Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Nenek Kembar


__ADS_3

Sampai di puncak bukit Adijaya dikejutkan oleh dua nenek yang berdiri di depan sebuah rumah kayu kecil. Yang satu Nini Bedul sendiri dan satu lagi inilah yang membuatnya terkejut.


"Nyai Gandalaras?"


"Kalau bukan karena dia, aku tidak sudi menyuruhmu naik!" seru Nini Bedul seperti biasa mirip orang marah.


Nyai Gandalaras berdiri mematung sambil menatap tajam bergantian ke arah Adijaya dan Puspasari. Segera saja Adijaya lepaskan pegangannya.


"Bagus, ya! Laki-laki memang buaya. Mentang-mentang Kekasihmu sekarat, sekarang sudah punya gandengan baru!"


Adijaya menghela napas tenang. "Nenek jangan salah paham, aku baru mengenal dia," tunjuknya ke arah Puspasari.


Gadis ini bersemu merah wajahnya. Juga ada rasa seperti menyayat dalam hatinya ketika mendengar ucapan si nenek.


"Jangan banyak alasan!" bentak Nyai Gandalaras.


Tapi Adijaya tidak mendengarkan ocehan si nenek. Dia memandang berkeliling mencari sesuatu. Lalu berjalan-jalan di sekitar rumah itu.


Sampai di halaman belakang. Apa yang dicarinya ketemu. Dia langsung berlari ke sana. Terlihat tubuh Asmarini tengah direndam dalam air yang penuh dengan aneka macam bunga dalam sebuah kolam kecil. Hanya wajahnya saja yang putih itu muncul di permukaan.


"Dinda!" desis Adijaya menatap Asmarini yang sepertinya tidak sadarkan diri.


Tiga perempuan telah berdiri di belakang Adijaya. Dua nenek bermuka seram dan satu gadis yang sedang menahan perasaannya.


Ingat ketika Asmarini jadi pengantin yang tatapannya kosong, Adijaya menyimpulkan bahwa si gadis terkena pengaruh gendam. Kemudian Nyai Gandalaras membawanya ke tempat Nini Bedul yang ahli dalam ilmu gendam.


Kemungkinan Asmarini sedang disembuhkan dengan cara begini.


Adijaya berbalik, memperhatikan dua nenek itu satu persatu. Lalu tersenyum lucu.


"Kalian mirip, apa nenek berdua kembar?"


"Kalau iya, kenapa?" bentak Nini Bedul.


"Pantas, sama-sama galak!" Adijaya tertawa, tapi dua nenek tetap memasang wajah sinis.


Kembali Adijaya berbalik lalu jongkok di dekat kolam yang merendam Asmarini. Tangannya menjulur mengusap pipi gadis itu.


"Cepatlah pulih, Dinda!"


"Pengaruh gendamnya sangat kuat, aku tidak berhasil menemukan siapa orang yang telah menggendamnya," jelas Nini Bedul.


"Terima kasih Nini Bedul, kau telah sudi membantu Asmarini agar lepas dari pengaruh dendam,"

__ADS_1


"Tentu saja!" bentak Nini Bedul membuat Adijaya kaget. "Dia murid saudara kembarku, jadi aku wajib menolongnya!"


"Ternyata mereka benar-benar kembar!" batin Adijaya.


"Lantas mau kau apakan gadis ini?" tanya Nyai Gandalaras menunjuk Puspasari.


Adijaya memandang Puspasari yang dari tadi tidak mengeluarkan suaranya.


"Sebagai pendekar baik hati dan berbudi luhur, aku ingin membantu permasalahan yang menimpanya," kata Adijaya memandang si nenek sambil tersenyum kecil dan menggerak-gerakkan alisnya.


"Aku tidak butuh bantuanmu!" sahut Puspasari lalu melangkah pergi.


"Eh, eh!"


Adijaya jadi canggung, ingin mengejar si gadis tapi si nenek menatapnya tajam.


"Percayalah padaku, Nek!" katanya pelan lalu bergegas menyusul Puspasari.


***


Dengan sedikit bujukan akhirnya Puspasari bisa diajak bicara. Baru sebentar kenal, masa gadis ini sudah cemburu? Pikir Adijaya. Sementara niatnya membantu Puspasari benar-benar tulus.


"Seharusnya kau menunggui kekasihmu itu hingga sembuh," kata Puspasari. Nada suaranya jelas mengandung kecemburuan.


"Siapa nenek yang satunya itu?"


"Namanya Nyai Gandalaras, julukannya Pendekar Pedang Bunga, dia gurunya Asmarini,"


Adijaya membayangkan nenek kembar itu. Wajahnya memang mirip bentuk keseramannya. Hanya saja Nini Bedul badannya bungkuk. Adijaya juga yakin, Nini Bedul bukan nama aslinya.


