Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Tragedi Di Pagi Hari


__ADS_3

Kasus yang akan dihadapi Adijaya kali ini agak mirip dengan kasus sebelumnya. Simak saja ceritanya. Jangan lupa like, vote dan tipsnya.


***


Di desa Wangun, ada satu keluarga yang cukup terpandang. Bukan karena kekayaannya, tapi karena sifat baik kepada semua orang. Suka menolong tanpa pandang bulu dan hal baik lainnya.


Di suatu pagi ketika mereka sedang sarapan.


"Arum belum bangun?" tanya Ki Barna kepada istrinya ketika baru saja duduk di lantai kayu, di mana di tengahnya telah terhidang makanan.


"Loh, iya. Tidak biasanya dia kesiangan," sahut Nyi Karti yang baru saja menghidangkan sarapan. Lalu bergegas menuju kamar anak sulungnya yang sudah gadis tanpa menunggu perintah sang suami.


"Arum, Arum Honje!" panggil Nyi Karti sambil mengetuk pintu kamar pelan-pelan. Namun, tak ada jawaban. Suasana tampak sepi.


"Sudah siang begini kok belum bangun, biasanya paling pagi dia udah dandan." batin sang ibu.


Sekali lagi si ibu mengetuk. Kali ini agak keras setengah menggedor.


"Arum, bangun, Neng!"


Tetap tak ada jawaban. Perasaan khawatir mulai menyelimuti sang ibu. Pikirannya menduga hal yang bukan-bukan. Takut terjadi sesuatu kepada anak gadisnya yang sudah berumur delapan belas tahun.


"Bagaimana, Ambu?" tanya Ki Barna di depan dengan suara agak keras.


"Tidak tahu, Abah. Perasaan saya jadi tidak enak," Suara Nyi Karti bergetar seperti hendak menangis.


Ki Barna lekas menghampiri lalu menggedor pintu lebih keras lagi.


"Arum, Arum…!"


"Ada apa ini, Abah, Ambu?" tanya Randu, anak kedua sekaligus bungsu dari pasangan ini. Dia baru muncul dari belakang.


"Tetehmu, tidak biasanya kesiangan. Dipanggil-panggil tidak menyahut," jawab ibunya. "Ambu jadi takut, Bah!" ujarnya kemudian.


"Tenanglah, Ambu!" sahut Ki Barna suaranya agak gemetar menampakkan kecemasan juga di raut mukanya.


"Dobrak saja pintunya!" usul Randu.


"Tidak!" sanggah sang ayah. "Coba kamu lihat dari jendela kamarnya."


Bergegas Randu keluar menuju samping rumah dimana terdapat jendela kamar kakaknya. Remaja yang baru berumur lima belas tahun ini terkejut ketika melihat jendela kamar itu sedikit terbuka. Lalu dia membuka lebar-lebar jendela terus kepalanya nongol ke dalam.


"Gusti nu agung!" teriak Randu kencang saking terkejutnya sampai terdengar ke telinga ayah dan ibunya.


"Ada apa, Randu?" teriak Nyi Karti semakin cemas. Dadanya berdebar kencang, keringat dingin mengucur. Dari teriakan anak lelakinya jelas ada hal buruk yang menimpa Arum Honje.

__ADS_1


Sementara Ki Barna menahan napas agak lama. Menahan resah yang melanda.


Di sebelah sana Randu melompat ke dalam kamar melalui jendela. Dadanya bergemuruh perasaannya seperti melayang tak karuan. Ia menahan emosinya. Yang dilakukannya adalah segera membuka pintu kamar agar orang tuanya bisa melihat keadaan.


Begitu dibuka!


"Abah!" hanya itu seruan yang keluar dari mulut Randu, dengan wajahnya dia menunjuk ke dalam lalu menghambur keluar.


Suami istri ini segera melihat ke dalam.


"Gusti Hyang Widi!" kejut Ki Barna.


"Aruuum…!"


Nyi Karti lebih parah lagi, dia berteriak lebih histeris tak bisa menahan perasaannya. Seketika sekujur badannya bagai tak bertulang. Pandangannya buram, kepala pusing lalu terkulai tak sadarkan diri.


Pagi yang tragis!


***


Suasana berkabung mewarnai penguburan jasad Arum Honje. Adijaya dan Puspasari tampak menghadiri pemakaman itu. Puspasari sangat terkejut ketika mendapati kabar sahabatnya tewas terbunuh di kamarnya.


Gadis itu segera meminta bantuan Adijaya untuk mengusut pembunuhan yang terjadi atas Arum Honje. Sebelum dikuburkan mereka telah memeriksa keadaan putri sulung Ki Barna itu.


