Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Penjaga Kitab


__ADS_3

Adijaya sudah dapat menyirap keberadaan pengintai yang berjumlah puluhan. Mereka bersembunyi di balik semak belukar yang rapat. Di parit kebun dan juga di atas pohon. Dipastikan mereka terlatih dalam serangan berkelompok dan jarak jauh.


Ketika api unggun mulai membesar, seluruh cakrawala pun berubah hitam yang dihiasi gemerlap bintang. Langit malam tampak cerah. Udara siang yang panas karena musim kemarau perlahan berganti udara malam yang dingin.


Cakra Diwangsa tidak pernah menurunkan kewaspadaan. Dia sudah siap dengan segala kemungkinan. Sementara Adijaya selalu bersikap tenang.


"Sebaiknya kita ke dalam saja!" ajak Adijaya, lalu naik ke kereta tanpa menunggu persetujuan Cakra Diwangsa. Murid Ki Brajaseti pun mengikuti Adijaya.


Di dalam ruangan ternyata terang benderang. Cahaya ini berasal dari mutiara kerang siluman pemberian Ratu Siluman Kerang. Mutiaranya masih menempel di dalam cangkangnya.


Cangkangnya ini dibuka biar cahaya berpendar keluar lalu ditempel di salah satu sudut atap.


"Suiiiiiit!"


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara suitan melengking. Cakra Diwangsa bersiap hendak melabrak keluar, tapi Adijaya mencegahnya. Tak lama kemudian terdengar suara angin berkesiuran di seantero tempat. Adijaya buka salah satu jendela pintu depan.


Terlihatlah ratusan atau mungkin ribuan anak panah berapi dari berbagai arah menghujani pembakaran ranting di depan kereta kuda.


Cakra Diwangsa kerenyitkan kening. Adijaya malah tersenyum.


"Apa ini keajaiban lagi?" tanya Cakra Diwangsa sedikit berbisik. Karena menurut dugaannya pasti yang dibidik adalah kereta kuda. Apalagi panah-panah itu membawa api yang menyala. Jelas tujuannya ingin membakar kereta kuda.


Tapi ternyata ribuan anak panah itu malah meleset. Terpusat di api unggun.


"Lumayan, tidak perlu menambah ranting lagi!" ujar Asmarini juga tersenyum.


Sementara pasangan yang satunya dibuat terpukau dengan apa yang terjadi. Pantas saja Adijaya dan Asmarini selalu tenang-tenang saja. Mereka hanya berdecak kagum.


Lain lagi bagi penyerang yang melesatkan ribuan anak panah berapi. Menurut pandangan mereka, panah-panahnya berhasil membakar kereta kuda. Seperti biasa ini tehnik iusinya Padmasari.


Namun, mereka tidak merasakan keanehan. Yaitu tidak terdengar suara jeritan orang di dalam kereta. Mereka menganggap tugasnya berhasil dengan gemilang.


Setelah terdengar suara suitan yang kedua kali, puluhan pemanah yang sudah mahir ini berkelebat meninggalkan tempat itu.


"Mereka sudah pergi!" kata Adijaya sambil mendekatkan muka ke jendela. "Tapi masih ada kelompok lain, sepertinya bukan bagian dari kelompok pemanah tadi,"


"Pasti mereka berniat buruk lagi!" ujar Sekar Kusuma.


"Kita tunggu saja!"


Memang benar ada kelompok lain yang mengawasi rombongan Adijaya. Mereka adalah kelompok yang dipimpin Dirga Prana. Sesuai perintah majikannya, mereka bukan lagi hendak melenyapkan Adijaya, tapi untuk melindungi secara diam-diam.

__ADS_1


"Dinda istirahat saja, si kecil juga butuh istirahat!" suruh Adijaya kepada istrinya. Demikian juga Cakra Diwangsa. Dua lelaki ini berpindah tempat ke bagian kusir.


Cakra Diwangsa merasa tidak perlu cemas lagi kalau berada di kereta. Maka dia menyenderkan punggungnya ke sudut tempat itu. Dia berusaha lebih tenang lagi. Malah ternyata dia bisa tidur juga. Mungkin akibat kelelahan.


Pada saat itu tiba-tiba Adijaya mendengar suara Ki Santang yang biasanya tidak pernah begini.


"Juragan, ada yang ingin bertemu,"


"Siapa?"


"Temui saja dengan Ngaraga Sukma!"


