
Adijaya menduga setelah masuk gerbang ke tiga akan ada rintangan berupa alam liar lagi. Ternyata tidak ada. Hanya ada tanah lapang berumput saja. Namun, jarak menuju pintu gerbang cukup jauh juga. Sampai tiga puluhan tombak.
Akhirnya dengan santai Adijaya melangkah menuju gerbang ke empat. Padmasari mengiringi di sampingnya. Namun, setelah ratusan langkah sang pendekar merasakan ada keanehan.
Ya, pintu gerbang di depan sana sepertinya masih dalam jarak yang sama. Tidak mendekat sama sekali. Setelah diperhatikan ke bawah ternyata mereka berjalan di tempat.
"Walah! Aku kira tidak ada rintangan lagi!" umpat Adijaya.
Rintangan aneh ini cukup menggelikan. Meski sudah melompat jauh, tapi tetap kembali ke tempat semula. Lalu mencoba berlari, tetap saja berlari di tempat. Akhirnya melayang menggunakan Payung Terbang.
Memang mereka bisa melewati belasan tombak, tapi jarak ke pintu gerbang tetap sama. Seolah-olah gerbang itu menjauh. Terpaksa Adijaya hentikan langkahnya. Diam di tempat sambil mencari solusi.
Padmasari hanya angkat bahu ketika majikannya menatap penuh tanya.
"Coba kembali lagi!" Adijaya berbalik lalu melangkah pelan saja. Ternyata masih jalan di tempat. Akhirnya berhenti dan berbalik lagi. Dia merasa terjebak sekarang.
Adijaya garuk-garuk hidung sambil mendongak ke langit yang selalu terang. Lalu pandangannya turun berakhir di pintu gerbang yang kini tampak ada penjaganya. Kalau di alam kasar, mungkin sudah menghela napas kesal berkali-kali.
"Tidakkah kau punya sihir atau mantera yang bisa mengubah keadaan?" Adijaya meminta solusi kepada guriang pendampingnya.
"Akan aku coba!"
Sepasang tangan Padmasari mendorong udara sambil merapalkan sebuah mantera.
Tring!
Sebuah jembatan tangga melengkung muncul di depannya panjang sampai ke depan penjaga pintu gerbang. Ada undakan naik dan turun. Segera saja mereka berdua meniti tangga tersebut.
Ternyata usaha mereka berhasil. Akhirnya mereka sampai ke sana. Ujung tangga itu sejauh lima tombak dari tempat berdirinya penjaga gerbang. Adijaya tidak ragu-ragu untuk tertawa.
Benar-benar petualangan aneh. Adijaya tersenyum dan menghaturkan terima kasih kepada Padmasari. Lalu dia menoleh ke si penjaga gerbang dengan kepala di miringkan.
"Kita bertemu lagi, Kakek muka kuning!" ujar Adijaya yang mengenali sukma penjaga gerbang ke empat.
Berupa kakek kurus bermuka kuning. Semasa hidup dia memiliki ilmu sihir yang tinggi. Kalau tidak belajar kepada Padmasari, mungkin Adijaya tidak bisa mengalahkan kakek yang bernama Jerangkong Koneng ini.
Jerangkong Koneng tidak menjawab. Sikapnya datar, tapi tatapannya tajam.
"Aneh, kenapa mukanya tetap kuning, tidak pucat?"
"Coba teliti lagi, Juragan!"
__ADS_1
"Oh, iya!"
Walaupun kuning, tapi tetap terkesan pucat.
"Eh, dia tidak membawa tongkat!" seru Adijaya seolah-olah kaget. Memang benar Jerangkong Koneng hanya mengenakan jubah hitam.
Ketika Jerangkong Koneng mengangkat tangan hendak menyerang, Adijaya mencoba mencegahnya.
"Tunggu-tunggu, sebaiknya kita jangan berkelahi, Kek!"
Tapi ucapan Adijaya tak digubris sama sekali. Si kakek hantamkan tangan kanan ke depan.
Treeet!
Dari ujung jari-jari tangan si kakek keluar sinar kuning berbentuk kilatan petir. Hampir saja menyambar muka Adijaya kalau tidak segera mengelak.
Blarr!
Sinar petir menghantam tanah di belakang Adijaya dan menimbulkan ledakan cukup kuat.
"Aduh, Kek! Sebenarnya aku hendak membebaskanmu dari perbudakan sukma!"
Wussh! Blarr!
"Ayolah, Kek! Memangnya tidak tersiksa apa, dijadikan budak terus!"
