Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kampung Perampok Menyerah


__ADS_3

Adijaya menikmati cara pertarungan seperti ini. Dia merasa sedang menari-nari. Hal yang membuat wajah kagum Ki Tandaka tidak hilang-hilang. Dia yang tidak ikut menempur Adijaya karena masih belum bisa menemukan celah kelemahan.


Bahkan untuk menyerang secara membokong pun tidak ada. Jika dia melakukan serangan curang, maka kemungkinan besar yang jadi korban adalah anak buahnya sendiri.


Jumlah penyerang kini bertambah menjadi sekitar lima puluh orang. Namun, sedikitpun Adijaya tidak berkurang tenaganya. Dia seperti sedang berlatih meningkatkan kecepatan dan ketepatan.


"Juragan, kenapa tidak menggunakan ajian Bantai Jagat saja?" tanya Ki Santang di dalam tubuhnya.


"Aku ingin menari lebih lama, rasanya menyenangkan, belum pernah merasakan begini sebelumnya!"


"Juragan tenang saja, jika merasa kelelahan aku akan membantu agar kondisi badan Juragan tetap kuat" Padmasari menimpali.


Sudah ratusan jurus tapi belum satupun yang mampu melukai tubuh Adijaya. Ki Tandaka sampai kesal sendiri. Akhirnya dia tidak peduli apapun hasilnya, dia akan menyerang secara diam-diam.


Wuss! Wuss! Wuss!


Ki Tandaka melempar puluhan senjata kecil yang berbentuk cakram yang sisi bulatnya bergerigi tajam seperti gergaji. Ukurannya hanya sebesar kancing. Senjata ini melesat sangat cepat tidak bisa diikuti mata biasa.


Tapi tentu saja jagoan kita dengan mudah merasakan datangnya serangan bokongan itu. Puluhan cakram kecil itu hanya menghantam Payung Terbang kemudian terpental lagi malah mengenai orang-orang di dekatnya.


Tring! Tring!


Crepp! Crepp!


Beberapa orang terjatuh karena terkena cakram nyasar, membuat Adijaya memiliki banyak ruang gerak. Dengan payung yang sering dibuka tutup secara cepat dia menghajar setiap lawan.


Dess! Desss! Desss!


Adijaya menusuk bagian fatal setiap lawan dengan ujung atas payung. Mereka yang terkena tusukan ini langsung ambruk. Tentu saja Adijaya tidak membuat mereka tewas. Hanya menjadi lemah saja sehingga tidak bisa menyerang lagi.


Satu persatu lawan bertumbangan. Adijaya seolah menikmatinya. Senyumnya selalu mengembang. Beberapa kali Ki Tandaka membokong juga tiada hasil.


"Apa dia manusia ketitisan dewa, atau dewa yang turun ke bumi?" gumam Ki Tandaka tak pernah habis rasa herannya.

__ADS_1


Orang-orang kampung perampok semakin habis. Bisa saja Adijaya membantai semuanya. Tapi dia memegang prinsipnya, tidak membunuh. Seberapa jahatpun orangnya, masih dapat kesempatan bertobat.


Ki Sobana dan Maruta pun kini hanya berdiri menemani Ki Tandaka setelah ratusan jurus mereka tak mampu menyentuh Adijaya. Mulut mereka menganga, baru melihat ada orang dengan kekuatan seperti ini.


Ketika penyerang tinggal sepuluh orang lagi, mereka ragu untuk meneruskan. Sedangkan Adijaya masih berdiri dengan senyum sambil memegang payung.


Dia suka payung ini karena bukan senjata tajam yang bisa membunuh. Dia ingat ketika membawa pedang Guntur yang telah menelan nyawa walaupun bukan karena tangan sendiri.


Sepuluh orang ini akhirnya menyerah. Mereka tidak ingin mengalami seperti yang diterima kawan-kawannya. Walaupun hanya luka-luka ringan. Bagaimana seandainya Adijaya menggunakan golok atau pedang yang tajam?


Tidak terbayangkan mayat-mayat bergelimpangan. Sekarang mereka mengerti, Pendekar Payung Terbang masih mengampuni nyawa mereka.


Ki Tandaka melangkah mendekati Adijaya. "Kami akui kehebatanmu, sekarang kami akan patuh kepada perintahmu,"


"Untuk menghidupimu dan orang-orangmu, apa tidak ada cara lain selalin menjebak seperti yang sering kalian lakukan?"


Orang tua ini tidak segera menjawab. Memang kalau sudah terbiasa berbuat jahat maka tidak akan mudah meninggalkannya.


