
Tangan Adijaya berhasil melepas benda yang menempel di tengkuk sukma Ki Ranggasura. Seketika sukma kakek itu mematung seperti ada sesuatu yang menahannya. Sementara benda yang dipegang tadi telah berubah menjadi asap tipis lalu menghilang di udara.
Beberapa saat kemudian sukma Ki Ranggasura jatuh berlutut. Adijaya segara berpindah di hadapan kakek itu, berlutut juga. Tampak wajah si kakek sedikit berwarna, bola matanya juga bersinar, tidak gelap seperti sebelumnya.
Sukma Ki Ranggasura menatap sayu Adijaya. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya. Jubah hitam yang dikenakan juga berubah warna menjadi putih. Menandakan bahwa dia tidak dalam pengaruh jerat buhul lagi dan bebas, bukan budak lagi.
"Terima kasih, kau selalu menjadi penyelamat," ucap sukma Ki Ranggasura sambil bangkit berdiri. Adijaya juga berdiri.
"Ini sudah kewajiban saya, Kek!"
"Teruslah, berjuang. Aku akan mencari bantuan, agar kau tidak sendiri."
"Terima kasih, Kek!"
Adijaya menjura, sukma Ki Ranggasura melayang ke atas lalu menghilang di ketinggian. Kemudian Adijaya membawa kakinya memasuki gerbang pertama puri iblis. Setelah beberapa langkah melewatinya, Adijaya dibuat melongo.
"Dunia lelembut memang serba aneh!" ujarnya.
"Begitulah, banyak ilusi yang nyata!" timpal Padmasari yang sudah berada di sampingnya.
Sewaktu masih di luar pagar, yang terlihat di dalam adalah halaman luas dengan hamparan rumput hijau yang di ujungnya terdapat gerbang ke dua. Ternyata ketika sudah masuk, hamparan rumput itu berubah menjadi hutan belantara.
Meski banyak jalan setapak ke berbagai arah, Adijaya tetap memilih lurus, padahal tidak ada jalan setapak di sana. Padmasari mengikuti majikannya.
Apapun yang ada di depannya, yang penting berjalan lurus. Walaupun harus menerobos semak belukar. Meloncati batu atau pohon perdu. Kalau ada pohon besar menghadang, maka memutar sedikit kemudian lurus lagi.
Sampailah di sebuah tanah agak lapang. Adijaya dikejutkan oleh tiga harimau yang siap menerkam memamerkan taringnya yang runcing dan panjang. Padmasari mengambil jarak.
Rupanya ada rintangan sebelum mencapai gerbang ke dua. Tak mau bertindak sembarangan, Adijaya angkat payung terbuka lurus ke depan. Dia menyiapkan ajian Bantai Jagat.
Tiga harimau mengaum keras sebelum meloncat, menggunakan cakar masing-masing untuk menerkam Adijaya. Tiga sasaran menjadi target; kepala, perut dan kaki.
Adijaya memutar payung, energi kuat menghalau gerakan tiga harimau menjadi lambat. Selanjutnya tangan kirinya mendorong udara.
Wugh!
Gelombang energi semakin kuat menghantam tiga harimau sampai terdorong jauh. Namun, sebelum terjatuh, dua kaki belakang hewan buas berhasil menjejak sebuah pohon. Sosok mereka melesat lagi, siap menerkam lagi dengan kekuatan berlipat.
__ADS_1
Adijaya berguling ke depan menghindari terkaman binatang berkulit loreng ini. Pada saat berguling dan tubuhnya menghadap ke atas, dia sodokkan payung ke atas. Ujung payungnya menghantam perut harimau yang berada di atasnya.
Harimau yang tersodok payung terpental jauh. Dua harimau lainnya mendapatkan tempat kosong segera berbalik. Auman mereka semakin kencang pertanda marah karena gagal menerkam target.
Kejap berikutnya tiga raja rimba sudah bersiap lagi. Adijaya berpikir bagaimana cara melumpuhkan hewan yang tentunya dari bangsa siluman juga. Apakah binatang siluman ini juga dalam pengaruh jerat buhul?
Maka ketika tiga harimau menyerang lagi, Adijaya sempatkan meraba salah satu leher hewan belang itu. Sudah belasan kali terkaman tidak ada satupun yang berhasil melukai Adijaya.
"Apakah sukma bisa berdarah juga jika dicakar?" gumam Adijaya terpikirkan bagaimana bentuk luka seumpama terkena cakaran harimau.
