Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kejutan Tak Pernah Habis


__ADS_3

Cakra Diwangsa benar-benar dibuat gila dengan tugasnya kali ini. Bagaimana tidak? Baru saja selesai melewati masalah sekarang halangan baru lebih gila lagi.


"Apa ini, bagaimana bisa kita ke tempat seperti ini?" rutuknya ketika di depannya membentang padang pasir sangat luas bagaikan tiada ujungnya. Sedangkan dia tahu di negeri ini tidak ada padang pasir.


Adijaya langsung mengerti, yang dihadapinya sekarang adalah ilmu sihir. Kereta kuda langsung berhenti begitu berada di tempat ini. Bahkan ketika melihat ke belakang juga sama. Kereta ini berada di tengah-tengah padang pasir yang tandus.


"Apa Raden menyesal menjalankan tugas ini?"


Cakra Diwangsa tidak menjawab. Dia sedang berusaha menenangkan hatinya. Sekar Kusuma juga mengalami hal yang sama, dia tampak memeluk Asmarini.


"Kita berhadapan dengan ilmu sihir, Raden!"


"Sihir?"


"Benar, apa yang Raden lihat itu semuanya hanya ilusi, tipuan mata!"


"Kau bisa mengatasinya?"


Adijaya mengangguk lalu mengajak Cakra Diwangsa masuk ke ruangan. Semua jendela ditutup. Di dalan ruangan hanya remang-remang.


"Aku akan menunjukkan keajaiban lagi!" ujar Adijaya. Dia meminta agar Asmarini dan Sekar Kusuma bergeser duduknya ke tengah.


Lalu dia menyibakkan permadani. Ternyata di bawahnya ada tutup besar yang bisa dibuka ke atas. Begitu dibuka, keajaiban memang tertampak nyata di depan mata.


Di bawah sana ada ruangan terang benderang. Adijaya melompat duluan masuk. Ini adalah hasil karya Padmasari seperti yang dia katakan sebelumnya. Guriang wanita itu akan menunjukkan setelah hasilnya selesai.


Tiga orang lainnya segera mengikuti Adijaya. Mereka melihat sebuah ruangan seperti di dalam rumah. Ada ruang depan untuk para tamu, ruang tengah, kamar tidur, dapur dan tempat mandi.


Ini adalah ruangan dimensi lain yang diciptakan Padmasari. Pintu yang mereka masuki ternyata berada di bagian belakang. Adijaya mengajak yang lainnya ke ruang depan.


Jika dilihat bentuknya, rumah ini sangat berbeda dengan rumah-rumah seperti biasanya yang terbuat dari papan atau piyan bambu. Dinding rumah ini seperti terbuat dari batu pualam.


Di ruang depan itu terdapat pintu dan jendela, tapi fungsi pintu ini bukan untuk keluar masuk. Sedangkan jendela fungsinya seperti semacam Kaca Benggala, untuk melihat situasi tempat yang diinginkan. Dalam cerita wayang namanya Gambar Lopian.


Adijaya menyentuh jendela itu satu kali. Lalu tampaklah seolah-olah di depan sana ada tempat lain. Tempat yang mirip seperti di luar. Padang pasir.

__ADS_1


"Itu memang padang pasir sihir yang berada di luar, tapi bisa dilihat di sini!" jelas Adijaya.


Sekar Kusuma dan Cakra Diwangsa tidak bisa berkata apa-apa saking kagumnya.


Tiba-tiba saja di padang pasir itu muncul seorang lelaki tua berkepala botak, tapi memiliki jenggot tebal berwarna hitam. Pakaian yang dikenakan semacam pakaian resi berwarna abu-abu.


Orang tua botak memandangi ke arah mereka, tapi sebenarnya orang itu sedang memandang kereta kuda yang tertutup sehingga seperti tiada berpenumpang. Seketika dia tampak bingung.


"Hahaha... Rupanya kalian takut!" seru si botak tertawa memperlihatkan deretan giginya yang ompong dan sudah menghitam.


"Pendekar berilmu tinggi ternyata takluk dengan sihir, hahaha...!"


Si botak kibaskan tangan, seketika badai pasir timbul bergulung-gulung menghempas kereta kuda. Sementara dia sendiri tidak terpengaruh sedikit pun.


Beberapa saat kemudian dia terkejut karena melihat kereta kuda masih utuh di tempatnya.


Adijaya membuka pintu lalu mendekati si kakek botak. Orang ini terkejut dengan kemunculan Adijaya yang tiba-tiba menurut penglihatannya. Dalam hati Adijaya tertawa, ahli sihir kok kena tipu?


