
Seorang gadis berumur sembilan belas tahun tampak berlari ketakutan. Tangan kanannya menggenggam pedang. Dari sikapnya jelas dia sedang menghindari pengejaran. Beberapa bekas perkelahian terlihat di tubuhnya yang langsing dan indah.
Sesekali gadis ini menoleh ke belakang, memastikan pengejarnya jauh tertinggal. Tapi dia belum merasa tenang. Dia terus berlari dengan sisa tenaganya. Gadis berwajah lonjong dengan hidung lancip, bibir tipis dan mata lentik ini sudah tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya karena kekurangan tenaga.
Rambut hitam panjangnya berkibar riap-riapan karena dibiarkan tergerai tanpa ikat kepala atau ikat rambut. Keringat membasahi wajah dan badannya. Kecantikannya tidak pudar walau ada beberapa goresan luka kecil di wajah dan lehernya yang jenjang.
Karena sudah tak terdengar lagi suara orang yang mengejarnya. Gadis ini menghentikan larinya. Dia mengatur napasnya yang terputus-putus. Pedang di tangannya menopang ke tanah.
Gadis ini mengitarkan pandangan, dia sedang berada di jalan yang cukup lebar. Di pinggirnya terdapat banyak pepohonan yang tinggi. Tapi bukan hutan. Hanya tanah kosong yang mungkin belum ada orang untuk memanfaatkannya.
Beberapa saat setelah napasnya tenang dan tenaganya cukup pulih, tiba-tiba tiga sosok berkelebat langsung mengurungnya. Tiga orang lelaki berumur tiga puluhan. Dari tatapan mereka seperti tidak bermaksud buruk.
"Parwati, pulanglah. Tidak perlu seperti ini, kau jangan menyusahkan ayahmu!" bujuk salah seorang.
Si gadis bernama Parwati acungkan pedang. Siap bertarung seandainya mereka memaksa. Hatinya sudah bulat dengan keputusannya apapun yang akan terjadi.
"Aku tidak akan pulang sebelum membatalkan perjodohan!"
"Tapi ayah sudah berjanji, dan tidak mungkin mengingkari. Ini akan merusak nama baiknya!" Lelaki yang bicara ini sepertinya saudara Parwati. Tepatnya kakaknya.
"Demi nama baik, kenapa harus mengorbankan aku?" teriak Parwati wajahnya mengkelam. Dia merasa beban di pundaknya sangat berat. Apakah memang begini nasib anak perempuan, selalu dijadikan tumbal untuk sebuah nama baik.
"Itu karena Raksana yang memilihmu!"
"Seenaknya saja memilih, memangnya siapa dia?"
"Parwati, ingat ayah berutang banyak pada Juragan Somara!"
__ADS_1
"Kalau begitu aku yang akan melunasi, tapi tidak dengan cara menikahi laki-laki itu!"
"Keras kepala!"
Tiga orang ini bergerak hendak meringkus Parwati. Tapi si gadis putar pedang untuk melindungi dirinya. Sementara tiga lelaki ini tidak menyerang dengan sungguh-sungguh karena takut melukai si gadis. Mereka mencari kesempatan Parwati lengah.
Tapi tenaga Parwati sudah pulih sebagian. Dia bergerak lincah menutup semua celah. Bahkan berusaha melukai lawan meskipun mereka hanya berniat menangkap saja. Tiga orang ini terpaksa keluarkan senjata.
Dilihat dari pertukaran jurus ini, tampaknya Parwati lebih unggul jika hanya melawan satu orang. Ini menandakan tiga orang yang salah satunya adalah kakaknya itu kepandaian silatnya masih dibawah si gadis.
Namun, setelah puluhan jurus berlalu. Tenaga si gadis mulai berkurang lagi. Dia mulai terdesak. Walau begitu, tiga lawannya ini tetap hati-hati tidak ingin melukai Parwati. Hal ini dimanfaatkan si gadis untuk tetap bertahan dan mencari celah untuk melarikan diri seperti sebelumnya.
Dan kesempatan itu akhirnya didapatkan juga. Saat dia berhasil memperlebar jarak, Parwati menyerang salah satu dari mereka dengan gencar sehingga orang ini kerepotan. Pada saat seperti ini, kaki kanan Parwati berhasil menjejak dada orang itu sampai terdorong mundur lalu jatuh.
