
Di sebuah pasar desa. Seorang gadis cantik berkulit sawo matang menjadi pusat perhatian orang-orang lewat karena pesonanya yang anggun dambaan setiap lelaki.
Gadis bernama Rara Intan ini sedang menunggu seseorang di samping gapura pintu masuk ke pasar. Beberapa orang menyapa basa-basi sebelum berlalu. Ada yang sendiri, ada yang sepasang, ada juga yang banyakan.
Rara Intan sengaja pergi ke pasar karena sudah janjian dengan seorang lelaki yang kini mengisi hatinya. Hatinya begitu berbunga-bunga karena akhirnya bisa mendapatkan laki-laki yang selama ini diidam-idamkannya.
Impiannya dipersunting seorang pejabat muda kini sudah di depan mata. Banyak orang yang berpendapat mereka cocok. Yang satu pejabat muda gagah tampan dan yang satunya gadis kembang desa yang cantik dan anggun.
Tengah asyik menunggu sang kekasih, ada seorang bocah kumal sepertinya gelandangan menghampiri. Rara sedikit tersurut seolah tak mau kena sentuh anak ini.
"Teteh, ada orang menunggu di sana," kata si bocah sambil menunjuk ke jalan kecil. "Teteh disuruh ke sana."
Si bocah dekil pergi lagi. Rara Intan masih terpaku. Anak itu sungguh-sungguh atau cuma main-main? Tapi penasaran juga. Apa mungkin calon suaminya yang menunggu di sana? Lalu melangkahlah kakinya menuju ke sana.
Sampai di dekat jalan kecil itu, sebelum masuk Rara mengintip dulu. Tidak ada orang. Tampak lengang. Keadaan sekitar juga sudah sepi. Yang ramai hanya di dalam pasar. Sangat kebetulan juga di jalan itu tak ada yang lewat.
Masih penasaran akhirnya gadis ini masuk ke jalan kecil itu.
Sampai sejauh lima tombak. Tak sempat tahu apa yang terjadi, dia hanya merasa tiba-tiba badannya seperti tersengat lalu pandangannya gelap. Setelah itu dia tak sadarkan diri.
Di depan gapura, seorang lelaki gagah berpakaian mewah yang baru datang tampak celingak-celinguk mencari seseorang. Dia tidak tahu orang yang dicarinya masuk jalan kecil dan entah apa nasib yang akan dialami.
***
Rara Intan membuka kedua matanya. Tubuhnya terasa lemas seolah berat untuk bergerak. Setelah menyesuaikan dengan keadaan, barulah dia sadar. Dia berada di sebuah ruangan seperti kamar tidur tapi tak ada jendela satupun di setiap sisinya kecuali sebuah pintu di depannya.
Ternyata Rara Intan dalam posisi menyandar ke dinding. Dia ingat, tadi masuk ke jalan kecil di dekat gapura lalu tiba-tiba tubuhnya sepeti ada yang menyengat. Dan sekarang tahu-tahu sudah ada di sini. Tempat apa ini? Siapa yang membawanya?
Beberapa pertanyaan muncul di otaknya. Perasaannya juga mendadak tidak enak. Dia takut sesuatu hal buruk akan menimpanya.
Suasana tampak remang. Cahaya datang menembus dari atap yang sudah tak rapi. Tak terurus. Seperti di dalam kamar rumah kosong. Tidak terdengar suara apapun di dalam atau dari luar. Sepertinya ini tempat yang terpencil.
Rara Intan tak mampu menggerakkan badannya. Efek sengatan tadi sangat kuat bagaikan menyedot habis darahnya. Benda apa yang menyengatnya? Apa mungkin itu sebuah ajian ilmu kanuragan?
__ADS_1
Pintu terbuka, seseorang masuk. Seorang lelaki. Dan, sepertinya Rara Intan mengenalnya.
"Kau?" ucap Rara Intan lirih akibat masih terasa lemas seluruh badannya. Walaupun ruangan agak gelap tapi Rara Intan masih bisa mengenali laki-laki itu.
Lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam ini tersenyum. Senyum sinis, bahkan sorot matanya bengis memunculkan kesan sadis. Rara Intan menjadi tegang melihatnya. Lelaki ini tampak berbeda dari sebelumnya yang dia kenal. Bagai orang asing.
