
Rintangan yang menghalangi Adijaya agar tidak sampai tiba di kota raja atau bahkan ingin melenyapkannya seakan tidak pernah habis. Berita tentang maharaja yang ingin mengangkat Adijaya menjadi pejabat, telah membuat beberapa orang atau pejabat lain meradang.
Mereka tidak ingin Adijaya menempati posisi itu. Posisi yang Adijaya sendiri belum tahu. Ada apa ini? Apakah posisi itu sangat menjanjikan, atau berbahaya jika Adijaya yang menjabatnya?
Orang-orang yang dibayar untuk membunuh Adijaya dan istrinya pasti sudah membuntuti Cakra Diwangsa dan Sekar Kusuma sejak mereka pergi menjemputnya.
Dua kali selamat dari racun, terbebas dari jebakan jurang dan berhasil mengelabui pemanah ulung, membuat orang-orang yang menjadi dalang utama kehabisan akal.
Kenapa tidak menurunkan pendekar untuk membunuh langsung lewat pertarungan? Karena mereka tahu reputasi Adijaya sebagai Pendekar Payung Terbang cukup gemilang. Hampir tidak mengalami kekalahan.
Bahkan tokoh-tokoh paling berbahaya seperti Birawayaksa, Ganggasara, Jerangkong Koneng dan Gentasora sudah dibasmi oleh Adijaya.
Akan tetapi mereka belum mencoba menurunkan banyak pendekar sekaligus. Dalam arti dikeroyok banyak pendekar. Menariknya ternyata banyak pendekar yang mau dibayar untuk hal ini.
Seperti sekarang, tatkala sang mentari masih setinggi tombak. Ada sekitar dua puluh pendekar dengan berbagai macam senjata sudah menghadang perjalanan Adijaya.
"Perlu bantuanku?" Cakra Diwangsa mengajukan diri. Padahal dia merasa ngeri kalau harus menghadapi sebanyak ini.
"Yang mereka incar hanya aku,"
"Baiklah, aku yakin padamu, tapi aku akan turun tangan bila melihat gelagat buruk!"
Adijaya turun, melangkah ke depan mencari tempat yang lebih luas. Para pendekar bayaran sudah mengangkat senjata masing-masing. Hawa membunuh bergabung menjadi satu.
Pendekar Payung Terbang memasang wajah datar. Dia malah menarik napas dalam-dalam, padahal udara dipenuhi hawa jahat. Disalurkannya hawa sakti dari bunga melati berkelopak biru.
Aroma harum berpendar dari tubuh Adijaya yang memancarkan cahaya putih kebiruan. Kedua lutut menekuk sedikit, dua tangannya membentuk posisi pembuka jurus yang indah. Ini untuk pertama kalinya melakukan seperti ini.
Namun, ini bukan yang pertama kali Adijaya menghadapi keroyokan orang banyak. Dulu dia pernah dikeroyok satu kampung yang ternyata semua warganya adalah perampok. Dia juga pernah dikeroyok murid-murid padepokan Gunung Sindu.
Hanya bedanya kali ini, semuanya pendekar yang berpengalaman.
Pertarungan dua puluh lawan satu telah berlangsung. Cakra Diwangsa hampir tak bisa melihat gerakan Adijaya yang seperti bayangan. Sosoknya tak bisa disentuh. Setiap senjata yang menderu hanya menemui tempat kosong.
Bahkan sering berbenturan dengan senjata teman sendiri. Dulu sewaktu menyingkap kasus fitnah yang menimpa Prabu Satyaguna, Adijaya masih memiliki kekuatan dari lumut ungu.
Sekarang bukan lumut ungu lagi, karena kekuatan itu tiba-tiba hilang setelah bercinta dengan seorang gadis. Kemudian Adijaya mendapatkan kekuatan baru dari bunga melati berkelopak biru yang bernama Melati Tunjung Sampurna.
__ADS_1
Adijaya sengaja hanya mengelak dan menghindar, tapi bukan sembarangan menghindar. Gerakannya bisa mengacaukan serangan lawan. Inilah kelemahannya, walaupun jumlahnya lebih banyak, tapi mereka menyerang secara sendiri-sendiri.
Siapa yang dekat dan sempat, maka dia yang menyerang. Begitu seterusnya secara bergantian. Namun, serangan mereka tanpa koordinasi. Bukan sebuah formasi menyerang. Karena mereka datang dari tempat berbeda-beda.
