Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Lima Beruang Merah


__ADS_3

"Aku adalah kerabat Nyai Sukarti!" seru Cakra Diwangsa sekali lagi.


Lima orang itu tertegun sejenak mendengar nama pemimpin Lembah Kupu-kupu itu.


"Tadi jual tampang, sekarang kau jual nama!" teriak si brewok yang paling depan.


"Kau pikir kami percaya, hah!" sahut yang lain disambut dengan tawa.


"Turun kalian! Sekarang tidak ada ampun lagi. Serahkan semua barang berharga kalian atau nyawa kalian sebagai gantinya!" ancam si brewok yang paling depan lagi.


"Bilang saja dari tadi kalau kalian mau merampok!" seru Adijaya.


Sambil berseru tadi sosoknya sudah melesat keluar dari kereta. Tidak langsung mendarat tapi melayang terbang di atas lima orang brewok ini. Tangan kanannya sudah memegang payung terbang. Adijaya terbang berputar-putar membuat lima brewok kebingungan.


"Mau pamer dia, serang!" aba-aba salah satu brewok.


Tentu saja mereka menganggap enteng lawan yang hanya seorang pemuda.


Lima orang meloncat. Lima golok menderu. Menyasar kaki, pinggang hingga perut Adijaya. Ilmu meringankan tubuh lima brewok ini ternyata tinggi sehingga mampu melompat tinggi hampir menyamai ketinggian Adijaya saat melayang.


Wukk!


Lima serangan luput karena dengan mudah Adijaya melesatkan badannya lebih atas lagi. Lima brewok mendarat lagi begitu serangan mereka gagal.


Tetapi tidak disangka begitu menginjakan kaki di tanah, tahu-tahu sosok Adijaya sudah meluncur cepat mengirimkan tendangan. Tak dapat menghindar lagi kening kelima orang ini terkena hantaman kaki Adijaya dalam sekali gerak.


Duk! Duk! Duk!


Duk! Duk!


Lima brewok terjengkang, sementara Adijaya melayang lagi ke atas sambil tersenyum mengejek.


"Turun kau, jurig gelo!" umpat salah satu si brewok setelah dia dan kawan-kawannya sudah berdiri lagi.


Adijaya pun turun. Mendarat dengan pelan dan indah. Lima brewok langsung mengurung dan menyerang dengan menyabetkan goloknya seperti hendak membelah kayu.


Pendekar Payung Terbang merendahkan tubuhnya. Jongkok. Payungnya melindungi kepalanya.

__ADS_1


Trang! Trang!


Babatan Lima golok mengenai daun payung. Walau dari kulit tipis tapi kuat seperti baja sehingga sabetan golok itu mental kembali. Hampir saja kelima brewok ini kehilangan senjatanya kalau genggamannya tidak kuat.


Kejap berikutnya Adijaya bangkit lagi sambil menyabetkan dan memutar payungnya.


Wutt! Wussh!


Dari sambaran payung itu menghembuskan angin padat yang menghantam dada lima brewok.


Dess!


Sekali lagi mereka terjengkang hampir jatuh kalau tidak segera mengimbangi tubuh.


"Payung Menghempas Badai!" seru Adijaya secara 'spontan' saja menyebut nama jurus.


Ini baru kali pertama menamai jurus ciptaannya.


Payung terlipat lalu diangkat seperti menodong. Sesungging senyum menghiasi wajah Adijaya. Seandainya ada perempuan yang melihat senyumnya, pasti akan terpikat.


"Julukannya Pendekar Payung Terbang!" seru Cakra Diwangsa dari dalam kereta.


"Rupanya ada anak baru kemarin sore


mau cari nama!" seru si brewok masih saja jumawa meski sudah dua kali dipukul mundur.


"Beruang Mengamuk Mencabik Mangsa!" seru si brewok yang lain memberi aba-aba.


Kelima brewok ini membentuk 'formasi' sebuah jurus. Jurus berkelompok. Senjata golok masih tergenggam di tangan. Adijaya ingat jurus dan ilmu Cakrageni milik ayah dan komplotannya.


Kejap berikutnya lima brewok sudah menyerang dengan jurus berkelompok 'Beruang Mengamuk Mencabik Mangsa'. Jurus yang melambungkan nama mereka, Lima Beruang Merah.


Biasanya Adijaya hanya menggunakan tangan kosong. Tapi karena lawan menggunakan senjata maka dia pun menggunakan payung sakti jelmaan guriangnya. Seperti biasa jurus-jurusnya terbentuk dengan sendirinya mengikuti gerakan lawan. Senjata payungnya kadang terbuka kadang tertutup. Terbuka digunakan untuk tameng, tertutup digunakan untuk menangkis atau bahkan menyerang.


