
Keesokan harinya, sungguh tiada disangka dan diduga. Masing-masing rumah mantri didatangi sepasukan prajurit yang dipimpin bekel bermaksud menangkap mereka dengan tuduhan penggelapan harta upeti.
Tanpa bisa melawan keempatnya digiring ke istana. Istri dan anak-anak mereka sangat terkejut. Tidak percaya dengan apa yang dituduhkan kepada sang mantri.
Empat mantri bawahan mangkubumi dibawa ke Bale Gede. Mereka terkejut ketika melihat Mangkubumi Gunadarma ada di sana dalam keadaan sehat wal afiat. Seketika mereka sadar bahwa semua ini adalah jebakan maharaja.
Mereka tidak bisa mengelak lagi karena bukti-bukti sudah terkumpul. Sekarang mereka sadar, keputusan maharaja mengganti mangkubumi hanyalah pancingan. Mereka lebih fokus kepada Adijaya sehingga kecolongan.
Lebih parah lagi mereka didakwa dua perkara, selain menggelapkan harta upeti juga merencanakan pembunuhan terhadap Adijaya.
Selanjutnya mereka dijatuhi hukuman dibuang dalam pengasingan dan dimiskinkan. Seluruh harta kekayaan yang mereka miliki disita kerajaan.
***
Di salah satu rumah mantri ketika ada petugas yang hendak mengambil semua hartanya.
"Aku sungguh tidak menyangka kau mencuri harta kerajaan!" hardik sang istri.
"Kenapa menyalahkan aku, ini semua karena kamu!" bentak balik sang mantri.
"Aku, salah apa, kenapa aku dibawa-bawa?"
"Jelas, lah! Kamu yang selalu menginginkan kemewahan. Selalu kurang dengan apa yang aku beri. Membuatku berpikir keras untuk memenuhi keinginanmu yang gila harta!"
"Lho, wajar saja. Aku ini istrimu berhak meminta apapun dan kau sebagai suami wajib memberikan..."
"Tapi tidak segila itu, gila! Kamu terlalu gila kemewahan. Selalu menghambur-hamburkan harta hanya untuk foya-foya!"
"Ah, sudahlah! Yang salah kamu, kenapa melibatkanku. Aku tidak mau ikut dibuang ke pengasingan, apalagi hidup jadi gembel. Aku akan pulang saja ke rumah bapak!"
"Dasar gelo! Mau enaknya saja. Di saat susah malah mau minggat!"
Ketika sang istri hendak mengambil barang-barang yang sebisanya dia bawa. Beberapa prajurit melarangnya.
"Ada apa ini, aku mau pulang. Tidak ada urusan sama dia!"
__ADS_1
"Tidak bisa! Hukuman dijatuhkan untuk seluruh anggota keluarga. Kau dan anakmu harus menemani dia!"
"Tidak mau!" teriak wanita ini tangisnya pecah. Dia tidak terima atas semua ini.
Jelas saja jiwanya terguncang. Biasanya hidup bergelimang harta. Mau apapun selalu terpenuhi. Kini dalam waktu sekejap saja menjadi manusia tanpa harta sepeserpun. Semua benda-benda kesayangannya diambil alih tanpa bisa menahannya.
"Aku tidak mau hidup miskin..." ratapnya sambil bercucuran air mata ditemani dua anak perempuan yang bersimpuh di sampingnya. Mereka juga terisak-isak sambil menyandarkan badannya ke bahu sang ibu.
"Aku tidak mau jadi gembel... bapak... tolong anak dan cucumu ini... huuu...huuu...!"
Sedangkan di rumah mantri yang lain baru terbongkar ternyata sang mantri memiliki tiga selir secara diam-diam. Makanya dia mengumpulkan harta dengan cara curang agar bisa menghidupi keluarga dan selir-selirnya.
Setelah perbuatannya terbongkar dan dijatuhi hukuman. Ternyata tiga selirnya malah kabur. Tentu saja gampang kabur karena tempat mereka terpisah dari rumah mantri. Ditambah sebelumya tidak ada yang tahu kalau dia memiliki selir.
Akhirnya yang menanggung akibatnya hanya istri dan anaknya yang akan menemaninya dalam pengasingan.
***
Maharaja mengumumkan bahwa posisi mangkubumi tetap dipegang oleh Gunadarma. Kemudian dia mengangkat Cakra Diwangsa sebagai salah satu mantri bawahannya. Dan seperti dahulu, Adijaya memilih untuk berkelana saja.
