Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Penjaga Gerbang Pertama


__ADS_3

Mulut Adijaya menganga, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sosok kakek yang berdiri lima tombak di depannya ternyata sangat dikenalnya. Salah satu orang terdekatnya. Berhati mulia dan sudah seperti kakek sendiri.


Si kakek yang menerimanya walaupun tahu dia anak seorang pimpinan perampok. Sempat mendidiknya meski sebentar. Dia pemimpin padepokan yang sangat berarti baginya.


Ki Ranggasura guru dan pemimpin padepokan Linggapura.


"Bukankah Kakek Ranggasura mati jauh lama setelah Ganggasara tewas?" Tatapan Adijaya mencari jawaban pada Padmasari karena tidak mengerti kenapa bisa jadi budak siluman.


"Bisa jadi namanya sudah tercatat bersama nama-nama lainnya sebelum Ganggasara mati!"


"Gila, rencananya sudah jauh ke depan!"


Sosok Ki Ranggasura terlihat datar dengan wajah pucat pasi. Di tangannya tergenggam tongkat sepanjang tinggi tubuhnya. Tongkat dari baja berwarna hitam yang mengkilap.


Adijaya sejenak merasa ragu menghadapi orang yang sangat dia hormati.


"Jangan ragu, sekarang dia sudah jadi budak yang hanya menuruti perintah majikannya. Bahkan mungkin dia sudah tidak mengenal Juragan lagi!"


Padmasari menjauh, memberikan tempat seluasnya untuk Adijaya yang sedang mengatur perasaannya. Bagaimanapun juga dia tidak sampai hati melawan sang kakek.


Terlihat Ki Ranggasura mengangkat tongkat lurus ke depan sejajar dengan matanya. Energi buruk memancar lebih kuat lagi. Adijaya pendarkan hawa sakti beraroma harum. Cahaya putih tipis melapisi tubuhnya.


Dalam otaknya segara mencari barisan-barisan kalimat untuk menciptakan jurus pedang atau tongkat sambil menunggu Ki Ranggasura yang lebih dulu menyerang.


Tanpa didahului dengan teriakan Ki Ranggasura menghambur menyerang Adijaya dengan sabetan tongkatnya. Sosok kakek itu bergerak cepat seperti bayangan, hampir saja Adijaya tidak dapat melihatnya.


Walaupun sekarang hanya berupa sukmanya, tetapi jurus yang dia peragakan tetap berasal dari bangsa manusia. Sehingga Adijaya bisa membaca inti gerakannya, kemudian dihubungkan dengan beberapa kalimat yang dia ingat dalam kitab Hyang Sajati.


Ternyata jurusnya sesuai dengan kalimat baris sekian halaman sekian. Maka dari itu Adijaya langsung terpikirkan cara pemecahannya. Dia tahu kemana arah tongkat lawan akan bergerak.


Sehingga dengan cepat gerakan payungnya mendahului gerakan tongkat Ki Ranggasura. Namun, si kakek tetap tanpa ekspresi kendati serangannya mentah di tengah jalan. Dia tetap menyerang tanpa ampun.

__ADS_1


Kondisi Ki Ranggasura yang seolah tanpa perasaan mengingatkan Adijaya pada ilmu Menjerat Pikiran. Selintas dalam pikirannya ingin mencoba ilmu itu. Apakah berlaku di alam gaib?


Adijaya memperlebar jarak agar bisa mendapatkan waktu untuk menggunakan ilmu Menjerat Pikiran, tapi Ki Ranggasura terus merangsek tidak memberi kesempatan padanya untuk berhenti sekejappun.


Terpaksa Pendekar Payung Terbang meloncat setinggi tiga tombak ke udara, lalu mengayunkan payung ke bawah. Segelombang energi melesat cepat. Pada saat itu Adijaya sudah mendarat kembali.


Blarr!


Sengaja energi diarahkan ke tanah agar sosok Ki Ranggasura menjauh. Karena kalau langsung diarahkan ke orangnya tidak akan berpengaruh apa-apa. Semua yang ada di alam ini tidak bisa mati.


Setelah mendapatkan kesempatan, sang pendekar segera keluarkan ilmu Menjerat Pikiran. Seketika wajah kesalnya tampak. Rupanya ilmu ini tidak berfungsi. Padahal niatnya ingin mempengaruhi pikiran si kakek agar tidak mau lagi menjadi budak.


"Percuma, Juragan!" teriak Padmasari tahu yang dilakukan majikannya. "Dia terjerat oleh semacam buhul!"


