Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Ki Rampal


__ADS_3

"Ada apa Kakang?" Miranti panik, dia malah memeluk Adijaya.


Di kamar sebelah terdengar tangisan pilu menyayat hati. Winengsih pasti tewas terkena serangan gelap itu.


"Ada seseorang yang ingin membunuhmu dan juga temanmu!" jelas Adijaya. "Sebaiknya lekas kamu katakan di mana Jaladipa dan Singgih berada?"


Miranti gemetar. Di luar ruangan sudah terdengar lagi beberapa orang menangis. Dia tidak mengerti apa yang terjadi.


"Temanmu sudah jadi korban, untung kau selamat!"


"Tapi aku sungguh tidak tahu di mana mereka sekarang. Yang aku tahu mereka murid Ki Sanca,"


"Siapa Ki Sanca?"


"Pemimpin padepokan Sanca Wulung,"


"Di mana tempatnya"?


"Di hutan Panyawangan."


Adijaya memeluk wanita ini untuk menenangkan. Hasrat untuk bercinta kini hilang setelah ada kejadian ini.


Cakra Diwangsa masuk dengan wajah kecewa. Tapi tampak lega begitu melihat Miranti baik-baik saja.


"Saya sudah tahu!" ujar Adijaya yang membuat cucu Prabu Saytaguna itu kini merasa lega.


Cakara Diwangsa tetap memberikan bayaran sesuai yang diminta Nyai Sukarti. Malah ditambah tiga kali lipat sebagai bentuk tanggung jawab dan belasungkawa atas tewasnya Winengsih.


Dengan berat hati karena tidak bisa ikut menguburkan jasad Winengsih, Cakra Diwangsa dan Adijaya meninggalkan Lembah Kupu-kupu. Sementara Miranti tampak sedih berlipat ganda. Selain karena kematian temannya, juga karena ditinggalkan Adijaya. Wanita ini sudah jatuh hati kepada pemuda itu.


Dalam perjalanan Adijaya membeberkan keterangan yang diperoleh dari Miranti. Cakra Diwangsa sadar bahwa dalam pencariannya ada yang menguntit dan mencoba membungkam orang-orang yang terlibat agar tidak memberikan keterangan. Beruntungnya ada satu orang yang selamat.


"Menurutmu apa penyerang gelap itu mengetahui salah satu sasarannya selamat?" tanya Cakra Diwangsa.


"Tidak, karena dia sekaligus melemparkan dua senjata ini bersamaan lalu cepat kabur," Adijaya mengacungkan senjata pisau kecil yang berbentuk ular itu.


"Sepertinya itu senjata sekaligus sebuah lambang,"


"Ya, padepokan Sanca Wulung,"


"Untung Miranti segera memberi tahu, kalau tidak kita akan memakan waktu lebih lama lagi untuk mencari tahu tentang senjata itu,"

__ADS_1


Sebenarnya Adijaya sudah merasakan sejak dari desa Gantar ada seseorang yang mengikuti. Hanya dia menahan diri, menunggu siapa yang menguntit mereka.


"Sepertinya si Tuan Besar itu sudah mengetahui rencana kita," kata Adijaya.


"Sejak kapan?"


"Sejak di desa Gantar. Dia mengetahui Raden mencari Jaladipa dan Singgih. Lalu dia mengirim orang untuk membunuh Miranti dan Winengsih. Hanya saja agak terlambat,"


"Hmmh, Tuan Besar, dia pasti dalangnya. Tapi siapa dia?"


"Kalau kita menanyakan kepada Nyai Sukarti, dia akan curiga. Untungnya Raden segera mengerti dan seolah-olah orang dekat dengan si Tuan Besar,"


"Ya, benar. Lalu lima orang brewokan yang menghadang kita?"


"Semula saya mengira mereka juga bagian dari si Tuan Besar yang sengaja untuk memperlambat kita ke Lembah Kupu-kupu. Tapi ternyata bukan. Dan untungnya lagi kita yang lebih dulu datang ke lembah itu,"


Cakra Diwangsa hempaskan nafas dari hidungnya. "Sekarang kita cari tahu letak hutan Panyawangan,"


"Raden belum tahu?"


Cakra Diwangsa menggeleng.


Sampai di tempat semula mereka dihadang lima brewok berbaju merah, mereka hentikan laju kereta. Lima brewok yang berjuluk Lima Beruang Merah itu telah menghadang lagi. Kali ini mereka bersama seorang kakek yang juga berpakaian serba merah, tapi tidak brewokan. Wajahnya kelimis sehingga nampak kerutan-kerutan tuanya.