"Kenapa kau lakukan ini?"
Senyum lelaki ini berubah jadi tawa yang menyeramkan. Bagai raksasa yang hendak menelan mangsanya.
"Aku belum bisa melupakan," ujar lelaki itu. Suaranya besar. "Melupakan sakit hati ini,"
"Jadi mau apa kau? Jangan macam-macam kau! Calon suamiku seorang pejabat, kau bisa dipenggal!"
Si lelaki tertawa seram lagi. "Aku tidak takut! Aku hanya ingin membalas sakit hatiku!"
Tatapan lelaki ini seperti macan kelaparan. Napasnya memburu. Rahangnya mengeras. Dia ingin menumpahkan segala dendam kesumatnya selama ini. Betapa bencinya dia terhadap Rara Intan. Dan betapa sakit hatinya bila mengingat perlakuan gadis itu terhadapnya dulu.
"Jangan gila!" Ingin rasanya Rara Intan teriak tapi tubuhnya yang bagai lumpuh tak mendukungnya. Suaranya malah jadi serak.
"Saatnya kamuh merasakan pembalasanku!"
Rara Intan pasrah tak bisa melawan tenaga yang begitu kuat sampai akhirnya dia tak merasakan apa-apa lagi.
***
Sebuah kereta kuda berhenti di depan gapura rumah yang cukup besar. Di samping dalam gapura itu ada tempat penjagaan. Seseorang turun dari kereta. Lalu menurunkan sebuah peti kayu dan meletakannya di depan gapura.
Seperti dikejar-kejar, orang ini buru-buru naik kembali ke kereta dan segera menggebrak kudanya.
Seorang penjaga yang melihatnya dari tadi serta merta keluar seperti hendak mengejar tapi terhenti begitu melihat peti menghalangi jalan.
"Ada apa?" Seorang penjaga yang lain keluar langsung bertanya.
__ADS_1
"Ada orang menaruh peti!" Penjaga pertama menunjuk ke arah peti.
"Apa isinya?"
"Tidak tahu, kita periksa aja!"
"Ayo!"
Kedua orang ini segera mencoba membuka peti yang memang besar seperti peti mati. Ternyata tak sulit karena tak dikunci. Tapi apa yang dilihat kemudian setelah peti terbuka?
Bola mata mereka terbelalak hampir meloncat dari tempatnya. Salah satu dari mereka segera berlari sambil teriak-teriak memanggil majikannya. Membuat seisi rumah itu menjadi geger.
Apalagi setelah melihat isi peti yang dikirim orang misterius itu.
***
Puspasari tergesa-gesa menaiki puncak bukit bedul. Dia ingin segera ketemu Adijaya untuk memberitahukan tentang berita pembunuhan yang menimpa Rara Intan.
Sampai di sana dua nenek bermuka seram menyambutnya. Si Gadis jadi segan dan agak takut sedikit , dia melihat Adijaya sedang duduk di bangku kecil di depan rumah.
"Adijaya, calon istri keduamu datang!" seru Nini Bedul sambil cekikikan. Walaupun bercanda Tapi tetap saja suaranya terdengar menyeramkan.
Sedangkan Nyai Gandalaras hanya menatap tajam. Puspasari tak berani menatapnya dia melirik Adijaya seolah meminta pertolongan agar segera mendekatinya.
Pemuda yang penampilannya semakin gagah ini pun segera menghampiri Puspasari.
"Ada apa?"
"Ada pembunuhan lagi, petunjuknya sama seperti pembunuhan Arum Honje,"
Kemudian Adijaya membawa gadis itu ke tempat yang lebih nyaman. Mereka duduk di sebuah batu besar yang terdapat di sekitar halaman rumah itu.
Sementara dua nenek bermuka seram itu sudah tidak kelihatan lagi.
__ADS_1
"Siapa korbannya?" tanya Adijaya kemudian.
"Namanya Rara Intan, Putri ketiga juragan Gumara orang terkaya di desa Jati Waringin. Mayat Rara Intan ditemukan di dalam sebuah peti yang dikirim oleh seseorang yang misterius."