Selagi terus bergerak mengacaukan serangan lawan, Adijaya mengukur jumlah keseluruhan kekuatan lawan jika digabungkan, lalu menghitung besar kekutan sendiri. Dia ingin menggunakan ajian Bantai Jagat.
Apakah ajian ini akan mampu melawan tenaga dalam gabungan mereka?
"Apa salahnya kalau dicoba!" gumam Adijaya lalu dia memutar dua tangan di atas kepala diakhir dengan bentakan ke dua sisi.
Wussh! Blam!
Satu gelombang angin dahsyat berhembus dari tangan Adijaya yang kini posisinya berada di tengah-tengah. Jika di lihat tepat dari atas, seperti air yang dijatuhi sebuah batu menimbulkan riak gelombang.
Seperti itulah angin yang keluar dari tangan Adijaya menghempas semua pendekar di sekelilingnya. Mereka terpental hingga jatuh bergulingan, tapi mereka tidak sampai mengalami luka dalam.
Dua puluh pendekar terkejut sekaligus kagum. Seandainya serangan ini lebih dahsyat lagi, mungkin nasib mereka akan lebih buruk. Di antara mereka ada yang sudah siap menyerang kembali, ada juga yang ciut nyali hingga mundur dari arena.
"Hah, masih ada yang belum jera juga!" umpat Adijaya. Sang pendekar siapkan lagi kekuatannya. Kini disalurkan ke kaki kanan.
Adijaya angkat kaki kanan yang sudah terisi tenaga dalam, mulutnya sambil merapal mantera. Terpaksa dia gunakan ilmu ini. Meski begitu dia tetap tidak mau membunuh lawan.
"Membelah Tanah Menarik Sukma!"
Desss!
Tumit Adijaya menghantam tanah membuat bumi serasa berguncang. Tanah yang diinjak para pendekar tiba-tiba terbelah. Semuanya tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Termasuk tiga orang di dalam kereta kuda.
Belum lenyap terkejutnya dikagetkan lagi dengan kekuatan yang menyedot mereka dari dalam tanah yang terbelah itu.
Brass!
Sepasang kaki mereka amblas ke dalam tanah sedalam lutut. Belum sempat melompat untuk menyelamatkan diri, tanah keburu tertutup dan menjepit kaki mereka. Wajah orang-orang ini tampak ketakutan merasakan kengerian ini.
Sekuat apapun tenaga mereka kerahkan, tidak mampu membebaskan dari himpitan tanah. Mereka sekarang tertanam sebatas lutut.
"Tenang saja, kalian akan terbebas setelah hari gelap!" ujar Adijaya sambil kembali naik ke kereta.
__ADS_1
Begitu di atas kereta Adijaya garuk-garuk kepala memandangi orang-orang yang tertanam itu menghalangi jalan.
"Waduh!" Adijaya tepuk jidat. "Ya sudah 'kapalang tanggung', Paman, Bibi, terbanglah!"
Maka kereta kuda pun terbang sejenak hanya untuk melintasi orang-orang yang tertanam. Selanjutnya berjalan seperti biasa lagi.
"Masih berapa banyak keanehan yang belum kau tunjukan?" tanya Cakra Diwangsa dengan sorot mata kagum yang tiada hentinya.
Di dalam, Sekar Kusuma juga menatap Asmarini penuh tanya.
"Aku baru melihat ilmu yang bisa membelah tanah itu," kata Asmarini sebagai jawaban.
"Itu aku dapatkan ketika menyelidiki kasus Purana," jawab Adijaya sambil menengok ke belakang kereta.
"Ada apa?" tanya Cakra Diwangsa langsung menduga pasti Adijaya merasakan sesuatu yang ganjil.
"Ada seseorang yang memperhatikan selama kejadian tadi,"
"Kenapa tidak menampakkan diri?"
"Dia hanya ingin membaca kekuatanku,"
Cakra Diwangsa menerawang, menduga-duga. Lawan Adijaya berikutnya pasti lebih berat.
***
Setelah kereta kuda menghilang. Muncul satu sosok yang langsung mengibaskan tangan. Segelombang angin berkiblat menghantam tanah.
Jgerr!
Orang-orang yang tertanam di tanah tercerabut sampai terpental lalu jatuh bergulingan. Mereka langsung berlutut sambil mengucapkan terima kasih.
"Pergilah!"
Merekapun pergi dengan langkah gontai karena kehilangan sebagian tenaganya. Tinggal orang yang baru datang itu berdiri memandang ke arah lenyapnya kereta kuda.
"Mengerikan!"
__ADS_1