
Di ruang dimensi lain kereta kuda, Adijaya dan Asmarini terbahak-bahak menonton dua adegan yang ditampilkan di jendela. Baik Gagakseta maupun Trikarsih sama-sama tertipu. Yang mereka peluk ternyata sepotong gedebong pisang.
Dari kemarin juga Adijaya sudah merasakan ada orang yang selalu mengintainya. Tidak ada cara lagi agar dapat mengetahui si penguntit kecuali dijebak. Setelah menemukan tempat yang cocok, penjebakan dimulai.
Sebelumnya, berkat kepergiannya ke sarang Ki Sawung, akhirnya Adijaya mengerti cara kerja ilmu Menjerat Pikiran. Dengan sedikit pencerahan dari Padmasari, Adijaya bisa menciptakan ilmu semacamnya.
Dengan ilmu Menjerat Pikiran, Adijaya membuat dua batang gedebong pisang layaknya hidup seperti manusia, tapi dalam kendali pikirannya.
Ditambah dengan beberapa mantera ilusi yang menipu pandangan sehingga gedebong pisang berwujud seperti manusia.
Selanjutnya yang berwujud Asmarini disuruh mandi di sungai, dan yang berupa Adijaya sedang membakar ayam hutan. Lalu terjadilah seperti yang telah diceritakan di bab sebelumnya.
Apa yang menimpa Trikarsih tidak jauh berbeda dengan kekasihnya. Trikarsih seolah-olah berhasil merayu Adijaya hingga jatuh ke dalam pelukannya.
Lalu datang Gagakseta menyadarkannya.
"Karsih, buka matamu, sadarlah!"
Trikarsih kaget mendengar suara Gagakseta. Lalu dia membuka mata. Lebih kaget lagi ketika melihat gedebong pisang sedang menindih tubuhnya.
"Hah!" Gadis ini langsung menendang batang pohon pisang itu. Segara bangun, menatap Gagakseta sambil merapikan pakaiannya.
"Sia lan!" maki Trikarsih.
"Kita ditipu mentah-mentah, ternyata mereka memang berilmu tinggi. Bahkan memiliki ilmu sihir!"
"Jadi kita bagaimana, Kang?"
"Laporkan kepada ibu, tapi jangan menceritakan hal memalukan ini! Ayo pergi!"
Sepasang kekasih inipun segera meninggalkan tempat itu. Mereka masih sempat memandang ke arah kereta kuda yang terlihat kosong. Ada penasaran sedikit, tapi mereka takut dijebak lagi.
Asmarini dan Adijaya kembali ke atas. Seperti biasa Adijaya menjadi kusir hanya agar tidak dianggap aneh oleh orang-orang kalau kereta kudanya bisa berjalan sendiri tanpa dikendalikan.
"Apa Kakang bisa menebak siapa mereka?"
"Mereka disuruh ibunya!"
Asmarini langsung mengerti. Sepasang pemuda tadi disuruh ibunya untuk selalu mengawasi. Siapa ibunya? Ada urusan apa dengan dirinya atau suaminya?
"Apakah aku boleh meminta keterangan kepada Paman dan Bibi Kuda atau Bibi Padmasari?"
"Boleh!" Adijaya menyilakan.
__ADS_1
"Paman dan Bibi Kuda, apakah mengetahui sesuatu?" tanya Asmarini ditujukan kepada sepasang kuda guriang.
Sebelum kuda guriang itu menjawab, Adijaya menyela duluan, "Paman, Bibi Kuda, berikan jawaban yang merupakan petunjuk, biar aku memikirkannya!"
"Baik, Juragan. Begini petunjuknya, musuh besar Juragan akan dibangkitkan lagi dari kematian. Ibu dari si pemuda tadi adalah istrinya!"
"Musuh besar, bangkit dari kematian," gumam Asmarini. "Kakang Adijaya tidak pernah membunuh, bagaimana dia bisa mati?"
Sementara Adijaya juga berpikir keras. Banyak musuh yang sudah dia lumpuhkan, tapi musuh besar, siapa dia?
"Dinda ingat sesuatu?" tanya Adijaya. Asmarini tidak segera menjawab karena sedang berpikir keras juga.
Ada jeda hening di antara mereka. Sementara kereta kuda terus melaju menggilas kerikil jalanan. Pemandangan yang indah terlewatkan begitu saja akibat bergelut dalam pikiran masing-masing.
Adijaya mengingat setiap orang yang telah menjadi musuhnya. Sembari mengkategorikan apakah mereka termasuk musuh besar.
Pertama Birawayaksa, manusia yang bertransformasi menjadi siluman. Makhluk itu telah terkurung dalam Labu Penyedot Sukma yang disimpan dan dijaga Eyang Batara.