Wussh! Blarr!
"Tiga, eh empat temanmu sudah selamat sebelumnya. Apa kau tidak mau bebas? Mau terkekang terus sama si jurig Kala-kala apa itu namanya, kok jadi lupa!"
Wussh! Blarr!
Begitulah Adijaya lompat ke sana kemari menghindari serangan sinar petir. Kadang-kadang kalau tidak sempat, terpaksa menggunakan payung sebagai perisai.
"Ki Santang, apa kau baik-baik saja?" Adijaya ingat dari awal payung itu sudah dijadikan andalan. Tidak seperti di alam kasar, jarang digunakan.
"Tenang saja, Juragan. Tidak ada yang bisa menghancurkan saya!"
"Baguslah, terima kasih!"
Wussh! Blarr!
__ADS_1
Kini Jerangkong Koneng menggunakan dua tangan menyerang Adijaya. Kilatan petir semakin banyak bagaikan hujan. Secepat-cepatnya gerakan Adijaya ternyata masih ada satu dua yang mengenai tubuhnya.
Treet!
"Ugh!" pekik Adijaya ketika merasakan sengatan listrik.
Tenaganya merasa tersedot oleh sengatan itu. Dia semakin susah mendekati lawannya. Sampai beberapa lamanya dia hanya berlindung di balik Payung Terbang.
Berkali-kali Adijaya melirik ke arah Padmasari, tapi wanita guriang itu juga tampak kebingungan apalagi sosoknya berada cukup jauh dari tempat pertarungan.
Lawan Adijaya semakin ke sini semakin bertambah kuat. Mungkin sudah saatnya guriang wanita ini membantu majikannya. Mengingat lawan Adijaya sewaktu hidupnya menjadi tukang sihir, maka Padmasari akan mencoba melawan dengan sihir.
Mungkin saja kilatan-kilatan petir yang melesat dari jari-jari Jerangkong Koneng merupakan sihir. Setelah membaca mantera, Padmasari hentakkan salah satu tangan ke atas.
Langit mendadak mendung, tapi tidak terlihat ada awan hitam di sana. Lalu turunlah hujan petir yang berwarna biru. Petir-petir ini menghantam setiap petir buatan Jerangkong Koneng.
Jadi sebelum hujan petir berwarna kuning mengancam Adijaya, hujan petir warna biru sudah menghalaunya lebih dulu.
Tess! Tess! Tess!
Sementara itu Jerangkong Koneng sepertinya tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi. Dia malah menambah lebih banyak lagi serangan petir.
Pada saat sukma kakek kurus muka kuning ini disibukkan dengan petir-petirnya. Adijaya bergerak mendekati si kakek dengan jalan memutar dalam jarak di luar jangkauan hujan petir si kakek.
"Sibukkan dia!" perintah Adijaya.
Akhirnya Adijaya berhasil berada di belakang Jerangkong Koneng, tapi jaraknya lumayan jauh. Butuh beberapa kejap untuk sampai meraih tengkuknya.
"Jangan sampai dia tahu aku ada di belakangnya. Jangan sampai dia berbalik!"
Perlahan Adijaya mendekat. Tiba-tiba dalam benaknya terlintas sesuatu. Kedua matanya tampak berbinar. Kemudian dia merapalkan ilmu Membelah Tanah Menarik Sukma.
Desss!
Tumit kanan menghantam bumi, lalu tanah seketika terbelah merembet sampai sepasang kaki Jerangkong Koneng. Kejap berikutnya kakek kurus bermuka kuning itu terjerembab ke dalam retakan tanah.
Segera saja Adijaya menjepitnya. Pemuda ini langsung kegirangan saat sukma Jerangkong Koneng kini tak berkutik terjepit tanah. Tentu saja girang karena ilmu ini berfungsi di alam lelembut.
Jerangkong Koneng tidak lagi mengeluarkan petir-petirnya. Sekarang dia sibuk melepaskan dirinya dari jepitan tanah, tapi tak ada suara keluhan, makian atau umpatan sedikitpun. Mungkin semua sukma yang masih terjerat buhul akan menjadi bisu.
Adijaya segera mendekat. Tangannya meraih tengkuk si kakek. Setelah terasa benda yang dicari dapat disentuh, lalu dicengkeram dan dicabutnya benda tersebut.
__ADS_1
Brett!
Sukma Jerangkong Koneng langsung mematung, tapi tidak jatuh berlutut karena posisinya yang terjepit.