Tiga harimau sudah diperiksa leher atau bagian tubuh yang lain. Ternyata tidak ada benda apapun seperti yang dia temukan di tengkuk sukma Ki Ranggasura. Adijaya mencari jawaban ke Padmasari.
Wanita guriang itu hanya mengangkat bahu. Akhirnya Adijaya mencoba sendiri idenya. Dia buat tiga harimau itu menjauh terlebih dahulu dengan ajian Bantai Jagat. Setelah ada jarak yang lumayan jauh, dia segera lepaskan ilmu Menjerat Pikiran.
Tiga harimau belang yang hendak menerkam lagi mendadak tak bisa bergerak. Kepala mereka berputar-putar. Bukan auman yang keluar, tapi erangan seperti merasakan sakit.
"Kalau kalian lelah, istirahat saja!" kata Adijaya kepada tiga hewan yang kini dalam kendali pikirannya. Ternyata ilmu ini bekerja juga.
Tiga harimau akhirnya pergi entah kemana. Kalau di alamnya, mungkin Adijaya akan menarik napas lega. Pemuda ini hanya tersenyum puas saja. Pertarungan tadi cukup menguras tenaga juga.
Adijaya tetap mengambil langkah lurus dan keyakinannya akhirnya membuahkan hasil. Dia keluar dari hutan rimba yang sangat lebat tadi. Kini di hadapannya terhampar padang rumput lagi. Di ujung depan sana terlihat tembok pagar yang kedua.
"Ada berapa gerbang sebenarnya?"
"Tidak tahu!" jawab Padmasari.
Dari kejauhan sudah terlihat ada dua sosok yang menjaga gerbang. Pakaiannya sama berupa jubah hitam, tapi wajah mereka belum jelas. Dengan santai sambil meningkatkan kekuatan Adijaya melangkah tegap.
Beberapa rencana sudah dipersiapkan dalam benaknya. Kemungkinan semua penjaga gerbang adalah orang yang pernah dijumpainya sewaktu mereka masih hidup.
Tidak menutup kemungkinan, mereka adalah sukma-sukma dari tokoh baik dan juga berwatak jahat. Siapapun mereka, Adijaya siap menghadapinya.
Jika dari golongan orang baik, maka dia akan melepaskan buhul penjeratnya, tapi...
"Bagaimana jika sukma mereka dulunya adalah orang berwatak jahat?" Adijaya meminta pendapat Padmasari.
"Sama saja, lepaskan buhulnya. Bebaskan saja, mereka tetap menanggung dosa-dosanya sewaktu masih hidup."
__ADS_1
"Oh, begitu. Baiklah!"
***
Madari menatap tajam sepasang pemuda di hadapannya. Trikarsih melaporkan setelah mengetahui bahwa musuh bebuyutan Ganggasara mempunyai ilmu sihir, mereka kehilangan jejak.
"Kalian tidak main-main?" selidik Madari.
"Kami tidak berani, Bu!" sahut Gagakseta.
"Ternyata mereka benar-benar kuat!"
Wanita bertubuh molek yang aslinya sudah tua ini mengambil sebuah mangkuk besar terbuat dari tembaga. Mangkuk ini sudah berisi air bening. Lalu diletakkan di depannya.
"Terpaksa aku menggunakan 'Jendela Air' untuk mencari keberadaan mereka!"
Dua tangan Madari diputar-putar di atas mangkuk tembaga. Air di dalamnya tampak beriak kecil. Dua tangan wanita ini berakhir dengan menggebrak tanah di samping mangkuk.
Tiga pasang mata segera melihat ke air di dalam mangkuk. Di dalam air itu tergambar sebuah kereta kuda yang sedang terbang di langit malam.
Semuanya tercengang melihat kereta yang bisa terbang, dengan kecepatan tinggi lagi.
"Bila mereka selalu di dalam kereta itu, maka kita tidak dapat berbuat apapun terhadap mereka," jelas sang ibu.
"Jadi mereka harus dipancing agar keluar dari sana?" tanya Trikarsih.
"Benar!"
Terlihat kereta kuda terbang menuju sebuah bukit. Tiga pasang mata tak pernah lepas mengawasi kereta terbang itu. Di bukit itu kereta mendarat.
"Ibu tahu bukit itu?" tanya Gagakseta.
"Bukit Gajah Depa!"
Sepasang pemuda saling pandang. Mereka cukup tahu letak keberadaan bukit itu.
"Pergilah ke sana, culik istrinya. Dia sedang mengandung!" perintah Madari.
__ADS_1