
Pertarungan antara Ki Rangkas dan Ki Legawa berlangsung cukup sengit. Sebelumnya mereka telah beradu jurus semalam, Ki Rangkas keluar sebagai pemenang dan Ki Legawa terluka cukup parah.
Kali ini Ki Legawa tidak akan lengah lagi. Dirinya lebih yakin karena diuntungkan oleh adanya pendukung yang tingkat ilmunya sudah dipastikan lebih tinggi. Sementara Ki Rangkas pasti mengalami tekanan batin karena hanya sendirian.
Namun, sepertinya Ki Rangkas tidak merasa terganggu sedikitpun dengan kehadiran Mahaguru dari padepokan Gunung Sindu sekalipun. Seandainya kali ini dia tidak mampu mengalahkan Ki Legawa, dia akan berniat untuk mati sampyuh atau mati bersama.
Padepokan Gunung Sindu tidak akan meraih keuntungan bila keduanya tewas. Walaupun sudah tidak murid utama Mahaguru Manguntara, mereka tidak akan berani berurusan karena tidak tahu seluk beluk di dalam padepokan Karang Bolong.
Puluhan jurus telah dilewati. Dua murid utama Mahaguru Manguntara masih terlihat imbang. Keduanya juga sudah mengerahkan banyak tenaga dalam. Jurus andalan keduanya masih menggunakan tangan kosong.
Jurus cakar tetap jadi andalan Ki Legawa, sedangkan Ki Rangkas percaya diri dengan jurus tapaknya. Kualitasnya pun berbeda dengan ketika bertarung dalam Ngaraga Sukma. Bertarung di alam nyata kekuatannya lebih dahsyat.
Gelombang angin yang ditimbulkan dari setiap gerakan saling berbenturan menimbulkan percikan api di udara. Jika tidak dilindungi hawa sakti percikan api ini akan melukai kulit.
Pertarungan mereka tidak hanya di satu tempat. Jika sudah terasa tidak nyaman salah satunya melesat ke tempat lain dan langsung disusul lawannya. Kadang kala mereka saling menyerang sambil melayang dengan ilmu meringankan tubuh.
Melesat dari satu tempat ke tempat lain. Beradu jurus sambil menyebrangi sungai, baik dengan cara berjalan di atas air atau sambil melayang. Bolak-balik ke sana kemari.
Pada dasarnya kekuatan mereka seimbang karena mereka murid seangkatan. Dari empat murid utama tidak ada satupun yang lebih menonjol. Karena masing-masing unggul di bagian tertentu saja.
Sebagai contoh, Ki Legawa unggul dalam jurus dan ilmu yang mengandalkan cakaran. Begitu juga Ki Rangkas merasa nyaman dengan jurus dan ilmu tapak.
Dessss!
Duarr!
Tapak dan cakar saling beradu. Benturan ini menghempaskan gelombang angin dahsyat dan menimbulkan ledakan di sekeliling keduanya. Ki Rangkas dan Ki Legawa sama-sama terpental.
Benturan ini terjadi saat mereka melayang di atas sungai. Keduanya terpental ke pinggir sungai bersebarangan. Beruntung keduanya tidak sampai terjatuh, mereka mendarat dengan selamat.
__ADS_1
Sekarang mereka dipisahkan oleh sungai. Keduanya ambil kesempatan ini untuk menarik napas panjang lalu mengumpulkan semua tenaga dalam terutama ke kedua tangannya. Tidak lupa hawa sakti dikerahkan sebagai pelindung diri.
"Apa kau masih bernafsu jadi pemimpin, tidakkah kau sadar musuh tertawa melihat kita?" teriak Ki Rangkas.
"Kau tidak bisa mengatur jalan hidupku!" balas Ki Legawa.
"Ternyata sifatmu sudah seperti pendekar aliran hitam. Mementingkan diri sendiri!"
"Simpan ucapanmu, bawa bersama ajalmu!"
Ki Legawa berteriak kencang agar kekuatan yang dihasilkan juga besar. Begitupun Ki Rangkas. Mereka sama-sama melesat, bertemu di atas sungai. Dua kekuatan kembali saling membentur.
Degh!
Duarrr!
Ledakan yang lebih dahsyat terjadi. Air sungai muncrat sampai setinggi empat tombak dari dasarnya. Gelombang angin yang terhempas mampu menghancurkan semak-semak hingga tanahnya terdongkal sedalam satu jengkal.