"Orang tua, aku hanya ingin bertanya siapa yang menyuruhmu, kalau kau jawab maka tidak ada urusan lagi!"


"Bagaimana kalau aku membayar tiga kali lipat dari yang kau dapatkan tanpa harus mengembalikan harta yang telah kau terima. Kau tinggal pulang dan duduk manis,"


Si kakek kembali menggeram seperti harimau lapar. Bagaimana bisa ada orang yang tidak menganggap dirinya. Sedangkan dia adalah ahli sihir terkenal di daerahnya tinggal sekarang. Sebenarnya dia bukan penduduk asli, tapi pendatang dari negeri Hindustan.


"Kalau begitu terpaksa aku melawan!" Adijaya merapalkan sebuah mantera yang didapat dari Padmasari si ratu sihir.


Dalam sekejap padang pasir lenyap dan berganti ke bentuk aslinya. Sebuah jalan di pinggir hutan dan sungai berair jernih dan menyegarkan.


Si botak terkejut lagi karena ilmu sihirnya dapat dipatahkan dengan mudah.


"Siapa kau?" sentaknya.


"Bukankah kau sudah diberitahu majikanmu!"


"Kurang a jar!"

__ADS_1


Si kakek kerahkan seluruh kekuatannya. Orang ini juga yang tadi menolong para pendekar bayaran yang kakinya tertanam di tanah. Mulutnya komat-kamit.


Seketika memancar energi besar mengurung dan menekan Adijaya. Hawa panas memenuhi udara di sekitar tubuh sang pendekar. Sangat panas seperti memanggang tubuhnya.


Namun, Adijaya tidak merasakan panas sedikitpun. Hawa sakti Melati Tunjung Sampurna otomatis melindunginya. Dia merasakan hawa sakti lawan sama seperti yang dimiliki Jerangkong Koneng.


"Ternyata kau ada hubungan dengan Jerangkong Koneng!"


Keterkejutan si botak seolah tak habis-habisnya. Dia memang saudara seperguruan Jerangkong Koneng. Dia juga sedang mencari orang yang telah membunuh Jerangkong Koneng.


"Siapa kau?" Si botak masih melancarkan serangannya yang berupa hawa sakti tak kasat mata dikombinasikan dengan ilmu sihir miliknya.


"Aku yang telah melenyapkan semua ilmunya, tahu sekarang?"


"Heaah!" Si botak berteriak kencang. Dia keluarkan semua kekuatannya. Ternyata yang dicari-cari selama ini adalah targetnya sekarang.


Hanya saja sebelum serangan yang tak kasar mata ini menimpa dirinya, Adijaya sudah menggunakan ajian Serap Sukma.


Semua tekanan dahsyat yang menghantamnya terbentur kekuatan lain yang sama besar. Selanjutnya energi yang dipancarkan si botak perlahan tersedot ke dalam tubuh Adijaya.


Bahkan tubuh si botak juga ikut terseret mendekat ke arah Adijaya. Dua tangan pemuda ini sudah dalam posisi mendorong angin.


Si botak tidak bisa menahan tubuhnya sendiri. Tidak ada pijakan atau pegangan agar dirinya tidak tersedot ke telapak tangan Adijaya yang sudah menantinya.


"Oh, tidak. Ilmu apa ini? Orang ini ternyata menyimpan banyak kejutan yang tak pernah disangka. Pantas saja Jerangkong Koneng takluk ditangannya!"


Tep!


Tubuh si botak kini menempel di telapak tangan Adijaya. Dia langsung merasakan bagai disengat ribuan tawon. Badannya kejang-kejang. Pandangannya buram. Semakin lama tenaganya semakin lemah.


Energinya semakin menipis lalu hilang. Tubuh si kakek yang sudah kurus makin kurus. Tinggal kulit pembalut tulang. Semua kekuatannya tersedot.


Beberapa kejap berikutnya sosok si botak terkulai ambruk di tanah tanpa memiliki kekuatan apapun lagi. Adijaya menarik napas panjang mengakhiri pengerahan ajian Serap Sukma-nya.


Sementara si botak tidak menyangka nasibnya akan seperti saudaranya, si Jerangkong Koneng. Balas dendam gagal, malah dirinya juga sama bernasib buruk. Saat seperti ini rasanya ingin mati saja.

__ADS_1


Ternyata benar, Pendekar Payung Terbang tidak pernah membunuh lawannya. Tapi kalau seperti ini, rasanya lebih menderita dari kematian.


__ADS_2