
Di ruangan pengap itu Adijaya mengatur napas dan hawa saktinya. Dinding tanah di lubang ini terasa lembab. Seandainya dia memanjat ke atas menggunakan kedua kakinya menjejak ke dinding kiri dan kanan, kemungkinan bisa sampai atas.
Setelah beberapa saat mengumpulkan tenaga. Adijaya mulai memanjat dengan menggapai-gapai kedua dinding tanah kiri kanannya. Terus menggapai hingga kepalanya mentok ke batu yang menutupi lubang.
Kemudian dia kerahkan tenaga, mendorong batu itu ke atas. Ternyata sangat kuat sekali. Kemungkinan batu ini sangat besar. Sudah berulang kali tetap saja tak mampu menggeser walau sedikit.
Sruuk! Buk!
Tubuh Adijaya malah terperosok lagi karena dinding tanah yang licin. Dia jatuh punggung. Tidak terasa sakit tapi ada yang mengganjal di balik ikat pinggang belakangnya.
Setelah diperiksa, ternyata di sana terselip dua kitab temuannya. Dia lupa, perasaan sudah menyimpannya di kereta kuda. Bahkan kitab yang satunya sudah diberikan kepada Asmarini. Tapi nyatanya dua kitab itu masih terselip di pinggangnya.
Mengingat Asmarini, dia jadi khawatir. Apakah gadis itu tahu tentang keadaannya sekarang?
Orang yang telah menjebaknya ke dalam lubang ini, apa tujuannya? Siapa dia? Atau siapa yang ada di belakangnya?
Semua pertanyaan itu dia simpan dulu. Sekarang yang dilakukan adalah segera keluar dari lubang jebakan ini.
Adijaya keluarkan hawa sakti untuk mengusir pengap. Himpun tenaga dalam ke kepalan tangan. Setelah dirasa cukup, lalu tangan kanannya memukul ke atas. Melepas pukulan jarak jauh.
Wutt!
Bluk!
Tidak ada perubahan. Batu itu tetap bergeming di tempatnya. Adijaya menghela napas kecewa. Lalu dia duduk bersila. Dari balik ikat pinggang sebelah depan dia mengambil bunga melati biru.
Dipegang oleh dua telapak tangan yang saling merapat, bunga melati ditempelkan ke hidung. Menghirup wanginya yang tak pernah habis. Bahkan bunga itu pun tak pernah layu.
Dihirup sedalam-dalamnya, hawanya dialirkan ke seluruh tubuh. Lalu pemuda ini bersemedi dengan posisi tetap seperti itu.
Tak sadar selama tiga hari sudah dilewati dalam semedi. Pada hari ke tiga itu, dari dalam dirinya seperti ada dorongan untuk menelan bunga Melati Tunjung Sampurna. Tak banyak pikiran lagi Adijaya pun menelan bunga itu.
Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba tubuhnya merasakan panas tiada terkira. Darahnya terasa mendidih. Kulitnya terlihat membara menerangi ruang sempit itu.
"Uaaaakh...!"
Adijaya menjerit setinggi langit, tak kuat menahan hawa panas di dalam tubuhnya. Lalu dia terkulai tak sadarkan diri.
Selama tiga hari Adijaya pingsan. Beruntung tubuhnya mampu menerima asupan kekuatan dahsyat yang berasal dari Melati Tunjung Biru. Memang pada awalnya merasakan seperti terbakar dari dalam.
Tapi pada saat tak sadarkan diri, tubuhnya bekerja sendiri mengolah kekuatan baru itu sampai seimbang dengan kondisi tubuhnya.
Ketika pemuda ini siuman, dia merasakan ada yang beda dari tubuhnya. Seperti pertama kali ketika setelah memakan lumut ungu.
Adijaya menarik napas, mengumpulkan tenaga pada tangan kanannya. Hawa sejuk menebar bau harum memenuhi ruangan sempit itu. Lalu tangan yang telah diisi kekuatan itu menyentak ke atas.
__ADS_1
Wuss!
Blaarrr!
Serangkum angin kuat melesat dari tangan Adijaya, menghantam batu penutup lubang. Batu itu hancur berkeping-keping. Sinar matahari langsung menerobos ke dalam lubang. Ternyata hari sudah siang.
Selanjutnya dengan genjotan kecil Adijaya mampu meloncat ke atas. Keluar dari lubang yang telah mengurungnya selama enam hari. Begitu berhasil menjejakkan kakinya di tanah, dia menghirup udara segar beberapa saat.
Indra pendengarannya yang tajam, sayup-sayup mendengar suara alunan tabuhan gamelan. Adijaya mengitarkan pandangan. Jauh di depannya terlihat sebuah benteng.
Adijaya segera ingat. Itu adalah benteng istana. Tempat Asmarini berada. Segera saja dia berlari ke arah sana. Hendak melihat apa yang sedang terjadi.
Tiba-tiba saja hatinya merasa tak enak!