Cakra Diwangsa terpana melihat permainan jurus Adijaya yang memukau. Indah tapi ganas. Belum ada satu pun senjata lawan yang berhasil melukainya. Tak sadar dia berdecak kagum. Baginya ini pengalaman pertama bertualang di luar istana. Karena sebelumnya hidupnya hanya berkutat di dalam istana. Jarang keluar.


Diam-diam dia juga tertarik mempelajari lebih dalam lagi tentang ilmu silat. Tapi di usianya yang hampir tiga puluh, apakah bisa?

__ADS_1


Sepasang mata Cakra Diwangsa hampir tak pernah berkedip melihat pertarungan lima lawan satu yang menurutnya seru karena baru pertama kali melihat.


Ada gerakan yang dapat diikuti oleh matanya ada juga yang sangat cepat tak bisa ditangkap oleh pandangannya. Terutama gerakan Adijaya. Kadang terlihat seperti gerakan lambat, tapi tiba-tiba saja pemuda itu sudah berpindah tempat membuat kelima lawannya bingung hingga mengacaukan formasi jurus mereka.


Jurus berkelompok yang diperagakan Lima Beruang Merah yang sudah solid, sempurna, mantap, teratur dan rapat tak memberi celah kepada lawan kini buyar untuk pertama kalinya oleh seorang pemuda bersenjatakan payung.


Mereka juga tidak tahu gerakan apa yang dilakukan Adijaya karena tak terlihat oleh mata telanjang. Tahu-tahu golok mereka berbenturan dengan payung...


Traang...!


Lima golok mental lepas dari genggaman. Lima brewok bagai terhempas badai tubuh mereka jatuh bergulingan. Dada terasa sesak. Di sudut bibir tampak cairan merah menetes. Luka dalam.


"Payung Menusuk Badai!" seru Adijaya menyebut nama jurus barunya. Seperti tadi sambil tersenyum dan mengangkat payung tertutup seperti sedang menodong.


Sebenarnya dia bisa melakukan pertarungan seperti ketika melawan Ganggasara. Menggunakan hawa sakti saja. Tapi dia pikir tidak seru kalau tidak sambil gerak-gerak membentuk pola jurus. Lagi pula lawannya juga tidak sesakti Ganggasara walaupun berlima.


Lima Beruang Merah sudah duduk bersila mengatur nafas dan aliran darahnya yang kacau juga menggunakan hawa sakti untuk mengobati luka dalamnya. Mereka yakin pemuda itu tidak akan membokong. Mereka mengakui kehebatan Adijaya tapi hanya dalam hati. Dan mereka juga tahu orang baik tidak akan berbuat curang. Berarti mereka menganggap Adijaya orang baik. Bukankah dua orang itu hendak ke Lembah Kupu-kupu?


Adijaya sudah berada di kereta lagi. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju Lembah Kupu-kupu meninggalkan lima brewok yang masih menyembuhkan luka dalam.


"Melihat permainan jurusmu, aku jadi tertarik mendalami ilmu silat," kata Cakra Diwangsa.


"Apakah Raden punya guru?"


"Hanya guru silat istana. Menurutmu aku harus berguru ke siapa?"


"Sahabat dekat kakek Raden,"


"Ki Brajaseti?"


"Ya, beliau seorang pendekar seangkatan Ki Ranggasura,"


"Apa dia mau menerimaku sebagai muridnya?"


"Tentu saja, pertama beliau sahabat Prabu Satyaguna. Kedua, bukankah beliau ingin ikut serta membantu kita karena rasa persahabatannya dengan sang Prabu,"


Cakra Diwangsa merenung sejenak. "Ya, setelah masalah ini selesai aku akan memohon kepadanya agar menjadi guruku."

__ADS_1


Jalan yang mereka lewati tampak memutar karena mengelilingi bukit. Jalan ini sengaja dibuat demikian agar tidak ada jalur yang menanjak. Jika ingin melalui jalur singkat tentu saja harus mendaki bukit yang tidak memungkinkan menggunakan kereta kuda.


Lagi pula, seperti kata Lima Beruang Merah tadi, yang datang ke Lembah Kupu-kupu hanya para bangsawan atau saudagar kaya saja. Jadi mereka tidak mungkin melewati jalan yang menyusahkan. Pastinya mengambil jalan yang lebih mudah meski harus berputar dulu.


__ADS_2