"Dulu kami semua perampok, kampung ini tempat berkumpulnya para rampok. Kami pikir daripada terang-terangan merampok, merampas paksa harta orang. Jadi kami membuat cara seperti ini,"


"Kalau caranya baik maka akan menghasilkan hawa-hawa yang baik pula. Bukankah kalian tidak mau kalau anak keturunan kalian juga jadi berwatak jahat?


"Ayahku juga perampok, tapi sejahat-jahatnya dia tetap mengharapkan anaknya menjadi orang baik!"


"Siapa ayahmu?" tanya Ki Tandaka tidak tahan ketika mendengar pengakuan Adijaya.


"Gandara, pimpinan Lima Begal Cakrageni. Tapi mereka sudah lama lenyap!"


Ki Tandaka tampak terkejut. Dia sangat tahu tentang Lima Begal Cakrageni. Bahkan dia mengharapakan mereka gabung di kampung ini. Ternyata mereka telah musnah.


Tidak disangka ternyata pendekar yang telah menorehkan nama besarnya ini seorang anak perampok yang terkenal dulu. Karena tidak ingin menyinggung perasaan Adijaya, maka Ki Tandaka tidak ingin menanyakan lebih jauh tentang lenyapnya Lima Begal Cakrageni.


"Baiklah, kami akan mengikuti saranmu," kata Ki Tandaka kemudian. Tidak ada jalan lain kalau ingin selamat. Segini saja harus bersyukur karena Adijaya tidak sampai membantai mereka.

__ADS_1


"Baguslah, tapi kalau sampai mengulanginya lagi, aku tidak segan-segan lagi!"


Setelah itu Adijaya bergegas pergi meninggalkan kampung ini.


"Juragan pintar ceramah sekarang!" ujar Ki Santang mengagetkan Adijaya. Dia baru sadar tadi dia bicara cukup panjang. Sama ketika berbicara kepada Rangrang Geni.


"Bisa jadi pandhita atau resi!" sahut Padmasari.


"Seorang resi masih bisa menikah, kan?" tanya Adijaya. Entah kenapa bisa bertanya seperti itu sedangkan niat jadi resi saja tak ada dalam benaknya.


"Tentu bisa, yang tidak boleh menikah itu pendeta atau biksu," jawab Ki Santang.


Sementara Padmasari terdengar mengikik. Semenjak ada Padmasari, berjalan sendiri tidak merasa kesepian. Ki Santang juga jadi sering bicara.


"Aku mau tanya, apakah manusia bisa jadi penghulu untuk mahluk guriang yang hendak menikah?"


Sendainya Adijaya bisa melihat mereka. Tentu akan tertawa karena mereka tampak tersedak mendengar pertanyaannya.


"Memangnya mau apa?" tanya Padmasari.


"Menikahkan kalian!"


Terdengar Ki Santang tertawa, sementara Padmasari mendengkus. Lalu tak terdengar lagi suara mereka.


Hari sudah mulai senja. Urusan di kampung perampok ternyata memakan waktu seharian. Dia belum menemukan desa atau kampung lain setelah kampung perampok itu. Apa dia akan bermalam di hutan?


Entah berapa hari dia akan sampai di rumah Ki Brajaseti. Ada satu lagi alasan lain dia pergi sendirian ke sana. Dulu dia meninggalkan Kinasih karena tugas, begitu pulang dia telah menikah dengan lelaki lain.


Sekarang dia ingin menguji kesetiaan Asmarini. Karena kecantikannya pasti banyak lelaki yang suka. Tapi sekarang beda, semua tahu Asmarini calon istrinya. Dengan memandang nama besarnya, tidak ada yang berani mengganggu gadis itu.


Selagi hari belum gelap, Adijaya terus melangkah sampai menemukan sebuah desa. Sebenarnya bisa menggunakan Payung Terbang agar bergerak lebih cepat, tapi dia ingin jadi manusia normal yang tidak bisa terbang.


Setelah terus berjalan sampai waktu Sareupna, bukan desa atau kampung yang ditemui Adijaya. Tapi sebuah rumah yang besar dan panjang. Sebuah Penginapan.

__ADS_1


Penginapan yang aneh karena letaknya di tempat yang sepi, jauh dari keramaian desa. Tapi rasanya pantas, penginapan ini sebagai penghubung antara dua desa yang berjauhan jaraknya. Jadi orang seperti Adijaya ini bisa menginap dulu sebelum melanjutkan perjalanan.


__ADS_2