Adijaya memutar otaknya lagi, bagaimana caranya melepaskan pengaruh yang menguasai dan mengendalikan sukma Ki Ranggasura. Sementara kakek itu sudah melesat kembali sambil menyabetkan tongkatnya.


Wukk! Trak!


Tangkisan payung lebih cepat dari sabetan tongkat. Tangan Adijaya bergetar, ternyata tenaga yang dilepaskan lebih besar dari semula. Ki Ranggasura sudah mengurungnya kembali dengan putaran tongkat yang hampir tak kelihatan saking cepatnya.


Kalau bukan karena payung itu, mungkin dirinya sudah didera ratusan kali pukulan tongkat.


Ki Ranggasura terlihat tidak merasa kelelahan sama sekali. Apa mungkin karena dia sukmanya, tapi kenapa Adijaya merasakan dadanya sesak padahal tidak bernapas. Sesak seperti berada di alam nyata.


Beberapa lama Adijaya terus berada dalam kurungan sinar tongkat yang berkelebat dari segala arah. Pikirannya mendadak tidak berjalan. Gerakan lawan sulit dilihat sehingga sulit membuat pemecahnya.


"Bantai Jagat!"


Teriak Adijaya akhirnya keluarkan ajian itu. Tangan yang memegang payung menghentak ke atas, tangan satu mendorong udara ke depan. Segelombang energi melesat keluar dari tubuhnya.


Wuss!

__ADS_1


Sreet!


Tubuh Ki Ranggasura terpental hingga belasan tombak dan jatuh hampir saja menghantam tembok pagar yang entah terbuat dari apa, karena bentuknya hanya dinding rata tanpa celah-celah atau kisi-kisi.


Ajian ini jika digunakan digunakan di alamnya akan menghempaskan orang sebanyak lima puluh atau lebih, tapi di sini hanya untuk satu orang saja. Itu juga membuat dada Adijaya semakin sesak.


Adijaya alirkan hawa sakti untuk melonggarkan rasa sesaknya. Dia melihat Ki Ranggasura sudah berdiri dan bersiap menyerang lagi. Dia harus mencari buhul yang menguasai sukma kakek itu.


Dia tidak akan menghadapi dalam jarak dekat lagi. Begitu lawan meluruk menyodokkan tongkatnya, Adijaya melompat ke udara dengan payung terbuka.


Selagi melayang, Adijaya mengubah energi yang memenuhi udara menjadi pukulan jarak jauh. Pukulan ini lumayan menekan lawan, sampai-sampai Ki Ranggasura melintangkan tongkat di atas kepala guna menahan tekanan itu.


Adijaya mendarat tiga tombak di depan gerbang. Dia tidak akan masuk sebelum menyelesaikan masalah Ki Ranggasura, yaitu memusnahkan buhul yang menjeratnya.


Sang pendekar memandang ke arah Padmasari yang masih tetap berdiri di tempatnya. Wanita guriang ini mengerti tatapan majikannya.


"Periksa tengkuknya!" kata Padmasari.


Ki Ranggasura sudah berlari lagi sambil memutar tongkatnya. Adijaya segara menyongsong lawannya. Dia tidak lagi memikirkan jurus pemecahan, sekarang dia fokus ingin menyelamatkan kakek yang pernah jadi gurunya itu.


Di saat keduanya hampir bertemu, Adijaya langsung bersalto menghindari sodokan tongkat. Sembari bersalto dia tangannya meraih kepala si kakek hanya untuk menyibakkan rambut agar bisa melihat tengkuknya.


Begitu mendarat, si kakek sudah memutar sangat cepat sambil membabatkan tongkat. Adijaya bersalto lagi, melakukan gerakan seperti semula. Memastikan benda yang menempel di tengkuk si kakek yang tadi dia lihat.


"Sepertinya itu!" batin Adijaya.


Ketika Ki Ranggasura berputar lagi, sang pendekar tidak menghindar. Dia siapkan tenaga besar pada tangan yang bebas. Dia menunggu serangan datang.


Tep!


Tongkat berhasil ditangkap tangan kirinya. Sekuat tenaga dia membanting tongkat bersama pemegangnya sehingga tubuh Ki Ranggasura berputar terbawa oleh bantingan.

__ADS_1


Pada saat posisi Ki Ranggasura membelakanginya, tangan kiri yang sudah bebas itu bergerak cepat menangkap tengkuk si kakek dan memegangnya kuat-kuat.


Brett!


__ADS_2