Maka Adijaya segera menggunakan ajian Ngaraga Sukma. Setelah sukmanya keluar dari raga kasarnya, dia melihat sosok putih terang di seberang api unggun.


Sukma Adijaya melayang mendekati sosok yang ternyata berwujud seorang kakek seumuran Eyang Batara. Tubuhnya memancarkan cahaya yang begitu terang.


"Sampurasun," sapa Adijaya menjura dengan ramah dan sopan. Dia merasakan ada energi baik memancar kuat dari sosok si kakek.


"Rampes!"


"Kalau boleh tahu dengan siapakah saya berhadapan?"


"Panggil saja Kuncung Putih,"


"Aki Kuncung Putih,"


Si kakek tertawa pelan. Tawanya begitu renyah. Yang mendengarnya terasa damai. Energi baik yang terpancar membuat suasana hati menjadi tentram.


"Aku dengar kau berjodoh dengan kitab Hyang Sajati?"


"Benar, Aki!"


"Hmm... tujuanku adalah untuk meminta kitab itu!"


Adijaya tertegun sejenak, tapi malah merasa bebannya semakin ringan. Karena sejak awal juga dia kurang sreg dengan kitab itu walaupun berjodoh.


Makanya dengan mencari cara yang baik agar isi kitab tersampaikan kepada yang benar-benar berkaitan. Akhirnya ketemulah cara yang telah dia lakukan dulu ketika masih tinggal di padepokan Karang Bolong.


Sekarang kalau ada yang ingin memintanya, tidak menjadi masalah. Apalagi yang memintanya termasuk golongan makhluk yang baik.


Adijaya langsung meminta kitab itu kepada Ki Santang. Lalu disodorkannya ke si kakek bercahaya putih.

__ADS_1


"Kenapa kau percaya padaku?"


"Saya percaya Aki baik!"


Si kakek menerima kitab itu. "Kitab ini akan kuganti namanya menjadi Buana Sampurna. Setiap seratus tahun akan ada orang yang berjodoh dengannya,"


"Aki akan menunggu setiap seratus tahun?"


Si kakek mengangguk pelan. "Satu lagi, setelah kau kembali ke tempatmu, maka kau sudah hapal isi kitab ini di luar kepala,"


"Terima kasih, Aki!" Adijaya sangat percaya dengan ucapan Kuncung Putih walau sebenarnya dia tidak terlalu menginginkan hapal kitab itu.


"Terima kasih juga atas kepercayaanmu, aku pamit. Sampurasun!"


"Rampes!"


Pada saat Adijaya membalas salamnya, Kuncung Putih sudah tak terlihat lagi sosoknya. Adijaya kembali ke raga kasarnya. Lalu dia menghela napas panjang.


***


Waktu terasa begitu cepat. Pagi telah menyapa dengan ramah. Dihiasi suara kicauan burung dan ayam jantan yang bersahutan.


Kereta kuda mewah telah melaju di jalanan datar membawa dua pasangan penumpangnya. Begitulah secara diam-diam kelompok yang dipimpin Dirga Prana mengikuti rombongan Adijaya.


Kota raja Tarumanagara masih jauh, tapi informasi mengenai kejadian yang menimpa Adijaya cepat sampai ke istana. Sistem pencari informasi dari istana ternyata bisa dibilang luar biasa.


Kejadian apapun bentuknya walaupun jauh di pelosok, maka dalam waktu satu hari sudah tersampaikan ke istana.


Cakra Diwangsa sudah bisa lebih tenang lagi. Dia dan Adijaya tetap berada di tempat kusir. Sementara para istri sudah asyik berbincang-bincang santai.


Tentu saja penampakan kereta kuda yang masih utuh bersama para penghuninya membuat kaget dalang yang berada di belakang para pemanah ulung itu.


Padahal salah satu di antara pasukan pemanah adalah dia. Dia benar-benar menyaksikan ribuan panah berapi membakar kereta itu. Kenapa sekarang kereta itu masih utuh?


Berbagai dugaan muncul dalam benaknya. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan menggunakan cara lain demi melenyapkan Adijaya.


________


Ratusan tahun kemudian kitab Buana Sampurna berjodoh dengan Santana. Baca novelnya yang berjudul TERPAKSA JADI PENDEKAR di aplikasi kuning.


Baca dan nikmati...

__ADS_1


__ADS_2