Ki Legawa dan Ki Rangkas sudah berdiri lagi di kedua sisi sungai. Benturan tadi telah membuat tenaga dalam mereka terkuras banyak. Namun, keduanya masih terlihat kuat.
Memang sempat terpikir dalam benak mereka, untuk apa mereka bertarung? Apa yang diperebutkan? Jika Ki Rangkas tewas, jelas Ki Legawa dan padepokan Gunung Sindu akan menyerbu padepokan Karang Bolong.
Bisa jadi padepokan terbesar dan menjadi lambang dan panutan bagi aliran putih itu tinggal nama. Tapi jika Ki Legawa yang tewas, setidaknya padepokan Karang Bolong masih bisa berdiri, walaupun seandainya Ki Rangkas juga akan tewas ditangan pimpinan padepokan Gunung Sindu.
Akhirnya Ki Rangkas tetap ke rencana awal. Mati bersama! Dia kerahkan lagi tenaga dalam. Dia ingin melihat sampai di mana batas kekuatan ilmu tapaknya.
Dua murid Mahaguru Manguntara sudah melesat lagi ke tengah sungai. Bertemu di udara dengan kekuatan penuh di kedua tangan. Cakar kanan Ki Legawa mampu menerobos pertahanan Ki Rangkas.
Namun, tapak kanan Ki Rangkas juga berhasil menghantam kening Ki Legawa. Sedangkan dirinya tak bisa menghindar dari cakaran lawan yang menembus jantungnya.
__ADS_1
Ledakan dan gelombang angin dahsyat terjadi lagi. Air sungai muncrat lebih tinggi hingga membasahi mereka. Dua sosok ini tidak terpental seperti sebelumnya. Tapi tertahan di udara beberapa saat sebelum keduanya terjatuh ke sungai.
...***...
Di sisi lain. Puluhan murid padepokan Gunung Sindu kini sudah banyak yang terluka. Kelembutan hati Adijaya yang tidak ingin membunuh membuat mereka yang terluka mencoba bangkit dan menyerang lagi.
Ini membuat Adijaya terpaksa memberikan pukulan yang lebih keras yang mampu membuat mereka kehilangan kesadaran atau bahkan kehilangan ilmunya.
Ledakan yang ditimbulkan dari pertarungan lainnya telah mengurangi jumlah penyerang Adijaya karena mereka terluka parah oleh ledakan itu. Jumlah mereka kini tinggal sebelas orang saja.
Di tempatnya, Mahaguru padepokan Gunung Sindu menunjukan wajah tak senang melihat murid-muridnya bertumbangan tapi masih hidup. Seketika dia terkejut saat hidungnya mencium aroma harum.
Lelaki berkulit hitam ini menutup indra penciumannya. Rambutnya yang acak-acakan tampak berdiri. Sepertinya dia mengenali aroma harum yang terpancar ini..
"Melati Tunjung Sampurna!" desisnya pelan.
Kemudian si tinggi besar ini memperhatikan lebih jelas sosok Adijaya. Kembali dia terkejut setelah melihat payung di genggaman tangan Adijaya.
"Payung itu... anak itu sungguh luar biasa!"
Sebelumnya dia melihat ada ciri-ciri istimewa pada tubuh Adijaya sehingga memerintahkan muridnya agar menangkapnya hidup-hidup. Dia memiliki kebiasaan yang sama dengan Rangrang Geni, yaitu mengambil kekuatan orang dengan cara mengerikan.
Setelah mencium aroma harum dan melihat payung, hatinya jadi bergetar. Nyalinya menciut, padahal dia mahaguru dan seorang pemimpin. Dia sadar setelah melihat kekuatan Adijaya.
"Aku saja tidak akan mampu menundukannya. Aku tidak mau mengambil resiko, biarkan saja murid Manguntara itu saling bunuh. Lebih baik aku cari kesempatan lain untuk mendapatkan kitab itu,"
Si tinggi besar berkulit hitam bergerak meninggalkan tempat itu sambil mengirimkan perintah dengan suara yang dilapisi tenaga dalam.
"Mundur!"
__ADS_1
Suara itu mengagetkan mereka, tanpa pikir panjang lagi semua murid padepokan Gunung Sindu yang masih kuat dan sadar segera berlarian menyusul pimpinan mereka.