Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Masuk Ke Alam Lain


__ADS_3

Suatu malam rombongan Adijaya singgah di penginapan. Mereka memesan dua kamar masing-masing untuk perempuan dan laki-laki.


Adijaya berbagi tempat dengan Arya Sentana. Rasa lelah dan cape membuat keduanya cepat terlelap. Namun, dalam lelapnya Adijaya masih sadar karena dia mendengar percakapan sepasang guriang di dalam tubuhnya.


"Adijaya, kali ini kau akan menghadapi musuh yang sangat kuat," Padmasari yang bisa menerawang memberitahu.


"Seperti apa orang yang akan dihadapi Juragan kita?" tanya Ki Santang.


"Dia seumuran dengan juragan kita, tapi aku curiga itu hanya tipuannya saja,"


"Aku yakin sehebat apapun dia, juragan kita pasti mampu mengalahkannya,"


"Kali ini kita sebagai bangsa guriang juga turun secara langsung,"


"Apa maksudmu?" Ki Santang belum mengerti dengan perkataan Padmasari.


"Dia memiliki buhul sakti yang bisa mengikat jiwa guriang. Ada sepuluh guriang yang telah menjadi budaknya,"


Ki Santang terperanjat bukan main. Perasaannya mendadak cemas. Sangat berbahaya manusia yang memiliki buhul sakti. Dia bisa menaklukan para guriang ataupun siluman untuk dijadikan budak atau anak buahnya.


"Apakah kita juga bisa terkena buhulnya?" pertanyaan Ki Santang menyiratkan ketakutan.


Adijaya yang seolah menyaksikan percakapan mereka dalam mimpi juga merasa khawatir. Bukan karena takut kehilangan dua guriang miliknya. Tapi bahaya yang akan ditimbulkan oleh orang itu.


"Tidak usah takut," ujar Padmasari. "Aku ini guriang ratu sihir. Aku punya penangkal agar kita tak terkena jerat buhul sakti itu,"


Padmasari mengeluarkan dua cincin yang bentuknya hanya cincin biasa saja. Satu cincin diberikan kepada Ki Santang.


"Apa ini cincin pertunangan kita?"


Padmasari melotot mendengarnya. Adijaya tak bisa menahan senyumnya.


"Kamu sudah ketularan gilanya Adijaya?" hardik Padmasari.


Ki Santang hanya tertawa mengekeh dengan tatapan genit. Walaupun bersikap begitu tapi dalam hati Padmasari terasa berbunga-bunga.


"Ini cincin mustika penangkal segala macam buhul, mantera atau ajian khusus untuk menjerat bangsa guriang,"


Ki Santang tersenyum lebar. "Terima kasih, kau perhatian padaku,"


Padmasari terbatuk dengan pipi yang merona merah. Adijaya tak tahan lagi untuk tertawa. Mendengar majikannya tertawa, sepasang guriang ini tersipu malu.


"Apa yang harus kulakukan jika menghadapinya?" tanya Adijaya.


"Lawan dia dengan ilmu manusia, jangan sampai dia menggunakan sihir dari alam kami," jawab Padmasari. "Setinggi-tingginya ilmu sihir Jerangkong Koneng, masih ciptaan manusia..."

__ADS_1


"Selebihnya biar kami yang bekerja!" timpal Ki Santang memotong perkataan Padmasari.


"Termasuk saat ini juga!"


"Sekarang?"


"Kita lihat!"


Yang terlihat di luar adalah sosok Adijaya sedang tertidur pulas. Tapi dengan bantuan Ki Santang dan Padmasari, dia sedang meraga sukma ke alam guriang.


Di suatu tempat yang semuanya terlihat berwarna hitam. Sebuah ruang semesta yang tak terlihat ujungnya. Adijaya berdiri bersama dua guriangnya.


Saat melihat ke bawah, kedua kakinya entah berpijak atau melayang dia tak merasakan sama sekali.


Di depan mereka berdiri seorang lelaki yang tampilannya seumuran Ki Santang. Bisa dipastikan orang ini juga jelmaan guriang.


"Kenapa cuma satu yang dikirim?" Padmasari meledek.


Lelaki guriang di depan mereka tampak mengkelam wajahnya. Dia seperti sedang menahan sesuatu. Dia mengetahui jati diri sepasang guriang di hadapannya.


Bukan guriang jelata seperti dirinya. Mereka memiliki kedudukan penting di kalangan bangsanya. Tapi jeratan buhul yang menyiksanya membuat dirinya tak mampu menahan.