Kemudian Parwati segera menerobos celah yang terbuka itu. Dia melompat jauh sebelum berlari meninggalkan mereka. Dua orang lain yang berdiri segera mengejar.
Setelah dekat terlihat kereta itu ditarik dua ekor kuda karena ukurannya cukup besar. Di tempat kusir nampak sepasang pemuda duduk dengan wajah yang bahagia. Salah satunya memegang tali kekang.
Parwati menghadang kereta kuda yang melaju pelan sehingga tidak mengagetkan dua ekor kuda penariknya. Senyuman pemilik kereta kuda seketika hilang.
"Ki Sanak, tolong aku!" Napas Parwati terputus-putus. Lalu tanpa basa-basi lagi gadis ini naik dan langsung masuk ke dalam ruangan kereta dan menutup pintu.
Sepasang pemuda pemilik kereta kuda ini saling pandang. Sebelum mengetahui apa yang sedang dihadapi Parwati, di depan sana muncul tiga lelaki yang sedang berlari lalu berhenti di depan kuda.
"Maaf, Ki Sanak. Apa melihat seorang gadis lewat?" tanya salah seorang karena tidak mungkin orang di atas kereta kuda ini tidak melihat Parwati karena jaraknya yang dekat.
"Barusan dia hampir tertabrak, tapi dia sudah berlari lagi ke sana!" jawab yang perempuan sambil menunjuk ke belakang. Kebohongannya membuat Parwati bernapas lega di dalam.
__ADS_1
"Terima kasih!"
Ucapan itu terdengar setelah tiga orang ini berlari ke arah yang ditunjukan pemilik kereta.
...***...
Suasana tegang menyelimuti rumah Ki Lurah desa Rancawangi. Wajah Ki Wardana tampak pucat pasi. Dia tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Semua ini karena ulah putri bungsunya yang menolak menikah dengan Raksana anak juragan Somara.
Sebenarnya ada Utari putri ke dua Ki Wardana yang tidak kalah cantik. Namun, Raksana lebih memilih Parwati.
Perjodohan ini karena perjanjian Ki Wardana dengan Somara. Dulu saat desanya mengalami paceklik sehingga gagal panen, desa Rancawangi kekurangan bahan untuk upeti ke kerajaan.
Ki Wardana meminta bantuan Ki Somara saudagar kaya dari desa tetangga untuk menalangi upetinya. Namun, ada syarat dan perjanjiannya. Bantuan itu tidak cuma-cuma tapi merupakan utang yang harus dibayar. Ki Somara tidak meminta bunga, tapi salah satu putri Ki Wardana harus bersedia dinikahi putranya.
Lurah Rancawangi ini menyanggupi persyaratannya karena dia ingin terlihat bagus di mata pejabat kerajaan dengan menyerahkan upeti penuh walau desanya sedang paceklik.
Namun, seiring berjalannya waktu, paceklik yang melanda berkepanjangan. Utang upeti belum juga terbayar. Ki Somara sudah datang menagih. Ki Wardana hanya menyanggupi untuk menikahkan putrinya saja yang ternyata tidak masalah buat Ki Somara.
Kemudian putra Ki Somara yang bernama Raksana disuruh memilih antara Utari atau Parwati. Pilihannya jatuh ke Parwati, tapi sayang gadis itu langsung menolaknya dan kabur meninggalkan rumah.
Sudaliwa, anak tertua Ki Wardana bersama dua temannya segera mengejar Parwati.
Tentu saja Raksana merasa terhina atas penolakan ini. Amarah langsung meluap-luap karena sifatnya yang berangasan. Atas kejadian ini dia mengubah persyaratan jadi keputusan.
Dia memutuskan mengambil alih jabatan lurah. Ki Wardana bersama istrinya dipenjarakan. Sementara Utari dijadikan gundiknya. Sedangkan pernikahan dengan Parwati tetap dilaksanakan.
Maka Raksana memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari Parwati sampai dapat.
__ADS_1
Keluarga Ki Wardana yang sedikit memiliki ilmu silat sempat melawan karena keputusan ini jelas merugikan. Tapu mereka tak berdaya, anak buah raksana memiliki kepandaian yang lebih tinggi.