"Adijaya dan kau Cakra Diwangsa, seandainya diperkenankan aku ingin menjadikan anak-anak kalian sebagai muridku," kata Gunadarma.
Dua pasangan suami istri ini sudah tahu dari maharaja, bahwa Gunadarma adalah pendekar kawakan yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan.
"Dengan senang hati, Kek. Tentunya kami sangat berterima kasih atas kesediaan Kakek yang mau mendidik anak kami," balas Adijaya sopan.
"Apa kau tidak ingin tinggal di sini, setidaknya sampai anakmu lahir?" tanya Sekar Kusuma kepada Asmarini.
Dua wanita ini sudah tidak ada rasa canggung lagi, meski dahulu mereka ada silang sengketa masalah cinta. Sekar Kusuma sudah menerima kenyataan. Dia juga sudah menerima Cakra Diwangsa sepenuh hatinya.
"Mungkin kalau kamu juga mengandung, aku akan menemanimu di sini," goda Asmarini.
Sekar Kusuma malah memandang suaminya. Cakra Diwangsa bersemu merah. Tatapan istrinya seolah mengakatan, 'ayo kita bikin anak'.
"Iya, iya aku pastikan Dinda akan menyusul Asmarini!" ujar Cakra Diwangsa sambil menoleh ke arah lain yang disambut tawa renyah yang lainnya.
__ADS_1
Setelah puas berbasa-basi, kereta kuda ajaib mulai melaju pelan membawa sepasang suami istri pendekar yang sudah menorehkan namanya di dunia persilatan.
Seperti biasa di siang hari semua jendela terbuka, sehingga orang dari luar bisa melihat pasangan pendekar ini. Mereka terlihat mencolok, selain bentuk kereta yang mewah dan berbeda dari yang biasa orang-orang lihat. Kereta ini keluar dari wilayah istana.
Tentu saja banyak yang menyangka mereka adalah bangsawan.
"Kita kemana, Kakang?" tanya Asmarini yang duduk di sebelah dalam.
"Kembali ke Linggapura," jawab Adijaya yang duduk di tempat kasir.
"Aku tidak tahu sudah berapa lama meninggalkan padepokan Linggapura, bagaimana kabar Bibi Praba Arum?"
"Iya, mungkin kehamilannya sudah besar. Dinda ada temannya di sana!"
"Bagaimana kalau ayah dan ibu juga diajak ke sana. Desa Rancawangi tidak terlalu jauh ke padepokan?"
"Boleh juga, mudah-mudahan mereka bersedia. Biar Dinda bisa konsultasi kepada ibu yang sudah pengalaman."
***
Di dalam sebuah goa yang suasananya temaram. Energi hitam memenuhi ruangan goa yang agak sempit. Di ujung ruangan, menempel pada dinding, ada satu batu besar berbentuk kotak panjang.
Di atasnya terbaring satu sosok yang mengerikan. Bagaimana tidak, sosok ini tubuh dan kepalanya terpisah sejarak satu jengkal. Sepertinya jasad itu sudah lama, terlihat dari kuitnya yang mengkerut dan kaku.
Di depan batu itu berdiri seorang wanita berpenampilan mentereng. Pakaiannya bak seorang ratu, dilihat dari parasnya wanita ini mungkin masih berumur tiga puluhan. Bentuk tubuhnya juga masih sintal menggiurkan dengan dada yang membusung kencang karena pakaian yang ketat.
Di belakang wanita ini ada dua pemuda yang sepertinya sepasang kekasih atau mungkin sudah suami istri. Mereka memandangi punggung wanita di depannya. Sesekali juga melihat ke arah mayat yang kepalanya terpisah itu.
Wanita ini memandang sayu si mayat. Seperti memendam kesedihan yang begitu dalam. Tatapannya mengandung perasaan yang halus seolah si mayat adalah orang yang paling dia sayangi.
"Jangan sampai terlewat, setiap malam purnama basuh lehernya dengan darah bayi. Agar ayahmu kembali hidup seperti sediakala." Suara si wanita ternyata terdengar lembut.
"Kami tidak pernah lupa Ibu," jawab yang laki-laki.
"Dan kau, sudah menyelidiki tentang musuh besar ayahmu?" tanya si wanita kepada gadis di samping si pemuda.
__ADS_1
"Sudah, Ibu!"