Kemudian ada muridnya Birawayaksa yaitu Ganggasara. Adijaya berkonflik dengan orang ini cukup lama. Terakhir ketika mantan menteri itu mendirikan kerajaan illegal yang juga melibatkan anaknya.
Lalu Jerangkong Koneng, tapi dia bukan kategori musuh besar. Ada juga Rangrang Geni, orang ini sangat menaruh dendam padanya, tapi usia Rangrang Geni masih muda. Tidak mungkin sudah mempunyai anak sebesar itu.
Dan terakhir ada Gentasora, apa mungkin dia? Bukankah anaknya cuma satu perempuan? Yang lebih mungkin adalah Ganggasara. Akhirnya Adijaya hendak meminta satu petunjuk lagi.
"Kakang Adijaya tidak pernah membunuh, dengan cara apa dia mati?" Asmarini malah mendahului bertanya yang kebetulan sama dengan pikirannya.
"Dipenggal?" Suami istri berbarengan berseru. Mereka saling pandang.
Berarti dia bersalah kepada kerajaan. Perbuatannya mengancam keutuhan kerajaan. Memberontak salah satunya. Dan musuh Adijaya yang selalu berurusan dengan kerajaan adalah...
"Ganggasara!" seru mereka bersamaan lagi.
"Kalau begitu aku butuh keterangan lebih lanjut, boleh, Kakang?"
"Silakan, Dinda Sayang!"
"Bibi Padmasari, coba jelaskan bagaimana dia bisa dibangkitkan lagi?"
Seketika Padmasari langsung muncul di samping Asmarini. Bahkan Ki Santang juga ada di sana. Adijaya kerutkan kening, karena tidak biasanya wujud asli Payung Terbang itu menampakkan diri.
Padmasari mulai menjelaskan, "Tubuh Ganggasara sudah bercampur dengan tubuh siluman walaupun ilmunya sudah lenyap. Dengan dua belas darah bayi baru lahir setiap purnama, tubuh dan kepalanya akan menyatu kembali dan hidup lagi,"
Mendengar itu Asmarini jadi bergidik. Secara refleks tangannya menyentuh perutnya yang belum kentara kehamilannya.
__ADS_1
"Tapi sukmanya bukan lagi Ganggasara," timpal Ki Santang. "Melainkan siluman yang menjadi junjungan mereka,"
"Junjungan?" ulang Adijaya bola matanya berputar-putar.
"Mereka sekeluarga menghambakan diri kepada siluman," jawab Ki Santang.
"Kakang, kenapa aku jadi merasa takut?" keluh Asmarini.
Adijaya tersenyum lembut, dia berpindah ke dalam. Membiarkan tempat kusir kosong. Lelaki ini duduk di samping istrinya lalu memegang tangannya.
"Di kamar gaib Dinda pasti selalu aman," kata Adijaya sambil menunjuk lantai ruangan.
"Tenang saja, Gusti Putri, ada kami!" sahut Kuda betina.
"Saya juga!" ujar Ki Santang.
"Dan aku!" Padmasari acungkan jari telunjuknya.
Asmarini kini menarik napas lega. Dia lupa kalau ada mereka yang selalu membuat keajaiban. Makhluk-makuk dari alam lelembut ini sudah tidak diragukan lagi pengabdian dan kekuatannya.
"Juragan, apakah ingin bertindak sekarang sebelum dia bangkit?" tawar Padmasari.
"Aku akan mencari tempat untuk menetap dulu!" jawab Adijaya.
"Kakang, bagaimana kalau kita ke bukit Gajah Depa saja. Aku tidak ingin melibatkan murid-murid padepokan Linggapura,"
"Usul yang bagus!"
Adijaya membelai rambut sang istri dengan lembut dan mengecup keningnya sebelum kembali ke tempat kusir. Dua makhluk guriang sudah menghilang kembali.
Tujuan awalnya hendak ke padepokan Linggapura diubah menuju bukit Gajah Depa tempat tinggal Adijaya di masa kecil. Tempat pertama kali mereka bertemu dan jatuh cinta. Ada kenangan manis saat mengingat tempat itu.
***
Memang benar, suami Madari yang dihukum penggal itu adalah Ganggasara. Musuh Adijaya sejak terjadi pemberontakan panglima Cakrawarman.
Dia bersama anak pertamanya dihukum penggal atas kesalahannya mendirikan kerajaan secara illegal. Selain itu kesalahan-kesalahan terdahulunya juga membuat dia divonis tanpa peradilan.
Seperti konspirasi yang menjebak Prabu Satyaguna, dan tentu saja menjadi sosok di belakang pemberontakan Cakrawarman.
______
Perasaan saya tidak menyinggung novel yang lain, deh!
__ADS_1
Tapi, ya sudahlah!
Baca dan nikmati saja.