Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Sebuah Panggilan


__ADS_3

Tiba-tiba saja telinga kanan Adijaya berdengung cukup keras sampai dia memegang kepalanya seperti orang pusing.


"Kamu kenapa?" tanya Puspasari.


Adijaya tidak menjawab, dia masih memegangi kepalanya. Keningnya mengkerut. Telinganya mendengar suara dari kejauhan. Suara yang hanya dia yang mendengarnya.


"Aku tunggu kau di sini!"


Suara serak menyeramkan, Adijaya mengenal suara ini. Suara Nini Bedul. Rupanya nenek itu mengirim suara jarak jauh untuk memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Puspasari lagi khawatir melihat Adijaya tengak-tengok ke atas langit.


"Nini Bedul memanggilku,"


"Aku ikut!"


"Sebentar lagi malam,"


Puspasari merengek manja, dia genggam kedua tangan si pemuda. Seketika rasa hangat menjalar dari lembutnya tangan si gadis.


"Aku masih ingin bersamamu, bawa aku!"


Adijaya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Lagi pula dia juga sama masih ingin bersama gadis itu walaupun di hatinya ada Asmarini.


Sampai di puncak bukit Bedul hari sudah agak larut malam. Nini Bedul tampak sedang duduk di bangku depan rumah. Entah di mana Nyai Gandalaras, batang hidungnya tak nampak.


Suasana di puncak bukit diterangi beberapa obor di luar, ditambah gemerlap bintang-bintang di langit. Di dalam rumah ada penerangan damar.


Nini Bedul langsung menghampiri Adijaya. "Angkat tanganmu, hadapkan telapaknya ke atas!"


Adijaya menuruti perintah si nenek bungkuk. Tangannya menengadah seperti sedang berdoa. Lalu si nenek menangkupkan dua telapak tangannya ke telapak tangan si pemuda.


Hawa hangat perlahan mengalir dari tangan Nini Bedul masuk ke tangan Adijaya. Si nenek memejamkan mata sambil mulutnya komat-kamit. Setelah beberapa saat baru membuka mata dan melepaskan tangannya.


"Aku menyimpan senjata pusaka di gunung Sembung. Namanya Pedang Guntur. Sekarang pedang itu jadi incaran banyak orang. Aku tugaskan kau untuk mengambilnya dan bawa ke sini," jelas Nini Bedul.


Entah kenapa si nenek yang biasa bicara menyentak ini tiba-tiba mempercayakan tugas ini kepadanya. Dia tak bisa menolak kalau sudah begini. Karena dia tahu pada dasarnya si nenek baik.

__ADS_1


"Kapan aku berangkat, Nek?"


"Besok pagi saja!" Nini Bedul berpaling ke Puspasari.


"Aku numpang tidur ya, Nek!" Puspasari langsung menjawab tatapan si nenek.


Pandangan si nenek jadi lembut terhadap gadis jangkung itu. Seperti menunjukan rasa kasihan. Tentu saja nenek ahli santet bisa membaca isi hati Puspasari.


"Ya, sudah masuklah, besok kau temani dia ke sana!"


Puspasari tersenyum senang. Akhirnya dia melihat sisi lembut Nini Bedul yang terkenal menakutkan.


"Kau cari tempat istirahatmu sendiri!" suruh si nenek kepada Adijaya. "Jangan berbuat macam-macam kepada gadis-gadis yang ada di sini, atau kubuat kepunyaanmu tak bisa berguna lagi!"


Adijaya bergidik mendengarnya tapi dia malah tertawa. Lalu dia menuju batu besar yang tempo hari dipakai ngobrol sama Puspasari. Dia tidur di sana.


***


Setiap benda pusaka baik itu senjata atau kitab atau apapun bentuknya pasti jadi rebutan para tokoh persilatan. Siapapun orangnya, dari mana asalnya pasti akan berusaha mendapatkannya.


Seperti yang terjadi di lereng gunung Sembung. Di pagi hari ketika penerang jagat baru separuh muncul. Sekitar dua puluh tokoh persilatan dari delapan penjuru angin berkumpul di suatu tempat yang cukup lapang tapi keadaanya miring karena di lereng gunung.


Itulah Pedang Guntur, pedang pusaka yang jadi incaran semua tokoh silat yang hadir di situ.


