhirnya kutemukan juga, hehehehe....!"


"Kau belum jera juga!" sentak Nyai Gandalaras.


"Kali ini kalian yang akan kubuat jera!"


"Jangan mimpi!" teriak Pendekar Pedang Bunga seraya menerjang langsung menghunus pedangnya.


Wutt!


Aroma harum menerpa udara. Pedang Bunga membabat ke arah kepala. Si kakek kurus masih bersikap tenang. Seolah dia pasrahkan nyawanya.


Tetapi begitu satu jengkal lagi meta pedang membelah kepalanya. Tangan kerempeng si kakek mengangkat.

__ADS_1


Trang!


Tangan yang hanya berbungkus kulit itu menangkis pedang pusaka yang sempat diwariskan ke muridnya itu. Nyai Gandalaras terpental balik. Untuk menyeimbangkan agar tidak jatuh saat mendarat, maka dia bersalto satu kali.


Nini Bedul yang menyaksikan sangat terkejut. Si kakek kurus ternyata kebal senjata dari logam. Entah dari mana asalnya tiba-tiba si nenek sudah menggenggam tongkat kayu yang lekukannya tidak beraturan.


Si nenek bungkuk langsung menyerang. Memutar tongkatnya. Barangkali dengan senjata yang bukan logam, kakek kurus itu mendapat apes.


Trak!


Tapi apa nyana, sama saja. Tangan kurus si kerempeng dengan mudah menangkis tanpa merasa kesakitan. Kejap berikutnya dua nenek bekerja sama menyerang kakek kurus.


Nenek kembar ini menyadari bahwa kakek kurus yang bagai tengkorak hidup itu sudah bukan yang dulu lagi. Yang pernah mereka pecundangi.


Si kakek kurus mengalami peningkatan kesaktiannya. Sangat luar biasa. Dulu melawan satu nenek saja dia hampir tewas. Tapi sekarang walaupun nenek kembar maju semua, dia merasa mampu mengatasi.


Tongkat dan pedang bersatu padu saling memburu. Mereka juga mengeluarkan jurus yang paling diandalkan. Mengerahkan tenaga dalam penuh. Mereka tidak mau menganggap enteng lawan.


Karena si kurus itu nyatanya semakin kuat setelah lama tak mendengar kabarnya. Buktinya sudah puluhan jurus keluar tapi tak sekalipun bisa menyentuh si kakek kerempeng.


"Selembar nyawa kalian akan kuampuni jika menyerahkan kitab Jagat Pamungkas!" seru si kakek.


Namun, dua nenek itu tak menggubrisnya. Mereka terus menyerang dengan segala jurus andalan. Mereka tidak akan percaya ucapan si kakek. Mereka bukan orang yang bisa dibodohi.


Si kakek yang gerakannya sangat cepat seperti sedang main-main saja menghindari serangan lawan. Loncat sana loncat sini. Karena begitu cepatnya. Tubuhnya seperti bayang-bayang.


"Baiklah jika kalian lebih memilih mamp*s!" teriak si kakek lalu menggeram mengeikan.


Si kakek kurus memutar tangan di depan seperti baling-baling. Dari putaran itu berhembus angin dahsyat yang mampu menghempas dua tubuh nenek kembar.


Wussssh!


Dua nenek terlempar hingga menghantam dinding rumah. Rasanya seperti dihantam gunung. Membuat tenaga mereka cepat terkuras. Belum sempat bangkit untuk menyerang kembali...


Wussh! Blaar!


Dari dua telapak tangan si kakek urus itu melesat dua buah bara api berwarna merah langsung menghantam ke tubuh dua nenek hingga terpental dan menghancurkan dinding rumah lalu terjatuh di dalam.


Terdengar jeritan tinggi merobek langit dari mulut kedua nenek. Tubuh mereka dikabari api yang menyala-nyala. Karena berada di dalam api itu cepat merambat membakar rumah.


Beberapa saat kemudian seluruh bangunan rumah terbakar hangus bersama dua jasad nenek yang juga hangus. kemudian si Kakek kurus mendekati kolam air bunga yang di belakang rumah.


Melihat ada seorang gadis yang direndam di kolam, terbersit dalam hatinya sebuah rencana yang jahat. Lalu dia memanggul Asmarini dan membawanya pergi.

__ADS_1


__ADS_2