Kenapa dia dinamai Nini Bedul? Ah, suatu saat dia akan menanyainya langsung.


"Kau sudah lama dengan Asmarini?"


Tanpa merasa peduli apa yang dirasakan Puspasari terhadapnya, Adijaya menceritakan secara gamblang tentang hubungannya dengan Asmarini dari awal bertemu hingga peristiwa menyedihkan yang menimpanya beberapa waktu yang lalu.


Sampai di sini Puspasari terkesiap,ternyata pemuda di sampingnya ini seorang pendekar yang sudah menorehkan namanya di dunia persilatan.


"Tidak pernah kuduga, aku bisa bertemu dengan pendekar yang dibela Maharaja,"


Adijaya jadi salah tingkah. Lalu sepasang pemuda ini sama-sama terdiam. Mereka telah duduk lagi di batu besar ketika Puspasari dirawat sebelumnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Adijaya.

__ADS_1


"Aku sudah baikan, terima kasih sudah menyembuhkan lukaku,"


"Tidak perlu sungkan, aku akan tetap membantumu, memulihkan nama baikmu!"


Mereka saling menatap. Diam-diam hati Puspasari merasa kecil setelah mendengar tentang Asmarini yang ternyata putri seorang patih. Betapa beruntungnya gadis yang akan menjadi pendamping si Payung Terbang ini.


Memang tidak bisa dipungkiri, walaupun baru kenal belum sehari, tapi rasa suka itu memang ada. Wajar saja tampang Adijaya cukup gagah. Siapapun wanita yang melihatnya pasti pasti akan suka pada pandangan pertama.


Bagaimana kelanjutannya nanti? Puspasari tak terlalu memikirkan. Yang penting sekarang ini dia bisa bersama pemuda itu. Apalagi Adijaya dengan suka rela membantu urusannya.


Kalau tadi dia bersikeras menolak bantuan pemuda itu, maka dia akan rugi. Setidaknya nyawanya akan terlindungi bila berada dekat dengannya.


***


Malam hari yang mencekam. Suasana desa tampak sepi. Angin dingin berhembus mengeluarkan suara yang menakutkan. Tidak ada seorang penduduk pun yang keluar pada malam itu.


Di desa itu berhembus kabar burung tentang Puspasari yang hendak balas dendam menggunakan ilmu santet dari gurunya -Nini Bedul-. Berita yang sebenarnya dusta ini mampu membuat warga ketakutan hingga memilih tidak keluar rumah di malam hari.


Tidak ada yang berani mendekati rumah bekas tempat tinggal Puspasari. Tadinya para warga ingin menghancurkan dan membakar rumah itu. Tapi mereka takut pembalasan yang mengerikan.


Ini malam yang kedua setelah kabar itu berhembus. Kabar yang sengaja dibuat agar 'dia', si pembuat kabar ini bisa bergerak dengan leluasa melaksanakan niatnya.


Di malam pertama dia berhasil membongkar kuburan dan mencuri jasad Rana. Kemudian kuburan itu ditimbun lagi seperti sedia kala. Dan di malam kedua, mayat Lesmana pun berhasil dicurinya.


Tidak ada yang tahu dengan kejadian itu, karena para penduduk diliputi ketakutan yang amat sangat. Bahkan Ki Dipasara atau Nyi Rengganis yang merupakan seorang pendekar, harus percaya dengan keganasan ilmu teluh Nini Bedul.


Kedua mayat itu disembunyikan dalam sebuah kamar. Di rumah yang berada di antara rumah-rumah penduduk yang lain. Dengan beberapa bahan khusus, bau busuk mayat dapat dihilangkan.


"Tinggal satu lagi persyaratan yang harus dipenuhi," terdengar suara perempuan datar. "Tiga mayat perjaka!"


"Apakah harus dia, tidak bisa cari perjaka lain?" tanya seorang lelaki seperti mengeluh.


"Ini untuk memuluskan rencana, agar tersangkanya tetap satu dan alasan yang masuk akal,"


"Tapi sekarang rumahnya telah dijaga beberapa pendekar bayaran,"


"Kau cari akal untuk bisa membawanya keluar jauh dari jangkauan para pendekar itu. Selanjutnya biar aku yang bertindak!"


Si lelaki terdengar mendesah. "Baiklah, akan aku cari caranya,"


"Aku ingin segera menguasai ilmu ini, lalu akan aku kuasai desa ini!"


Si perempuan mendengkus sinis, sinar matanya penuh ambisi dan dendam. Seringai angkuh menghias di bibirnya.

__ADS_1


#Siapakah dua orang ini?


__ADS_2