Di tengah panggung sudah berdiri seorang lelaki kurus namun tegap berpakaian serba hijau, ikat kepala dan pinggangnya berwarna hitam. Wajahnya lonjong lancip berkumis tipis sudah agak keriput karena usianya hampir mendekati tua.


"Terima kasih atas kesediaan Ki Sanak semua untuk menunggu hingga pagi ini," mulai berkata si kurus serba hijau ini. "Sesuai kesepakatan demi keadilan bersama, hari ini akan diadakan sayembara memperebutkan pedang pusaka yang menancap di batu itu. Pedang Guntur.


"Sesuai peraturan akan diadakan pertarungan satu lawan satu di atas panggung ini. Yang paling kuat, paling lama, dan yang tak terkalahkan di panggung ini, dia yang akan memiliki Pedang Guntur. Untuk itu, sayembara segera dimulai, silahkan kepada Ki Sanak siapa yang akan mulai duluan?"


Kemudian lelaki kurus ini turun dari panggung membaur dengan tokoh-tokoh yang lain.


Beberapa saat lamanya belum ada satupun yang naik panggung. Kebanyakan memang ragu untuk jadi peserta pertama yang tampil. Selain akan kekurangan tenaga lebih awal juga akan diketahui celah kelemahan dalam ilmu silatnya.


Di antara kerumunan orang, di sebuah batu datar dan pendek. Duduklah Adijaya dan Puspasari. Selama dua hari mereka menempuh perjalanan hingga sampai ke tempat itu.


"Kau yakin bisa mengalahkan mereka semua?" tanya Puspasari.

__ADS_1


"Aku tidak yakin..."


"Maksudmu?"


"Aku tidak yakin cara memperebutkan pedang itu semudah ini,"


"Mudah, kau bilang?"


"Ya, mudah dengan mengakali para pendekar untuk saling bertarung,"


"Bukankah kalau tidak begini caranya akan jadi kacau nantinya ketika saling berebut,"


"Ya, benar, tapi dengan begini juga orang tidak tahu bagaimana cara mengambil pedang itu, atau memang sengaja disembunyikan untuk maksud tertentu."


"Mmmh...ya..ya..ya...!"


"Kita lihat saja dulu!"


Akhirnya satu sosok meloncat memamerkan gaya meringankan tubuh lalu mendarat di tengah panggung. Lelaki berperawakan sedang tidak kurus juga tidak kekar. Berbaju rompi hitam yang bagian bawahnya masuk ke lilitan ikat pinggang warna kuning. Celana komprangnya warna hitam juga.


Tak lama kemudian seseorang melesat lagi tahu-tahu sudah berdiri di samping orang pertama. Dari gerakannya terlihat lebih cepat dari orang pertama.


"Siapa Ki Sanak?" tanya orang pertama.


"Teja Purana!" jawab orang kedua yang perawakannya sama dengan orang pertama. Dia telanjang dada, ikat pinggangnya merah melilit bagian atas celana sontog biru. Rambutnya panjang sebahu dengan ikat kepala batik. Di tangan kanannya tergenggam senjata cambuk terbuat dari anyaman  rotan.


"Oh, Anda yang berjuluk Pendekar Cambuk Api?"


"Ya, apakah aku berhadapan dengan Si Cakar Hitam?"


"Betul, mari kita lihat siapa yang pantas mendapatkan pedang itu!"


Dua peserta mulai unjuk kebolehan. Si Cakar Hitam mulai memamerkan jari-jari tangannya yang berkuku panjang, tajam dan hitam legam sesuai dengan nama julukannya. Sedangkan Pendekar Cambuk Api bersiap dengan senjatanya.


Pertarungan diawali dengan sabetan cambuk yang panjangnya hingga satu setengah tombak menyambar ke wajah Si Cakar Hitam yang langsung berkelit menghindar kemudian cakar kanannya berusaha mencengkram bagian tengah cambuk. Namun cengkramannya meleset karena gerakan cambuk sangat cepat lewatnya.


Ternyata gerakan cambuk itu memutar menimbulkan hentakan angin kuat sangat cepat kembali menyambar, kali ini mengarah ke bahu. Si Cakar Hitam menghindar dengan berguling ke depan mendekati lawan sambil membabatkan cakarnya ke perut lawan.

__ADS_1


Pendekar Cambuk Api buru-buru mundur sambil terus memutar cambuknya.


__ADS_2