Arum Honje tewas dengan cara dicekik. Dari jasadnya yang sudah kaku, kemungkinan pembunuhan itu terjadi saat tengah malam tadi.


Sepertinya pelaku sengaja meninggalkan petunjuk. Tapi entah apa maksudnya? Sampai acara pemakaman selesai, Adijaya belum menemukan petunjuk lain selain tanda silang itu.


Sebagai penyelidikan awal dia akan menanyai Puspasari terlebih dahulu karena Gadis itu merupakan sahabat dekatnya.


"Apakah Arum Honje mempunyai musuh?"


"Dia disukai banyak orang. Walaupun ada yang membencinya, tapi akan sulit mencarinya," jelas Puspasari.


"Punya kekasih?"


"Dia calon istri Raden Sujiwa, putra seorang mentri dari Manukrawa, tidak ada alasan calon suaminya yang membunuh,"


"Dari petunjuk yang sengaja ditinggalkan, jelas maksud pembunuhan ini adalah balas dendam. Tapi dendam apa?"


"Kalau soal harta kekayaan, tidak mungkin. Keluarga Ki Barna tidak memiliki harta yang berlimpah. Misalnya, adiknya Randu ingin menguasai harta warisan sendiri, itu tidak mungkin!" tegas Puspasari.


"Sepertinya masalah cinta," ujar Adijaya. "Coba kau ingat-ingat barangkali sebelum Raden Sujiwa, mungkin ada lelaki lain yang pernah jadi kekasihnya.


"Atau ada wanita mencintai Raden Sujiwa, dia tidak ingin ada wanita lain yang memilikinya,"

__ADS_1


Puspasari menopang dagunya. Pikirannya berputar-putar memanggil ingatannya.


"Aku tidak tahu tentang Raden Sujiwa, tapi aku tahu Arum Honje pernah memiliki kekasih sebelum dilamar Raden Sujiwa."


Menduga-duga boleh saja, tapi harus disertai bukti kuat yang mengarah kepada si tersangka. Untuk sementara ini belum ada bukti tersebut.


Jadi Adijaya belum bisa menebak siapa si pembunuh Arum Honje. Masih perlu mengumpulkan petunjuk dan bukti lebih banyak lagi.


Sekadar keterangan cerita sebelumnya. Puspasari akhirnya menerima lamaran Jatnika, walaupun dalam hatinya ada Adijaya. Tapi dia tidak mungkin memiliki pendekar muda itu. Pemuda itu sedang menunggu kesembuhan Asmarini.


Namun, Puspasari meminta agar tidak segera melangsungkan pernikahan. Alasannya dia ingin menenangkan diri beberapa waktu. Keluarga Jatnika memaklumi hal itu, mengingat si gadis sudah di dera fitnah keji oleh Ki Jantaka.


Karena sudah tidak ada yang dibahas lagi, Adijaya pamit untuk pergi ke puncak bukit Bedul. Tapi dia meyakinkan akan terus mengusut pembunuhan Arum Honje.


Sebenarnya Puspasari masih ingin berlama-lama dengan pemuda itu. Mumpung belum nikah. Karena alasan sebenarnya menunda pernikahan adalah masih ingin lebih lama dekat dengan Adijaya.


Namun, apa daya, sepertinya si pemuda ingin menengok kekasihnya.


***


Sampai di puncak bukit, Adijaya langsung ke tempat di mana Asmarini direndam dalam kolam air bunga.


"Dinda, apakah kamu tidak kedinginan berendam terus?" tanya Adijaya seolah-olah gadis mungil itu mendengar ucapannya.


Adijaya membelai wajah si gadis yang tampak pucat. Asmarini masih belum sadarkan diri. Mengobati orang kena gendam tidak sama dengan menyembuhkan orang keracunan.


Karena yang terkena adalah pikiran dan jiwanya. Bukan badan jasmaninya.


"Kalau saja kamu cuma kena racun, aku sanggup menyembuhkan,"


Terdengar suara orang berdehem. Nyai Gandalaras sudah berdiri di belakang Adijaya.


"Nenek, apakah masih lama?"


"Kenapa, kau ingin segera mengawininya?"


Adijaya tersenyum malu sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Kau tanya saja kepada saudara kembarku," suruh si nenek.


Adijaya mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya. Sebuah kitab yang selalu dibawanya.


"Ini adalah kitab ajian Tapak Wangi, aku ingin Asmarini mempelajarinya nanti setelah dia sembuh,"


Adijaya memberikan kitab itu kepada Nyai Gandalaras. Si nenek menerimanya lalu melihat-lihat isinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyimpannya. Terima kasih, kau memang anak baik!"


***


__ADS_2