Sampai di dekat benteng, dia meloncat melewati benteng itu. Suara gamelan semakin santar. Sepertinya sedang ada pesta di istana. Lalu dia bergerak mencari tempat diadakannya pesta itu.
Pesta apa itu? Adijaya semakin berdebar-debar.
Di sebuah bangunan tanpa dinding dan sekat, hanya ada atap yang ditopang tiang-tiang. Tampak ramai. Sepertinya semua orang istana berkumpul di situ.
Ternyata ini adalah upacara pernikahan. Tapi yang membuat Adijaya terkejut dan membuat hatinya tersayat, adalah pengantin wanita yang duduk di pelaminan.
Walau didandani sedemikian rupa, tapi Adijaya jelas mengenal perempuan itu. Asmarini. Apa ini? Bukankah dia calon suaminya? Bukankah kedua orang tua gadis itu telah setuju dan merestui? Tapi mengapa ini...?
Adijaya tak habis pikir, apa sebenarnya yang terjadi?
Semua orang menatapnya sinis bahkan banyak tatapan merendahkan.
"Orang gila!"
"Ada orang gila masuk!"
Teriak beberapa prajurit langsung mengurung Adijaya dengan tombak terhunus.
"Bagaimana bisa ada orang gila masuk ke sini?" teriak seorang lelaki paruh baya yang berpakaian mentereng sudah berdiri di pinggir bangunan.
"Tidak tahu, Gusti Patih, orang ini tahu-tahu sudah masuk saja!"
"Usir dia!"
"Paman, saya Adijaya, bukan orang gila!"
"Kamu ngeyel, ya! Lihat tampilanmu, kotor, bau, dekil. Makin tidak waras lagi kalau kau ngaku-ngaku kenal denganku!" bentak sang patih.
Teriris hati Adijaya mendengar hinaan ini.
__ADS_1
"Saya Adijaya, Paman. Calon suami Asmarini, bukankah Paman telah merestui kami?"
Terdengar tawa yang terbahak-bahak sang patih. "Dasar gelo! Tidak tahu malu! Mana mungkin putriku mau sama orang gila. Usir dia!"
Adijaya tak bisa berkata apa-apa lagi. Beberapa prajurit menodongkan tombak. Menyuruhnya segera pergi. Memang dia tampak kotor dan lusuh karena baru saja keluar dari lubang yang licin dan lembab.
Sambil melangkah mundur Adijaya menatap kearah Asmarini yang bersanding dengan lelaki lain. Wajah Asmarini tampak datar dan sedikit pucat. Tatapan matanya kosong. Ada yang aneh dengan gadis itu.
Dengan hati hancur karena untuk kedua kalinya ditinggal kawin oleh orang yang dia cintai, Adijaya melangkah pergi. Apakah lubang jebakan itu sengaja untuk membatalkan pernikahannya? Lalu dengan terpaksa Asmarini menerima laki-laki lain.
Tidakkah gadis itu melawan? Bukankah dulu dia kabur karena tidak mau dinikahkan? Lalu kenapa sekarang...? Ah! Entahlah, pikiran Adijaya begitu kacau.
Adijaya menuju tempat kereta kudanya disimpan. Tapi ketika ia hendak naik, satu suara menyentaknya.
"Hei, orang gila! Berani sekali kau menyentuh barang istana!"
Sang patih telah berdiri di belakangnya dengan dua tangan di pinggang.
"Ini milik saya!" ujar Adijaya.
"Hahaha....!" sekali lagi sang patih terbahak-bahak. "Makin ngaco saja kewarasanmu, sampai-sampai barang milik istana diakui milikmu!"
Adijaya geram. Ingin rasanya dia membuncahkan seluruh kekuatannya untuk membumiratakan istana ini. Rahangnya mengeras, tangan yang terkepal tampak gemetar.
Tapi pemuda ini menahan perasaannya. Tidak menyangka sama sekali. Bukan hanya menggagalkan pernikahannya tapi juga merampas harta miliknya.
Semua orang sudah mengira dia gila, jadi tidak mungkin orang gila punya kereta kuda bagus. Sungguh licik sang patih. Lebih licik dari Ganggasara.
"Ingat!" seru sang patih kemudian. "Kalaupun kau masih waras, kastamu tak sebanding dengan putriku!"
Jlep! Benar-benar ucapan yang menusuk hati. Tak ingin mendengar lagi hinaan yang menderanya, Adijaya segera pergi dengan langkah cepat.
***
Di satu tempat yang sepi. Masih di lingkungan istana. Sang patih menemui seseorang.
"Bagaimana dia bisa keluar dari jebakan itu?" tanya sang patih.
"Ampun, Gusti, kekuatannya sungguh mengerikan, batu raksasa yang menutupi lubang itu hancur menjadi serpihan kerikil. Mungkin selama terjebak dia mendalami ilmunya."
Sang patih tampak bergidik, raut wajahnya membayangkan ketakutan.
"Kalau begitu, habis dia! Cari pendekar yang mampu membunuhnya!"
Sang patih segera pergi.
__ADS_1
Maaf, telat update...