Ada seseorang dari bangsa manusia yang sedang mengendalikannya dari jauh. Dia ditugaskan untuk menangkap Ki Santang dan Padmasari untuk dijadikan budak seperti dirinya.


"Lakukan saja tugasmu!" seru Ki Santang mengerti apa yang dipikirkan mahluk sebangsanya itu.


Karena tak bisa menguasai dirinya sendiri akhirnya lelaki jelmaan guriang ini bergerak menyerang Ki Santang. Padmasari dan Adijaya mundur beberapa tindak.


Sebelum serangan datang, Ki Santang sudah menyambut duluan dengan menerjang ke depan. Pertarungan tangan kosong pun terjadi.


Yang terlihat memang seperti pertarungan manusia biasa. Tapi efek yang dihasilkan begitu dahsyat. Setiap benturan tangan atau kaki menimbulkan getaran yang mirip gempa.


Kalau terjadi di alam manusia mungkin sudah gempa yang benar-benat nyata. Adijaya sampai memegang dadanya yang berdebar kencang.


Dilihat dari sudut pandang manusia, kepandaian Ki Santang tampak lebih unggul dari lawannya. Tapi entah kenapa wujud asli Payung Terbangnya ini seolah sengaja mengulur waktu.


"Dia sedang berusaha menolongnya," kata Padmasari mengetahui apa yang ada di pikiran Adijaya.


"Menolong?"


Lalu Adijaya ingat penjelasan Padmasari sebelumnya tentang sepuluh guriang yang terjerat buhul sakti yang akhirnya terpaksa jadi budak manusia.


Dia baru tahu ada manusia yang ingin menguasai bangsa dari alam lain. Ada pepatah bilang, binatang buas tapi manusia lebih buas. Dedemit serakah tapi manusia lebih serakah.


Adijaya sendiri bisa memiliki abdi dari mahluk guriang bukan kemauannya. Tapi buah dari kebaikan yang dia lakukan.

__ADS_1


"Kenapa dia sepertinya takut setelah melihat kalian?" tanya Adijaya kemudian.


"Karena dia tahu jati diri kami, dia dari kalangan jelata sedangkan kami mempunyai kedudukan di kerajaan guriang,"


Adijaya tercekat. Dia bingung kenapa bisa mengabdi padanya sedangkan mereka sendiri punya kedudukan penting di alamnya.


Padmasari yang bisa membaca pikiran Adijaya menjawab. "Raja kami memaklumi, juga apa yang kami lakukan tidak akan mengganggu tugas kami,"


Adijaya mengerti dulu mereka mendapat hukuman mungkin karena lalai dalam tugas. Walaupun yang dituturkan kepadanya berbeda.


"Terus tugas kalian apa?"


"Salah satunya menyelamatkan bangsa kami yang terjerat seperti mereka,"


"Kalau sedang menjalani hukuman bagaimana?"


"Bangsa kami juga seperti manusia , banyak jumlahnya. Kalau ada yang dihukum, masih banyak petugas lainnya,"


Brugh!


Percakapan mereka terhenti ketika Ki Santang berhasil menjatuhkan lawannya. Ki Santang menunjukan sesuatu dalam genggaman tangannya kepada lawannya itu.


Lelaki guriang itu terkejut tapi juga tampak cerah wajahnya, dia menahan kegembiraan dengan pura-pura bersikap sinis.


"Aku telah menyusupkan yang palsu sebagai gantinya," kata Ki Santang. "Kau pura-pura saja!"


"Katakan kepada majikanmu tentang kami dengan sejujurnya!" timpal Padmasari.


Kemudian lelaki itu lenyap secara tiba-tiba.


"Apa kita akan langsung bergerak?" tanya Padmasari.


"Santai saja, biarkan mereka yang datang sendiri. Juragan kita juga masih butuh istirahat. Dia masih kangen sama calon istrinya,"


Padmasari tersenyum ke arah Adijaya. "Calon istrimu ternyata unik, mungil. Tapi gadis bernama Sekar Kusuma juga cantik. Kau nikahi saja dua-duanya. Aku bisa mengaturnya!"


Adijaya tampak memerah wajahnya. Bagaimana bisa perempuan guriang ini berpikiran seperti itu.


"Sudah, sudah jangan menggodanya!"


Kemudian mereka kembali. Dalam artian sukma Adijaya yang kembali ke tubuhnya. Juga sepasang guriang itu.


Malam masih lumayan panjang menuju pagi. Adijaya benar-benar terlelap sekarang. Sepasang guriang juga tidak terdengar lagi suaranya.


Apa mereka juga bisa tidur? Ah! Sudahlah, tidak semua tentang mereka harus diketahui.

__ADS_1


__ADS_2