"Suruh temanmu si Payung Terbang turun, hadapi guru kami, Ki Rampal!" jawab salah satu brewok lantang.


"Kita masih punya banyak waktu?" tanya Adijaya pelan.


"Sebenarnya masih, tapi aku sudah malas. Apa kau bisa menunjukan ilmu yang lebih dahyat?"


Adijaya tersenyum. "Dikiranya aku tukang lais" umpatnya tapi dalam hati.


Lalu Adijaya turun. Berdiri di depan kereta. Jarak dia dengan Ki Rampal sekitar tujuh tombak.


"Yang benar saja, kalian yang berlima saja kalah apalagi dia cuma satu orang!" ejek Adijaya.


Lima brewok menggeram marah. Termasuk Ki Rampal kedua matanya melotot tajam seperti hendak menerkam. Wajar saja, baru kali ini dia diremehkan. Oleh anak muda lagi.


"Jangan menghina guru kami, kau belum tahu siapa dia!"


"Aku sudah tahu, namanya Ki Rampal!"

__ADS_1


"Jurig gelo!"


"Sudahlah! Ki Rampal, siapkan seluruh kekuatan yang kau punya. Jangan tanggung-tanggung. Gunakan jurus atau ilmu pamungkasmu!" tantang Adijaya. Dia sudah membaca kekuatan yang dimiliki lawan. Masih di bawah Ganggasara. Kekuatan dari murid Birawayaksa itu sekarang menjadi patokan dalam mengukur ketinggian ilmu lawan.


Ki Rampal menggeram lagi. "Baru menetas sudah sombong kau anak muda!"


Kakek serba merah ini segera menghimpun hawa sakti. Ada benarnya juga dia langsung mengeluarkan ilmu yang paling diandalkannya. Mengingat keterangan yang diberikan murid-muridnya bahwa pemuda itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.


Seketika wajah Ki Rampal berwarna hijau dan kepalanya yang memiliki rambut agak gimbal mengeluarkan asap hitam.


Di tempatnya Adijaya juga sudah menghimpun hawa saktinya. Dia akan menyerang seperti waktu melawan Ganggasara. Lalu kedua tangannya berputar-putar seperti sedang mengundang angin.


Dan memang, sesaat kemudian angin di sekitar tempat itu bertiup kencang. Tangan Adijaya terus berputar di depan dada.


Werr!


Satu tombak di depan pemuda ini terbentuk pusaran angin meliuk-liuk tinggi. Ini adalah hawa sakti yang dikendalikan hingga membentuk seperti angin puyuh.


Di belakangnya hanya angin kencang biasa saja. Tapi di depannya, pusaran angin itu menyedot lima brewok bersama gurunya.


Tentu saja mereka kerahkan tenaga dalam agar tubuh mereka tidak tertarik ke dalam pusaran angin. Tidak menyangka, ilmu yang ditunjukan Adijaya lebih dahsyat lagi daripada sebelumnya.


Ki Rampal sendiri tampak meringis menahan tubuhnya agar tidak tersedot. Ternyata ucapan anak muda itu bukan main-main. Masih muda tapi memilik kekuatan yang begitu Dahsyat. Apa dia manusia titisan dewa? Begitulah yang ada di pikiran kakek serba merah ini.


Dua tangan Adijaya menyentak ke depan. Membuat gerakan mendorong. Angin puyuh bergerak mendekati lawan. Tenaga angin yang sangat kuat itu membuat pakaian mereka robek di bebepa tempat.


Wuussh!


Angin puyuh semakin dekat. Tubuh lima brewok dan gurunya semakin tertarik menuju pusaran. Tenaga mereka seakan lenyap. Lalu tubuh mereka seperti terpental menghantam pusaran angin.


Wer! Wer! Wer!


Blarrrr!


Saat menghantam angin itulah, pusaran angin buyar lalu meledak memuntahkan enam tubuh manusia yang tersedot itu. Tubuh Ki Rampal dan murid-muridnya terpental ke berbagai arah lalu jatuh bergulingan dengan mulut berdarah pertanda luka dalam.


Masih mending mereka belum tewas karena Adijaya sengaja mengatur kekuatannya agar tidak sampai membunuh.


Cakra Diwangsa tanpa henti berdecak kagum. Dahsyat dan juga mengerikan kekuatan yang ditunjukan Adijaya. Dia juga sempat berpikir, mungkinkah anak muda itu titisan dewa?


Angin kencang berhenti. Adijaya sudah naik ke kereta. Lalu kereta kembali melaju.

__ADS_1


"Bener-bener gelo, kamu!" ujar Cakra Diwangsa.


Adijaya hanya tersenyum kecil.


__ADS_2